R 4.9

2019 Kata
Karena tak sabar dan terlanjur sangat penasaran, Agatha pun menyambar amplop putih itu. Tanpa banyak berpikir lagi, Agatha membuka dan mengeluarkan isinya. Saat Agatha membalikkan amplop itu, beberapa kartu tampak berjatuhan dari sana. “Kartu Tanda Mahasiswa?” gumam Agatha ketika mengenali kartu-kartu yang berjatuhan itu. “Anjir,” pekik Shana, “Apaan ini?” Jelas saja Agatha menggelengkan kepala. Ia sendiri tidak tahu kartu-kartu apa itu. Shana mengambil satu kartu dan membaliknya untuk melihat identitas pemilik kartu. “Seva,” gumam Shana. “Seva?” Agatha dengan linglungnya hanya bisa membeo ucapan Shana. Shana mencoba membuka satu kartu pengenal mahasiswa lagi dan mendapati nama yang tak asing di kartu itu. Shana berkata, “Yang ini punya Rebecca.” “Wah, kok kayanya gue tahu, ya!” seru Agatha dengan antusias. “Jangan-jangan kartu-kartu ini milik mahasiswa yang terluka kemarin.” “Dan kita para peserta makrab memang diminta buat mengumpulkan kartu mahasiswa sebelum cabut ke sini. Tapi yang ada sekarang ini cuma beberapa kartu aja,” tambah Shana. Mulut Agatha ternganga. Ekspresi terkejutnya cukup terlihat dramatis dan berlebihan. Shana mencoba membuka semua kartu untuk memastikan lagi dugaan mereka. Benar adanya apa yang Agatha simpulkan. Kartu mahasiswa ini adalah milik orang-orang yang terluka tempo hari. Yang tidak ada di sana hanya lah milik Hea. "Kira-kira ini maksudnya apa, ya?" Agatha menggumam dengan suara lirih. "Kenapa juga dikirim ke sini?" Shana diam sembari berusaha mendengarkan gumaman Agatha. Namun setelah mendengarnya pun, Shana tidak bisa menjawab apa-apa. Jadi alih-alih memperpanjang pembahasan tak berujung itu, Shana berkata, "Udah deh, urusan ini lanjut besok aja. Gue mau tidur." Agatha tak punya pilihan lain selain mengikuti apa yang Shana lakukan. Gadis itu merebahkan diri dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Sebelum memejamkan mata, Agatha berpesan, "Sha, lampunya biarin nyala aja, ya. Kalau gelap, takutnya ada orang jahat yang masuk ke sini." Shana mengangguk kecil. Ia juga tidak berniat mematikan lampu. Karena tinggal berdua saja di dalam tenda glamping yang luas membuat Shana cukup was-was. Meskipun demikian, Shana berusaha tidak terlalu mendramatisir keadaan. Mengingat dengan jarak kurang lebih dua meter di samping tendanya sudah ada tenda peserta lain, Shana merasa sedikit tenang. Kalau ada apa-apa, gadis itu akan berteriak sekencang-kencangnya sampai membangunkan peserta lain yang menghuni tenda di sekitar tendanya. "Buruan merem, Sha," bisik Agatha, "malah ngelamun aja." Shana mengedipkan mata dan memutuskan menyudahi percakapan di dalam kepalanya. Ia pun turut menarik selimut untuk menutupi tubuhnya sampai ke kepala dan memposisikan diri memunggungi Agatha. Tidak tahu siapa yang terlebih dahulu tidur di antara keduanya. Baik Shana maupun Agatha sama-sama tidur dengan lelap meski lampu tenda menyala terang. Sampai-sampai mereka tidak sadar ketika ada orang yang membuka tenda mereka dan masuk ke dalam, mencari-cari sesuatu, lalu pergi begitu saja. *** Paginya, Verrel terjaga dengan perasaan bahagia. Makanya pemuda itu tidak bermalas-malasan seperti biasanya. Pagi-pagi meski air masih terasa dingin, Verrel sudah pergi mandi, meninggalkan Arthur dan Rick yang masih lelap dalam tidur. Saat sudah selesai dari aktivitas mandinya, Verrel kembali ke tenda sambil bersenandung dan melanjutkan sesi membereskan tasnya. Ketika Arthur dan Rick bangun dari tidur mereka, dengan ramah dan penuh semangat Verrel menyapa keduanya. "Woah, udah bangun kalian? Mandi-mandi sana. Kita pulang hari ini!" Arthur mendengkus geli melihat tingkah sobatnya itu. Ia pun bergegas bangkit dari kasur karena tertular antusias Verrel. "Kamar mandi antre nggak?" tanya Arthur sambil menyambar handuk yang tersampir di atas tas ranselnya. Ia juga mengeluarkan peralatan mandi dan sepasang baju ganti. Verrel menggelengkan kepalanya. "Aman, masih sepi," ujarnya sambil bergerak menari-nari atau ya bisa dibilang pemanasan pagi—anggaplah begitu. Arthur pun beralih ke Rick yang mulai bergerak perlahan tapi pasti untuk turut menyiapkan perlengkapan yang ia butuhkan saat mandi nanti. "Lo duluan aja gih, Ar," kata Rick. Ia pun kembali duduk di kasurnya, "Nanti gue pakai kamar mandi habis lo." "Oke." Arthur menyetujuinya. Karena tak ingin dibuat lama mengantre untuk memakai kamar mandi, pemuda itu segera bergegas pergi dari tendanya. Saat Arthur sudah keluar tenda, Verrel yang hanya tinggal berdua saja dengan Rick di sana pun mulai membuka obrolan. Verrel mengajukan pertanyaan, "Semalam lo cabut ke mana? Gue lihat lo keluar tenda." Rick menoleh ke arah Verrel dan terdiam sebentar. "Ke kamar mandi," jawabnya kemudian. Verrel ber-oh-ria. Tapi itu tak lantas membuatnya berhenti bertanya. Maklum lah, hanya ada ia dan Rick di sana. Kalau saling diam, situasinya akan jadi aneh. Apalagi Verrel sedang dalam mood baik untuk beramah tamah dengan orang. "Berani lo ke kamar mandi sendirian?" tanya Verrel lagi. Ia pun menambahkan bahwa ia dan Arthur tak akan keberatan bila Rick meminta mereka menemaninya. "Gue berani sendiri kok," balas Rick sembari meringis. Pemuda itu mulai berkutat dengan ponselnya. Verrel terkekeh dan menegaskan, "Jangan sungkan-sungkan, Bro. Kaya sama siapa aja." "Iya-iya," setuju Rick. Selanjutnya Verrel yang sudah selesai dengan urusannya di tenda pun memilih keluar dari tenda. "Gue duluan ya. Mau ke tenda Agatha sama Shana." Rick mengangkat jempolnya dan membiarkan Verrel pergi dari sana, meninggalkan Rick seorang diri di tenda. Dan kembali ke Verrel, pemuda itu tampak berjalan dengan riang menghampiri tenda Shana. Setibanya di sana, ia langsung mengumumkan kehadirannya. "Kalian udah bangun belum?" Agatha membuka pintu tenda dan menyalak, "Udah dari tadi, b**o. Lo nggak denger suara kita?" Verrel terlonjak kaget dan mengerucutkan bibirnya. Pagi ini ia belum mencari masalah dengan Agatha. Tapi gadis itu sudah bersikap tidak ramah. "Kenapa gue baru dateng udah lo sewotin gini?" tanya Verrel sembari menjaga jarak dengan Agatha. Takutnya kan, tiba-tiba saja muka Verrel dicakar atau ditonjok oleh Agatha. Meski itu tampaknya tidak mungkin. Dari dalam tenda, Shana menimpali, "Dia lagi kesal, Rel. Lo masuk aja kalau mau masuk." Tidak lagi memedulikan Agatha, Verrel masuk ke dalam tenda. Pemuda itu lebih tertarik bicara dengan Shana. "Emang kesal kenapa? Masih pagi udah ada yang cari gara-gara sama dia?" Shana menggelengkan kepala dan mengembuskan napas berat. Gadis itu memijat pangkal hidungnya. "Gimana ya jelasinnya?" Melihat Shana sampai bingung begitu, Verrel jadi makin penasaran. Pemuda itu menoleh ke Shana dan Agatha secara bergantian dengan maksud agar setidaknya salah satu dari kedua gadis itu membeberkan sesuatu kepadanya. "Nanti aja lah," tukas Agatha yang memupuskan harapan Verrel. Pemuda itu mendesah kecewa. Ia sempat protes tapi kompak tak digubris oleh Agatha dan Shana. Alhasil, Verrel pun jadi bete. Dan tanpa ba-bi-bu lagi, ia cabut dari sana dan kembali ke tendanya. "Yah, ngambek," komentar Shana yang masih dapat didengar Verrel meskipun ia sudah berada di luar tenda. *** Seberes mandi, Shana dan Agatha kembali ke tenda mereka. Mereka sudah memastikan bahwa barang-barang yang mereka bawa untuk berkegiatan selama satu minggu di tempat ini telah masuk kembali ke dalam tas ransel dan tas-tas lain yang mereka bawa. Intinya mereka sudah siap pulang. "Semua udah beres, kecuali satu," ujar Agatha. Shana mengangguk. "Iya, kecuali satu hal. Kok bisa hilang, ya? Perasaan semalam gue taruh di sini deh." Agatha berdecak dan mengoreksi ucapan Shana. "Bukan hilang tau, Sha. Kartu mahasiswa itu pasti diambil orang." "Berarti semalam ada yang masuk ke tenda kita?" Shana menghentikan aktivitasnya. "Gue nggak sadar sama sekali." Agatha menggumam, mengatakan bahwa dirinya juga sama tak sadarnya dengan Shana dan malah asyik tidur. Gadis itu menambahkan, "Itu dia yang bikin gue males banget cerita-cerita sama Verrel. Takutnya dia jadi gimana-gimana. Nggak etis banget kan kalau misal kita tidur, ada orang masuk, kita tetep nggak sadar. Kalau ternyata orang yang masuk ke sini ngapa-ngapain kita gimana?" Shana menatap horor ke arah Agatha. "Tha, serem!" "Iya, kan," balas Agatha. "Tapi tadi waktu kita bangun aman, kan? Nggak kurang suatu apapun?" tanya Shana dengan wajah pucat dan bulir keringat mulai terbentuk di dahinya. Agatha menyalakan pendingin ruangan sambil menganggukkan kepala. "Aman-aman," katanya, "itu cuma ketakutan gue aja. Nggak ada dasar apa-apa." Shana meneguk ludah dan mengiakan. Gadis itu lantas mengalihkan perhatian pada sepatu dan sandalnya yang masih berserakan di teras. "Lo pakai sandal atau sepatu?" "Sandal aja kali," balas Agatha, "sepatu gue udah masuk tas." Shana pun mengikuti keputusan Agatha untuk mengenakan sandal. Gadis itu memasukkan sepatunya ke dalam tas jinjing yang ia bawa. "By the way, Tha, yang masuk ke sini siapa? Felix?" Shana kembali membuka obrolan ke arah sana. Agatha bergidik ngeri. “Paling, iya.” Beberapa saat kemudian, perhatian Shana dan Agatha teralihkan oleh suara orang-orang yang memberi tahu bahwa para peserta diminta bergerak ke aula karena akan dilangsungkan makan pagi alias sarapan. “Yuk,” ajak Agatha yang wajahnya berubah cerah. Shana juga turut bergerak keluar dari tenda. Namun ia sempat ragu untuk pergi. Dikhawatirkan ada lagi orang yang menyusup ke tendanya. “Kenapa, Sha?” Agatha jadi ikutan berhenti melangkah. Ia melongokkan kepala dan bertanya, “Ada yang salah?” “Bukan apa-apa. Tapi yang hilang cuma beberapa kartu mahasiswa yang kita dapetin semalam itu aja, kan?” Shana memastikan. Agatha jelas mengedikkan bahunya. Ia tidak tahu apakah ada barang lain yang hilang atau tidak. Agatha belum sempat mencari tahu lebih lanjut terkait hal itu. Yang tampak di matanya memang hanya itu saja, kartu mahasiswa. “Hei, kalian!” seru Arthur dari jalan setapak yang berada beberapa meter di depan Shana dan Agatha. Pemuda itu tampak melambaikan tangan agar kedua gadis yang ia panggil itu tidak celingukan dan bingung mencari-cari sumber suara. Melihat ada Arthur, Verrel, dan Rick, kedua gadis itu tampak bersemangat menghampiri mereka. Setelah kelimanya bergabung, mereka pun melanjutkan jalan menuju ke aula. *** Setelah makan pagi, Hea maju ke hadapan seluruh peserta. Sejak awal acara, ia memang bertugas sebagai MC. Dan kini ketika acara makrab akan berakhir, ia juga yang akan menutupnya. Gadis itu berbicara panjang dan lebar. Seperti di antaranya berterima kasih atas antusias dan keikutsertaan para peserta di acara tersebut. Lalu meminta maaf atas kekurangan panitia dalam mengelola kegiatan ini. Di akhir sesi itu, Hea juga menjelaskan bagaimana sistem pemulangan para peserta. “Kami masih menunggu perahu yang akan membawa kita kembali ke pulau utama. Setelah perahunya datang, kami himbau untuk teman-teman semua berkumpul terlebih dahulu di aula untuk kami absen. Baru setelahnya teman-teman bisa naik ke perahu-perahu yang kami sediakan secara berurutan, yang penting aman,” ujar Hea. Semua peserta diam dan mendengarkan. Kelihatannya sih mereka akan mematuhi aturan yang panitia buat. “Ini demi ketertiban dan kenyamanan semua orang,” ujar Hea lagi. “Kalian nggak perlu khawatir dan berebut buat naik perahu. Panitia nggak akan menelantarkan kalian.” Setelah berkoordinasi dengan beberapa perwakilan peserta makrab, Hea pun membiarkan peserta makrab lainnya untuk kembali ke tenda masing-masing—tentu saja untuk mempersiapkan diri pulang dari tempat ini. Hea juga berpesan agar tidak ada barang-barang penting yang tertinggal dan diharapkan peserta memperhatikan hal itu. Alasannya adalah tentu karena Hea dan panitia lainnya tidak akan dengan mudah mengurus bila ada barang milik peserta yang tertinggal di tempat ini. Kemungkinan besar jika ada kejadian seperti itu, peserta harus merelakan saja barang yang tertinggal. *** Sampai siang menjelang, belum ada tanda-tanda perahu sewaan datang menjemput para peserta. Hea dan beberapa panitia lain tampak ketar-ketir kalau perahu yang telah mereka sewa sebelumnya tidak akan datang kemari. “Gimana ini?” tanya Rebecca sambil mengetuk-ngetukkan kaki ke pasir. Ia dan Hea tengah memantau situasi di sekitar dermaga. Hea juga tak bisa tenang. Gadis itu menggigiti kuku jarinya karena merasa gelisah. “Gue yakin peserta bakal panik kalau tahu soal ini. Kita tunggu aja.” Rebecca menganggukkan kepala, menyetujui saran Hea. Akhirnya hanya berdiri diam sembari melemparkan tatapan jauh ke depan. Konsentrasi keduanya buyar kala mendengar suara seorang laki-laki menyapa mereka. Mereka lebih terkejut lagi dengan pertanyaan yang pemuda itu ajukan. “Perahunya belum datang?” tanya pemuda yang tak lain dan tak bukan adalah Arthur. Rebecca diam-diam mendesis. Gadis itu cukup tidak mengharapkan Arthur ada di sana karena ia tahu kalau Arthur ini doyan ikut campur. Sementara Hea hanya bisa menjawab pertanyaan Arthur dengan anggukan singkat. Ia pun berpesan pada Arthur, “Jangan bilang-bilang ke peserta dulu ya. Kami akan tunggu sampai sore. Kalau setelah itu masih juga nggak datang, kami baru akan mengumumkan ke peserta.” “Oke,” balas Arthur, “gue juga nggak akan ngomong ke orang-orang. Kalau butuh bantuan, kalian bisa bilang ke gue.” Rebecca yang sedikit emosi—karena sejak tadi terpapar panas matahari—langsung menyahut, “Lo emang bisa bantu apa? Kalau cuma omong doang, cabut aja sana.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN