Karenina menganggukkan kepala dengan yakin. Gadis itu menganggap apa yang Arthur lakukan adalah sebuah bentuk ancaman. Di mata Karenina, Arthur adalah perwujudan iblis, pura-pura tenang dan benar, tapi nyatanya menghancurkan.
"Gue cuma menyelamatkan lo dari hal yang sia-sia," ucap Arthur kembali. "Udah sia-sia, kalau ada orang yang sadar lo cuma pura-pura kesurupan lo bakalan kehilangan muka, dan begonya lo masih merasa bahwa cara yang lo pakai tadi benar."
"Gila, yang tadi itu emang hiburan banget sih. Gue masih nggak bisa berhenti ketawa kalau ingat yang tadi. Perwujudan dari pikiran orang yang udah nggak ada otak," seloroh Agatha dengan bahasa frontalnya.
Karenina melirik sekilas ke arah Agatha. Namun ia tidak memulai keributan dengannya. Mungkin karena Karenina tahu bagaimana tabiat Agatha, makanya ia tidak mau berurusan dengannya.
"Setidaknya Arthur menyelamatkan lo dari rasa malu," kata Hea yang entah datang dari mana sembari menyodorkan air mineral dalam kemasan kepada Karenina. Ia melanjutkan ucapannya, "Kalau nggak ada Arthur, gue yakin lo bakalan bingung harus menyudahi akting lo dengan cara apa."
"Konyol emang," timpal Sania.
Rebecca juga angkat bicara, "Lo kalau memang nggak salah, nggak perlu takut sampai berulah kaya gini, Kar."
Sania menambahkan, "Lo nggak usah dengerin omongannya Cairo. Dia itu pengen buat lo panik dan malah jadi kaya gini. Biar apa? Biar lo lebih kelihatan kacau daripada dia."
Karenina mengembuskan napas kasar. Ia pun melengos dan tampak tidak ingin diajak bicara oleh orang-orang yang ada di sana. Mungkin akhirnya gadis itu merasa malu lantaran perbuatan konyolnya tadi.
"Rick mana?" Pertanyaan Arthur itu memecah keheningan yang sempat ada di antara mereka. Ia lantas juga menyempatkan diri untuk memberikan perhatian pada Hea. "Ya, lo udah baikan?"
Hea menganggukkan kepala. "Seperti yang lo lihat, gue udah baik-baik aja."
Arthur mengangguk kecil sebagai balasan.
Hea lantas menjawab pertanyaan Arthur lainnya. "Lo nyari Rick? Tuh, orangnya lagi tidur. Katanya semalam dia nggak tidur."
"Masa?" Verrel refleks menyambar. Karena seingatnya, Rick tidur hampir berbarengan dengan ia dan Arthur. Bahkan bangun tidurnya pun diwaktu yang bersamaan. Sayangnya ungkapan Verrel yang meragukan perkataan Hea itu hanya dianggap angin lalu dan tidak terlalu digubris oleh yang lain. Sehingga Verrel pun memutuskan untuk menutup mulutnya dan mengalihkan perhatian ke apa yang teman-temannya bicarakan sekarang.
***
Shana duduk termenung di kursi malas yang ada di dekat area pantai. Arthur juga melakukan hal yang mirip-mirip dengannya, hanya saja pemuda itu sibuk dengan ponselnya. Sementara di kejauhan sana, Verrel dan Agatha sibuk berswafoto.
Peserta makrab hilir mudik di sekitar Shana dan Arthur. Namun Shana tampak tidak terganggu dengan itu dan hanya sibuk melamun.
Pikiran gadis itu melayang-layang jauh ke pulau seberang. Pertanyaan soal keadaan Ganendra dan beberapa peserta makrab yang sakit memberatkan kepala Shana.
Apa mereka tiba dengan selamat? Lalu apa Ganendra bisa menangani semua masalah yang menanti setibanya ia di pulau seberang? Lantas bagaimana dengan dua orang yang diduga kuat terlibat sebagai dalang di balik kecelakaan-kecelakaan yang menimpa para peserta makrab? Apakah keduanya lolos begitu saja tanpa diketahui orang atau justru mereka kembali membuat masalah?
"Gue khawatir," gumam Shana dengan suara sedikit agak keras.
Arthur mendongakkan kepalanya. "Sama," jawabnya singkat seolah ia tahu apa yang sejak tadi Shana pikirkan tanpa perlu Shana bercerita.
"Ganendra udah ketemu bokap gue belum, ya?" Shana bertanya dengan tatapan mengawang. "Masalahnya nggak ada tanda-tanda bantuan datang."
Arthur tampak menarik napas dan membuangnya dalam sekali embusan. "Semoga aja mereka lagi cari cara buat ke sini atau menghubungi pihak yang menyediakan transportasi tempo hari. Siapa tahu kejadiannya kaya semalam. Tiba-tiba aja ada perahu yang datang ke dermaga.”
Shana bergumam kecil mengaminkan ucapan Arthur itu. Ia menaruh harapan besar bahwa mereka akan segera diselamatkan.
Namun seolah tidak ingin memberikan ucapan yang mengandung harapan palsu, Arthur menambahkan. “Tapi semisal bantuan nggak datang hari ini karena satu dan lain hal, rasanya kita masih sanggup buat bertahan satu hari lagi di sini sampai acara makrab ini benar-benar selesai dan perahu sewaan panitia datang menjemput kita.”
“Iya juga sih. Kita cuma perlu bertahan sehari lagi di sini sampai acara makrab benar-benar selesai. Tapi gue pengen pulang secepatnya,” rengek Shana.
Dari tepian pantai Agatha melambaikan tangannya. Gadis itu mengajak Shana dan Arthur untuk berfoto bersama. Mengingat kegiatan mereka akan segera berakhir sementara foto-foto dokumentasi mereka masih sedikit, makanya Agatha kejar target.
“Buat di-upload di medsos selama sebulan penuh. Duh, udah lama banget gue nggak main medsos. Sejak masuk ke sini, gue berasa terisolasi dan nggak ngerti update-an dunia luar,” cerocos Agatha saat Shana dan Arthur sudah mendekat.
Akhirnya keempat sekawan itu berfoto-foto menuruti keinginan Agatha. Mereka baru selesai berfoto ria ketika matahari sudah tenggelam sepenuhnya.
***
Ketika malam tiba, semua peserta kembali berkumpul di aula. Panitia membagikan makan malam untuk mereka.
Sambil menunggu giliran pembagian makan malam yang antreannya mirip antrean pembagian sembako, Shana membalikkan badan dan menghadap Arthur yang berdiri di belakangnya. Gadis itu menggelengkan kepala dengan memasang raut wajah sedih. “Nggak ada harapan,” katanya kemudian.
Arthur mengulas senyum tipis. “Nggak masalah. Terhitung nggak sampai satu hari lagi, acara makrab selesai. Kalau lancar, besok sore kita balik.”
“Nggak ada kemungkinan kita bakal terjebak di tempat ini lebih lama lagi, kan?” balas Shana.
Agatha yang berdiri di depan Shana dan mendengar obrolan kedua temannya itu pun turut menimbrung. “Ih, Sha, jangan mikir gitu. Nanti kejadian beneran, lho,” seloroh Agatha.
Shana meringis ngeri. “Amit-amit,” katanya sambil memejamkan mata dan menggelengkan kepala kuat-kuat.
“Nggak ngetuk meja terus ngetuk kepala sekalian?” ledek Verrel yang juga jadi ikut-ikutan.
Mata Shana membeliak. “Hah, apaan, tuh?”
“Mitos paling,” duga Agatha.
“Iya, mitos buat mencegah sial,” tambah Verrel, entah ucapannya bisa dipercaya atau tidak.
Arthur yang melihat bahwa giliran Verrel sudah tiba pun memberi isyarat agar Verrel kembali balik badan dan menerima uluran kotak makan malam. “Buruan, Re. Antrean di belakang masih panjang.”
“Oke,” balas Verrel sambil meraih kotak makan siang yang akan menjadi miliknya.
Selanjutnya, tiba pada giliran Agatha untuk mendapatkan kotak makan malam dan ia pun bergegas menyusul Verrel yang lebih dulu pergi untuk mencaro tempat duduk. Barulah disusul Shana dan Arthur yang berada di urutan setelahnya.
Saat empat sekawan itu sudah kembali berkumpul—duduk di sudut aula sembari menikmati angin malam yang berembus sepoi-sepoi—mereka pun tak banyak cincong dan segera menyantap makan malam mereka dengan khidmat. Makanya setelah sekitar lima belas menitan sibuk mengunyah, masing-masing di antara mereka sudah berhasil menandaskan satu porsi normal kotak makan malam.
“Ah, kenyang,” teriak Verrel dengan suara tertahan. Kalau dia teriak betulan, bisa-bisa satu aula terkejut dibuatnya. Ia lanjut bicara sembari mengelus-elus perutnya, “Habis ini langsung tidur ah. Udah ngantuk dan males rasa-rasanya.”
“Padahal tadi lo bilang kalau mau berkemas-kemas. Barang-barang yang lo bawa kan masih berceceran di dalam tenda,” timpal Agatha. “Dasar mageran!”
Verrel menggumam panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Gue takutnya udah berkemas-kemas, eh besok nggak jadi pulang.”
“Verrel!” seruan itu dilontarkan kompak oleh ketiga temannya, namun tentu saja dengan gaya yang berbeda-beda. Agatha dengan gaya bicara yang siap meladeni jika Verrel mengajaknya ribut. Shana tampak kesal sekaligus lelah. Sementara Arthur memperingatkan dengan suara beratnya, lebih kepada meminta Verrel untuk tutup mulut saja ketimbang bicara yang tidak berguna.
“He-he, ya maaf, guys.” Verrel menanggapi dengan tampang sok polosnya.