Dari sekian banyak pilihan permainan yang bisa Arthur dan Shana pilih, mereka sepakat untuk mengikuti permainan bernama Human Knot. Mereka bersama dengan belasan orang lainnya tampak sedang bersiap-siap sembari mendengarkan instruksi dari orang yang lebih memahami permainan ini.
“Guys, ayo yang mau main pada berdiri membentuk lingkaran. Saling berhadap-hadapan ya,” ujar pemandu permainan itu.
Shana yang tak mau berpisah dengan Arthur pun menempel terus ke mana pun Arthur bergerak. Jangan sampai ada orang yang datang dari antah-berantah lalu tiba-tiba menyela dan berdiri di tengah-tengah mereka.
Setelah semua peserta yang akan bermain berdiri di posisi masing-masing dan lingkaran sudah terbentuk, pemandu permainan itu pun memberi instruksi lanjutan, “Sekarang, silangkan tangan kalian. Kalau udah, lanjut, kalian bisa genggam tangan orang ke dua di sebelah kalian. Bukan yang sebelahan persis ya.”
Bahkan saat persiapan itu pun, sudah ada saja peserta yang kebingungan dengan instruksi dari pemandu permainan. Kalau Shana dan Arthur sih sudah memahami instruksi yang diberikan. Hanya saja mereka sedikit kecewa karena tidak bisa bergandengan.
Setelah kerusuhan kecil karena beberapa orang tampak kebingungan itu, akhirnya masalah kelar juga. Instruksi kembali diberikan. “Gue kasih waktu sepuluh menit buat kalian menguraikan kekusutan ikatan ini tanpa melepaskan tangan orang yang kalian genggam. Jadi hasil akhirnya, kalian semua akan menghadap keluar. Kalau kalian sukses, gue isiin saldo e-money.”
“Siap, berapaan, Bro?” tanya salah satu peserta permainan Human Knot ini.
“Ada deh, nanti gue siapin,” balas si pemandu permainan. “Udah, kalian fokus dulu aja sama games ini. Oh ya, kita butuh leader. Siapa yang mau?”
Shana membuka mulutnya. “Arthur,” serunya dengan sedikit mengejutkan, “Arthur mau!”
Arthur menunduk dan mendelik ke arah Shana. Bibirnya berkomat-kamit mempertanyakan apa maksud Shana berceletuk seperti itu. “Lo jadiin gue tumbal?”
“Gue cuma pengen kita sukses menakhlukkan tantangan. Lo cocok jadi pemimpinnya,” balas Shana sambil tersenyum lebar.
“Mana yang namanya Arthur?” Si pemandu permainan tampak mencari-cari. Saat melihat Shana menunjuk ke pemuda yang berdiri di sebelahnya, pemandu permainan itu pun mengangguk-angguk mengerti. “Oke, yang lain setuju?”
“Setuju!”
“Boleh, siapa aja.”
“Nggak masalah.”
Dan selanjutnya, pemandu permainan memberikan waktu sepenuhnya kepada kelompok itu untuk menyelesaikan tantangan. Arthur pun mau tak mau mulai beraksi memimpin kelompok permainannya.
“Coba, dari yang ujung sana muter dulu,” ujar Arthur. Ia juga menambahkan, “Kalau ada yang ngerti soal kaya gini, silakan langsung kasih saran. Silakan juga buat ikut ngatur teman-teman di sini, tapi tetap kondusif.”
Arthur jarang mengikuti kegiatan seperti ini. Ia sedikit awam dan tak punya pengalaman. Alhasil, yang ia lakukan adalah trial and error alias coba-coba saja meskipun tak ada hasil.
“Tujuh menit lagi,” kata pemandu permainan. Kalau dalam keadaan seperti ini, waktu memang dengan cepat berlalu.
Arthur meminta anggotanya untuk kembali mencoba. Kali ini ia berkata, “Yang di luar itu, coba masuk dulu.”
“Langkahi aja tangan sebelah lo,” saran yang lain.
Setelah sukses, Arthur kembali berkata, “Yang sebelah sini, coba mulai muter satu-satu.”
“Aduh, kekunci nih, Arthur,” lapor salah satu di antara peserta.
“Kalau gitu stop dulu. Lanjut yang sebelah sini, Mbak yang pakai baju putih, lompat ke dalam.” Arthur cukup ribet mengkoordinasikan peserta. Tapi mau bagaimana lagi, memang keadaannya seruwet itu.
Si pemandu permainan yang kini juga merangkap sebagai time keeper itu kembali buka suara, “Waktu kalian tersisa empat menit lagi.”
Otomatis, kepanikan menjalar di sana. Arthur dengan susah payah meminta mereka tenang. Karena sebenarnya sebentar lagi mereka akan berhasil.
“Yuk, lanjut yang sebelah sini pada muter lagi,” kata Arthur. Ia tetap tenang meski banyak tekanan.
“Gimana, Ar?” bisik Shana.
Arthur menoleh sekilas ke arah Shana dan menjawa, “Sedikit lagi.”
Setelah serangkaian acara berputar, melangkahi untuk masuk dan keluar, akhirnya di detik-detik terakhir, kekusutan itu terurai juga. Seperti yang diminta oleh pemandu permainan, hasil akhir permainan ini adalah peserta yang bergandengan tangan membuat lingkaran yang semula menghadap ke dalam, kini jadi menghadap keluar.
“Woah, bravo, kalian keren banget!” puji pemandu permainan itu saat melihat hasil akhir yang sempurna.
Sorak-sorai selebrasi atas kemenangan mereka pun terdengar riuh. Sampai-sampai banyak peserta lainnya di sana yang turut menoleh ke arah mereka.
“Thank you, Arthur,” kata beberapa dari mereka yang mengingat andil Arthur dalam mengatur kelompok itu.
Arthur tersenyum tipis dan membalas, “Sama-sama, gue juga berterima kasih ke kalian semua.”
Lalu saatnya menagih janji dari si pemandu permainan. Dan si pemandu permainan itu pun berjanji akan segera mengirimkan saldo e-money kepada mereka semua yang ada di kelompok itu. “Ntar ya, guys, kalau udah ada sinyal langsung gue isiin. Follow up ke gue aja kalau misal gue lupa.”
“Nama lo siapa?” tanya salah satu dari peserta. “Gimana caranya nagih kalau nggak tahu nama lo?”
“Oh, iya, maaf-maaf, gue lupa bilang. Kenalin, gue Felix. Kalian cari aja kontak gue di grup kegiatan ini.” Si pemandu permainan itu memperkenalkan diri.
Salah satu peserta berceletuk, “Oke, Felix. Ditunggu transferannya.”
Dan karena permainan untuk kelompok mereka sudah selesai, Felix pun mempersilakan mereka untuk membubarkan diri karena ada kelompok lain yang juga ingin bermain.
***
Karena merasa sudah capek bermain, Shana dan Arthur pun berniat kembali ke kursi mereka. Semoga Agatha dan Verrel masih ada di sana sehingga kursi mereka tidak hilang diduduki orang.
"Gue kayanya familier sama Felix yang tadi itu, yang memandu permainan," celetuk Arthur saat ia dan Shana sudah menjauh dari tempat mereka bermain tadi.
Shana menaikkan sebelah alisnya dan bertanya, "Masa, Ar? Emang familier gimana? Lo kenal dia? Gue nggak lihat dengan jelas tadi mukanya Felix. Dia pakai topi dan di sana lumayan gelap."
Arthur terdiam sejenak. Itu membuat Shana jadi bertanya-tanya karena Arthur justru diam saja.
"Ar," panggil Shana. "Felix siapa yang kamu maksud?"
Arthur akhirnya keluar dari lamunannya. Ia menjawab pertanyaan Shana, "Felix yang hari ini jadi volunteer sama kita. Tapi dia kebagian tugas buat memantau perahu yang berlayar di sekitar pulau. Ada kan yang namanya Felix? Temannya Nafi sama Irvin."
Mendengar Arthur bicara begitu, Shana justru ber-oh-ria. Ia manggut-manggut saja. Tapi ia sendiri sebenarnya lupa-lupa ingat.
Shana sesekali menoleh ke belakang untuk curi-curi pandang. Namun karena gelap, ya usahanya percuma. Jadi gadis itu menggumam, "Mungkin iya, itu Felix. Gue nggak nyadar tadi."
Setelah berjalan beberapa langkah lagi, mereka pun sampai di tempat duduk mereka. Agatha masih ada di sana. Namun Verrel entah berada di mana.
Shana dan Arthur kembali duduk di tempat duduk mereka masing-masing. Shana lantas bertanya pada Agatha, "Verrel ke mana?"
Agatha menyengir lebar. Sepertinya ada yang tidak beres di sana. Dan benar saja, tak lama kemudian, Verrel datang tergopoh-gopoh dengan sepiring daging di tangannya. Parahnya lagi, Verrel menyerahkan piring itu ke Agatha.
"Anjir, lo ambil daging lagi?" tanya Shana syok berat.
"Jatah Verrel, Sha," jawab Agatha sambil menggaruk-garuk pangkal hidungnya. "Nggak apa-apa lah, ya?"
Shana mengangguk-angguk dengan mulut sedikit terbuka. Ia tampak speechless melihat ulah Agatha.
Arthur tampak menepuk-nepuk punggung tangan Shana. Setelah Shana menoleh, ia menawarkan, "Mau gue ambilin daging? Udah nggak kenyang kan kalau sekarang?"
"No, thank you," balas Shana, "gue mau makan camilan ini aja, Ar."
Arthur mengangguk mengerti. Ia pun turut menenggak sekaleng minuman yang ada di dekatnya.
"Seru tadi mainnya?" tanya Verrel kepada Shana dan Arthur.
Shana manggut-manggut sebelum akhirnya memberi penilaian, "Lumayan."
"Main apa aja?" Giliran Agatha yang bertanya.
Shana kembali buka suara, "Cuma satu, apa tadi namanya, Ar?"
"Human knot," jawab Arthur setelah menelan keripik yang ia kunyah.
"Udah itu aja? Kenapa nggak coba yang lain?" tanya Verrel lagi. Pemuda itu lantas menebak, "Yang lain nggak seru?"
Shana menggelengkan kepala. "Di sana sebenarnya ada banyak permainan. Seru-seru juga kelihatannya. Tapi gue sama Arthur pengen udahan aja mainnya."
"Gue malah pengen main yang itu tuh. Kayanya asyik banget." Agatha menunjuk-nunjuk sesuatu.
Arthur berkomentar, "Iya, kayanya seru. Soalnya dari tadi yang antre banyak."
"Oh, ya?" Agatha menoleh ke Arthur dan ke permainan yang ia incar.
Mereka pun lanjut mengobrol ke sana kemari. Hingga tak terasa, waktu semakin malam. Namun tentu saja, keseruan justru semakin menjadi dan tidak berhenti di sana.
Kembang api sesekali diluncurkan ke langit. Sehingga suara keras yang ditimbulkannya membuat malam itu semakin ramai. Nyala warna-warni di langit juga sukses menyita perhatian.
"HP gue mana? Pinjem HP dong?" Agatha panik mencari-cari ponselnya. Ia terlihat ingin mengabadikan momen itu.
Shana menyodorkan ponselnya kepada Agatha. "Pakai punya gue aja."
Agatha pun segera memanfaatkan pinjaman ponsel dari Shana dengan baik. Ia mengambil beberapa gambar dalam waktu singkat karena tidak ingin ketinggalan momen bagus itu.
Sayangnya, pertunjukan kembang api itu tidak berlangsung lama. Mungkin karena memang tidak banyak kembang api yang mereka siapkan. Jadi ya seadanya saja.
Setelah keadaan kembali sepi dan yang terdengar hanyalah obrolan-obrolan orang-orang di sana, Agatha menoleh kepada Shana, "Jangan lupa, kirimin video sama foto yang barusan ini ke gue."
"Sure, setelah dapat sinyal nanti," jawab Shana sambil meletakkan ponsel ke atas pangkuannya. Gadis itu pun bersandar santai di tempat duduknya dan memejamkan mata.
Agatha dengan suara cemprengnya langsung berseru, "Lo mau tidur? Ya ampun, ini masih sore."
"Lo orang mana, sih? Sejak kapan jam setengah sepuluh lo bilang sore? Udah gelap gini berarti jelas udah malam dong," balas Shana.
Agatha mencebikkan bibirnya. Ia pun memperjelas maksud ucapannya. Niat hati mau mencibir Shana, yang ada malah dirinya yang dianggap aneh. "Kalau nurut sama jam, ya memang udah malam. Tapi menurut kamus anak gaul kaya gue, jam segini itu masih sore buat cabut dari acara ngumpul-ngumpul kaya gini."
Shana membuka matanya sebentar. Ia kemudian memutar bola mata sambil menirukan gaya Agatha bicara. Setelah itu, ia kembali memejamkan mata tak peduli omelan Agatha semakin menjadi-jadi.
***
Shana tidak tahu apa persisnya yang terjadi di sana. Yang jelas, ia terbangun karena mendengar suara riuh orang-orang berebut untuk berbicara.
Shana yang baru terjaga itu tampak linglung sesaat. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, berharap bisa mendapati teman-temannya ada di sana. Namun nyatanya, Shana hanya sendirian.
"Pada ke mana?" Shana keheranan. Gadis itu pun bangkit dari duduknya dan mulai mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Hingga akhirnya, tatapan Shana jatuh pada kerumunan di dekat tempat pembagian daging—yang bukan daging kurban—barbeku tadi.
Karena Shana sendirian juga di tempatnya, ia merasa sedikit tak aman. Sehingga gadis itu memutuskan untuk menghampiri kerumunan itu. Barangkali di sana ia akan menemukan Arthur dan kedua sobatnya yang lain.
Meski awalnya ragu, Shana tetap memutuskan untuk pergi ke sana. Ia berjalan sambil mengusap wajah, sekaligus membersihkan jikalau ada kotoran di ujung matanya. Karena itu wajar kan, mengingat Shana baru saja bangun tidur.
Shana menguap lebar sambil mengucek-ngucek matanya sebelum ia memutuskan menerobos kerumunan itu. Merasa fokusnya sudah kembali sepenuhnya, Shana pun melangkah kaki dengan mantap untuk msnyela orang-orang yang berkerumun itu. Ada apa sih di sana? Shana benar-benar dibuat penasaran.
Saat Shana berusaha melangkah lebih dalam ke dalam kerumunan, beberapa kali ia terkena sikutan dari manusia-manusia di sana. Belum lagi, Shana juga hampir jatuh tertelungkup karena kakinya tak sengaja terjegal oleh orang. Aksi dorong-dorongan di sana juga tidak kalah heboh. Itu membuat Shana sempat oleng dam hampir terpental keluar dari kerumunan itu.
Di dalam hati, Shana sudah menetapkan bahwa setelah ia bertemu teman-temannya nanti, ia akan mengomeli mereka. Kenapa Shana ditinggal? Kalau alasannya karena Shana ketiduran, itu sungguh alasan yang tidak bisa Shana terima. Karena kalau benar begitu, pertanyaan selanjutnya akan Shana berikan soal kenapa jika ia terlanjur ketiduran, teman-temannya tidak membangunkannya.
Ah, sudah lah, itu tidak penting. Yang penting sekarang adalah Shana kebingungan melihat apa yang ada di hadapannya sekarang. Pertanyaa soal apa yang terjadi di sana berlarian di kepalanya.
Shana ikut berjongkok di sebelah Agatha yang menopang kepala dari seorang gadis dengan luka bakar cukup serius di beberapa bagian tubuhnya. Bekas-bekas air tampak di tubuh terbakar gadis itu. Mungkin itu digunakan untuk memadamkan api? Entah lah, Shana hanya menduga-duga.
"Tha, ini kenapa?" Suara Shana terdengar bergetar saat bertanya. Ia benar-benar tidak menduga kalau akan ada kejadian mengerikan seperti ini. Melihat langsung orang dengan luka bakar cukup parah begini membuat Shana sakit kepala.
"Kena ledakan kompor portable, Sha," jawab Agatha. Gadis itu menjawab sambil melanjutkan aktivitas mengecek tanda-tanda vital dari gadis yang mengalami luka bakar itu.
Shana menoleh ke sana dan kemari. Baik Verrel maupun Arthur tak ada di sana. Mereka ke mana? Pertanyaan itu muncul di kepala Shana.
Agatha yang dapat membaca pikiran Shana pun berkata, "Mereka lagi ke aula, manggil panitia sekalian minta disiapin tempat di ruang kesehatan."
Shana manggut-manggut sebagai balasannya. Ia pun tidak lagi mencari-cari keberadaan pacar dan salah satu sahabatnya. Alih-alih memikirkan mereka, Shana jadi ikutan fokus ke gadis dengan luka bakar itu. "Kejadiannya kapan?"
"Sepuluh menit yang lalu? Ya, sekitar itu lah," jelas Agatha.
Lalu tak lama kemudian, Arthur dan Verrel menyibak kerumunan dan berhasil muncul di hadapan Shana dan Agatha. Tak hanya mereka, ada beberapa panitia yang juga muncul di sana.