R 2.8

2207 Kata
Setelah istirahat sejenak, akhirnya mereka sepakat untuk lanjut turun ke tempat resort mereka berada. Hari sudah beranjak semakin siang. Bahkan sepertinya, mereka sudah melewatkan jam makan. Jangan sampai mereka berdiam lebih lama di sana dan pada akhirnya kehabisan tenaga. Ketika perjalanan pulang itu, Nafi memimpin jalan di depan. Lalu di barisan tengah ada Shana, Agatha, dan Chani. Yang di belakang, Arthur dan Verrel tampak santai berjalan bersisihan. Saat itu lah, Arthur menyadari ada yang kurang dari anggota mereka yang seharusnya. Ada yang tidak terlihat di sana bahkan sejak Arthur bertemu dengan Verrel dan Agatha. "Irvin mana?" Arthur celingukan, memastikan bahwa Irvin benar-benar tidak berada di antara mereka. Verrel melirik ke arah Nafi. Berhubung Nafi berada jauh di depan sana, Verrel pun berani berbisik-bisik kepada Arthur untuk menggunjingkan Irvin. Ia menceritakan betapa anehnya Irvin selama pergi dengannya dan Agatha tadi. Hingga puncaknya, Irvin pergi begitu saja meninggalkan mereka tanpa memberikan alasan yang jelas. Arthur jadi mengernyit dalam-dalam. Ia tidak sepenuhnya percaya pada ucapan Verrel. Karena bagaimana pun, Arthur tahu bahwa Verrel cukup senang mendramatisasi keadaan. Tapi Arthur tak lantas mengatakan bahwa ia meragukan ucapan Verrel. Ia justru kembali bertanya, "Kalau Hea gimana? Katanya tadi sama lo." Verrel menjawab, “Sama aja kaya Irvin. Langsung cabut gitu aja. Kayanya sih, dia panik gara-gara tingkah nggak jelasnya Irvin.” Kernyitan di dahi Arthur semakin kentara. Tapi pemuda itu tidak lagi bertanya. Itu karena Arthur yakin Verrel juga tidak akan bisa menjelaskan apa-apa lagi perihal Irvin dan Hea. Selang beberapa meter jauhnya mereka berjalan, Verrel lantas teringat akan misi mencari sinyal mereka hari itu. Kalau ia sih, sudah jelas tidak mendapatkan hasil apa-apa. Tapi kalau Arthur, Verrel belum tahu. Sembari terus melangkah, Verrel bertanya kepada Arthur, “Dapat hasil apa dari pencarian tadi?” “Kami sempat dapat sinyal. Tapi nggak lama, hilang lagi. Itu pun hanya HP Shana yang bisa menangkap sinyal. Lainnya enggak,” terang Arthur. Verrel menghela napas berat dan membuangnya perlahan. “Susah ya emang,” gumamnya. Arthur mengiakan saja gumaman Verrel itu. Karena memang adanya demikian, Arthur pun merasa kewalahan. Sesaat kemudian, mereka sudah sampai di sungai. Aliran air cukup deras dan di beberapa titik tampak meluap. Beberapa sisi jembatan gantung tampak terendam air, membuat mereka yang akan menyeberang merasa kebingungan. “Perasaan tadi waktu kita berangkat nggak sederas ini deh aliran sungainya,” celetuk Agatha. Gadis itu berpangku tangan sembari menatapi sungai dengan kesal. Keenam orang yang tersisa di sana akhirnya harus memutar otak. Bagaimana mereka menyeberangi sungai itu dan bisa selamat sampai tujuan. “Ada jalan lain nggak, sih?” Verrel sudah mulai mengedarkan pandangan. Namun sejauh matanya memandang, jembatan itu lah satu-satunya jalan untuk menyeberangi sungai. “Sial!” umpatnya kemudian. Arthur tampak melangkah mendekati jembatan. Di sana, ia berusaha mengecek keamaan jembatan gantung itu. “Gimana, Ar,” tanya Shana, “bisa dilewatin?” Arthur membalikkan badan. Ia mengiakan pertanyaan Shana. “Bisa, asalkan kalian berani.” Nah, itu dia masalahnya. Di antara mereka, yang berani hanya itu-itu saja, bisa dihitung pakai jari. Lalu bagaimana nasib mereka yang tidak berani? “Kalau nunggu, bisa-bisa kita di sini sampai malam. Lagian, kita nggak tahu sampai kapan sungainya akan meluap dan kapan lagi surutnya,” cetus Verrel. Arthur berjalan menghampiri teman-temannya kembali. Ia pun berujar, “Kalian mau gimana?” Chani langsung meneguk salivanya. Gadis itu termasuk yang ketakutan melihat sungai itu meluap dan airnya menggenang sampai ke