Kehadiran Agatha yang tiba-tiba membuat Arthur, Shana, dan Rick menoleh ke arahnya. Sementara Agatha tampak santai-santai saja dan tidak menyadari bahwa kehadirannya di sana mengejutkan teman-temannya.
“Lo habis dari mana?” Shana malah mengganti topik pembicaraan lantaran terkejut dengan kehadiran Agatha di sana dan bisa-bisanya Shana tidak menyadari itu.
Agatha menunjuk ke bagian samping aula, alias ruang panitia. “Dari sana. Kenapa emang?”
“Tadi gue cari-cari, lo nggak kelihatan. Kirain ada urusan dan nggak ke sini,” balas Shana. Ia lantas bertanya, “By the way, lo dari tadi di sana nggak dengar apa-apa gitu dari panitia?”
“Dengar apa emang?” Agatha tampak tak paham.
Shana menunjuk ke arah kotak makan pagi yang Agatha pegang dan kembali bertanya dengan ekspresi wajahnya.
“Enggak, tuh. Emang kenapa, sih? Ada yang salah sama makanannya?” ujar Agatha menebak-nebak. Ia pun mengambil posisi duduk di sebelah Shana. Barulah selanjutnya, ia mengecek sendiri isi kotak makannya. Sedikit mengerutkan kening, Agatha menyadari apa sebenarnya yang teman-temannya permasalahkan. Ia pun berkata, “Tapi nggak tahu ya kalau di dapur gimana. Panitia yang masak-masak kan di sana.”
“Ah, bener juga,” pungkas Shana.
Arthur berkata dengan lapang d**a, “Makan yang ada dulu aja. Siapa tahu memang panitia lagi ada masalah.”
“Semoga nanti siang kita dikasih makan porsi normal.” Agatha memanjatkan doa sebelum mulai menyuap makanannya ke dalam mulut.
Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menghabiskan menu sarapan itu. Karena dengan tiga suapan besar saja, nasi beserta lauknya yang super minimalis sudah raib tak bersisa.
Dan ketika makanannya tandas, Arthur membereskan kotak makan miliknya dan buru-buru membuang kotak makan itu. Ia juga berpamitan kepada beberapa temannya yang masih duduk-duduk dan memilih tinggal lebih lama di aula.
"Gue ke dapur dulu ya," kata Arthur sambil mencari-cari sandalnya di antara puluhan pasang sandal milik peserta makrab.
Shana langsung bangkit dari duduknya dan berinisiatif, “Gue ikut dong, Ar.”
Arthur menganggukkan kepala. Namun yang pemuda itu katakan membuat Shana jadi tak buru-buru menyusulnya. “Gue duluan, lo nyusul aja nanti. Duduk-duduk dulu, biar makanan lo turun ke perut.”
“Ya elah, kaya apaan aja,” celetuk Agatha.
Arthur benar-benar berlalu dari sana. Sementara Shana masih tinggal di aula untuk bersantai sejenak dan menunggu makanannya dicerna dengan baik.
***
Arthur tiba di dapur tanpa perlu menghabiskan banyak tenaga karena jarak dapur yang cukup dekat dengan aula. Di sana Arthur melihat para panitia makrab sedang membereskan peralatan untuk memasak tadi dan membersihkan area dapur.
Kehadiran Arthur di sana langsung mencuri perhatian panitia-panitia—padahal mereka juga masih sibuk. Beberapa menyapa Arthur dan menanyakan ada keperluan apa Arthur ke sana.
“Kalau soal porsi makan yang sedikit, kami minta maaf. Tapi kami terkendala bahan makanan yang menipis,” kata Sania pada Arthur.
Arthur menggumam mengiakan. Namun tentu saja Arthur perlu menanyakan lebih lanjut mengenai alasan kenapa bahan makanan menipis.
Saat Arthur bertanya apakah alasan bahan makanan menipis karena perencanaan yang buruk dari panitia, Sania tidak membenarkan itu. “Kami udah mempersiapkan bahan makanan yang cukup untuk semua peserta sampai akhir acara. Bahkan kami membawa cadangan bahan makanan juga. Bahan makanan untuk kegiatan di luar makan pagi, siang, dan malam juga sudah dibedakan dan itu tidak mengurangi bahan untuk makan wajib tiga kali sehari.”
“Lalu apa masalahnya?” tanya Arthur. Alis pemuda itu tampak menyatu karena ia mengerutkan keningnya dalam-dalam.
“Kami merasa bahan makanan yang kami bawa hilang,” kata Sania. Ia tampak menunjuk ke tumpukan kardus di dapur. “Lo lihat kardus-kardus itu? Di sana udah ada label agar panitia tahu mau pakai bahan yang mana dulu buat dimasak di hari pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya. Di lemari es juga begitu, semua sudah dipisah-pisah. Tapi anehnya, tanpa kami sadari bahan-bahan itu habis.”
Arthur berusaha mencerna penjelasan Sania. Bahkan ketika dapur sudah sepi panitia, Arthur mencoba melihat sendiri apa yang Sania tunjukkan dan jelaskan tadi. Hasilnya, Arthur memang mendapati bahwa bahan makanan di sana sudah diberi label-label sendiri. Arthur juga melihat bahwa bahan makanan yang tersisa tinggal sedikit, entah cukup atau tidak untuk konsumsi mereka semua yang berada dalam kegiatan makrab ini.
“Menurut kalian, hilangnya sejak kapan?” tanya Arthur sembari membalikkan badan.
Sania yang sudah berdiri di belakang Arthur pun mengambil langkah untuk mundur sedikit. Ia lantas mengedikkan bahu. “Gue baru nyadar tadi. Kalau yang lainnya, gue belum tanya sih.”
“Ini betulan hilang atau udah terpakai tanpa kalian sadari?” Sebuah suara menginterupsi pembicaraan antara Arthur dan Sania.
“Hilang, Ya,” ujar Sania tegas. “Kami nggak berani pakai bahan makanan yang bukan buat hari itu. Kami masak yang memang sudah dilabeli akan dimasak di hari yang seharusnya.”
Hea mendekat dan membuka-buka bagian dapur, seperti lemari penyimpanan dan tempat-tempat lainnya. “Kalau hilang, hilangnya ke mana?”
“Dicuri orang,” tebak Sania. Ia lantas menjelaskan bahwa dapur memang selalu dalam keadaan sepi jika tidak sedang digunakan untuk memasak. Tidak ada panitia yang stand by di sana. Apalagi model dapur di resort itu terbuka dan bisa dimasuki siapa saja.
Hea menggusah napas kasar. Ia lantas bersandar di dinding dapur dan mengotak-atik ponselnya.
Arthur yang masih berada di sana memilih diam saja. Ia hanya turut mendengarkan dan memperhatikan dua panitia alias Hea dan Sania berkomunikasi.
“Snack masih ada, kan?” Hea bertanya dengan nada memastikan. Tapi kalau ia mendapat gelengan atau jawaban tidak dari Sania, sudah pasti Hea akan meledak marah.
“Ada sih.” Untung lah, Sania menjawab demikian. “Mau dibagiin ke peserta apa gimana?”
Hea menggelengkan kepala. “Simpan aja dulu. Jangan menghambur-hamburkan apa yang tersisa. Pakai secukupnya aja.”
Merasa sudah terlalu lama diam dan keberadaannya tidak dihiraukan oleh kedua gadis itu, Arthur pun angkat bicara. “Bahan makanan masih cukup sampai besok? Jangan sampai porsinya lebih sedikit dari makan pagi tadi karena di tempat ini kan panas banget dan kita banyak beraktivitas, tenaga bakalan cepat kekuras. Kalau misal sekiranya enggak cukup atau cukup tapi porsinya harus kaya tadi, hari ini kita bisa cari tambahan bahan makanan buat persediaan.”
“Peserta yang nyari, Ar? Gimana caranya?” Hea tampak tertarik sekaligus bingung karena tidak ada gambaran di kepalanya soal usulan Arthur itu.
“Hari ini kegiatannya apa?” Arthur justru balik bertanya.
Hea menggelengkan kepala. Namun yang menjawab justru Sania, “Nggak ada, kan? Cairo aja masih ada masalah.”
“Kalau gitu biar hari ini kegiatan peserta diganti mengumpulkan bahan makanan aja. Seperti yang kita tahu, kita ada di tepi pantai. Beberapa orang bisa pergi memancing atau mencari kerang di pinggir pantai dan di bebatuan karang. Terus di belakang resort ada green house. Beberapa kali gue lewat sana, gue lihat kalau di sana ada tanaman yang ditanam dengan sistem hidroponik. Ada beberapa sayur dan buah di sana yang bisa kita petik,” terang Arthur.
Sania menggumam panjang. Ia tampak ragu-ragu soal ide Arthur itu. “Emang peserta pada mau, ya? Mancing kan susah. Terus juga green house yang lo maksud itu kayanya udah nggak terawat, Ar.”
“Kenapa nggak dicoba dulu?” balas Hea. Gadis itu tampak kelewat setuju dengan apa yang Arthur cetuskan. “Nggak ada salahnya mencoba. Siapa tahu itu menyelamatkan kita dari kekurangan makan buat dua hari ini.”
“Urusan sama pemilik resort ini gimana kalau kita petik-petik tanaman di green house-nya?” Sania masih berusaha mencegah kegiatan mencari bahan makanan itu terlaksana.
Hea mengibaskan tangan. “Itu urusan gue. Gue yang akan tanggung jawab kalau misal kita dituntut ganti rugi dan sebagainya. Yang penting sekarang kita aman dulu kalau memang di sana ada bahan makanan yang bisa kita gunakan.”
Akhirnya Sania tak bisa lagi membantah. Ia pun mengiakan dengan gumaman tak jelas.
Karena kegiatan berburu bahan makanan itu jika dilakukan lebih cepat maka akan lebih baik, Hea pun segera meluncur menuju aula. Dan bagusnya, masih banyak peserta yang bersantai di sana. Jadi gadis itu langsung saja mengumumkan agenda hari itu.
Dibentuklan kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari kurang lebih lima orang peserta makrab. Tidak ada ketentuan yang mengharuskan kelompok A untuk memancing atau kelompok B untuk mencari buah dan sayur di lahan hidroponik di bagian belakang area resort. Para peserta diberi kebebasan untuk memilih sendiri apa yang ingin mereka lakukan. Jadi dengan begitu, diharapkan peserta tidak keberatan-keberatan amat dalam menjalankan kerja paksa berkedok salah satu kegiatan dalam acara makrab.
“Pada balik jam dua belas siang, ya! Nanti kami sediain makanan yang lebih baik dari makanan yang barusan ini,” janji Hea.
Sesaat setelah peserta-peserta membentuk kelompok kecil dan mulai meninggalkan aula, Hea menahan Arthur yang akan pergi juga. Gadis itu mencekal lengan Arthur dan memberi isyarat dengan ekspresi wajahnya agar Arthur tidak ke mana-mana dulu.
“Soal Cairo,” ucap Hea, “gue harus bersikap gimana?”
“Setelah kita keluar dari pulau ini, gue akan usut kasus ini,” balas Arthur.
Wajah Hea terlihat pias. Ia bertanya, “Lewat jalur hukum, Ar?”
Arthur menganggukkan kepala tanpa ragu. Ia menjelaskan bahwa apa yang dilakukan Cairo beserta orang-orang yang dibantunya itu jelas bukan tindakan remeh. Tindakan mereka sudah bisa dikategorikan membahayakan nyawa, bahkan percobaan pembunuhan. Bagaimana tidak, peserta-peserta yang celaka kemarin itu ada yang sampai mendapat luka bakar dengan derajat yang cukup parah, lalu ada yang terjun bebas dari atas tebing yang mungkin saja akan kehilangan nyawa, dan masih banyak lainnya.
“Itu bukan hal yang bisa dianggap main-main,” tambah Arthur untuk mengakhiri penjelasannya.
Hea menggigiti bibirnya. Gadis itu terlihat gugup dan gemetaran. Karena meski tidak terlibat, ia mungkin merasa bertanggung jawab lantaran menjadi penyelenggara kegiatan ini.
Namun Arthur juga tidak mengatakan apa-apa untuk menenangkan Hea. Ia tidak ingin memberi harapan bahwa Hea tidak akan disalahkan atas kejadian ini. Biar lah urusan ini menjadi urusan pihak yang berwenang. Yang jelas, Arthur harus mengupayakan bahwa peserta dan juga panitia yang masih terjebak di pulau ini berada dalam keadaan aman sampai bantuan datang untuk mengeluarkan mereka dari sana.
“Ar, mau ikut nyari bahan makanan?” Shana berjalan mendekat ke arah Arthur. Gadis itu terang-terangan memperhatikan tangan Hea yang masih bertengger manis di lengan Arthur. “Yuk!”
Arthur tak ingin membuat Shana uring-uringan karena cemburu. Makanya ia melepaskan cekalan Hea di lengannya dan berpamitan pada gadis itu untuk ikut dalam kegiatan mengumpulkan bahan makanan bersama peserta lainnya. “Gue cabut duluan, Ya!”