Sambil berjalan menjauhi tenda di mana keempat sekawan itu menemui Felix, Arthur dicecar banyak pertanyaan dari ketiga sobatnya. Ah, atau lebih tepatnya, ketiga sobat Arthur itu ingin tahu bagaimana pendapat Arthur setelah bicara dan bertatap muka dengan Felix secara langsung.
"Dia cukup tenang," ujar Arthur. "Gue nggak menemukan tanda-tanda dia berbohong."
Mendengar ucapan Arthur itu, gumaman kekecewaan keluar dari mulut Agatha dan Shana. Padahal mereka kira Arthur akan bilang bahwa Felix tadi itu ketika diajak bicara justru sibuk menutup-nutupi sesuatu.
Sama tak puasnya dengan Agatha dan Shana, Verrel langsung bertanya untuk memastikan, "Berarti bukan dia dong pelakunya?"
Arthur yang semula berjalan sambil menundukkan kepala dan memberi perhatian hanya pada jalanan setapak yang ia pijak, kini terlihat mendongakkan kepala dan menoleh sekilas ke arah Verrel. Ia menegaskan, "Gue nggak ngomong gitu."
Verrel mengernyit sampai kerutan-kerutan di dahinya teramat kentara. "Terus?"
"Jawaban dia memang bukan kebohongan. Tapi lo kan tau sendiri kalau dia jarang menjawab pertanyaan gue," ujar Arthur setelahnya.
Verrel ber-oh-ria, sedikit paham dengan apa yang Arthur maksud. "Jadi gimana, Ar?"
"Gue lebih bisa mempercayai omongan cowok yang satu tenda sama Felix," ungkap Arthur.
"Setuju," cetus Shana sambil menjentikkan jarinya. "Dia kayanya polos banget ya. Dipancing sedikit langsung cerita macem-macem. Jujur pula, nggak pakai saringan."
"Bagus dong," puji Agatha.
Mereka pun tak lagi berbicara tentang Felix karena mereka berpapasan dengan beberapa peserta dan tak ingin orang lain mencuri dengar. Sesekali hanya Verrel yang menyapa orang-orang yang berpapasan dengan mereka meski tak kenal—karena pada dasarnya Verrel hanya bertingkah sok kenal saja untuk menjadi benar-benar kenal.
"Dari mana, Bang?" tanya Verrel tanpa maksud apa-apa.
Orang itu menjawab, "Dari aula, Bang. Ada yang kesurupan di sana."
Verrel membelalakkan matanya. "Kesurupan?" Ia membeo.
"Iya, kesurupan," timpal yang lain, "katanya sih ketempelan gara-gara habis berbuat yang enggak-enggak sama pacarnya."
"Anjir, jijik banget," komentar Agatha sambil bergidik. "Nah yang kaya gini yang bikin kita semua dikutuk dan kena sial selama di sini!"
Shana menyenggol lengan Agatha agar sobatnya itu berhenti memberikan komentar kontroversial. Bisa bahaya kalau ada orang yang dengar dan melaporkan Agatha kepada orang yang dikatainya. Padahal belum tentu juga rumor yang beredar benar.
"Astaga, tapi kan emang bener, Sha," kekeh Agatha tetap pada pemikirannya.
Shana memutar bola matanya, menyerah untuk ikut campur lagi. Terserah Agatha saja mau bilang apa.
Namun itu tak berlanjut lantaran orang yang berpapasan dengan mereka memilih untuk lanjut berjalan. Mereka juga masih punya urusan.
Setelah kembali tersisa hanya empat sekawan itu saja, mereka lantas menuju ke aula. Mereka tadinya bingung akan menghabiskan waktu dengan bagaimana. Tapi karena ada kejadian kesurupan, lumayan lah buat mereja jadikan tontonan. Meski terdengar jahat, namun mereka terlanjur kelewat penasaran. Jarang-jarang mereka melihat orang kesurupan seperti ini.
Namun Shana tak seantusias ketiga temannya. Gadis itu justru sedikit gemetaran. Hanya saja ia berusaha menutupi rasa takutnya itu jika tidak mau diledek lagi oleh Agatha.
“Itu ya yang kesurupan?” tanya Agatha sambil menunjuk-nunjuk orang yang tampak bertingkah aneh di kejauhan sana.
“Lah, kaya kenal,” ujar Verrel. Pemuda itu lantas mengucek-ngucek matanya dan berusaha melihat lebih teliti.
“Nggak asing,” timpal Agatha kemudian.
Arthur yang semula belum mencurahkan fokusnya ke arah aula jadi ikut-ikutan mengangkat wajah dan memperhatikan apa yang membuat teman-temannya heboh. Matanya menyipit tak dahinya tampak berkerut. “Karenina?” duga Arthur sangsi.
Agatha dan Verrel kompak menganggukkan kepala dengan semangat. Mereka teramat setuju dengan celetukan Arthur barusan.
“Gila,” ucap Agatha sambil geleng-geleng kepala, “kok tiba-tiba dia kesurupan? Emang di sini ada pacarnya? Siapa anjir? Kan, katanya habis berbuat yang enggak-enggak?”
“Tuh, kan, bisa aja yang tadi itu rumor,” balas Shana. Ia menambahkan, “Kita kan tahu kalau Karenina nggak ke mana-mana. Mana sempat cabut sama pacarnya.”
Agatha menggumam panjang sambil mengelus-ngelus dagunya. “Bisa aja sebelum kejadian hari ini.”
Shana menyeringai dan menggelengkan kepala. “Gue rasa enggak sih.”
Arthur melirik ke arah kedua gadis yang berjalan di sampingnya. Sebenarnya Arthur hendak diam saja, namun pikiran itu cukup mengganjal hingga ia memutuskan untuk mengutarakan yang menjadi beban pikirannya. "Gue mencium bau kepura-puraan," ungkap Arthur.
Tawa Agatha langsung menyembur mendengar itu. Membayangkan bahwa Karenina sedang akting kesurupan membuat Agatha tidak bisa menahan tawa.
"Pura-pura kesurupan biar dapat perhatian?" tanya Verrel pada Arthur sambil berusaha mengabaikan tawa Agatha yang membuat telinganya pengang.
Arthur menggelengkan kepala. "Bukan buat cari perhatian," koreksinya, "tapi justru buat ngalihin perhatian."
Verrel ingin bertanya lagi. Tapi ia urungkan karena jawaban Arthur yang barusan saja tidak bisa Verrel cerna.
Shana berdecak kesal kepada Agatha yang tidak kunjung berhenti tertawa. "Awas, ketawa terus nanti bikin setannya pindah ke elo!"
Agatha semakin tertawa terbahak-bahak gara-gara celetukan Shana. Namun di sela tawanya itu, ia mengusulkan sebuah ide, "Gimana kalau kita hancurin aktingnya?"
"Tha," tegur Shana saat melihat sisi psikopat Agatha yang suka mencari gara-gara.
Namun Agatha tak gentar. Gadis itu berujar, "Kita bikin malu aja dia. Ngapain coba pakai pura-pura kesurupan? Dikira sini b**o apa percaya sama tipu muslihatnya."
Verrel menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Ia pun meletakkan telapak tangannya di bahu Agatha agar gadis itu berhenti berjalan—sedikit berjingkrak—dengan semangatnya. Verrel merendahkan suara dan bicara dengan kalem, "Kita cukup buat dia sadar aja. Itu pun kalau dia memang hanya pura-pura kesurupan. Siapa tahu dia kesurupan beneran. Jangan macam-macam deh."
Agatha menepis tangan Verrel dari bahunya. Gadis itu juga berdecak kecil lalu memasang wajah murung karena lagi-lagi Verrel bertentangan dengannya.
Hingga tak terasa, keempat sekawan itu sudah kembali berada di aula. Mereka berjalan mendekati kerumunan yang pastinya tengah menyaksikan orang kesurupan.
"Karenina beneran, njir," celetuk Verrel.
Ketiga temannya hanya menoleh sekilas dan tidak terlalu menanggapi celetukan Verrel itu. Ya iya lah, apa yang ada di hadapan mereka lebih menarik dari sekadar mendengarkan Verrel.
Di hadapan keempat sekawan itu, ada seorang gadis yang tengah berguling-guling di lantai aula. Tak lain dan tak bukan, gadis itu adalah Karenina—seperti yang sudah empat sekawan itu duga.
Beberapa orang tampak berusaha menangkap Karenina untuk kemudian mereka pegangi agar tidak lagi menyakiti diri sendiri dengan berguling-guling di lantai aula yang keras. Hanya saja usaha itu gagal. Bukan karena tenaga Karenina cukup besar untuk mengalahkan mereka seperti pada kasus kesurupan umumnya. Namun itu karena Karenina tampak buas dan orang-orang lebih dulu merasa ketakutan.
Arthur maju selangkah dan berusaha menangkap gadis itu, tapi yang ada Karenina justru berteriak keras-keras dan menunjuk-nunjuk wajah Arthur dengan sengit. Bukannya jera, di situasi seperti itu Arthur masih bisa bersikap tenang, menarik napas dalam-dalam, dan menguatkan tekadnya untuk kembali menghentikan aksi gila Karenina.
Saat berhasil mengunci pergerakan Karenina, Arthur mendekatkan mulutnya ke telinga gadis gila itu. Selanjutnya, tampak lah Arthur yang berbisik lirik kepada Karenina. Entah apa yang Arthur katakan, namun Karenina akhirnya diam. Benar-benar diam dan membuat orang-orang di sekitar mereka menahan napas dan sama-sama terdiam.
Beberapa saat kemudian, orang-orang di sana yang memercayai bahwa Karenina kesurupan pun mulai memuji aksi Arthur sebagai orang pintar dadakan yang mampu mengusir hantu atau roh halus yang merasuki Karenina. Beberapa orang bahkan menjuluki Arthur sebagai anak indigo dengan kemampuan khusus.
Padahal yang Arthur lakukan jauh dari hal-hal berbau mistis. Yang ada, Arthur hanya membawa Karenina ke dalam kondisi realistis. Hanya saja sejauh ini tidak ada yang tahu apa yang pemuda itu katakan. Bahkan ketiga rekannya, mereka juga sama-sama masih meraba apa yang sebenarnya Arthur lakukan beberapa saat yang lalu.
Arthur lantas balik badan dan menunjuk ke arah Agatha juga Shana. "Bawa dia," perintahnya dengan nada datar.
"Sial, kenapa lo nyuruh-nyuruh gue?" pekik Agatha pada Arthur yang sudah lebih dulu berlalu ke arah ruang panitia. Agatha yang kebingungan pun kembali bertanya, "Bawa ke mana, anjir?"
Arthur hanya melambaikan tangan, sepertinya itu isyarat agar Agatha membawa Karenina ke tempat yang akan Arthur tuju. Ah, Agatha lupa kalau ia punya teman yang sukanya bicara dengan bahasa kalbu—ehm, maksudnya bahasa tubuh—alih-alih bicara secara langsung dengan menggunakan karunia Tuhan bernama mulut.
"Sha, ayo!" ajak Agatha.
Shana justru mundur selangkah. "Nggak deh, lo aja, Tha."
Dan setelah bicara begitu, Shana lari tunggang langgang meninggalkan Agatha di sana. Gadis itu menyusul Arthur tanpa berniat membantu Agatha sedikit pun.
Agatha mendesis dan mengumpat, "Pasangan k*****t!"
Satu-satunya yang tersisa di sana adalah Verrel. Meski tidak etis meminta pacarnya itu memapah gadis lain, Agatha tidak punya pilihan lain. "Bantuin!" pinta Agatha pada Verrel dengan nada kesal.
"Ya, sans dong," balas Verrel kemudian mencebikkan bibirnya. Namun ia tetap mendekati Agatha dan Karenina lalu turut membantu Agatha membawa kembali Karenina ke ruang panitia.
Karena pertunjukan sudah selesai, penonton pun mulai membubarkan diri. Satu per satu orang menjauh dari aula dan mencari aktivitas baru yang bisa mereka kerjakan selagi tidak ada kegiatan yang diberikan oleh panitia acara makrab.
***
Karenina melepaskan diri dari Agatha dan Verrel yang sejak tadi membantunya berjalan. Gadis itu memasuki ruang panitia dengan kepala tertunduk dalam. Rambutnta yang panjang dan kusut menjuntai menutupi wajahnya.
"Akting lo kurang natural," komentar Arthur dengan pedas. Rupanya Arthur sudah menunggu kehadiran Karenina dan bersiap memberondong gadis itu dengan pernyataan pedas atau pertanyaan panas.
Karenina tidak menjawab apa-apa. Ia justru menarik kursi dan mendudukinya.
"Lo tadi bisikin dia apa, Ar?" tanya Verrel dengan keponya. Secara, ia sudah menahan keinginan bertanya sejak tadi.
Arthur mengedikkan bahu ringan, seringan caranya menjawab pertanyaan Verrel, "Gue cuma bilang kalau dia bertingkah kaya gitu, orang akan semakin berpikir dia terlibat dan buat salah. Termasuk gue yang akan semakin nggak percaya sama dia."
Karenina mendongakkan kepala dan menatap Arthur dengan sengit. "Lo bakal menyesal karena udah mengancam gue kaya gitu."
Arthur mengerutkan keningnya. "Mengancam?" ulangnya.