R 4.4

1842 Kata
Berperan seperti reporter yang sedang mewawancarai narasumber, Agatha menyodorkan ponselnya ke depan mulut Shana. Gadis itu bahkan rela berjalan mundur agar bisa merusuhi sobatnya yang sudah memasang wajah masam. "Jadi bagaimana tanggapan saudari Tryshana Maurelia Primrose terkait kedekatan saudara Arthur Elias dengan Hea si panitia kegiatan makrab?" Agatha mengoceh dan mengulang ucapannya yang sebelumnya sempat juga diabaikan oleh Shana. Shana mendesis, "Berisik, Tha. Bisa diem nggak?" "Tidak bisa," balas Agatha dengan ekspresi jailnya, "mohon pertanyaan saya dijawab terlebih dahulu saudari Tryshana!" Shana mengangkat dan mengayunkan kakinya ke arah Agatha. Setidaknya Shana berharap tendangannya itu akan mengenai b****g Agatha hingga gadis itu tidak sempat lagi merecoki Shana lantaran merasa kesakitan. Namun sayangnya, Agatha lebih gesit dari Shana. Gadis itu berhasil menghindar. Karena itu juga, Agatha semakin menjadi-jadi. Ia menjulurkan lidahnya dan bersorak, "Hore, nggak kena!" Shana mendengkus keras. Gadis itu bersedekap sambil meneruskan langkah, berusaha tidak terpengaruh oleh tingkah Agatha yang kekanakan. "Dasar bocah," kata Verrel sembari menarik Agatha agar tidak membuat Shana murka, "udahan, napa?" Agatha berdecak. "Nggak seru lo," katanya sambil memalingkan dagu Verrel agar pemuda itu menoleh ke arahnya. Verrel hanya meringis dan tak membalas apa-apa karena tak ingin urusannya jadi panjang. Bukan ia yang bertingkah, tapi ia merasa jengah atas sikap Agatha tadi. Mereka pun lanjut berjalan dengan situasi yang lebih tenang. Iya, karena Agatha tidak lagi merepet seperti sebelumnya. Beberapa saat kemudian, mereka tiba di green house yang ada di belakang resort. Saat mereka tiba, sudah ada beberapa peserta makrab di sana. Tapi tampaknya, mereka tidak tertarik dan memilih pergi dari sana untuk mencari bahan makanan di tempat lain. "Tempatnya berantakan kaya gini. Pantes orang-orang pada kabur. Pasti bingung mau ngapain kalau berkutat di sini," komentar Rick yang memang memilih bergabung bersama empat sekawan itu. Arthur mengangguk setuju. Tempat itu memang cukup tidak terawat. Tanaman di sana sepertinya tidak dirawat dan dibudidayakan dengan baik. Namun sistem hidroponik yang ada di sana masih berfungsi dan tanaman-tanamannya pun belum semuanya mati. "Cari pelan-pelan aja," ujar Arthur. Ia memperingatkan, "Hati-hati siapa tahu ada ular atau hewan lainnya." "Ulat-ulat, sih. Ini gue udah lihat!" balas Shana. Gadis itu pun bergidik ngeri dan melipir menjauhi tanaman yang sudah hampir gundul dimakan belasan ulat yang terlihat sehat dan gendut-gendut. Di sana mereka berpencar. Agatha ke mana-mana mengikuti Verrel. Shana menempel pada Arthur. Dan Rick kadang ikut Verrel, kadang ikut Arthur, kadang juga ia memilih pergi sendiri. Berbekal pengetahuan—yang sebenarnya hanya sok tahu saja—mereka mulai memanen sayur dan buah yang kelihatannya masih layak untuk dikonsumsi. Dan ternyata setelah dikumpulkan jadi satu, hasilnya lumayan banyak. Lumayan lah untuk tambahan bahan makanan. Tak terasa, rupanya sudah satu jam mereka di sana. Karena merasa tidak ada lagi yang bisa mereka ambil dari green house itu, mereka pun memutuskan kembali ke aula sambil melihat update situasi terbaru. "Nanti kalau nggak capek, kita ke pantai ya," ajak Agatha. "Gue pengen mancing." "Emang lo ada alat pancing?" Rick bertanya keheranan. "Jangan bilang lo mau mancing pakai tangan! Itu namanya bukan mancing tapi nangkap ikan." Agatha melirik tak suka ke arah Rick. Gadis itu juga memanyunkan bibirnya. "Apaan sih, lo kok ikut-ikutan aja!" tukasnya. Rick mencebikkan bibirnya lalu mulai menirukan gaya bicara Agatha. Tentu saja, itu mengundang Agatha untuk menoyornya. "Karma instan, Bestie!" kata Shana yang ia tujukan kepada Agatha. Shana kemudian terkekeh kecil dan geleng-geleng kepala melihat Agatha yang berusaha menyerang Rick namun dengan mudahnya serangan Agatha ditepis pemuda itu. Kegaduhan itu berlangsung selama beberapa saat. Sampai akhirnya Agatha lelah dan memutuskan untuk berhenti sendiri. "Udah jompo lo? Gitu aja ngos-ngosan," seloroh