jembatan. “Chani,” panggil Shana, “gimana?” Chani menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia pun dengan frustrasi berkata, “Gue bingung. Gue nggak berani nyeberang. Tapi gue pengen cepet pulang.” “Kayanya pencarian hari ini memang bukan pilihan yang tepat.” Agatha mendadak bicara. Merasa semua orang memperhatikannya, Agatha pun melanjutnya ucapannya itu, “Air sungai meluap, menutup akses kita buat kembali ke resort. Sinyal juga nggak ditemukan di tempat manapun di pulau ini. Itu bisa jadi karena semalam hujan.” Kelima temannya sukses dibuat berpikir karena ucapan Agatha barusan. Mereka jadi tampak murung. Setelah terdiam selama beberapa saat, Arthur kembali buka suara. “Kalau kalian mau, gue nggak keberatan buat anterin dan temani satu per satu dari kalian yang takut buat nyeberang. Gue akan ” “Kayanya bisa deh,” gumam Agatha. “Irvin sama Hea balik duluan. Tapi kita sejauh ini nggak ketemu sama mereka. Berarti mereka bisa lewat sini, kan?” Verrel setuju dengan apa yang Agatha katakan. Ia pun menyemangati teman-temannya yang tampak ragu, terutama gadis bernama Chani. Mungkin karena tak enak hati jika tetap berkeras dengan rasa takutnya, Chani pun setuju untuk menyeberangi sungai itu. Chani tampak menguatkan diri sebelum akhirnya berujar sepakat, “Oke, gue mau menyeberangi sungai ini lewat jembatan itu. Tapi Arthur beneran bakalan nemenin, kan?” “Iya, gue temenin lo,” tegas Arthur tak main-main dengan ucapannya. Ia juga bertanya kepada teman-temannya yang lain, “Siapa lagi yang mau gue temenin?” “Nafi aman?” tanya Agatha tiba-tiba menyasar Nafi karena pemuda itu sejak tadi hanya menyimak diskusi saja tanpa ikutan nimbrung sedikit pun. Nafi mengiakan. “Aman,” katanya. Akhirnya setelah berdiskusi lebih lanjut, mereka mulai bergerak dan bersiap untuk menyeberangi sungai. Mereka yang merasa berani menyeberangi sungai itu akan berangkat lebih dulu. Tak berjalan sendirian, mereka akan berjalan bersama-sama sekalian. Hingga akhirnya, tersisa Arthur dan Chani. Mereka masih memperhatikan perjuangan teman-teman mereka menjaga keseimbangan juga kewarasan. Sudah tak terhitung berapa kali banyaknya mereka mendengar teriakan Agatha yang tampak ketakutan. “Wah, gawat,” gumam Chani, “gue berani nggak, nih?” Arthur menoleh ke arah Chani. Ia berusaha meyakinkan Chani bahwa semua akan baik-baik saja. Tak ada yang perlu ditakutkan secara berlebihan. Nanti malah jadi beban pikiran. Setelah menunggu barang sepuluh menit, Verrel dan yang lainnya sudah tiba dengan selamat di seberang sana. Meski sepertinya, mereka tampak basah kuyup karena beberapa kali diterjang air sungai yang meluap dan membentur jembatan. “Lihat, mereka bisa selamat sampai sana. Lo juga pasti bisa,” ujar Arthur saat Chani pertama kali menginjakkan kaki di jembatan itu. Chani cukup gemetaran. Ia bahkan tanpa sadar mencengkeram lengan Arthur kuat-kuat. Mungkin itu ia lakukan agar ia tidak mental begitu saja saat diterjang air. “Hati-hati,” ujar Arthur sembari menahan Chani yang hampir terjungkal karena jembatan gantung itu mendadak bergoyang kuat sehabis dihempas air sungai. *** Di posisinya, Shana hanya bisa gigit jari melihat Arthur yang berusaha keras membantu Chani. Masalahnya di beberapa kesempatan, ketika berada di dalam kegentingan, Arthur dan Chani justru semakin tampak dekat. Baik, katakan lah Shana saat ini merasa cemburu. Shana tidak mengelak akan hal itu. “Sha, lo tadi hampir kecebur, kan? Untung aja lo pakai celana pendek. Kalau enggak, pasti sekarang lo udah basah kuyup,” seloroh Agatha yang sudah berdiri di sebelah Shana. Shana hanya memutar bola matanya. “Maka dari itu, gue agak heran.” “Heran kenapa?” Kernyitan di dahi Agatha tampak semakin rapat. Shana dengan meniru gaya Agatha yang hobi mendramatisasi keadaan pun kembali membalas, “Gue yang hampir kecebur. Tapi elo yang heboh teriak-teriak! Kebalik, kan?” Agatha langsung melayangkan pukulan ringan ke lengan Shana. Gadis itu juga mendesis sembari memicingkan matanya, pura-pura kesal karena sindiran dari Shana untuknya. Namun Shana tampak tidak memedulikan ekspresi Agatha yang tampak mengajaknya bertarung itu. Konsentrasi Shana sudah kembali terambil alih oleh Arthur yang tengah berusaha menyeberangi sungai dengan selamat, masih bersama Chani tentu saja. Shana ingin Arthur buru-buru sampai ke sisi tempatnya berdiri saat ini. Gadis itu khawatir kalau Arthur akan terserang arus deras air tiba-tiba ketika pemuda itu masih berada di tengah sungai. Atau, alasan lainnya, Shana ingin momen kemesraan antara Arthur dengan Chani itu segera berakhir. Kalau saja situasi tidak sedang mendesak seperti ini, mungkin Shana akan mengira Arthur ada hubungan apa-apa dengan Chani. Masalahnya kedua manusia itu kelewat serasi dan Shana membenci penilaiannya itu. Teriakan kelegaan keluar dari mulut Chani. Itu membuat Shana mengerjapkan mata. Rupanya karena keasyikan melamun, Shana sampai tidak benar-benar fokus memperhatikan apa yang terjadi di sekitarnya. Bahkan ia tidak menyadari bahwa Arthur dan Chani sudah tidak lagi berada di tengah sungai yang tidak bersahabat itu. Shana diam-diam membuang napas lega. Ia pun menghampiri Arthur. Shana menepuk bahu Arthur dan bertanya, "Lo baik-baik aja, kan?" Arthur menoleh dan mengangguk kecil. Hanya saja, pemuda itu menunjukkan sebuah luka di bawah lututnya. Itu seperti luka yang diakibatkan goresan dan itu terlihat cukup dalam. "Ar, ini namanya lo nggak baik-baik aja." Shana jelas khawatir di sana. "Cuma kegores ranting yang kebawa arus tadi," terang Arthur. Shana memasang wajah cemberut. Ia kesal karena Arthur menyepelekan itu. Shana pun memanggil Agatha dan meminta gadis itu membantunya merawat luka Arthur sementara waktu. "Ya, ampun, Ar." Chani tampak terkejut. Ia lantas sibuk meminta maaf. Karena bagaimana pun, Chani merasa Arthur terluka karena pemuda itu berusaha menjaganya saat menyeberangi sungai tadi. Arthur berusaha menenangkan teman-temannya. Baginya, luka itu bukan apa-apa. Arthur pernah atau bahkan cukup sering terluka seperti ini. Beberapa juga bisa dikatakan jauh lebih parah dari sekadar goresan ranting yang terbawa air. "Gue nggak apa-apa," tekan Arthur. "Oke, lo nggak apa-apa. Tapi tetap aja, ini perlu diobatin. Atau minimal ya dibersihin dulu terus dijaga biar nggak kena debu atau lainnya. Lagian ini darah masih terus keluar. Kalau ternyata parah gimana? Kalau infeksi lo mau gimana?" cerocos Shana panjang lebar. Gadis itu memang cenderung lebih banyak bicara kalau sedang mencemaskan keadaan seseorang, Arthur misalnya. Arthur akhirnya mengalah. Ia tak mencoba menenangkan kekhawatiran Shana dengan mengatakan lukanya baik-baik saja. Padahal kenyataannya memang luka Arthur cukup meresahkan. Arthur diam saja ketika Shana dan Agatha menangani lukanya. Barulah setelah dirasa selesai, Arthur kembali mengajak teman-temannya untuk melanjutkan perjalanan mereka kembali ke resort. "Lo bisa jalan, Ar?" tanya Verrel. Arthur berhenti melangkah. Ia pun balik bertanya, "Kalau nggak bisa, lo mau gendong gue balik ke resort?" Verrel meringis. Di telinganya, pertanyaan Arthur terdengar menggelikan sekaligus mengerikan. "Anjing lah, Ar. Jijik, b*****t!" Agatha menabok punggung Verrel karena menyadari pacarnya itu terlalu sering mengumpat. Padahal mereka berada di tempat asing. Bagaimana jika tiba-tiba Verrel kesurupan? Misalnya saja ada penunggu tempat itu yang tidak menyukai tutur kata Verrel. "Sakit, Tha," keluh Verrel. Pemuda itu berusaha mengusap punggungnya yang terasa pedas sekaligus panas. Agatha memang tidak main-main, menggunakan seluruh tenaganya untuk memberi pelajaran pada Verrel. Agatha hanya mencebikkan bibirnya tanpa bicara apa-apa. Ia lantas menyejajarkan langkahnya dengan Shana yang berjalan di depannya. Namun saat Agatha berhasil menyejajarkan langkahnya dengan Shana, Shana justru balik badan dan menghampiri Arthur. Oh tentu saja, Shana akan menawarkan diri membantu Arthur. Meski Arthur tampak kuat dan tidak terlalu terpengaruh dengan keberadaan lukanya. *** Setelah berjalan beberapa menit lamanya, Arthur dan kelima rekan sekelompoknya bisa menginjakkan kaki kembali di resort tempat mereka berkegiatan. Sampai di sana, mereka memisahkan diri. Ada yang langsung ke aula untuk bertemu volunteer lainnya, ada juga yang pergi ke ruang kesehatan. Yang pergi ke ruang kesehatan itu adalah Arthur dan Shana. Karena sejak tadi, Shana masih ngotot agar luka Arthur itu diobati dengan layak dan sebagaimana mestinya. Shana meminta kotak P3K ke Karenina dan menyuruh Arthur untuk duduk sembari menunggu. "Duduk, jangan berdiri terus," perintah Shana kepada Arthur, "kaki lo yang sakit itu harus diistirahatkan. Biar cepat pulih." Arthur menaikkan sebelah alisnya. Menghadapi kebawelan Shana harus dilakukan dengan sikap yang berkebalikan—tenang, kalem, dan tidak banyak membantah—dan Arthur punya kemampuan mumpuni soal ini. "Ini obatnya," ujar Karenina yang datang dengan kotak P3K. Ia kemudian bertanya, "Bisa obatin sendiri kan, ya?" "Bisa, thanks obatnya." Arthur yang membalas demikian. Karenina yang sudah hampir menjauh pun balik badan dan membalas, "My pleasure." Menit berikutnya, Shana dan Arthur sudah sibuk berkutat dengan luka Arthur. Shana dengan berhati-hati mulai membersihkan luka memanjang di bawah lutut Arthur. Shana melakukan sesuai perintah Arthur. Beberapa saat kemudian, ia yang semula berlulut di hadapan Arthur kini mangambil posisi duduk di tempat yang sama. Gadis itu berbisik, "Udah selesai. Kalau gini kan gue lebih tenang lihatnya." Arthur terkekeh sembari membantu Shana membereskan isi kotak P3K. "Makasih, Sha." Arthur menyelipkan kata-kata itu di sela-sela kegiatan membereskan kotak P3K dan isi-isinya itu. Shana tersenyum lebar dan menganggukkan kepala. Ia lantas mengulum senyum saat menyadari Arthur memperhatikannya. "Kenapa sih ngeliatin gue kaya gitu?" "Makasih juga buat omelannya," tambah Arthur. Shana menghentikan aktivitasnya. Ia menatap Arthur dengan mata memicing. "Ar, jangan mancing-mancing, deh!" Arthur berusaha berkelit, "Enggak, bukan gitu. Maksud gue, ya gue bersyukur karena lo mencemaskan gue. Lo bawel karena perhatian sama keadaan gue." Shana mengerucutkan bibirnya dengan wajah pura-pura terharu. Karena setelah itu, ia tampak memberi ultimatum kepada Arthur. "Awas aja kalau makna sebenarnya lain dari yang lo jelasin barusan!" "Iya, iya, enggak," pungkas Arthur. Ia pun menarik Shana ke dalam dekapan dan menepuk lembut kepala gadis itu dengan perasaan hangat. Kalau saja tidak ada suara berdeham-deham, mungkin Arthur dapat lebih lama mendekap Shana. Sayangnya, Karenina dan Susan selaku panitia yang bertugas di ruangan itu tampak tidak terima disuruh menjadi penonton kemesraan Arthur dan Shana. Makanya mereka berulah. Shana meringis sembari mengurai pelukannya. Ia pun tampak salah tingkah. Untungnya, Arthur mengajak Shana untuk segera cabut dari sana dan menuju ke aula, bergabung dengan yang lainnya. Sebelum pergi, Arthur mengembalikan kotak P3K kepada Karenina sambil menggumamkan kata terima kasih. Seberes itu, ia menggandeng Shana dan membawa gadis itu keluar dari ruang kesehatan. "Kita belum makan siang," celetuk Shana mengingatkan. "Sampai di aula, langsung makan!" "Iya," balas Arthur singkat. Ia sudah kembali menjadi Arthur yang selalu stay cool dan irit bicara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN