Ganendra sebagai perwakilan panitia langsung maju ke depan. Ia berusaha melihat keadaan dari peserta yang katanya terkena ledakan kompor porteble itu.
"Langsung bawa ke ruang kesehatan," perintah Ganendra, "kalau dibiarin di sini, bisa-bisa lukanya kotor karena ketempelan pasir."
Yang Ganendra katakan memang benar. Namun memindahkan korban dengan luka bakar parah di beberapa bagian tubuhnya tentu tak mudah. Apalagi mereka-mereka yang ada di sana bukan lah orang yang mengerti dalam hal seperti ini.
"Gimana cara mindahinnya?" tanya Verrel kepada Agatha. Pemuda itu berharap kekasihnya tahu soal itu.
Tapi sayang, Agatha menggelengkan kepala. "Gue nggak ngerti," keluhnya. Terlalu berani, Agatha pun menyarankan agar gadis itu ditandu seperti biasa saja alias diangkat menuju ke ruang kesehatan. Tentu saja, itu dilakukan dengan meminimalkan kontak antara luka bakar dengan hal-hal luar yang akan membuat kondisi luka semakin parah.
Tak lama, tandu sudah disiapkan. Beberapa orang bersiap memindahkan gadis itu ke atas tandu. Kali ini, mereka harus berhati-hati. Apalagi bagi mereka yang harus mengangkat tubuh korban di bagian yang terdapat luka bakar. Itu sangat sulit.
Setelah beberapa waktu berusaha, akhirnya gadis dengan luka bakar itu berhasil dipindahkan ke atas tandu. Beberapa orang membawa tandu itu ke ruang kesehatan. Sementara orang-orang yang menonton di sana diminta bubar.
Agatha menyeret Shana dan keduanya berjalan mengikuti si gadis dengan luka bakar itu pergi, alias mereka ikut ke ruang kesehatan. Siapa tahu, tenaga mereka terpakai di sana.
***
Setibanya di gadis dengan luka bakar itu di ruang kesehatan, semua orang berjenis kelamin laki-laki diminta meninggalkan ruangan. Karena Agatha yang berada di sana berinisiatif untuk melepaskan pakaian atau apapun yang masih melekat di tubuh gadis itu dan masih menyimpan panas atau berpotensi memperparah kondisi luka.
"Sha, selimut," kata Agatha. Tentu saja, ia harus menjaga privasi gadis dengan luka bakar itu.
"Oh, iya, gue cariin," balas Shana. Ia menghampiri Karenina dan Susan yang berdiri di kejauhan sembari menatap ngeri ke arah pasien yang baru datang ke ruang kesehatan itu. "Ada selimut nggak?"
Dengan gugup, Susan menganggukkan kepala. Tanpa bicara apa-apa, ia balik badan dan bergegas menuju ke pojok ruangan. Di sana ada kardus yang belum dibongkar isinya. Susan pun mengeluarkan setumpuk selimut dari sana dan menyerahkannya kepada Shana.
"Thank you," kata Shana setelah selimut-selimut itu berpindah ke tangannya. Ia pun segera balik badan dan menghampiri Agatha.
"Tutupin ya, Sha," pinta Agatha. "Nanti ikutin apa kata gue."
Shana berusaha menuruti itu. Setiap Agatha memberi tahu agar Shana melakukan ini dan melakukan itu, ia benar-benar berusaha keras.
"Oke, selesai," kata Agatha beberapa saat kemudian. "Selimutin, Sist."
Setelah menyelesaikan perintah terakhir Agatha, Shana bangkit berdiri. Bertepatan dengan itu, pintu ruang kesehatan terbuka dan muncullah Hea di sana yang menyita perhatian Shana—dan Agatha, tentu saja.
Tanpa berbasa-basi, Hea langsung bertanya to the point. "Gimana?"
Agatha hanya mengedikkan kepala ke ranjang di mana si gadis dengan luka bakar itu berbaring. Tak ada komentar apa-apa yang keluar dari mulut Agatha atas pertanyaan Hea.
Shana merasa tidak enak hati karena Hea justru menaikkan sebelah alisnya. Sementara Agatha tak peduli.
Agatha justru berkata, "Keluarin dia dari pulau ini. Bawa ke rumah sakit." Dan setelah bicara begitu, Agatha mengajak Shana keluar dari ruang kesehatan.
Melihat Agatha melenggang pergi, Shana terdiam sesaat. Ia sebenarnya juga ingin cabut dari sana. Sayangnya, isi kepalanya meminta Shana untuk menjelaskan sedikit soal apa yang ia tahu kepada Hea.
"Luka bakarnya cukup parah. Tanda-tanda vital kaya denyut nadi, napas, dan lain-lain aman. Cuma ini aja, kami melepas pakaian dan perhiasan. Karena beberapa bagian pakaiannya tadi sudah terbakar dan perhiasan kami lepas karena khawatirnya masih menghantarkan panas. Terutama tadi bagian cincin, kata Agatha itu dia lepas sebelum terjadi edema atau pembengkakan di jarinya."
Hea mendengarkan dalam diam dan dengan saksama. Saat Shana menjeda ucapannya, Hea memberi isyarat agar Shana melanjutkan penjelasannya.
"Barang-barang dia udah kami simpan di sebelah kasur. Seperti kata Agatha, luka bakar kaya gini harus dapat pertolongan yang benar-benar memadai di rumah sakit. Kami cuma bisa kasih pertolongan pertama. Itu mungkin akan membantu sedikit, tapi tidak lantas bisa menyembuhkan. Ada kemungkinan dia bakal kekurangan cairan juga. Di sini nggak ada infus, kan? Terus dia juga nggak bisa bicara. Itu karena bibirnya ikut ke dalam bagian tubuh yang terbakar. Agatha mengkhawatirkan kalau nanti dia sesak nafas." Shana bicara panjang lebar.
Hea pun menanggapi, "Makasih buat infonya. Gue juga masih berusaha buat menghubungi pihak luar buat minta bantuan. Tapi lo tau sendiri, sinyal jadi keterbatasan kita buat mengakses komunikasi dengan pihak-pihak di luar pulau ini."
Shana mengiakan. Ia pun pamit keluar dari sana. Sebelum benar-benar menginjakkan kaki di luar ruang kesehatan, Shana berpesan, "Awasi tanda-tanda vitalnya, ya. Awasi juga perubahan lukanya. Jangan dikasih salep atau apapun itu."
Shana mendengar Hea membalasnya dengan kata-kata berbentuk tanda sepakat. Gadis itu pun melangkah keluar dari ruang kesehatan dan menghampiri Arthur, Verrel, dan juga Agatha.
Agatha rupanya mual-mual di luar sana. Gadis itu juga sempat muntah dan kini ia menangis. Sementara Verrel yang ada di sebelahnya tampak berusaha menenangkan.
Shana berdiri di sebelah Arthur. Ia bertanya kepada pemuda itu, "Agatha kenapa?"
Arthur menggelengkan kepala sebanyak dua kali. Ia pun mengedikkan bahu sembari menjawab, "Gue nggak tahu pastinya. Tadi dia keluar dari ruang kesehatan udah pucat dan langsung muntah. Tapi mungkin itu karena dia syok harus berurusan sama orang yang mengalami luka bakar."
Shana juga menduga demikian. Sebenarnya ia juga merasa takut tadi melihat beberapa bagian tubuh orang yang terbakar. Sampai Shana bisa melihat warna putih pada daerah luka, lalu kulit yang sudah tidak berbentuk lagi, dan entah apa lagi kengerian yang Shana lihat namun tak mampu Shana mengerti itu apa.
"Tha, gue antar lo balik ke tenda aja, ya?" Suara Verrel kembali terdengar. Pemuda itu berusaha mengajak Agatha untuk menjauh dari sana dan menenangkan diri.
Namun Agatha justru menolak. "Gue masih mau di sini," katanya, "kalau terjadi apa-apa sama gadis itu gimana? Gue takut sumpah. Dia harus segera dibawa ke rumah sakit karena ini bukan sesuatu yang bisa ditangani sama orang-orang awam kaya kita."
Mereka semua terdiam. Yang dikatakan Agatha itu benar. Mereka juga berpikir demikian. Namun lagi-lagi realita tak semudah rencana.
Shana melemparkan tatapan jauh ke arah tanah lapang di depan tenda-tenda glamping peserta. Tempat yang semula jadi tempat bersenang-senang itu, kini sudah terlihat suram. Memang masih ada beberapa orang di sana, namun pesta sudah bubar. Itu pasti mengingat di sana lah TKP kecelakaan itu berada.
"Lagian bisa-bisanya dia nyalain kompor lain. Mampus kan sekarang, malah jadi kena ledakan," kata entah siapa yang bicara tak jauh dari mereka. "Kami udah pakai dua kompor buat manggang daging. Dia mau nyalain kompor ke tiga, biar cepet katanya."
Shana sedikit tidak suka mendengar cara bicara orang itu. Seolah-olah ia menyalahkan si gadis atas kecelakaan yang menimpa gadis itu. Padahal kan, gadis itu juga korban, kenapa malah di-judge dengan cara demikian?
"Bro, mulut lo," tengur Verrel. Ah, sepertinya Verrel kenal dengan orang itu dan langkah Verrel untuk mengingatkannya perlu Shana acungi jempol.
***
Jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Tapi Arthur, Verrel, Shana, dan Agatha masih stand by di luar ruang kesehatan. Mereka duduk di sana sambil terkantuk-kantuk. Tapi mau bagaimana lagi, kembali ke tenda pun, mereka merasa tak tenang.
"Sha," panggil Arthur kepada Shana.
Shana yang semula melamun, kini sedikit mendongak menatap Arthur. "Iya?"
"Jangan ngelamun," kata Arthur kemudian, "kalau ngantuk, lo tidur aja."
Shana menggelengkan kepala. "Gue mau di sini," balasnya.
Arthur tak bisa memaksa. Jadi ia putuskan untuk mengangguk saja. Lantas sesuatu terlintas di pikirannya. Ia pun segera memberi tahu Shana, "Sha, pinjam HP boleh?"
Shana merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan ponsel dan menyerahkan itu kepada Arthur. Setelahnya, ia kembali terdiam dan cenderung melamun.
Bukan hanya Shana yang melamun. Verrel dan Agatha juga hanya diam sembari ongkang-ongkang kaki. Karena bagaimanapun, keadaan di sana tidak cocok untuk mereka saling mengobrol. Hawa-hawa tegang sekaligus tidak nyaman membuat mereka tidak bisa barang haha-hihi sejenak. Diam adalah solusi yang cukup baik.
Arthur menoleh sejenak ke arah ketiga temannya. Setelah itu, ia kembali fokus ke ponsel Shana. Jujur saja, saat membuka ponsel itu, Arthur sangat berharap pesan yang Shana kirimkan ke ayahnya dapat terkirim. Karena jika pesan itu terkirim, paling tidak ayah Shana jadi mengetahui bahwa ada beberapa peserta dari acara makrab mereka yang membutuhkan bantuan untuk keluar dari pulau ini.
Apalagi setelah kejadian barusan, Arthur semakin gemas dan geregetan kalau-kalau bantuan tidak segera datang. Ini perihal nyawa teman-temannya yang terluka parah. Oke lah, kalau yang selain luka bakar, dirawat sendiri oleh panitia di bagian kesehatan masih cukup bisa. Bahkan itu pun penanganannya belum tentu benar. Apalagi soal luka bakar parah yang menimpa salah satu peserta makrab ini, semakin tak banyak yang bisa panitia bagian kesehatan lakukan.
Sayangnya, harapan Arthur tidak kesampaian. Pesan yang Shana kirim ke ayahnya belum ada tanda-tanda terkirim sampai saat ini. Arthur mencoba mengirim ulang pesan itu. Barangkali kalau kelamaan tidak terkirim, itu akan gagal otomatis. Tapi sepertinya dugaan Arthur cukup tidak beralasan. Yang bermasalah itu sinyalnya, bukan pesannya.
Akhirnya Arthur menyerah juga. Ia mengembalikan ponsel Shana kepada pemiliknya. Selanjutnya, Arthur juga sudah tidak punya kegiatan. Ia ikut terdiam. Bukan melamun, Arthur hanya membuang pandangan ke langit.
Langit di atasnya tampak bersih, bintang dan bulan sudah tidak lagi terlihat. Atau memang sejak semalam di atas sana tidak ada bintang dan bulan? Entah lah, Arthur tidak benar-benar mengamatinya. Karena tidak seperti liburan pada umumnya, yang Arthur ikuti sekarang ini adalah liburan dengan tujuan membuat diri sendiri dan orang lain bertahan hidup. Boro-boro membayangkan mereka akan bisa berlibur dengan liburan yang menyenangkan. Yang ada mereka harus memikirkan bagaimana caranya liburan ini segera berakhir.
"Ada yang mau kopi?" Suara seseorang menarik perhatian keempat sekawan itu. Ternyata itu Rebecca, salah satu panitia yang diminta Hea menyiapkan konsumsi untuk mereka.
"Boleh," jawab Verrel sembari mengulurkan tangannya untuk mengambil segelas kopi dari nampan yang dibawa Rebecca. Ia pun mengopernya ke Agatha dan seterusnya.
Tapi sampai giliran Shana, ia menolak. "Thanks, tapi gue nggak mau minum kopi, ah. Perut gue udah kembung begini. Banyak anginnya," terang Shana.
Teman-temannya tampak mengerti. Jadi jatah kopi untuk Shana dibawa kembali oleh Rebecca ke ruang panitia.
"Gue pikir yang nganterin bakal si Hea lagi-Hea lagi," gumam Agatha.
Ketiga temannya menoleh ke arahnya sekilas dan di waktu yang bisa dibilang hampir bersamaan. Namun yang angkat bicara hanya Arthur, "Lo kenapa nggak suka sama dia?"
"Kentara banget, ya?" tanya Agatha. Setelah melihat Arthur mengangguk, Agatha pun mengedikkan bahu. Ia berujar, "Gue juga nggak tahu. Tapi gue nggak suka aja sama dia, titik. Dia kelihatan sok banget nggak, sih? Selalu hadir setiap saat. Tapi nggak benar-benar memecahkan masalah."
Arthur tak bisa menanggapi itu. Ia juga tidak bisa memutuskan apakah ia sepakat dengan Agatha atau tidak. Sejauh ini, Arthur merasa tak ada masalah dengan kehadiran Hea. Namun Arthur juga menyadari bahwa pandangan tiap orang itu berbeda. Jadi Arthur putuskan hanya menggumam saja sebagai balasan atas pendapat pribadi Agatha itu.
Keadaan kembali hening setelahnya. Itu karena tak ada lagi yang berbicara. Suara-suara yang dapat mereka dengar hanyalah suara dari alam, misalnya debur ombak di pantai, suara serangga malam, dan suara angin yang membuat dedaunan bergemerisik dengan suara yang sedikit ngeri.
***
Paginya, para peserta datang ke aula untuk makan pagi seperti biasa. Sepertinya panitia begadang atau bangun lebih awal hari ini untuk menyiapkan makanan karena saat ini baru pukul tujuh pagi dan sarapan sudah siap untuk dinikmati.
Verrel, Arthur, Agatha, dan Shana duduk melingkar. Di tengah-tengah mereka, sudah ada empat kotak nasi uduk dengan lauk lengkapnya.
"Duh, gue agak nggak selera makan," keluh Agatha. Ia meletakkan sendok yang semula ia genggam. Gadis itu batal menyendokkan makanan ke mulutnya.
Verrel menoleh ke arah Agatha. Pemuda itu lantas mengingatkan, "Semalam lo habis muntah-muntah. Makanan yang lo makan, lo keluarin semua. Pagi ini, perut lo harus diisi lagi."
Agatha mengembuskan napas dengan berat. Ia tampak enggan, namun yang dikatakan Verrel memang benar. Jadi dengan sedikit memaksakan diri, Agatha mulai menyuapkan makanan ke mulutnya.
Verrel memperhatikan Agatha. Pemuda itu melihat Agatha dengan susah payah menelan makanannya. Sangat jelas terlihat kalau Agatha kembali mual-mual.
"Argh," geram Agatha. Gadis itu kesal sendiri lantaran ia tak bisa menikmati apa yang ia santap pagi ini.
Shana dan Arthur yang sejak tadi fokus menekuri makanan mereka pun tampak mengangkat kepala. Mereka menatap Agatha dengan prihatin.
Agatha lantas membuka mulutnya dan bicara, "Lo-lo pada ngerti nggak sih perasaan gue sekarang? Kalau kalian jadi gue, gue yakin kalian bakal kehilangan selera makan. Sekarang ini ya, tiap gue lihat daging ayam yang bagian putih dan kulitnya ini, gue jadi keinget—"
Ucapan Agatha benar menggantung. Pasalnya Verrel menutup mulut Agatha dengan menempelkan jari telunjuknya di sana. "Nggak usah dilanjut, lo bikin semua orang nggak nafsu makan kalau gitu."
Agatha cemberut. Ia pun menjauhkan jemari Verrel dari mulutnya. Setelah itu, Agatha kembali fokus makan meski tertekan.