Rick sambil menunjuk-nunjuk Agatha yang tampak membungkukkan badan sembari mengatur napas. "Bacot!" salak Agatha galak. Arthur yang merasa ia terlalu lama membuang waktu untuk melihat kerusuhan itu pun memutuskan berjalan lebih dulu kembali ke aula. Shana menyusulnya di belakang. Sementara Agatha, Verrel, dan Rick masih tidak beranjak dari sana. *** Setelah menyetorkan sayur dan buah yang mereka petik dari green house, mereka lanjut pergi ke tepi pantai. Di sana keadaan jelas jauh lebih ramai. Beberapa orang tampak berkutat di bebatuan karang, berusaha mencari hewan-hewan laut yang bersembunyi di sana yang dapat dikonsumsi. Sementara sisanya hanya ikut memeriahkan, alias mereka bermain air saja di sana sambil bersenang-senang tanpa ada maksud mengumpulkan bahan makanan. "Gila," celetuk Verrel, "pada ngumpul di sini semua ternyata. Penuh banget!" "Mau cari tempat lain?" usul Arthur. "Boleh," sambar Shana. Akhirnya mereka berjalan menyusuri pantai hingga cukup menjauh dari keramaian. Sebenarnya kedua sisi pantai itu hanya dibatasi tembok karang yang cukup tinggi, namun suasananya bisa sangat berbeda. "Nah, di sini kan tenang," komentar Agatha. Gadis itu pun melepas outer-nya dan menyisakan tank top berwarna biru gelap yang senada dengan celana pendeknya. Ia berseru dan langsung berlari ke arah pantai. "Mari berenang!" Shana melepas sandalnya. Gadis itu menggulung celana panjangnya sebelum turun ke air. Selain itu, ia juga melipat dan mengikat outer-nya yang mirip jubah—berbahan kain transparan dan bermotif bunga-bunga—agar tidak menyapu air. "Jangan main doang," teriak Verrel yang masih berdiam di tepian. Ia berpesan, "Sambil nyari ikan." "Susah!" jerit Agatha. Padahal gadis itu belum mencoba. Arthur melepas sandalnya dan meletakkan sandalnya di sebelah sandal Shana. Tanpa melepas pakaian—karena ia hanya mengenakan kaus hitam polos dan celana pendek selulut—atau melakukan persiapan lainnya, Arthur segera menyusul Shana dan juga Agatha. Melihat Arthur sudah berkecimpung dengan air, Rick dan Verrel pun mengikuti jejaknya. Kelima orang itu tampak bersenang-senang. Meski sesekali mereka ingat bahwa mereka harus mengumpulkan bahan makanan juga. Namun memang benar kata Agatha, mencari ikan di sana dengan tangan telanjang nyatanya susah. "Harusnya kita siapin jebakan," kata Rick setelah gagal menangkap satu ikan kecil yang bersembunyi di balik bebatuan karang. "Lo tahu cara bikinnya?" tanya Arthur, karena jelas pemuda itu tidak tahu menahu. Verrel yang ada di sekitar mereka pun menyahut, "Udah lah, nggak usah repot-repot. Kita ngumpulin kerang aja. Lumayan ini banyak yang nempel di batu karang. Di pasir juga ada." Arthur mengiakan ucapan Verrel itu. Ia pun melupakan rencana membuat jebakan dan lain sebagainya yang membutuhkan alat. Mengikuti yang Verrel lakukan, ia mencari kerang di sela-sela bebatuan karang dengan tangan kosong. "Gue dapet banyak nih," pekik Shana sambil menunjukkan hasil tangkapannya. Yang lucu adalah gadis itu kini hanya mengenakan crop top berlengan pendek karena ia sudah mengorbankan outer-nya untuk menampung kerang-kerang yang berhasil ia kumpulkan. "Harus banget lo taruh di sana?" tanya Agatha sambil meringis melihat outer Shana yang sudah kotor dan basah. Namun bukannya prihatin, gadis itu justru berinisiatif untuk menitipkan beberapa kerang yang ia dapatkan. Ujarnya, "Sekalian ya!" "Dasar, lo nggak modal amat," kata Shana, tapi gadis itu tak menghalangi ketika Agatha mulai meletakkan satu per satu kerang temuannya di sana. Kegiatan berburu itu mereka lakukan untuk waktu yang cukup lama karena mereka mengejar target untuk menjadi pengumpul kerang—atau hewan laut lain jika beruntung—terbanyak. Namun karena waktu juga beranjak siang dan matahari makin menyorot dengan teriknya, air di pantai pun terasa panas dan tak lagi segar. Mereka menjadi merasa tak betah berlama-lama di sana. “Panas ya, Bun,” keluh Shana sambil berusaha menutupi lengannya yang terekspos dengan telapak tangan. "Kulit gue juga udah keriput semua nih," timpal Agatha. “Naik aja, yuk!” Verrel menoleh ke arah Agatha dan Shana yang berjalan—sesekali berenang—ke arah tepian. “Udah nyerah kalian?” tanyanya dengan nada meremehkan. “Gue juga udahan,” celetuk Arthur membuat Verrel terdiam sambil memasang wajah suram. Sambil menoleh ke arah Verrel, ia berujar, “Kenapa? Lo kalau masih mau di sini ya nggak apa-apa.” “Mentas juga deh gue,” kata Verrel kemudian. Rick menertawakan kelakuan Verrel itu. Ia jadi yang keluar belakangan dari dalam air. *** Seberes membersihkan diri dan berganti pakaian, Shana dan Agatha masih berkutat di tenda. Mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk merawat diri setelah berpanas-panasan dan berenang di pantai tadi. “Belang nggak, Tha?” tanya Shana sambil memperlihatkan lengannya. “Nggak belang. Rada mateng aja sih kulit lo,” jawab Agatha. “Tapi bagus kok. Lo kalau tinggal lebih lama di daerah pantai gini kulit lo bisa eksotis.” “Gue sih mau-mau aja tinggal di pantai, sering berjemur sampai kulit gue jadi eksotis, tapi nggak di sini.” Shana lantas bergidik ngeri. “Pantai ini bukan tempat yang cocok buat liburan.” Agatha tertawa terbahak. “Siapa juga yang nyuruh lo tinggal di sini.” Shana mengedikkan bahunya. Ia pun membereskan pouch make up-nya dan berjalan keluar tenda. “Ke aula yuk, Tha. Tenda-tenda udah sepi nih. Pasti orang-orang udah cabut buat makan siang.” Agatha mengangguki ucapan Shana. Ia pun mengemasi barang-barangnya dengan asal, menumpuknya di atas matras, dan berlari keluar tenda. Dengan iseng, Agatha menabrakkan diri ke arah Shana hingga keduanya terlempar dan jatuh ke pasir—ya untungnya ke pasir, kalau ke lantai yang keras, bisa-bisa keduanya cedera. “Sinting ya lo,” kesal Shana. Ia baru saja mandi, baru saja mengganti pakaiannya dengan pakaian bersih. Dan sekarang, ia justru sudah berlumuran pasir. “Agatha!” Punya teman seperti Agatha memang menguras kesabaran. Gadis itu memang dasarnya suka berbuat iseng. Kadang isengnya kelewatan dan jatuhnya bodoh begini. Dibentak begitu oleh Shana, Agatha hanya memasang ringisan lebar. Agatha lantas bangkit lebih dulu dan mengulurkan tangannya untuk membantu Shana. Shana—meski kesal bukan main pada sobatnya itu—menerima uluran tangan Agatha. Ia pun berusaha bangkit dari posisi duduknya. Namun saat merasa Agatha lengah, Shana menariknya dengan kekuatan penuh. Alhasil, Agatha kembali tersungkur ke pasir. “Shana!” pekiknya. Shana tertawa kencang saking senangnya. Jangan kalian pikir Shana itu waras. Kalau waras, sudah pasti ia tidak akan cocok berteman dengan Agatha. Intinya, Shana sama saja gilanya. Ia bisa iseng, bisa bertingkah konyol, pun menjadi orang bodoh. Agatha melempar pasir ke arah Shana. Tentu saja, Shana tak tinggal diam. Ia membalas Agatha dengan melempar dua genggaman penuh pasir dari tangannya. “Anjing!” Terkaget-kaget, Verrel yang ternyata menyusul ke tenda kedua gadis itu dibuat melongo mendapati pemandangan di hadapannya. Arthur yang ternyata berjalan mengekori Verrel pun tampak ikutan terdiam setibanya di sana. Pemuda itu berusaha mencerna apa yang ia lihat saat itu. “Agatha yang mulai,” lapor Shana sambil berusaha berdiri, namun berhasil dijatuhkan kembali oleh Agatha. Agatha tak segan-segan menyelengkat kaki Shana. “Shana juga ngebales gue,” ujar Agatha tak mau kalah. Mulut Verrel sudah menganga. Sementara itu, sudah tak terhitung berapa kali banyaknya Arthur menghela napas dan membuangnya dengan keras. “Kesambet kalian? Habis renang di pantai terus ketempelan setan?” tebak Verrel beberapa saat kemudian. Ia sudah sangat risih melihat Agatha dan Shana yang berguling-guling di pasir sambil saling tertawa—padahal tidak ada yang lucu. Arthur yang bingung harus berbuat apa memutuskan untuk cabut dari sana dan menuju ke aula. Melihat Arthur berbalik pergi, Verrel tentu kelimpungan. Bagaimana caranya ia menghadapi dua gadis yang bertingkah seperti orang kesurupan? “Woi, Ar, ini gimana?” teriak Verrel karena jaraknya dan jarak Arthur sudah cukup jauh. Di kejauhan sana, Arthur mengibaskan tangannya. Dengan enteng, ia pun berujar, “Udah biarin aja!” Alhasil, Verrel bingung harus bagaimana. Pemuda itu pun memilih pasrah saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN