"Dandan yang cantik, ya, pilih salah satu gaun di lemari, sebentar lagi aku kesana." Lelaki yang mengaku bernama Pangeran itu mengirimiku pesan.
Mau ngapain dia menyuruhku berdandan cantik? Jangan-jangan benar dia mau menjualku.
Aku segera menelponnya, lalu ia langsung mengangkat telpon dariku.
"Aku sedang nyetir, ini pakai earphone, ada apa?" Ia langsung nyerocos.
"Mau ngapain kamu tiba-tiba menyuruhku berdandan?" tanyaku.
"Mau ngenalin kamu ke orangtuaku," sahutnya.
"Jadi, aku belum pernah dikenalkan pada orangtuamu? Bukankah kamu bilang pernikahan kita tinggal sebulan lagi?"
"Nanti aku jelaskan di apartemen," sahutnya lalu mematikan telpon.
Meski bingung, aku langsung menuruti semua ucapannya untuk segera berganti pakaian. Saat melihat deretan gaun cantik yang seumur hidupku belum pernah kumiliki sebelumnya, mataku langsung berbinar-binar. Semua gaun tersebut begitu cantik hingga membuatku merasa bingung untuk memilih yang mana. Lalu kuputuskan untuk memilih gaun selutut berwarna biru muda. Aku langsung mengenakannya, hingga tiba-tiba aku terkejut karena gaun tersebut sangat pas di badanku, seolah gaun tersebut sengaja didesain untukku.
Aku berputar di depan cermin, mengagumi diriku sendiri yang tampak berbeda setelah mengenakan gaun tersebut. Lalu setelah itu aku segera merias wajah dan mencatok rambut. Tampak berbagai macam makeup sudah tersedia di meja rias. Seingatku, aku tak pernah merias wajah ini. Maka kuputuskan untuk mencarinya di youtube. Lumayan lama aku belajar makeup, hingga akhirnya aku bisa merias wajahku sendiri dengan riasan natural tetapi tetap menampakkan sisi elegant.
Tidak berapa lama kemudian terdengar pintu diketuk. Aku segera membuka pintu, lalu kulihat Pangeran tengah berdiri di sana.
"Nah, seperti inilah Indira yang kukenal," ujarnya sambil menatapku dengan takjub.
"Benarkah? Jadi, seperti ini penampilanku seperti biasanya?" tanyaku sambil mengernyitkan dahi, karena seingatku aku hanyalah wanita sederhana yang tak pernah mengenal makeup.
"Sudah cantik, ayo kita menemui kedua orangtuaku!" ucapnya sambil menggandengku.
"Tunggu!" Aku langsung menepis tangannya.
"Apa lagi?"
"Silahkan masuk, aku ingin memberimu beberapa pertanyaan."
Ia mengangguk lalu mengukutiku masuk.
"Mengapa aku baru dikenalkan pada orangtuamu, padahal kita akan menikah sebulan lagi?"
"Awalnya kedua orangtuaku berniat menjodohkanku, padahal aku telah lama berpacaran denganmu. Hingga kita memutuskan untuk menikah diam-diam tanpa sepengetahuan kedua orangtuaku. Namun, tiba-tiba kedua orangtuaku berubah pikiran dan mau menerimamu."
"Apakah ada bukti bahwa kamu benar-benar calon suamiku? Juju saja aku masih merasa kamu membohongiku."
Tiba-tiba ia mengeluarkan ponselnya, lalu memutar sebuah video. Tampak di sana ayahku tengah berbaring di rumah sakit dengan kepala dan tangan yang dibalut perban.
"Indira sayang, ayah dan Ibu merasa tidak akan lama lagi menemanimu di dunia ini, nikahilah Pangeran, semoga dia bisa menjaga dan melindungimu."
Setelah itu video tersebut berakhir, tanpa terasa air mataku berjatuhan saat melihat video tersebut. Aku benar-benar sangat menyesal karena tak sempat mengatakan salam perpisahan kepada mereka.
"Masih adakah rekaman tentang kedua orangtuaku?"
"Udah gak ada lagi, karena saat itu mereka sedang dalam keadaan kritis, masa aku harus terus meminta mereka untuk banyak bicara lalu direkam?"
"Aku masih tak bisa mempercayai semua ini."
