R 4.8

2124 Kata
Pergi dari aula setelah menyelesaikan sesi makan malam, Arthur dan kawan-kawannya memilih kembali ke tenda. Mereka memutuskan untuk tidak berkeliaran di luaran sana dan fokus saja membereskan tenda mereka sekaligus mengemasi barang-barang mereka yang perlu mereka bawa pulang. Semula rencananya memang demikian. Namun pada akhirnya, dengan alasan ini dan itu, Shana dan Agatha berhasil mendapat izin untuk tinggal lebih lama di tenda Arthur dan Verrel. Meski jadinya mereka hanya duduk-duduk saja di sana dan tidak melakukan apa-apa. "Kalian yakin nggak beres-beres sekarang aja?" tanya Arthur. Ia takut kalau-kalau kedua gadis itu malah kerepotan besok pagi. Dan jatuhnya, tentu ia dan Verrel juga akan dilibatkan, diminta membantu ini dan itu. Bukannya Arthur perhitungan, namun memang adanya demikian. Arthur sudah hafal tabiat Shana dan Agatha terutama. Dan seperti yang sudah Arthur duga juga, Agatha tetap mengeyel. Gadis itu menjawab, “Kalau masih ada hari besok, kenapa harus sekarang, kan? Udah kalian beres-beres duluan aja.” “Tenda kami nggak berantakan,” ungkap Shana kemudian, “kami cuma harus mengemas barang-barang ke dalam tas aja. Dan itu pun udah dicicil dari kemarin-kemarin karena barang kami memang nggak berserakan di mana-mana.” Arthur mengangguk kecil dan mengembuskan napas. Ia tidak lagi berusaha meminta kedua gadis itu untuk mengerjakan pekerjaan yang tengah ia kerjakan sekarang. Arthur lanjut memasukkan piring dan gelas yang sudah ia cuci—yang memang merupakan salah satu fasilitas glampingnya—ke dalam kabinet. Beres mengeringkan tangan dengan serbet—yang lagi-lagi adalah bagian dari fasilitas di tenda itu—setelah ia selesai menata piring dan gelas, Arthur lanjut mengambil trash bag untuk memunguti sampah yang berserakan di dalam tendanya. Sementara Arthur sibuk dengan urusan membersihkan tenda, Verrel yang ada di sana masih sibuk berkutat dengan mengurusi barang-barang miliknya yang ia bawa selama mengikuti kegiatan makrab. "Jangan liat, gue masih beresin dan lipat-lipat celana dalam," ujar Verrel dengan galak. Seolah-olah ia tidak ingin kedua gadis yang berdiam di tendanya itu melihat barang pribadi miliknya. Namun Agatha yang memang tidak punya kerjaan selain melihat-lihat pun dengan entengnya membalas, "Iya, nggak akan liat punya lo. Orang di depan gue aja ada jemuran dan sederet celana dalam. Punya siapa ini b**o?" Verrel langsung mendongak, menghentikan sejenak aktivitasnya, dan mencari apa yang Agatha maksud. Setelah menemukan hal horor di sana, ia dengan tergesa-gesa menghampiri jemuran baju—yang ada di dekat pintu masuk dan sedikit tertutupi kain layer pintu tenda yang dilipat menjadi satu di bagian samping pintu—dan mulai memunguti apa yang ada di sana. Verrel sedikit misuh-misuh, “Gendeng, ini jemuran Rick udah dari kapan hari masih nangkring di sini. Sampai kering begini jemurannya. Mana isinya dalaman-dalaman yang merusak mata.” Agatha dan Shana terkekeh geli melihat Verrel uring-uringan begitu hanya karena jemuran milik Rick. “Ke mana dah itu bocah?” tanya Verrel merujuk pada keberadaan Rick yang tidak kunjung terlihat. “Betah di aula apa, ya? Sama sekali nggak balik ke tenda.” “Ya udah sih biarin aja,” balas Agatha, “lo nggak berhak ngatur si Rick harus berada di mana.” Verrel memutar bola matanya. Ia menjelaskan bahwa ia tidak bermaksud mengatur Rick. Namun setidaknya, Rick harus kembali ke tenda untuk mengurus barang-barangnya. “Gue sama Arthur dititipin buat bantu mengemas barang-barang Ganendra yang belum sempat dia bawa kemarin. Kalau sambil beresin barang-barang Rick, nambah kerjaan dong, ah!” cetus pemuda itu. Namun panjang umur si Rick ini. Barusan dibicarakan, batang hidungnya langsung terlihat. Pemuda itu masuk ke dalam tenda sembari keheranan. “Gue denger nih kalian lagi ngomongin gue. Ada apa emang?” Sepertinya Rick sudah sempat mendengar ungkapan kekesalan Verrel yang merepet bak suara bajaj. Makanya ia bertanya begitu. Verrel menunjukkan apa yang membuatnya menyebut-nyebut nama Rick tadi. Setumpuk jemuran yang seharusnya Rick urus lebih awal. “Ini,” ujar Verrel dengan muka datar dan cenderung cemberut, “kita punya tamu cewek-cewek.” Rick buru-buru menghampiri Verrel dan mengambil alih jemuran miliknya. “Ya maaf,” ujarnya sambil cengengesan. Verrel mengibaskan tangannya sambil menggumam mengiakan. Ia pun kembali balik badan dan duduk di atas matras tidurnya, melanjutkan kegiatan beberes tas ranselnya yang sempat tertunda tadi. “Ada yang bisa gue bantu, Ar?” tanya Rick saat melihat Arthur sibuk dengan urusan membersihkan tenda. Arthur yang semula memunguti sampah plastik—kebanyakan plastik bekas bungkus makanan, dan sisanya campuran—pun mendongakkan kepala karena diajakan bicara. Ia tak langsung menjawab pertanyaan itu dan memilih melihat-lihat sekitar. “Mungkin bantu ngelipat meja, kursi, dan besi jemuran kalau udah nggak dipakai. Ah, sama bersihin bagian mesin kopi itu, air yang berceceran dilap aja.” Rick mengangguk setuju. Ia memasukkan pakaian-pakaian—yang tadi Verrel angkat dari jemuran—ke dalam tas ranselnya dengan asal dan segera melaksanakan apa-apa saja yang Arthur katakan. “Emang kita perlu beberes sampai segitunya, ya?” Agatha buka suara. “Bukannya nanti bakal ada pihak resort yang beresin? Kayanya ini nggak perlu deh. Kita masuk sini kan udah bayar. Masa harus bersih-bersih juga.” “Ya nggak bersih-bersih banget, tapi gue pengen gue keluar dari sini ninggalin tenda dalam kondisi rapi. Meski nggak kaya awal kita masuk,” balas Arthur. Ia kemudian menoleh ke arah Rick yang sedang melipat meja lipat dan menepikannya kembali ke salah satu sisi tenda. Arthur lantas bicara dengan Rick, “Lo kalau misal nggak mau beresin nggak apa-apa kok. Kayanya memang barang-barang itu dibiarkan tidak terlipat kembali pun nggak masalah.” “Udah, santai aja, Ar. Gampang kok, cuma kek gini doang!” Rick memilih melanjutkan aktivitasnya itu. Agatha menepuk jidatnya dan mendesah lelah. Ia pun kembali berceletuk , “Gini nih kalau orang-orang pada suka mempersulit diri sendiri. Capek deh!” *** Ketika jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Shana mengusulkan pada Agatha agar mereka kembali saja ke tenda mereka. Karena Shana tahu bahwa ia harus meninggalkan tenda Arthur, Verrel, dan Rick agar ketiga cowok itu bisa pergi istirahat. Namun Agatha tampak enggan. Alasannya karena kalau kembali ke tendanya, ia hanya akan berdua saja dengan Shana. Mereka akan melewati malam yang terasa sepi. Apalagi malam ini kebanyakan peserta tidak beraktivitas di luar tenda, entah karena apa. Intinya malam ini suasana tidak seramai biasanya. “Tapi mau sampai kapan kita di sini, Tha?” Lama-lama Shana merasa gemas. Agatha sangat susah diberitahu. Dan tampaknya, gadis itu pura-pura tidak peka bahwa ia harus memberi privasi pada cowok-cowok penghuni tenda itu. Agatha menarik turun kedua