Semua orang menoleh dengan wajah terheran-heran ketika Shana dan Agatha berjalan memasuki aula. Beberapa dari mereka mulai berbisik-bisik dengan mode menggunjingkan orang. Namun Shana dan Agatha tampak tak peduli dijadikan bahan gunjingan itu.
Hanya saja, lain halnya dengan Verrel. Pemuda itu menahan malu sampai-sampai harus berjalan menunduk dan menutupi wajahnya dengan tangan. “Salah kayanya gue jalan di belakang mereka,” keluhnya.
Lalu tampak juga Arthur yang melambaikan tangan di kejauhan sana agar Shana, Agatha, dan Verrel menghampirinya. Pemuda itu sudah mengambil empat kotak makan siang untuk ia dan ketiga temannya serta memilih tempat yang nyaman di sana.
“Perhatian amat lo,” celetuk Verrel yang akhirnya merasa sedikit lega ketika sudah tiba di dekat Arthur dan tidak lagi menjadi bahan tontonan orang-orang karena berjalan dengan dua gadis berpenampilan kumal.
Arthur hanya menggumam mengiakan. Ia pun membagikan kotak makan siang itu satu per satu kepada ketiga temannya. “Duduk gih,” suruhnya kepada teman-temannya yang masih setia berdiri.
Sebelum duduk, Shana dan Agatha sibuk mengibas-ngibaskan pakaian—bahkan rambut mereka—untuk menghempaskan pasir-pasir yang membuat mereka tampil seperti gembel.
“Ups, lantainya jadi kotor,” celetuk Shana malu-malu. Ia pun celingukan berusaha mencari sapu atau semacamnya untuk membersihkan kekotoran akibat ulahnya.
“Alah, biarin aja,” kata Agatha dengan santai. Ia tidak berniat membersihkan pasir-pasir itu dari lantai aula.
Arthur memperhatikan saja tingkah teman-temannya dengan tenang. Ia juga sambil mulai membuka kotak makan siang miliknya.
“Eh, udah pada mulai makan, ya?” Verrel memperhatikan Arthur dan juga lingkungan sekitarnya. “Gue makan juga deh,” putusnya, “kelamaan nungguin dua bocah rempong ini.”
Yang Verrel maksud sebagai dua bocah rempong itu adalah Agatha dan Shana. Mendapati celetukan Verrel yang demikian, kedua gadis itu kompak memelototi Verrel.
Verrel memasang cengiran lebar dan lanjut mengalihkan perhatian ke kotak makannya. “Porsi normal, guys!” katanya riang dan buru-buru mengambil satu suapan besar untuk dimasukkan ke dalam mulut.
Disumpal makanan begitu, Verrel tidak lagi mengoceh. Agatha dan Shana juga sudah selesai dengan kegiatan bersih-bersih badan dari pasir. Sehingga keempat sekawan ini melanjutkan makan dengan khidmat.
***
Seberes makan, Arthur beserta ketiga orang yang mengekorinya pergi menuju ruang panitia. Mereka ingin melihat kembali situasi terbaru di sana. Karena suatu kehormatan bagi mereka bisa mengetahui banyak hal, lebih dari peserta makrab lainnya. Tapi itu pula yang membuat mereka tidak bisa hanya bersenang-senang di sana.
“Gue belum lihat Rick,” celetuk Agatha. “Dia ke mana?”
Verrel menjawab, “Udah duluan ke aula tadi sehabis mandi.”
“Gue nggak lihat batang hidungnya di sana,” timpal Shana.
Arthur yang tadinya enggan bicara akhirnya buka suara karena ini Shana yang bertanya. “Dia bantu-bantu ngurusin bahan makanan yang tadi dikumpulin peserta,” jelasnya.
Dengan angkat bicara begitu, Arthur menyelesaikan tanda tanya di kepala teman-temannya. Ia pun kembali menutup mulut dan menghadap ke depan, memperhatikan jalanan setapak yang ia lalui.