"Sayang, jangan sedih, ya, besok aku antar kamu ke makam mereka. Tapi aku mohon, tolong malam ini kamu bersedia untuk menemui kedua orangtuaku." Ia memelas.
Meski perasaanku terasa tak karuan, akhirnya aku menyetujui semua permintaannya. Kami segera keluar dari kamar menuju lift, lalu setelah itu bergegas menuju mobil.
"Jangan sedih, ya," ujarnya sambil mengusap rambutku dengan lembut.
Setelah itu sopir pribadinya langsung melajukan mobil yang kami naiki. Hinga setelah lumayan lama kami melaju, akhirnya kami tiba di sebuah rumah yang lebih pantas disebut istana.
Pangeran langsung mengajakku untuk masuk, lalu sepasang paruh baya menyambut kedatangan kami.
"Selamat malam, Tante," ucapku sambil mengecup punggung tangannya.
"Jadi kamu Indira? Ternyata kamu lebih cantik dari yang saya bayangkan," ujarnya ramah sambil menempelkan pipi kanan dan kirinya ke pipiku.
"Tante juga sangat cantik."
"Makasih, loh.By the way, tante sudah dengar semuanya dari Pangeran tentang kedua orangtuamu, tante turut berduka cita."
Aku mengangguk dan menanggapinya dengan senyuman. Wanita itu sangat lembut dan ramah, padahal kami memiliki kelas sosial yang jauh berbeda. Semua ini terasa seperti mimpi, bagaimana mungkin seorang gadis yang biasa disebut Upik Abu tiba-tiba masuk kedalam kehidupan keluarga kaya raya.
"Saya Hutama Antonio," ujar seorang lelaki yang tampaknya berusia sekitar 43 tahunan sembari mengulurkan tangan.
"indira," sahutku sambil tersenyum dan mencium punggung tangannya.
"Setelah menikah dengan Pangeran, saya dan suami saya akan menjadi kedua orangtuamu, jadi, kamu jangan sedih lagi, ya."
Aku langsung memeluk mamanya Pangeran dengan perasaan haru, baru kali ini aku mendapat sikap baik dari seseorang. Setelah itu kami dipersilahkan menuju ruang makan untuk makan malam. Sambil menyantap hidangan yang disajikan, kami mengobrol banyak hal. Tak kusangka wanita kaya sepertinya akan memperlakukanku dengan manis dan lembut.
"Kamu mencintai Pangeran, kan?" tanyanya tiba-tiba hingga membuatku merasa canggung.
Sejujurnya aku masih belum mengerti dengan perasaanku, tetapi tak mungkin kujawab tidak, karena Pangeran pasti akan merasa malu.
"Iya, Tante, aku sangat mencintai Pangeran."
"Lebih tepatnya saling mencintai." Pangeran menyahut hingga membuat mereka tersenyum sambil melihatku.
Entah mengapa aku merasa ada yang aneh dengan semua ini. Namun, tak ada yang bisa kulakukan selain mengikuti semua yang Pangeran arahkan.
"Oh, ya, kata Pangeran kamu masih kuliah, ya?" tanya wanita yang usianya sekitar 41 tahun tetapi penampilannya masih tampak cantik dan elegant.
"Boleh, kan, aku tetap kuliah meski setelah menikah?"
"Boleh, dong, kami bangga malah."
Aku hanya tersenyum mendengar jawaban, apa yang terjadi malam ini benar seperti mimpi. Aku mencoba mencubit tanganku, hingga saat terasa sakit, barulah aku yakin bahwa semua ini benar-benar nyata.
Setelah selesai makan malam sembari berbincang-bincang, Pangeran meminta izin untuk mengantarku pulang.
"Next time main lagi ke sini," ujarnya sambil memelukku dengan erat.
Aku mengangguk lalu membalas senyumannya setelah itu bergegas masuk mobil. Tiba-tiba, aku nyaris terpeleset saat hendak menuju mobil, tetapi untunglah Pangeran dengan sigap menangkap tubuhku hingga kami tak sengaja saling berpelukan.
Kubiarkan saja dadaku menempel dengan dadanya lumayan lama. Anehnya aku merasa bahwa reaksinya biasa-biasa saja terhadapku. Aku sama sekali tak mendengar degup jantungnya saat kami sempat berpelukan. Mungkinkah dia tak memiliki perasaan apapun padaku? Lalu mengapa ia tampak sangat menginginkan agar kami segera menikah?
Bersambung.