sudut bibirnya. Akhirnya ia menuruti apa kata Shana, “Ya udah iya. Ayo balik lah.” Shana lantas menyambar jaket dan ponselnya. “Yuk,” katanya sambil menarik tangan Agatha agar gadis itu tidak diam saja meski sudah setuju untuk kembali ke tenda mereka. Sebelum pergi, Shana juga berujar kepada ketiga cowok yang ada di tenda itu, “Kami balik dulu ya.” “Mau gue antar?” Arthur menawarkan diri untuk mengantar kedua gadis itu. Namun Shana dan Agatha kompak menolak. Shana menambahkan, “Nggak usah, Ar. Kami berani kok jalan sendiri.” “Oke, hati-hati kalau gitu. Sampai tenda langsung istirahat.” Arthur berpesan. Setelahnya, Shana dan Agatha berjalan keluar tenda para cowok itu. Sambil mengenakan sandal yang mereka letakkan di teras tenda, kedua gadis mengedarkan pandangan ke luar. “Orang-orang udah pada tidur apa, ya? Sepi banget,” komentar Agatha. Shana mengedikkan bahu. Namun kelihatannya memang begitu. Dan sebelum rasa takut menguasai mereka, Shana mengajak Agatha untuk bergegas kembali ke tenda mereka. Keduanya menyusuri jalan setapak dengan pencahayaan terbatas. Agatha sampai menggunakan senter ponselnya untuk menambah penerangan di sana. “Gue merinding,” cetus Agatha. Ia menoleh kepada Shana, menyorotkan senter ponselnya ke arah Shana, dan bertanya, “Lo gimana?” Shana menepis tangan Agatha yang mengarahkan senter ke arahnya. “Silau, Tha,” desis Shana. Agatha terkekeh kecil dan kembali mengarahkan senter ponselnya ke arah jalan setapak yang harus ia dan Shana lewati. Namun karena pertanyaannya belum terjawab, Agatha kembali mengajukan pertanyaan itu kepada Shana. “Lo merinding juga?” “Enggak,” jawab Shana asal. Padahal sebenarnya ia juga menahan rasa takut. Dan tiba-tiba saja, Agatha merasa ada batu kecil alias kerikil yang mengenai punggungnya. Sontak saja gadis itu mengaduh dan menyorotkan cahaya dari senter ponsel ke sekelilingnya. “Kenapa, Tha?” Tampak cemas dengan tingkah Agatha yang mendadak bersikap waspada, Shana buru-buru bertanya. Gadis itu jadi ikutan menoleh ke sana kemari mengikuti apa yang Agatha lakukan. “Sha, barusan gue ngerasa kalau punggung gue dilempar kerikil,” rengek Agatha. Badannya sudah lemas dan ingin rasanya kembali ke tenda para cowok—karena jaraknya memang belum seberapa jauh ketimbang ia meneruskan langkah sampai ke tendanya. Namun Shana menanggapi, “Perasaan lo aja kali, Tha. Siapa coba yang ngelempar kerikil? Cuma ada kita berdua di sini.” “Ya justru itu. Karena nggak ada orang selain kita di sini, berarti kemungkinannya ada hantu, Sha. Lo nggak takut?” Agatha asal ceplos saja. Membawa-bawa hantu di tengah obrolan itu membuat kepala Shana sakit. Bahkan saking tegangnya, gigi Shana sampai bergemeretak. “Sha, awas aja kalau lo pingsan terus ninggalin gue sendirian!” sentak Agatha. Sudah tampak pucat, Shana masih berusaha untuk meneruskan langkah. “Udah, ayo!” Keduanya mempercepat langkah menuju ke tenda. Bahkan sesekali mereka berlarian untuk menyingkat waktu perjalanan. Dengan napas terengah-engah, keduanya membuka tenda dan masuk ke teras setelah beberapa saat berpacu dengan waktu. Sampai di sana, Shana benar-benar tidak kuat lagi. Gadis itu menjatuhkan diri begitu saja di lantai teras, tanpa sempat mengikuti Agatha masuk ke dalam tenda. “Sha, masuk buruan,” perintah Agatha. Ia memohon, “Jangan pingsan di situ. Gue nggak tahu harus minta tolong ke siapa kalau lo pingsan.” “Anjir, lemes gue,” kata Shana sambil memegangi kepalanya. Tegang berat membuat kepalanya cenat-cenut. Bukannya kembali bangkit berdiri, Shana malah merebahkan tubuhnya di lantai di teras tenda. “Lo di dalem aja, Tha. Gue rebahan di sini bentar. Kalau kepala gue udah mendingan, gue masuk.” Memang bagian teras tenda mereka sudah ditutup rapat dengan kain layer tenda. Namun tetap saja, bagi Agatha teras bukanlah tempat yang benar-benar aman untuk berlindung, entah dari orang jahat atau setan yang menghantui mereka. “Ya udah, gue lihatin dari sini,” ujar Agatha dari dalam tenda—tepatnya di atas kasur. Gadis itu sambil membuka lipatan selimut dan mulai menutupi tubuhnya sendiri. Shana menggumam mengiakan. Sejenak ia memejamkan mata dan menenangkan diri. Suasana malam di tempat itu ditambah tidak ada orang beraktivitas sejauh mata Shana memandang tadi memang sangat-sangat pas untuk menguji mentalnya. Dan ternyata, Shana masih belum mampu mengatasi ketakutannya. Mengherankan memang! “Eh, Sha,” celetuk Agatha beberapa saat kemudian. Padahal sebelumnya Shana kira Agatha sudah pergi tidur lantaran suaranya tidak lagi terdengar. Shana mendongakkan kepala dengan niatan untuk melihat orang yang mengajaknya bicara. Namun usahanya tidak cukup untuk mewujudkan itu. Akhirnya tanpa menatap Agatha, Shana bertanya, “Apa?” “Itu putih-putih di sebelah lo apa, Sha?” tanya Agatha tanpa menjelaskan lebih lanjut soal apa yang ia maksud. Shana langsung terduduk kaget mendengar pertanyaan Agatha. Yang ada di pikiran gadis itu soal putih-putih di sebelahnya adalah sosok makhluk halus yang memang biasa digambarkan dengan wujudnya yang serba putih—sebenarnya ada warna lain, seperti serba hitam, serba hijau, atau serba merah, tapi itu tidak penting—dan itu membuat Shana kalang kabut. “Mana-mana?” “Itu di lantai,” jawab Agatha sembari menunjuk ke lantai. Shana tak yakin dengan yang Agatha maksud. Secermat matanya melihat, Shana tidak mendapati makhluk apapun di sana. Ah, atau karena Shana tidak peka dan setannya hanya berkenan menunjukkan diri di hadapan Agatha? “Mana setannya, Tha?” cecar Shana. Gadis itu ingin berlari masuk ke dalam tenda. Namun karena Agatha bilang putih-putih itu berada di lantai, Shana jadi takut kalau-kalau karena tidak melihatnya, ia jadi menginjak putih-putih yang tidak jelas wujudnya itu. Mendengar cecaran Shana, Agatha justru melongo kebingungan. “Hah, apa, Sha? Setan gimana?” Shana ikut bingung. Sebelah alis gadis itu terangkat dan mulutnya tampak menggumamkan kata tanya. “Ogeb,” maki Agatha lantas tertawa geli. Melihat Agatha justru tertawa, Shana rasa ia salah paham soal setan tadi. “Terus apa dong?” Shana harus menunggu barang beberapa waktu hingga tawa Agatha mereda. Sampai akhirnya gadis itu bisa menjawab, “Itu lho, Sha. Putih-putih yang ada di dekat pintu. Kelihatan kaya kertas mungkin, ya?” Shana mencari-cari dan barulah saat itu Shana paham apa yang Agatha maksud. “Owalah, ini,” seru Shana. “He-eh, ambil terus bawa sini,” pinta Agatha. Shana memungutnya dan berjalan mendekati Agatha. Untungnya kepala Shana sudah tidak sepusing tadi. Mungkin karena efek terkejut juga jadi ia berubah siaga dan bugar kembali. “Surat, Tha?” tanya Shana sambil membolak-balikkan benda putih—yang semula diduga kertas, dan memang nyatanya kertas—yang ternyata adalah amplop. Agatha membelalakkan matanya. “Surat?” “Eh, bukan,” koreksi Shana yang membuat Agatha makin penasaran saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN