Beberapa saat kemudian, makanan mereka sudah tandas. Untuk kasus Agatha, ia menyisakan separuh makanannya karena sudah tak sanggup lagi menahan mual.
Agatha pun kelabakan mencari minum. "Minum mana minum?" tanyanya.
Verrel menyodorkan sebotol air mineral yang sudah dibukakan tutupnya kepada Agatha. "Pelan-pelan aja minumnya. Hati-hati tersedak."
Setelah beres menenggak banyak-banyak air mineral di dalam kemasan itu, Agatha membuka mulutnya. "Makanan gue hampir keluar lagi, anjir," keluh Agatha.
Shana yang mendengar itu jadi ketularan mual. Ia memilih menyingkir dari sana dengan alasan ingin mencuci tangan dan membuang kotak makan paginya.
Verrel mencoba mengalihkan pembicaraan. Dia tahu bahwa Agatha memang frontal. Kalau dibiarkan, bisa-bisa gadis itu semakin bicara yang macam-macam dan bikin Verrel serta Arthur ikutan merasakan apa yang Agatha rasakan.
"Eh, hari ini agenda kita apa?" tanya Verrel. Tapi karena kedua temannya justru mengedikkan bahu, Verrel pun menjawab sendiri pertanyaan yang ia ajukan tadi. "Kata Endra, hari ini kita bakal bikin kerajinan gitu."
Arthur menaikkan alisnya dan bertanya, "Bikin kerajinan apa?"
"Dari kulit kerang? Atau apa ya tadi, gue nanya tapi udah lupa," jawab Verrel lagi. Nyatanya pemuda itu jauh lebih tahu soal agenda kegiatan makrab hari ini ketimbang Agatha dan Arthur yang ia tanyai. Jadi sudah jelas bahwa pemuda itu hanya berniat mengalihkan topik obrolan.
Agatha mencium bau-bau kebusukan dari cara Verrel mengalihkan topik pembicaraan mereka itu. Ia diam-diam memicingkan mata.
Untuk membuktikan kecurigaannya, Agatha bertanya, "Mulai jam berapa kita bikin prakarya?"
"Bukan prakarya, tapi kerajinan, Tha." Verrel masih sempat-sempatnya mengoreksi istilah yang Agatha gunakan. Barulah kemudian, ia menjawab pertanyaan Agatha. "Jam sepuluh katanya. Nunggu peserta pada selesai mandi atau mengurus urusan pribadi mereka."
Agatha mendengkus dengan sengit saat mendengar jawaban Verrel itu. Dan tentu saja, Verrel langsung memandang dengan rasa heran ke arah Agatha. Tentu pemuda itu bertanya-tanya kenapa respon Agatha begitu. Ia belum menyadarinya.
"Lo kenapa tanya kalau lo jauh lebih tahu dari gue atau pun Arthur?" kesal Agatha, "lo cuma mau ubah topik obrolan aja, kan? Dua kali lo menghentikan gue bicara."
Verrel meneguk ludahnya. Ternyata Agatha peka juga. Verrel tidak berhasil mengelabui Agatha. Jadilah Verrel memohon ampunan Agatha dengan segala kerendahan hatinya.
Agatha masih tetap memasang wajah cemberut. Ia lantas bangkit berdiri dan berniat pergi. Sebelum itu terjadi, ia berkata, "Udah, ah, males! Gue mau mandi aja."
"Oke, nanti ketemu lagi, ya! Gue yang nyamperin ke tenda lo," teriak Verrel membalas Agatha yang sudah pergi dari sana.
Agatha hanya mengibaskan tangan dengan cueknya. Mungkin dia sungguhan mengambek.
Arthur pun menepuk bahu Verrel sebanyak dua kali sebelum akhirnya pemuda itu bangkit berdiri dan menyusul Shana yang belum kunjung kembali dari membuang sampah.
Verrel yang ditinggal sendirian pun berteriak-teriak meminta Arthur untuk menungguinya. Kehebohan Verrel menyita perhatian orang-orang yang tersisa di aula. Itu membuat Arthur merasa malu saja.
"Berisik lo," kata Arthur dengan gayanya yang datar.
Verrel mengejek, mengikuti cara bicara Arthur. Setelah itu, ia pun berkata, "Bodo amat."
Sementara Verrel terkekeh-kekeh tidak jelas, Arthur mencari-cari Shana. Saat akhirnya ia bisa melihat batang hidung gadis itu, Arthur pun menghampirinya.
"Lama banget perginya, Sha?" tanya Arthur sembari berdiri di samping Shana yang sedang mencuci tangan.
Shana mendongak kemudian mengulas ringisan di wajahnya. "Tadi ngasih makan kucing dulu. Sayang, ada sisa makanan sedikit, daripada dibuang."
Arthur ber-oh singkat. Setelah Shana beres mencuci tangan, ia pun menggantikan posisi Shana berdiri di depan wastafel.
“Agatha udah balik duluan ke tenda,” lapor Arthur. “Dia mau mandi katanya. Gih, samperin. Biar kalian nggak pergi sendiri-sendiri.”
Shana menuruti perkataan Arthur. Ia pun berjalan—setengah berlari—keluar dari aula. Yang membuatnya membutuhkan waktu lama untuk pergi menyusul Agatha adalah karena sandal Shana yang mendadak tidak tampak di mata.
“Ke mana, sih?” gerutu Shana sambil menggeser-geser sandal orang. Siapa tahu, ia akan menemukan sandalnya yang tersembunyi di bawah sana.
“Nyari apa?” Suara Arthur kembali terdengar. Itu membuat Shana menoleh dan membeberkan apa masalah yang sedang dialaminya. Mendengar keluhan Shana, Arthur mengernyitkan dahinya. Ia pun menunjuk ke arah lain dan berkata, “Tadi kita masuk lewat sana. Sandal kita di sana, Sha.”
Mampus! Malu banget nggak, tuh? Wajah Shana sampai memerah. Shana tengsin berat.
Tanpa menoleh lagi ke arah Arthur, Shana buru-buru melipir ke tempat yang Arthur tuju. Sudah lah, Shana tidak punya muka untuk bertemu lagi dengan Arthur.
Arthur terkekeh geli. Ia melihat tingkah Shana yang terkesan kikuk. Pasti karena gadis itu merasa malu. Padahal Arthur tidak berniat mempermalukan Shana. Arthur hanya memberi tahu apa yang seharusnya Arthur beri tahu.
“Kenapa tuh si Shana?” Verrel dengan rasa keponya menghampiri Arthur.
Arthur menggelengkan kepala. “Nggak, bukan apa-apa.”
“Masa?” Verrel tak lantas percaya. “Kok lo sampai cengengesan kaya gini? Bukan elo banget, Ar.”
Arthur mengedikkan bahunya ringan. Ia pun berjalan meninggalkan Verrel yang masih bertanya-tanya karena ketidakjelasan jawaban Arthur.
“Orang-orang pada nggak jelas hari ini,” kata Verrel menyimpulkan dengan sembarangan. Selanjutnya, ia pun menyusul Arthur keluar dari aula.
***
Agatha dan Shana sudah menunggu barang beberapa lamanya di depan kamar mandi. Namun orang yang lebih dulu masuk ke dalam kamar mandi sepertinya adalah orang yang tidak tahu diri. Mereka dengan santainya mandi dan tidak kunjung selesai, sementara antrean di luar sudah mengular.
“Parah, ini lama banget!” Agatha mulai mencak-mencak. Sejak pagi, mood-nya memang kurang baik. Dan sialnya, hal-hal tidak menyenangkan terus-terusan menghampiri. Bagaimana bisa Agatha tetap santai?
Shana yang berdiri di sampingnya juga terlihat mulai lelah menunggu. Ia mengetuk-ngetukkan kakinya ke tanah dan terlihat mulai tidak sabaran.
“Mau labrak aja nggak, nih?” Agatha menawarkan sebuah solusi.
“Emang lo berani?” Shana balik bertanya. Jangan-jangan Agatha hanya asal bicara saja.
Agatha mengangguk yakin. Ia balas bertanya, “Memangnya kenapa nggak berani? Lo liat deh antrean di belakang, mereka pasti sama kesalnya kaya kita. Kalau kita bersatu, orang di dalam kamar mandi juga bakal takut.”
“Yah, harus ramean berarti? Lo nggak berani maju sendiri?” Shana tampak mencebikkan bibirnya. “Gue kira lo mau maju sekarang.”
“Oh, siapa takut. Sendiri juga nggak apa-apa,” pungkas Agatha. Lima detik kemudian, Agatha lantas mulai melangkah dengan cepat menghampiri bilik-bilik kamar mandi. Gadis itu mengetuk pintu sedikit lebih keras—tenaganya bisa disamakan dengan orang yang tengah menggedor pintu. Agatha juga memberi tahukan bahwa yang mengantre di luar sudah mengular dengan suara lantangnya. Sudah pasti orang di dalam akan mendengarnya.
Mungkin karena kebar-baran Agatha, salah satu pintu kamar mandi pun terbuka. Seorang gadis dengan dandanan ala cewek-cewek korea keluar dari sana. “Sorry, sorry, gue kelupaan kalau lagi pakai kamar mandi umum.”
Entah itu hanya alasan atau memang nyatanya demikian, yang jelas ucapan gadis itu membuat gemas orang-orang yang mendengarnya.
“Benar-benar, deh. Kenapa tidak berdandan ketika sudah berada di tenda saja, sih?” celetuk seseorang yang berdiri di belakang Shana. “Pantesan lama, orang nggak cuma mandi tapi pakai dandan di sini.”
Pintu bilik kamar mandi sebelahnya juga menyusul terbuka. Keluarlah seorang gadis dengan rambut panjangnya yang masih basah. Ia mengomeli Agatha, “Sabar dikit bisa nggak? Lo lihat rambut gue masih basah kuyup begini, kan? Belum sempat gue keringin tau!”
“Keringin di luar kan bisa, Say!” Agatha balas nyolot. Gadis itu kemudian menerobos masuk ke kamar mandi yang baru dipakai oleh gadis dengan rambut basah kuyup. Dengan suara nyablaknya, ia memanggil Shana dan meminta sobatnya itu masuk ke kamar mandi di sebelah.
Shana buru-buru lari ke bilik itu. Ia tak ingin ada orang lain yang menyerobotnya. Jadi setelah drama panjang dalam perjuangan memakai kamar mandi umum itu, akhirnya baik Shana dan Agatha bisa mandi.
Memang selama berkemah di sana, mereka tidak mandi tiap hari. Seringnya sih karena malas buat mengantre. Atau baiknya, mereka tidak mandi karena badan mereka masih wangi—setidaknya begitu lah anggapan mereka.
Lima belas menit kemudian, Shana keluar dari bilik kamar mandi itu. Ia menenteng perlengkapan mandi dan masih sibuk mengeringkan rambutnya yang habis dicuci. Shana melakukannya sambil berjalan sehingga orang yang melihat itu akan menilai Shana tengah kerepotan.
Agatha menyusul keluar dari kamar mandi lima menit kemudian. Gadis itu sempat mendapat omelan juga. Katanya, ia terlalu lama berada di dalam sana.
Karena tak terima Agatha sampai memastikan lagi hal itu dengan Shana. “Sha, emangnya gue lama di dalam sana? Enggak kan, ya?”
“Ya, nggak lama-lama banget, Tha. Tapi lumayan,” balas Shana.
Agatha menggerutu, “Masa tadi ada yang bilang gue lama banget di dalam. Kan kesel! Padahal gue udah ngebut maksimal. Palingan gue di dalam cuma dua puluh menitan. Wajar itu tuh. Kalau mandinya selesai lebih cepat, bisa-bisa daki di kulit gue masih bergeming di tempat.”
Shana mendengkus geli. Ia lantas mengangguk-anggukkan kepala mengiakan saja apa yang Agatha katakan.
“Eh, tapi serius deh, dua puluh menitan itu lama banget atau biasa aja?” Agatha rupanya masih belum menginginkan adanya pergantian topik. Ia masih saja mempersoalkan masalah itu.
Shana menggumam panjang. Setelah berpikir sejenak, ia pun mulai membuka mulutnya dan menjelaskan apa yang ia pahami soal konsep menunggu ini. “Jadi Tha, sebenarnya dua puluh menit itu nggak terlalu lama. Tapi nggak bisa dibilang sebentar juga. Apalagi kalau lo ada di posisi orang yang lagi menunggu sesuatu. Dua puluh menit bakal kerasa lama banget.”
Agatha manggut-manggut. Ia pun sudah merasa pembahasan itu cukup sampai di sana. Akhirnya Shana dan Agatha tidak lagi banyak bicara saat mereka kembali ke tenda glamping mereka.
Saat tiba di sana, mereka disambut Indi yang sedang berswafoto di teras tenda. “Hai, kalian! Baru beres mandi?” Indi lebih dulu menyapa Shana dan Agatha.
Shana menganggukkan kepala, membenarkan tebakan Indi itu. “Iya, In. kami barusan dari kamar mandi.”
“Lo udah mandi?” Agatha gantian bertanya.
Indi menjawab dengan bangga, “Udah, dong! Lihat, gue udah mandi, udah wangi, udah dandan, dan udah cantik.”
“Ya bener juga sih. Kalau lo belum mandi, lo nggak mungkin selfie-selfie kaya tadi,” balas Agatha sambil mulai melangkah masuk ke dalam tenda mengikuti jejak Shana.
Indi rupanya juga ikut masuk ke dalam tenda. Ia bertanya kepada Agatha dan Shana soal rencana mereka selanjutnya.
Agatha menjawab dengan santai, “Yang jelas, gue nggak mau buru-buru meninggalkan tenda. Gue pengen rebahan bentar di sini. Habis itu kalau ada agenda selanjutnya dari panitia, baru deh gue ikutan.”
“Sip, gue ikut bareng kalian, ya,” kata Indi kemudian.
Shana menimbrung dalam pembicaraan. “Tinggal ikut aja kali, In. By the way, dari kemarin kayanya lo sibuk banget sama abang lo. Kenapa kalau boleh tahu?”
Indi menelengkan kepalanya. Ia tampak mengingat-ingat sebelah mana yang Shana maksud itu. “Oh itu,” serunya kemudian, “nggak ada apa-apa, Sha. Cuma abang gue kan atlet renang, Kak Hea nyuruh abang buat renang aja keluar dari pulau ini. Dan ternyata, si Rick juga jago berenang, lho.”
Tawa Agatha hampir menyembur. Perhatiannya sudah tersita oleh sebagian ucapan Indi barusan. “Barusan lo bilang apa? Hea nyuruh abang lo buat renang keluar dari pulau ini? Ke mana tujuannya, anjir?”
Agatha tak bisa membayangkan hal itu. Bukan kah itu konyol? Masa iya Cairo disuruh menyeberang lautan yang mengelilingi pulau ini. Hea ternyata ada gila-gilanya juga!
“Ya, gitu deh.” Indi mengedikkan bahunya. “Tapi sebenarnya di dekat sini juga ada pulau. Cuma fisik abang gue mungkin udah nggak se-oke dulu waktu dia masih aktif di camp pelatihan.”
“Tapi kan kolam renang sama laut itu beda, In,” sela Shana. “Apa nggak bahaya kalau berenang di lautan?”
Indi mengangguk-angguk. “Itu juga yang jadi pertimbangan abang. Kalau kolam renang kan jelas aman. Kalau di laut, bisa aja dia diserang hewan laut atau ada kecelakaan lain kaya mendadak kakinya kram dan nggak bisa lanjut berenang.”
“Udah lah, jangan gila ngikutin kemauannya Hea,” tukas Agatha. Cairo yang diminta berenang menyeberangi lautan, tetapi Agatha yang kesal maksimal.
Mereka pun tak lagi membicarakan soal itu. Entah bagaimana awalnya, Agatha berceletuk, “Kita kena kutukan nggak, sih?”
“Maksud lo?” Kernyitan di dahi Shana tampak kentara dengan jelas.
Agatha menghela napas dalam-dalam. Ia pun mulai berargumen, “Nih, ya, lo pernah kepikiran nggak sih kalau semua kecelakaan yang menimpa teman-teman kita ini adalah sebuah kutukan. Mungkin aja, waktu pertama kali datang ke sini, ada orang atau sekelompok orang yang kurang ajar di sini. Entah itu merusak alam atau yang paling simpel, dia pipis sembarangan. Terus yang dicelakai teman-teman yang satu acara sama dia. Hi, horor nggak, tuh?”
“Lo kebanyakan nonton film horor atau dengar cerita-cerita horor, Tha,” kata Shana. Gadis itu cukup takut dengan hal-hal berbau mistis begitu. Menurutnya, Agatha mengada-ngada. Atau parahnya, gadis itu hanya menakut-nakuti Shana.
Indi juga terkekeh sambil mengusap-ngusap lengannya yang mulai merinding. “Tha, jangan bilang gitu dong.”
“Kalian pikir aja deh, masa iya kecelakaan yang menimpa teman-teman kita adalah ulah manusia. Gue yakin banget, ada andil dari makhluk halus penunggu tempat ini atas kejadian-kejadian yang menimpa teman-teman kita!” Agatha dengan menggebu-gebu berusaha membuat Shana dan Indi sepemikiran dengannya.
Shana menggelengkan kepala sambil setengah berteriak, “Ah, nggak tau-nggak tau. Gue pusing kalau bahasannya kaya gini.”
“Penakut dia, In. Sama orang jahat sih, Shana oke. Kalau sama yang berbau hantu, dia langsung KO!” Agatha membicarakan Shana di depan mata kepala Shana. Gila memang Agatha. Nyali dan keberaniannya jangan ditanya.
Sampai Shana harus berdeham-deham untuk membuat Agatha diam dan Shana pun memasang senyum kecut di wajahnya.