R 2.9

2126 Kata
Setelah makan siang, volunteer untuk mencari akses guna mendapat bantuan dari pihak di luar pulau tampak kembali berkumpul. Ini memang masih siang, namun mereka sepakat untuk melakukan evaluasi dulu dengan progres seadanya. Dan akhirnya didapati fakta bahwa baik dari tim pencari sinyal maupun tim yang memantau perahu berlayar sama-sama tidak mendapatkan sesuatu yang cukup berguna. Untuk tim pencari sinyal, seperri yang sudah diketahui bahwa mereka bisa dibilang belum bisa menemukan titik sinyal yang stabil. Sementara untuk tim yang memantau kapal atau perahu, mereka tak melihat satu pun perahu berlayar di dekat pulau yang mereka singgahi untuk berlibur ini. "Jadi sekarang gimana?" tanya Ganendra. "Adakah yang punya saran?" Tak ada yang buka suara. Itu bisa ditebak memang mengingat mereka bukan lah orang-orang dengan kemampuan survival. Mereka kan ke sana untuk berlibur. Kenapa jadi berakhir seperti ini? Tentu itu di luar kendali. "Ya udah lah, kalian istirahat dulu aja," ujar Hea menengahi. Seperti yang Hea katakan, mereka pun tidak melanjutkan pencarian bantuan itu. Atau jika nanti ada saran baru lagi yang layak untuk dicoba, barulah mereka bergerak. Dan karena itu juga, Verrel mengajak Arthur untuk kembali ke tenda. Ia mengeluhkan badannya yang pegal-pegal, terutama kakinya yang terasa sakit semua. Namun tentu saja, Agatha juga tak mau ketinggalan. Gadis itu meminta ikut ke tenda Verrel. Meski mungkin nanti ia hanya akan ditinggal tidur. "Kenapa lo nggak balik ke tenda lo aja?" tanya Verrel yang diam-diam punya maksud untuk mencegah Agatha datang ke tendanya. "Nanti kita bisa ketemuan lagi kalau udah istirahat." Shana membenarkan ucapan Verrel. Ia pun mengajak Agatha untuk kembali saja ke tenda. Akhirnya karena mendengar pendapat orang-orang, Agatha menurut untuk tidak ke tenda Verrel dan justru kembali ke tendanya sendiri. "Ya udah lah, nggak apa-apa," ujar Agatha saat keluar dari aula. Ia mencari-cari sandalnya. Saat sudah dapat, ia berseru dengan riang di hadapan Shana, "gue mau ngerumpi sama Indi." Shana hanya bisa geleng-geleng kepala. Pantas saja Agatha dengan cepat berubah pikiran. Ternyata ia sudah punya hal lain yang lebih menarik. "Indi," panggil Agatha sambil melambaikan tangan. Indi mengacungkan jempolnya. Setelah mendapatkan kembali sandalnya, Indi menghampiri Agatha dan Shana. Ketiga gadis itu lantas berjalan bersama menuju ks tenda mereka. Setibanya di dalam tenda, sambil rebahan dan mendinginkan tubuh di bawah kipas angin, mereka mulai mengobrol. "Jadi tadi Hea balik sama Irvin atau mereka datang sendiri-sendiri?" tanya Agatha kepada Indi. Rupanya, Indi sudah berada di aula saat itu. Indi menggumam panjang. Ia terlihat seperti tengah mengingat-ingat. Seberes ingatannya kembali, ia pun bercerita, "Datangnya hampir bersamaan. Tapi duluan Irvin deh. Terus ya, Irvin itu menurut gue rada gimana gitu gitu orangnya. Kaya nggak jelas, terus gelagatnya aneh, caranya bersikap juga rada sulit dimengerti. Kayanya Hea tadi tuh ngejar Irvin. Cuma si Irvin acuh tak acuh." Kalau biasanya Shana tidak ikutan dalam kebiasaan Agatha dan Indi yang membicarakan orang, kali ini tak demikian. Shana penasaran dengan orang yang bernama Irvin itu. Jadinya, meski tak angkat bicara, Shana memasang kupingnya baik-baik. Agatha menjentikkan jarinya. Ia berseru dengan hebohnya. "Gue juga mikirnya gitu. Demi apa, tingkah dia itu aneh bin nyebelin. Gue nggak ngerti apa yang dia pikirkan, tapi dia benar-benar nggak bisa gue pahami." Selanjutnya, Agatha menceritakan soal kejadian selama ia bersama dengan