Mata Arthur terbelalak saat telinganya mendengar kasak-kusuk di pintu tendanya. Arthur merasa ada orang yang hendak masuk ke dalam tenda.
Semula Arthur pikir itu adalah salah satu dari teman setendanya, entah Verrel atau Rick. Namun saat Arthur melihat-lihat lagi, kedua temannya itu ada di dalam tenda dan masih meringkuk tidur. Jadi yang di luar itu tentu bukan salah satu dari teman setendanya.
Baru saja Arthur hendak membuka mulutnya untuk meneriaki orang di luar tenda, ia kalah cepat dengan orang di luar tenda yang memanggil namanya dan nama Verrel.
"Arthur, Verrel," panggil suara seorang wanita dari luar tenda Arthur. "Kalian udah bangun? Bisa tolong bukain pintu tenda?"
Arthur mengedipkan mata ketika berhasil mengenali siapa yang bicara. "Shana, itu lo?" Arthur bertanya setengah berteriak.
Terdengar jawaban mengiakan dari luar sana. Jadi tak membuang waktu, Arthur bangkit berdiri dan setengah berlari membukakan pintu tenda untuk Shana.
Namun rupanya tak hanya Shana yang datang. Arthur mengernyitkan dahi ketika mendapati ada tiga orang lainnya yang berdiri di belakang Shana.
"Kenapa ini?" tanya Arthur sambil menatap Shana.
"Cairo mau menjelaskan sesuatu ke kita," ungkap Shana.
Arthur masih keheranan. Namun pemuda itu tetap bergerak mundur dan memberi jalan agar keempat tamunya yang datang di waktu tak wajar dapat masuk ke tenda.
Mungkin karena kedatangan orang banyak itu, Verrel dan Rick yang semula masih terlelap kini sudah membuka mata. Mereka yang masih mengumpulkan nyawa terdengar heboh bertanya-tanya terkait alasan ada banyak orang yang datang ke tempat mereka.
Shana menjawab sekadarnya. Sementara Arthur meminta Verrel dan Rick untuk segera bangun saja kalau tidak ingin ketinggalan berita—karena Arthur malas kalau nanti diminta menjelaskan ulang.
"Agatha mana? Tumben nggak kelihatan," tanya Verrel sambil mengucek-ngucek matanya. Ia pun mengambil posisi duduk di sebelah Shana.
Shana menepuk jidatnya dan menggerutu lirih. "Ya udah deh, gue panggil dia dulu. Kalau nggak diajak, bisa-bisa dia ngamuk."
Tanpa menunggu balasan atau persetujuan dari siapa-siapa, Shana meluncur keluar dari tenda itu. Alhasil, lagi-lagi mereka harus menunda untuk memulai pembicaraan.
Arthur memperhatikan gerak-gerik Cairo. Pemuda itu tampak gelisah. Sesekali Arthur mendapati Cairo berbicara lewat tatapan dan ekspresi wajah dengan Indi.
Jadi penasaran, gumam Arthur di dalam hati.
Untungnya, Shana tidak pergi terlalu lama. Gadis itu berhasil kembali dalam waktu singkat dengan membawa serta Agatha yang tampak kacau karena benar-benar baru bangun tidur. Bahkan terdengar samar-samar bahwa Agatha misuh-misuh sepanjang jalan.
"Eh, ada singa baru bangun tidur," ledek Verrel saat melihat rambut panjang Agatha yang kelewat kusut.
Agatha memaki, "Bacot aja lo!"
"Udah diem deh kalian," sela Shana, "ada hal yang lebih penting yang harus diobrolin di sini."
Akhirnya baik Agatha maupun Verrel memilih menutup mulut dan duduk dengan tenang.
"Emang ada apa sih? Apa cuma gue yang nggak tau apa-apa?" Rick yang sejak tadi diam saja meski ada di sana akhirnya buka suara. Pemuda itu memang tidak pernah diberi tahu apa-apa. Makanya ia benar-benar heran kenapa harus ada pertemuan semacam ini. Lain halnya dengan Verrel, Agatha, dan Shana yang sudah mendapat informasi dari Arthur sehingga mereka bisa menebak-nebak lebih dulu.
"Ceritain, Kak," pinta Indi pada Cairo.
Cairo berdeham beberapa kali sebelum akhirnya pemuda itu buka suara. "Udah gue duga kalau lo yang nguping pembicaraan gue sama orang-orang itu kemarin sore," katanya sembari menunjuk-nunjuk Arthur.
Arthur tak menanggapi. Ia hanya menaikkan sebelah alisnya dan tetap bersikap tenang.
"Mereka juga kayanya tahu kalau lo itu orang yang nguping pembicaraan kami. Tapi anehnya, mereka biarin lo lolos gitu aja," ujar Cairo lagi.
Shana tampak melirik ke arah Arthur sejenak, dan Arthur juga melalukannya. Shana tampak mengirimkan sinyal kepada Arthur agar pemuda itu menonjok saja orang mengesalkan seperti Cairo.
Namun Arthur memilih untuk mengikuti saja apa yang coba Cairo sampaikan. Ia tidak memprotes kala Cairo bicara ngalor-ngidul tidak juntrungan.
"Gue cuma membantu untuk membuat kegiatan makrab ini jadi longgar dan mereka bisa melakukan rencana mereka," ujar Cairo.
"Mereka-mereka terus. Emang siapa mereka yang lo maksud?" salak Verrel. Sepertinya pemuda itu cukup bosan mendengar kata ganti untuk menyebutkan orang yang Cairo maksud.
Cairo meneguk ludahnya dan kembali terdiam barang beberapa saat.
"Dia diancam buat nggak ngasih tau siapa-siapa," kata Indi membela kakaknya.
"Mereka peserta makrab," ungkap Cairo tiba-tiba, "Irvin dan Nafi."
Arthur menelengkan kepala. Nama yang barusan Cairo sebutkan jelas tak terdengar asing di telinga Arthur. Tapi siapa? Arthur masih menerka-nerka.
“Kaya kenal,” celetuk Agatha. “Mereka yang kemarin itu, kan?”
“Kemarin apa?” cecar Arthur. Lantas sekelebat ingatan muncul di kepalanya. “Waktu kita rame-rame nyari sinyal?”
Agatha mengangguk dengan antusias mengiakan dengan mulutnya secara berulang. Seperti biasa, gadis itu antusias dan heboh sendiri.
“Kalian tahu rupanya,” gumam Cairo sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Udah gue bilang, lo jangan langsung menyimpulkan kalau kami nggak tahu apa-apa,” kata Shana, ikutan merasa menang karena Arthur dan Agatha yang cepat tanggap.
Namun mendadak Verrel mengangkat tangan. Pemuda itu bertanya, “Cuma mereka berdua? Bukannya geng mereka itu ada tiga orang?”
“Nah itu, gue baru mau bilang,” timpal Agatha.
“Felix?” Kembali, setelah lama diam, Rick menimbrung dalam obrolan.
Verrel menjentikkan jarinya. “Tepat! Bukannya dia juga akrab sama Irvin dan Nafi? Masa iya dia nggak tahu apa-apa. Cairo aja terlibat dalam rencana kedua orang itu.”
“Tapi gue belum pernah ketemu sama Felix yang kalian maksud. Yang selama ini bicara sama gue cuma Irvin dan Nafi,” sela Cairo.
Rick yang memang berada di dekat Cairo sontak menarik kerah baju Cairo sambil berujar, “Gue nggak nyangka kalau lo berengsek. Dan sekarang lo ngomong dengan entengnya.”
Cairo kembali meneguk ludah. Ia berusaha melepaskan cekalan Rick di kausnya dengan hati-hati. “Gue khilaf karena diiming-imingi duit sepuluh juta sama mereka. Mana mereka janji nggak akan membawa-bawa gue kalau terjadi apa-apa.”
“b**o lo, b*****t!” maki Rick. Ia tampak kecewa berat pada Cairo, ya mengingat mereka cukup akrab selama berada di sana.
Semua orang tak ada yang berusaha menahan Rick. Malahan diam-diam mereka mungkin berharap Rick lepas kendali saja dan mulai menghajar Cairo. Namun sayang, itu tidak kesampaian. Yang ada, Rick justru menarik tangannya. Hanya saja ia meminta agar Cairo melanjutkan pengakuan kesalahannya.
“Tapi kalau kalian cari Irvin dan Nafi sekarang, mereka sudah nggak ada di pulau ini. Mereka ikut cabut naik perahu tadi,” ucap Cairo. Ia mengusap kasar wajahnya dan tampak kalut. “Mereka kabur!”
Arthur berdecak. Sudah ia duga, ia terlambat. Makanya Arthur tak bergegas bergerak seperti biasanya. Ini karena ia harus mencari cara lebih dulu.
Sambil berpikir itu, pandangan Arthur jatuh kepada Karenina. “Lo mau bicara apa?” tanya Arthur to the poin.
Mendadak disenggol begitu membuat Karenina gelagapan. Gadis itu kembali mengatakan bahwa ia tidak tahu apa-apa dan tidak tahu kenapa namanya dibawa-bawa sampai akhirnya Cairo menemuinya kemarin sore.
Karena Karenina berkeras bahwa ia tidak tahu apa-apa dan tidak bisa juga diminta membuat pengakuan, maka Arthur tak bisa memaksa.
“Cairo,” panggil Arthur, “ada lagi yang mau lo sampaiin?”
Cairo tampak bingung. Ia lantas menggeleng-gelengkan kepala. “Kayanya udah semua.”
“Belum,” sanggah Shana. Gadis itu lantas bertanya, “Gimana caranya lo bisa bekerja sama dengan Irvin dan Nafi? Ini udah direncanakan sejak jauh-jauh hari atau ketika kita sampai di sini? Terus apa motif mereka melakukan ini?”
Cairo menarik napas dalam-dalam dan bersiap melanjutkan ceritanya. “Mereka menghubungi gue sehari sebelum kita berangkat ke sini. Tapi gue baru dikasih tahu lengkapnya waktu kita udah ada di sini. Tugas gue cuma ganti-ganti rencana dan detail kegiatan. Gue nggak tahu apa motif mereka. Tapi kalau motif gue nurutin kata mereka itu karena uang. Gue butuh duit itu dan karena tugas gue mudah, gue setuju-setuju aja.”
“Lo nggak tahu gimana mereka beroperasi? Gimana cara mereka melukai para peserta? Ah, apa lo tahu kriteria korban yang mereka sasar itu gimana?” cecar Shana kembali.
Cairo menggelengkan kepala. Dengan nada ketus, pemuda itu menjawab cecaran Shana. “Itu bukan tugas gue. Mereka juga nggak ngasih tau gue apa-apa. Lo pikir gue bagian dari mereka sampai tahu rencana mereka bakal melukai siapa? Udah gue bilang kan kalau gue cuma mengubah rencana di kegiatan makrab dan bikin aturan longgar juga berubah dengan mudah.”
Arthur menyadari bahwa sepertinya tidak ada lagi yang bisa mereka gali dari kesaksian Cairo. Makanya ia menyela sebelum Shana kembali mendesak, “Kayanya garis besar masalah udah dia ceritain. Mungkin kita bisa bahas lanjutan dari masalah ini?”
Pertanyaan Arthur itu mendapat persetujuan dari Shana dan teman-teman lainnya. Jadilah selanjutnya Arthur meminta Verrel dan Agatha untuk mengantar Cairo, Karenina, dan juga Indi ke ruang panitia, juga menjelaskan apa yang terjadi kepada Hea serta panitia yang lainnya.
“Sisanya tetap di sini,” pinta Arthur, “kita bahas kelanjutan masalah ini dan cari solusinya kalau bisa.”
***
Arthur, Shana, dan Rick menuju ke aula ketika sarapan sudah siap. Sekalian mereka akan menemui Hea kalau gadis itu tidak sibuk berkutat dengan urusan panitia.
“Gue jadi khawatir sama keadaan Ganendra dan peserta-peserta makrab yang sakit yang pergi dalam satu perahu sama Irvin dan Nafi. Nasib mereka gimana, ya? Semoga Irvin dan Nafi nggak macam-macam,” gumam Shana yang berjalan di antara Arthur dan Rick.
Gumaman Shana itu mengundang perhatian kedua pemuda yang sedang bersamanya. Meski demikian, kedua pemuda itu hanya mengangguk-anggukkan kepala tanpa angkat bicara.
Alhasil, Shana kembali berujar lirih, “Ganendra harus sampai dengan selamat ke pulau utama. Setidaknya dari sana, dia bisa dapat sinyal buat menghubungi orang-orang.”
“Peserta yang sakit juga harus selamat dong, Sha,” ujar Rick pada akhirnya.
“Iya, maksud gue juga gitu. Semua orang pokoknya.” Shana mengoreksi ucapannya.
Arthur terkekeh mendengar Shana sedikit ngotot karena mendapat koreksian dari Rick. Dan karena tingkahnya itu, Arthur jadi mendapat lirikan sadis dari Shana.
Setelah beberapa waktu berjalan, mereka tiba juga di aula. Sudah banyak peserta yang menunggu di sana untuk mendapatkan jatah sarapan. Mereka langsung saja ikutan mengantre. Saat sudah mendapatkan menu sarapan yang panitia sediakan, mereka lantas berjalan ke tepi aula yang belum digunakan oleh peserta lainnya.
“Agatha sama Verrel mana, ya?” tanya Shana sambil mengedarkan pandangan, meneliti satu per satu wajah orang yang ada di sana.
Arthur jadi mengurungkan niatnya untuk membuka kotak makan paginya itu. Ia ikut mencari-cari orang yang Shana cari.
Namun tiba-tiba saja Rick memekik, “Astaga, apa-apaan ini?”
Sontak saja Shana dan Arthur berhenti jelalatan mencari Agatha dan Verrel. Kini keduanya justru menatap Rick dengan cemas.
“Kenapa?” tanya Shana dengan mata yang masih terbelalak dan wajahnya yang penuh tanya.
Rick meletakkan kotak makan paginya sambil berujar, “Porsinya nggak manusiawi.”
Arthur melongok untuk melihat lebih dekat. Dan benar rupanya, ia mendapati porsi makan yang bisa dibilang sangat sedikit. Bahkan nasinya saja barangkali hanya sebanyak tiga suapan dengan lauk berupa telur dadar disuwir tipis-tipis dan sambal.
“Kok gini?” Rick tampak tak terima. Karena penasaran dan ingin membandingkan, pemuda itu membuka kotak makan milik Arthur dan Shana yang memang masih dianggurkan sejak tadi. Untung saja, hasilnya sama. Porsi kotak makan milik Arthur dan Shana juga sama sedikitnya dengan milik Rick. Pemuda itu jadi merasa tidak iri, tapi justru kesal kepada panitia. “Ini porsi diet apa gimana, sih? Ya, mohon maaf, gue nggak lagi diet. Segini mana kenyang!”
Melihat hal yang cukup ganjil itu, Shana kembali mengedarkan pandangan. Saat itu, ia baru menyadari bahwa peserta di aula berkasak-kusuk untuk membicarakan menu sarapan mereka yang tidak seperti biasanya. “Kayanya semua juga dapat porsi kecil,” simpul Shana.
Arthur mengiakan. Sepertinya memang begitu. Karena jika dilihat-lihat, semua orang di sana tampak tak puas.
“Ada masalah, kah? Kenapa mendadak porsi makan dikurangi?” Shana bertanya-tanya. Meski tentu saja kedua orang yang berada di hadapannya sama-sama tidak punya jawaban pasti atas pertanyaan yang Shana ajukan.
Dengan asal, Rick berceletuk, “Kehabisan bahan makanan kali.”
“Kalau iya, kita dan terutama gue ada dalam bahaya,” kata Agatha yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sebelah Shana, “gue kan gampang lapar!”