Tiba di ruang panitia, Arthur melongokkan kepalanya ke dalam. Di sana ia melihat Hea tengah menangis sesenggukan. Belum cukup keterkejutan Arthur melihat situasi itu, Rick menghampirinya dan menyodorkan ponsel untuk Arthur lihat apa yang tertampil pada layarnya.
“Ada apa woi?” tanya Verrel masih dengan nada ceria ketika menepuk bahu Arthur. Wajar saja, ia belum melihat apa yang Arthur lihat.
Arthur meneguk ludahnya dan masih memilih diam. Namun ia menyerahkan ponsel Rick kepada Verrel agar sobatnya itu bisa melihat sendiri apa yang sebenarnya terjadi.
“Anjir,” umpat Verrel. “Wah, apaan ini? Bangke banget!”
Shana dan Agatha pun kompak mendekat ke arah Verrel dan berusaha melihat apa yang menyebabkan Verrel mengumpat begitu.
“Ini bahan makanan kenapa pada kecampur sama pasir?” tanya Shana yang mendadak nge-blank dan tidak paham dengan apa yang ia lihat barusan.
Rick angkat bicara. “Gue nemuin itu di belakang dapur. Tadi waktu gue mau nyuci kerang di keran yang ada di dalam dapur, saluran pembuangannya mampet. Gue coba cari masalahnya di mana dan ngecek ke belakang dapur. Ternyata gue mendapati kalau yang bikin saluran itu mampet ya karena di sana banyak beras berceceran dan udah bercampur dengan pasir, terus ada daging-daging ayam yang udah dibiarin gitu aja di pasir, beberapa lusin telur ayam yang udah pada pecah, terus ada sayur dan semacam mi gitu yang dibuang-buang di sana. Dan kayanya nggak mungkin juga kalau ini dipungutin lagi. Secara tadi pagi kan dapur udah dibuat masak, panitia juga cuci peralatan masaknya di sana. Otomatis bahan makanan itu udah tercemar air dan sabun bekas cuci piring.”
Shana memegangi kepalanya, tampak pusing tujuh keliling mendengar penjelasan panjang lebar dari Rick. Mulut Shana juga terbuka saking tidak habis pikirnya ia dengan apa yang terjadi.
Agatha pun bereaksi tak kalah terkejut dari Shana. Gadis itu memegangi dadanya yang terasa sakit melihat bahan makanan yang berharga itu terbuang percuma.
“Hea nangis kenapa?” tanya Arthur kemudian. Ia memilih tidak berlarut dalam keterkejutannya. Meski sebenarnya di dalam hati Arthur ingin menonjok orang yang punya otak tapi tidak punya akal dan berpikiran sempit hingga melakukan hal super bodoh begitu.
Rebecca keluar dari ruang panitia dan menjawab pertanyaan Arthur. “Ya apalagi kalau bukan karena syok lihat makanan yang dibuang-buang itu. Gue aja rasanya pengen mencabik-cabik orang t***l yang udah bikin panitia muter otak buat tetep bisa masak!”
Arthur berpesan kepada Rick untuk menenangkan Hea atau sekadar menenangkan situasi di sana. Sementara itu, Verrel juga memberi instruksi agar Verrel, Shana, dan Agatha mengikutinya.
“Mau ke mana?” tanya Shana sambil berjalan mengekori Arthur.
“Kita cari Felix,” kata Arthur, “gue curiga dia termasuk yang membuat ulah di tempat ini. Karena nggak mungkin kalau yang buang-buang bahan makanan itu si Irvin dan Nafi. Mereka udah cabut semalam.”
“Tapi bisa aja mereka yang buang makanan-makanan itu sebelum ikut perahu nelayan dan kabur dari sini,” cetus Shana yang tampak sangsi dengan dugaan Arthur.
Verrel yang tadinya berjalan di belakang, kini tampak berusaha menyejajari langkah Arthur. Setelah berhasil, pemuda itu ikutan bicara, “Yang Shana bilang mungkin benar. Tapi kalau memang Irvin sama Nafi yang buang-buang bahan makanan semalam, kayanya waktunya terlalu mepet. Semalam kan mereka cabut setelah makan malam. Itu berarti kemungkinan masih ada panitia di dapur yang beberes. Masa iya mereka beraksi saat di sana masih banyak orang?”
“Dan buang-buang bahan makanan itu juga pasti butuh waktu. Beras, telur, daging itu kan berat ya. Mereka pasti nggak bisa sekali jalan angkut semua itu,” ujar Agatha. “Gue setuju sih kalau di sini masih ada perusuh, entah Felix atau bukan.”
Arthur mengangguk-angguk mendengar pendapat teman-temannya. Ia pun bertekat, “Makanya gue akan cari Felix sekarang. Secara, informasi yang kita punya terbatas. Karena Felix dekat dengan Irvin dan Nafi, dia yang cukup potensial untuk dicurigai.”
Shana pun akhirnya mengiakan. Karena setelah dipikir-pikir, kata teman-temannya itu memang masuk akal.
Empat sekawan itu berjalan menyisir area resort tempat mereka berkegiatan. Dan siang-siang begini, kemungkinan besar peserta berdiam di tenda masing-masing. Apalagi tidak ada kegiatan, kebanyakan peserta memilih malas-malasan di dalam tenda glamping yang fasilitasnya setara kamar hotel.
“Lo tahu tendanya yang mana?” tanya Verrel pada Arthur.
Arthur menggelengkan kepala. “Kita cari aja,” katanya dengan enteng dan tetap melanjutkan langkah, “pasti ada di bagian tenda laki-laki.”
“Kalau itu sih gue juga tau,” balas Verrel sengit. “Harusnya tadi kita tanya panitia buat pembagian tendanya. Biar kita—”
Verrel menggantungkan ucapannya kala ia melihat gestur Arthur yang memberi isyarat agar Verrel diam. Pemuda itu langsung paham dan menelan kembali kata-katanya.
Verrel melambatkan langkahnya agar bisa sejajar dengan Agatha dan Shana serta membiarkan Arthur berjalan mendahului mereka. Karena kan pastinya Arthur yang akan banyak action.
“Permisi,” sapa Arthur pada seorang pemuda yang sedang duduk di teras tendanya. Rupanya ketika Arthur menyapa begitu, seorang pemuda lainnya tampak menyusul keluar dari tenda.
Felix—orang yang semula duduk santai—bangkit berdiri dan membalas sapaan Arthur. “Iya?”
Sementara pemuda lainnya yang tidak Arthur ketahui namanya turut bertanya, “Ada perlu apa, nih?”
Arthur menarik napas sebelum bertanya dengan gaya pura-pura tidak tahu padahal ia sudah tahu jawabannya. “Kalian lihat Irvin dan Nafi nggak, ya? Setenda sama kalian, kan?”
Jujur saja, yang ketar-ketir mendengar pertanyaan Arthur itu bukan hanya yang ditanya saja, melainkan Shana, Agatha, dan Verrel pun menahan napas. Karena mereka yakin Arthur tidak tahu menahu apakah benar Irvin dan Nafi berada di tenda yang sama dengan Felix selama berkegiatan di sini.
Shana dan Agatha saling melempar tatapan cemas. Gurat-gurat khawatir tercetak jelas di wajah mereka. Bagaimana kalau pertanyaan Arthur salah besar dan Felix dapat mencium gelagat aneh dari keempat sekawan itu? Padahal penyelidikan belum dimulai. Bisa-bisa kalau memang Felix terlibat, pemuda itu akan kabur secepatnya—menyusul Irvin dan Nafi—atau bersembunyi di tempat yang tidak bisa keempat sekawan itu ketahui.
“Bener mereka setenda sama kami.” Bukan Felix yang menjawab. Justru pemuda yang berdiri di sebelahnya lah yang tampak antusias mendengar pertanyaan Arthur. “Tapi sejak semalam, mereka nggak balik ke sini. Kalian cari mereka karena ada perlu apa?”
Arthur tanpa banyak berpikir langsung saja menjawab, “Mereka ditanyain panitia. Kalau nggak ada ya nggak apa-apa. Nanti gue bilang kalau mereka memang nggak ada.”
“Mereka baik-baik aja kan, ya? Takutnya nggak balik ke sini ternyata karena kenapa-kenapa.” Felix tampak mengkhawatirkan Irvin dan Nafi. Meski demikian, belum bisa dipastikan apakah Felix itu bersungguh-sungguh atau hanya berusaha mengecoh Arthur dan kawan-kawannya.
Tentu saja Arthur menggelengkan kepala. “Kalau gue tahu keadaan mereka, mungkin gue nggak akan nyamper ke sini.”
“Bener juga,” celetuk Verrel begitu saja.
Agatha menggeplak lengan Verrel agar pemuda itu tidak asal ceplos dan baiknya diam saja selagi menunggu Arthur selesai bicara dengan Felix.
Arthur terdengar berdecak sekali namun itu ia lakukan dengan cukup keras. Setelahnya, Arthur bertanya dengan nada bicara yang ringan—tanpa penekanan dan maksud apa-apa—namun menyimpan jebakan, “Semalam kalian ikut ngumpul di dermaga?”
Kembali, pemuda yang berdiri di sebelah Felix langsung menjawab dengan senang hati, “Iya, gue ada di sana. Ikutan protes karena kesel banget sama panitia yang milih buat nggak memberangkatkan kita-kita para peserta.”
“Kalau lo gimana?” Arthur menunjuk Felix dengan dagunya.
“Dia nggak ikutan,” sambar pemuda yang berdiri di sebalah Felix itu lagi. Sepertinya ia berbakat untuk menjadi juru bicara, kuasa hukum, atau semacamnya. Masalahnya ia dengan sigap menjawab semua pertanyaan yang berusaha Arthur lemparkan pada Felix.
Tapi Arthur tidak keberatan. Ia merasa bahwa pemuda yang bersama Felix itu sejauh ini bicara dengan jujur—karena sejak tadi diam-diam Arthur menilai gerak-geriknya.
“Kenapa?” Shana kelepasan bertanya.
Felix menjelaskan, “Semalam gue nggak enak badan. Makanya pas semua orang cabut karena info soal ada perahu yang bersandar di dermaga, gue memilih langsung istirahat aja.”
Shana dan semua orang di sana termasuk Arthur kompak ber-oh-ria. “Sekarang udah baikan tapi?” tanya Shana berbasa-basi.
Felix menampilkan senyum lebar. Sekilas terlihat pemuda itu cukup tersentuh dengan pertanyaan Shana—karena sedikit banyak itu menunjukkan bahwa Shana memberikan perhatian padanya—dan mengangguk dengan riang. “Udah,” jawabnya.
Shana tersenyum kecil dan cenderung kaku. Ia pun menoleh ke arah Arthur untuk meminta pemuda itu kembali mengambil alih obrolan.
“Lo balik ke tenda jam berapa?” tanya Arthur yang kali ini benar ia tujukan kepada pemuda yang bersama Felix di tenda itu.
Pemuda itu memiringkan kepalanya sembari menggumam panjang, berusaha mengais ingatannya. “Jam berapa ya? Gue lupa, tapi udah larut banget pokoknya. Makanya tadi pagi gue bangun kesiangan. Dia aja sampai cabut duluan dari tenda tanpa ngebangunin gue mengingat gue molor udah kebo abis.”
Arthur menaikkan sebelah alisnya. Satu sudut bibirnya juga terangkat sedikit, menampilkan senyum asimetris tipis-tipis. “Oke deh,” pungkasnya yang merasa sudah cukup mendapatkan informasi untuk membuat gambaran-gambaran atau kemungkinan terkait keterlibatan Felix. Kalau ia membutuhkan informasi lebih lanjut, Arthur juga tahu harus datang ke siapa.
“Udahan, Ar?” bisik Agatha.
Arthur mengangguki pertanyaan Agatha. Selanjutnya ia pun berpamitan kepada Felix dan pemuda di sampingnya. Sementara Shana, Agatha, dan Verrel masih setia mengekori Arthur dan mengikuti saja apa yang Arthur kerjakan atau lakukan, termasuk balik badan dan pergi dari sana.