Irvin. Agatha makin menggebu-gebu ketika ia menceritakan bagaimana Irvin tampak gelisah dan tak lama kemudian pergi tanpa memberikan alasan sepatah kata pun. Apalagi diketahui, Hea menyusul Irvin namun tak kesampaian. Itu artinya Irvin memang tergesa-gesa sampai ia mengabaikan Hea yang buru-buru menyusulnya. "Dia ke toilet?" tanya Agatha sedikit rumit. Indi mengernyit heran. Tetapi ia lantas menggelengkan kepala. "Enggak kayanya. Ya, kecuali sebelum dia sampai di aula udah mampir dulu ke toilet, gue nggak akan tahu." Agatha pun menyimpulkan, "Berarti dia gelisah dam pergi tiba-tiba bukan karena mau ke toilet seperti yang gue duga. Terus apa dong?" "Lo kenapa penasaran sama dia, sih? Lo mengulik sampai kaya gini itu buat apa?" Indi balik bertanya. Dan jujur saja, pertanyaan Indi juga mewakili keinginan Shana untuk bertanya. Agatha mengedikkan bahu. Ia sendiri tidak tahu. Tapi mungkin karena keanehan Irvin terlalu mencolok dan Agatha sudah lama tidak berurusan dengan orang-orang aneh, gadis itu jadi penasaran. "Nggak ada alasan khusus, sih. Cuma gue merasa ada sesuatu yang nggak bisa gue jelasin pakai kata-kata," balas Agatha sedikit membuat pendengar kecewa. Baik Indi yang punya pertanyaan, maupun Shana yang merasa terwakilkan jadi hanya bisa menduga apa yang Agatha maksud. "Sha," panggil Agatha. Kali ini ia menyasar Shana. "Kalau Nafi gimana? Aneh juga nggak?" Shana menelengkan kepalanya. Ia tampak mengingat-ingat kembali sosok Nafi yang baru dikenalnya tadi. "Menurut gue sih biasa aja. Nggak aneh yang gimana-gimana. Asyik kok orangnya." Agatha tampak manggut-manggut dengan serius. "Oh, gitu," gumamnya. Shana dan Indi hanya mengernyit memperhatikan Agatha. Kalau begini, yang aneh justru Agatha! *** Saat petang tiba, para peserta yang seharian ini tidak beraktivitas bersama panitia pun memilih menggelar acara sendiri. Panitia yang mendengar rencana itu juga sudah memberikan izin. Alhasil, mereka yang menggagas acara ini pun diperbolehkan oleh panitia untuk mengumpulkan peserta, menggantikan peran panitia sementara waktu. Saat makan malam selesai, diumumkanlah bahwa malam itu akan diadakan pesta barbeku. Pesta ini bukan pesta pertama yang peserta buat. Namun kalau skalanya seluruh peserta mengikutinya, maka ini adalah pertama kali. "Jadi nanti kalian datang, kan?" Agatha mengerjap-ngerjapkan mata, bergantian menatap Shana dam Arthur. "Ayo, lah, yang tempo hari kalian juga nggak ikut." "Gue kenyang, males makan-makan lagi," komentar Shana yang diangguki oleh Arthur. Agatha berdecak. "Ada-ada aja lo, Sha. Alasan kaya gitu nggak bisa diterima. Kan, kalau lo kenyang, lo tinggal dateng dan diam aja. Jangan makan, lah!" Shana memasang wajah cemberut. "Masa semua orang makan, gue enggak." "Lah, lo sendiri yang bilang kenyang. Jangan dipaksain dong," balas Agatha lagi. "Kalau kenyang lo nggak akan kepengen waktu liat orang makan. Lagian ya, di acara nanti itu nggak sekadar makan. Kemarin sih ada permainan kartu, ada yang nyanyi-nyanyi sambil gitaran, asyik lah pokoknya." "Oke, coba liat nanti." Shana menutup perdebatan dengan Agatha. Sedikit berjanji, tapi tentu itu belum pasti. Agatha hanya menggumam dengan nada tak puas. Tapi mau bagaimana lagi, membujuk Shana itu susah. Seorang pemuda untuk terakhir kalinya berseru, "Jam delapan ya, kawan! Jangan lupa pada join, kami tunggu." Setelahnya, para peserta yang sudah selesai makan malam turut cabut dari sana. Barangkali mereka ingin berpindah tempat ke tempat pesta barbeku yang tak lain dan tidak bukan adalah pelataran di depan tenda-tenda glamping peserta. Agatha menarik-narik Shana untuk meluncur ke tempat diadakannya kegiatan malam itu. "Ayo, Sha," ajak Agatha yang cenderung memaksa. Shana memutar bola matanya. Sebelah tangannya yang bebas menyambar lengan Arthur untuk turut menyeret pemuda itu pergi dengan Shana ke tempat pesta barbeku. "Gue doang yang nggak diajak gandengan!" Tiba-tiba, Verrel merajuk. Tentu saja, itu hanya bercanda. Tingkahnya memang ada-ada saja. Agatha berdecak sebelum akhirnya menyambar tangan Verrel dan menggenggamnya. Itu membuat ia dan ketiga temannya tampak konyol karena saling bergandengan tangan sampai empat orang begitu. Tidak ada angin dan tidak ada hujan padahal, mereka justru bertingkah demikian. Setelah keluar dari aula, mereka langsung menuju ke tempat kegiatan itu. Saat sampai di sana, sudah banyak peserta yang lebih dulu sampai. Alhasil, mereka kesulitan mencari tempat untuk duduk. Pasalnya kursi yang tersedia sudah habis diduduki orang. "Gue sebenarnya nggak masalah kalau duduk di bawah. Tapi baju ini nanti mau gue bawa tidur. Gimana kalau kasurnya kotor?" Agatha sebetulnya dengan cara begitu memberi isyarat agar Verrel peka mencarikan solusi. Dan ya, Verrel langsung berceletuk sambil menepuk bahu Arthur, "Yuk, ambil kursi lipat dulu, Bestie." Arthur melirik dengan tatapan aneh. Dia geli sendiri dipanggil begitu oleh Verrel. "Sableng emang si Verrel," ujar Agatha kemudian terkekeh. Tak sampai lima menit, sosok Verrel dan Arthur sudah kembali bergabung bersama Agatha dan Shana. Mereka pun membuka kursi lipat dan duduk-duduk santai sembari menunggu acara dimulai. Beberapa orang tampak mengeluarkan kompor portable dari tenda mereka dan menyumbangkannya untuk acara malam ini. Ada juga yang menggotong-gotong beberapa ikat kayu dan meletakkan kayu-kayu itu di tengah lapangan. Tentu, yang satu itu pasti akan digunakan untuk menggelar api unggun. Lalu beberapa panitia datang untuk mengantarkan daging-daging yang siap dipanggang. Mereka juga membagikan makanan ringan dan minuman berkarbonasi. “Dibagi-bagi ya,” pesan salah satu panitia. Kalau tidak salah itu Rebecca. Agatha langsung gerak cepat mengambil makanan ringan dan minuman yang panitia sediakan. Karena peserta lain pun tampak tidak malu-malu untuk bersikap rakus dan menghabiskan semuanya. “Sha,” panggil Agatha. Gadis itu meminta bantuan dari Shana untuk membawakan makanan jarahannya. Shana sedikit merasa malu ketika menghampiri Agatha. Sambil menerima sebagian dari apa yang Agatha dapatkan dengan berebutan tadi, Shana bertanya, “Ini nggak kebanyakan, Tha? Kasihan yang lain nggak kebagian.” Agatha berdecak. Ia meminta Shana untuk santai saja. Agar tidak terlihat terlalu rakus, Agatha menambahkan alasannya dengan membawa-bawa nama Rick dan Indi. “Siapa tahu nanti mereka gabung sama kita. Pas lah kalau makanan segini,” imbuh Agatha di akhir sesi meyakinkan Shana. Shana hanya memutar bola mata. Apapun yang Agatha katakan, Shana yakin itu hanya pembelaan diri saja. Jelas-jelas tadi Rick dan Indi sedang sibuk mengobrol bersama abangnya Indi alias Cairo dan Ganendra. Sepertinya mereka tak akan kemari dalam waktu dekat. Shana dan Agatha kembali duduk di tempat mereka. Verrel yang melihat apa saja yang Agatha dan Shana bawa pun terlihat girang. Begitu pula dengan Arthur, ia memasang senyum miring dan diam-diam ia juga pasti merasa senang. “Mari makan,” seru Agatha dengan semangat empat lima. Di tangannya sudah ada satu botol minuman berkarbonasi dan sebungkus makanan ringan rasa jagung. “Acaranya belum mulai. Nanti makanan udah habis duluan.” Shana mengingatkan. Agatha mengibaskan tangannya. “Jangan khawatir, ronde kedua, masih ada daging!” “Gila lo,” kekeh Shana sambil geleng-geleng kepala. “Itu perut atau karung?” “Truk yang bak penampungannya besar,” timpal Verrel asal berceletuk saja. Dia jelas mengatai Agatha yang makannya banyak. Agatha mendesis sembari melayangkan tonjokan ke bahu Verrel. “Setan!” “Ih, kasar,” balas Verrel sambil cemberut, pura-pura tak suka. Padahal dia sendiri kalau bicara suka sembarangan. Agatha mengedikkan bahu tak acuh. Ia sudah mulai menikmati camilannya. Acara dimulai secara tidak formal. Pokoknya ketika api unggun berhasil menyala, mereka mulai bersenang-senang. Ada yang menjadi sukarelawan dalam mematangkan daging. Ada yang mulai menyumbangkan lagu untuk meramaikan suasana. Ada juga orang-orang dengan kepercayaan diri tingkat tinggi yang berdansa di sekitar api unggun. Lalu permainan sederhana juga mulai digelar. Sisanya, hanya diam sembari menyaksikan keseruan acara malam itu. “Dagingnya udah siap. Siapa aja boleh ambil ya, jangan sungkan-sungkan!” teriak seorang gadis sembari mengangkat piring berukuran lebar. Agatha melirik ke arah Verrel. Ia memberi isyarat dengan matanya agar Verrel pergi mengambil daging yang telah siap dinikmati itu. Verrel mengacak-acak rambutnya. Senyum kecut terpampang di wajahnya. “Bentaran deh, Tha. Gengsi kalau langsung ambil.” “Keburu habis, Beb,” rayu Agatha sambil memasang wajah penuh harap. Ia pun dengan gaya yang dibuat imut-imut—tapi jatuhnya jadi amit-amit—kembali memohon, “Tolong ambilin.” “Oke, fine,” pekik Verrel sembari bangkit dari duduknya. Lagi-lagi ia bertingkah cukup dramatis. “Satu kali ini aja.” Agatha mendengkus geli. Ia pun menendang b****g Verrel. “Gih, keburu habis,” suruh Agatha dengan entengnya. Verrel pergi sembari memaki-maki. Mana ia masih harus mengantre untuk mendapatkan jatah daging karena yang tadi sudah ludes habis. Kan, berdiri mengantre begitu membuatnya rada gengsi! Tapi untung saja, ada orang yang Verrel kenal di sana. Ia pun meminta orang itu untuk membagi daging kepadanya begitu daging-daging itu matang. Sepuluh menit kemudian, Verrel sudah mendapatkan apa yang ia tunggui sejak tadi. Ia pun berlari-lari kecil kembali ke tempat duduknya. Saat sudah sampai, ia menyodorkan piring berisi beberapa potong daging itu ke hadapan Agatha. “Silakan, Tuan Putri.” “Terima kasih,” balas Agatha sembari menerima pemberian Verrel dengan penuh rasa syukur. Ia pun berkomentar, “Uh, sedap banget aromanya!” Agatha menawarkan kepada Shana dan Arthur. Namun untungnya, kedua sobat Agatha itu menolak tawarannya. Kalau begini kan, Agatha jadi bisa makan banyak tanpa diganggu gugat. Sip, lah! Namun saat Agatha baru akan menyantap dagingnya, ia dan ketiga temannya justru dihampiri oleh salah seorang peserta makrab. Dia pasti mau mengajak agar Agatha dan ketiga temannya tak hanya diam saja di sana. “Ikut permainan kami yuk,” ajaknya. Nah, benar, kan! “Main apa, sih?” Shana yang pertama menyahut. Pemuda itu pun menjabarkan permainan apa saja yang digelar di sana. Setelah beres mempromosikan itu, ia kembali mengajak agar mereka bergabung ke sana. “Gimana, Ar?” bisik Shana kepada Arthur. “Ya gue sih ayo-ayo aja,” balas Arthur. Shana memberikan kode ke Agatha dan Verrel. Mereka kompak menjawab, “Duluan aja.” Untuk menghargai usaha pemuda yang mengajak mereka ikut bermain, jadilah Shana dan Arthur mengikutinya untuk turut bermain dan meramaikan acara malam itu. Padahal niat awal, Shana ingin diam saja di tempat duduknya. Dan Shana rasa, Arthur pun demikian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN