Entah sudah berapa jauhnya Arthur dan ketiga rekannya berjalan. Sampai-sampai mereka sudah keluar dari hutan di sisi yang berseberangan dengan resort tempat mereka menginap.
"Duduk dulu deh," putus Arthur. Ia tak tega melihat ketiga temannya sudah kelelahan.
Arthur meringis melihat keadaan teman-temannya itu. Mereka benar-benar seperti habis berpetualang di alam. Sampai-sampai kulit mereka memerah karena sengatan panas matahari dan juga keringat yang tak mau kalah bercucuran membasahi tubuh mereka.
"Aduh, kaki gue kram," keluh Chani. Gadis itu melemparkan tubuhnya begitu saja ke pasir. Mungkin karena ia sudah tidak sanggup lagi berdiri.
Arthur dengan segera menghampirinya. Ia mencoba merilekskan otot kaki Chani.
"Sha, tolong ambilin minum," pinta Arthur kepada Shana, "buat Chani."
Shana tampak mengembuskan napas sebelum dengan terpaksa bangkit dari duduknya. Ia menyodorkan sebotol air mineral ke arah Chani tanpa bicara apa-apa. Setelah memberikan itu, Shana langsung balik badan dan kembali duduk di tempatnya semula.
"Ar, gue ke sana sebentar ya," ujar Nafi sembari menunjuk ke arah hutan.
Tentu saja Arthur tidak memberikan izin dengan mudah. Demi keselamatan bersama, pemuda itu bertanya, "Lo mau ke mana?"
"Mau buang air kecil. Udah nahan dari tadi," jelas Nafi meski tampangnya tampak malu karena harus bicara begitu di depan gadis-gadis alias Shana dan Chani.
Arthur mengangguk kecil. Ia membiarkan Nafi pergi namun dengan syarat, "Jangan jauh-jauh, Fi."
"Oke, Ar," balas Nafi sambil sudah berjalan memisahkan diri untuk mengurus urusan pribadinya itu.
Arthur pun kembali fokus kepada kaki Chani. Ia bertanya, "Sekarang gimana? Udah enakan?"
"Lumayan, udah nggak sakit kaya tadi," balas Chani. Ia tampak berusaha menggerak-gerakkan kakinya.
Karena Chani sudah tampak baik-baik saja, Arthur pun mendekat ke Shana. Bak pahlawan kesiangan di mata Shana, Arthur datang sembari menawarkan sisa bekal mereka untuk Shana santap.
"Nggak lapar," jawab Shana singkat. Gadis itu cenderung menanggapi dengan tak acuh. Bahkan ia tak menoleh sedikit pun ke arah Arthur. Ia justru menatap hamparan pantai di hadapannya.
Arthur masih diam di tempatnya, berdiri di hadapan Shana. Hingga lama-kelamaan, Shana akhirnya menoleh ke arahnya.
"Kenapa berdiri di situ? Duduk, Ar," perintah Shana.
Namun Arthur tetap bergeming. Seolah-olah ia memang ingin berdiri saja ketimbang duduk.
Sehingga Shana yang penasaran pun mengajukan pertanyaan, "Lo ngapain sih, Ar? Duduk sini, lho. Nggak capek apa emangnya?"
"Menghalangi cahaya," ujar Arthur dengan membingungkan.
Tentu saja, Shana jadi mengernyit heran dan memikirkan arti ucapan Arthur. Lalu beberapa saat kemudian, Shana berseru, "Ya ampun, Ar. Lo berdiri di situ biar gue nggak kepanasan? Lo mending duduk aja deh."
Tangan Arthur ditarik Shana hingga pemuda itu terpaksa bergeser ke tempat yang lebih teduh. Arthur terdengar berucap, "Gue nggak apa-apa kaya tadi, Sha."
"Gue yang keberatan," balas Shana tak mau kalah. "Lagian di sini juga nggak panas."
"Tapi silau," cetus Arthur yang memang tidak bisa Shana elak. Buktinya saja, sekarang Shana harus menghalau sinar matahari dengan telapak tangannya sebelum sinar nan menyilaukan itu sampai ke matanya.
Shana menggumam, "Ya, sedikit, lah. Gini aja bukan masalah buat gue."
Melihat Shana yang berusaha tampil kuat, Arthur jadi mendengkus geli. Baik lah, kalau memang Shana ingin seperti itu, Arthur akan mengikuti cara mainnya.
Tak lama kemudian, Nafi kembali. Pemuda itu tampak baik-baik saja tanpa ada kurang suatu apapun.
Namun Arthur dengan perhatian tetap bertanya, "Aman, kan?"
"Aman," balas Nafi sembari mengangkat jempolnya. Ia pun turut duduk sambil berteduh di bawah sebuah pohon di sana.
Arthur menoleh ke arah Shana dan Chani untuk mempertimbangkan apakah mereka harus lanjut berjalan lagi. Namun sebelum itu, walkie talkie yang ada di sakunya berbunyi. Arthur menarik keluar walkie talkie-nya.
“Ar, Ar, jawab!” panggil Verrel dari seberang sana.
“Ya, kenapa?” balas Arthur.
“Kami udah nyari sampai ke ujung,” lapor Verrel. Setelah jeda sejenak, ia lanjut mengirimkan pesan suara, “Nggak dapat apa-apa. Ganti!”
Arthur membuat napas berat. Ia memandang lautan lepas di depannya sembari memicingkan mata. Tapi tentu saja, Arthur tak bisa memaksakan agar Verrel dan kedua rekannya mendapatkan apa yang mereka cari. “Ya udah kalau gitu,” ujarnya kemudian, “balik aja ke aula. Ganti!”
“Hea lagi sama gue nih,” kata Verrel lagi. “Dia mau ke tempat lo.”
Arthur melirik sekilas ke arah ketiga temannya. Sepertinya, pencarian sinyal oleh kelompoknya juga harus dihentikan. Ini sudah siang dan mereka juga sudah mencari sampai ke ujung. Butuh waktu untuk kembali ke aula.
Arthur menekan tombol push-to-talk selama satu detik. “Rel, Hea nggak usah ke sini,” ujar Arthur setelah terdengar bunyi ‘beep’ di detik selanjutnya.
“Kenapa, Bro?” Verrel justru mencecar.
“Kami juga mau jalan balik,” cetus Arthur, “kita ketemu di titik pisah jalur tadi.”
“Oke, Ar,” balas Verrel.
Setelah itu, tampaknya Verrel sudah tak akan lagi bicara. Sehingga Arthur bisa kembali fokus ke anggota kelompoknya. Namun sebelum Arthur sempat bicara apa-apa, anggota kelompoknya sudah berebut bicara.
“Ar,” panggil Shana.
Lalu berbarengan dengan itu, Chani juga angkat bicara, “Kita balik sekarang?”
“Satu-satu dong ngomongnya teman-teman,” komentar Nafi setelah itu.
Shana dan Chani sama-sama memasang tampang bersalah. Mereka lantas saling mempersilakan untuk siapa yang mau bicara dulu.
“Chani, lo duluan aja,” ujar Shana.
Chani membalas, “Lo duluan tadi yang manggil Arthur.”
Arthur kembali mengembuskan napas panjang. Ia memijit pangkal hidungnya. Beberapa detik kemudian, Arthur memberi keputusan, “Gue udah dengar pertanyaan Chani. Jadi Chani, lo mau ngomong apa?”
“Kita balik sekarang?” tanya Chani mengulangi pertanyaannya tadi. Ia juga berujar, “Jujur gue maunya gitu. Udah capek banget ini.”
Arthur mengiakan. Ia memang berencana begitu. Arthur juga tahu kalau teman-temannya pasti merasa lelah. Mereka sudah berjalan cukup jauh untuk menjelajahi pulau itu. “Kita balik sekarang, kalian siap-siap ya. Chani, kaki lo udah bisa dibuat jalan, kan?”
Chani mengangguk-anggukkan kepalanya dengan semangat. “Udah, Ar.”
“Oke,” balas Arthur. Kini ia pun menoleh ke arah Shana dan bertanya, “Gimana? Tadi lo mau ngomong apa?”
Shana tidak bicara dengan suara lantang. Ia berbisik di telinga Arthur, “Kita mau balik gitu aja? Bisa dibilang, usaha kita ini belum berhasil, Ar. Pesan yang gue coba kirim ke bokap itu nggak ada tanda-tanda bakal terkirim.”
Yang Shana katakan memang benar. Namun Arthur merasa bertanggung jawab pada kondisi ketiga temannya. Arthur balas berbisik kepada Shana, “Nanti ya, Sha, kita berusaha nyari sambil jalan balik. Sebentar lagi udah jam makan siang. Kita masih harus jalan jauh buat balik ke aula. Lagian, kita udah menyusuri jalur ini. Kalau kita masuk ke hutannya, kita belum siap. Lo nggak mau kan kalau akhirnya kita justru nyasar?”
Shana menjauhkan kupingnya dari Arthur. Ia mengiakan, meski ada rasa tak rela. “Ya udah, kita balik aja.”
“Balik sekarang bukan berarti kita berhenti berusaha, Sha,” tegas Arthur.
“Oke.” Shana pun bangkit dari duduknya. Kemudian ia membersihkan celana pendeknya dari pasir-pasir pantai berwarna putih yang menempel di celananya itu.
Nafi turut berdiri dan bertanya, “Mau jalan sekarang?”
“Iya, yuk, siap-siap,” cetus Arthur.
Nafi pun menghampiri Chani dan membantu gadis itu berdiri. Karena Arthur sudah kerepotan membawa tas berisi perbekalan mereka. Hanya Shana yang berjalan tanpa membawa beban. Sehingga Arthur meminta Shana untuk berjalan di depan dan memperhatikan jalur yang akan mereka lewati.
Perjalanan kembali dimulai. Mereka berjalan membelah hutan mengikuti jalur yang sama yang mereka lewati saat menuju ke sana tadi. Sinar matahari sedikit terhalang pepohonan. Meski tetap saja, ada di antara teriknya matahari yang mengenai mereka.
“Mau air,” pinta Chani. Gadis itu tampak terengah-engah. Kelihatan memang, fisiknya terlihat kurang bugar. Barangkali sebelum ini, ia jarang berjalan kaki jarak jauh atau jarang meluangkan waktu untuk berolahraga. Ciri khas anak zaman sekarang memang.
Arthur menyodorkan sebotol air mineral kepada Chani. Setelahnya, ia melihat persediaan perbekalan mereka yang semakin menipis. Sepertinya setelah ini, mereka harus lebih berhemat. Sehingga Arthur merasa perlu untuk memberitahukan ini kepada ketiga rekannya. “Persediaan minum kita tinggal dua botol air mineral berukuran tanggung ini aja,” ujarnya, “kalau bisa, usahain buat dihemat ya. Perjalanan kita bakal makan waktu sekitar dua jam. Kalau kalian ingat, tadi kita kesulitan buat melewati beberapa medan di sini.”
“Kayanya jalur ini biasa dipakai orang buat hiking, meski bukan gunung, tapi ada perbukitan tadi itu,” celetuk Nafi untuk memulai obrolan.
Shana yang sudah bosan karena berjalan di depan sendirian pun menimpali, “Kayanya gitu deh. Mungkin yang dateng ke sini buat liburan lah yang pakai area ini buat hiking.”
“Keren banget sih pulau ini. Fasilitas lengkap,” kata Nafi lagi, “minus sinyalnya aja.”
Mereka melanjutkan jalan sembari mengobrol untuk mengalihkan perhatian dari perjalanan jauh yang harus mereka tempuh.
***
Begitu tiba di titik di mana ia kelompoknya dan kelompok Arthur berpisah, Verrel langsung menjatuhkan diri ke tanah. Ia tampak lelah, letih, dan lesu.
“Capek banget, anjing,” umpatnya sambil menyandarkan tubuh ke sebuah batu besar.
Agatha yang baru saja berhasil menyusulnya itu pun menegur, “Awas, nanti lo ketempelan lagi habis ngomong kasar gini.”
“Ih, amit-amit,” ujar Verrel sambil bergidik. Setelah itu, Verrel tampak celingukan mencari-cari sesuatu. Ia menggumam, “Arthur mana, ya? Belum kelihatan.”
Hea yang juga ada bersama mereka pun menimbrung, “Kayanya dia nyari sampai jauh deh. Kalian mau balik duluan ke aula?”
Agatha berdeham keras. Ia kemudian membalas ucapan Hea. “Kasihan lah kalau kita ninggalin mereka. Lo aja sana yang balik duluan.”
Hea tidak mengucapkan apa-apa sebagai tanggapan atas ucapan Agatha. Ia hanya melengos lalu mengambil posisi duduk berhadapan dengan Verrel di tepi jalur.
Agatha pun melakukan hal yang sama. Ia tak lagi mengacuhkan keberadaan Hea dan asyik mengobrol dengan Verrel—atau paling tidak ya pura-pura asyik mengobrol, meski dengan obrolan yang tidak jelas.
Satu-satunya orang yang tidak banyak bicara, tidak banyak bertingkah, dan tidak banyak membuat masalah di sana adalah Irvin. Sejak tadi, ia memang bersikap seperti makhluk tak kasat mata, diam saja, dan cenderung tertutup.
Verrel menduga itu karena ia dipisahkan dari Nafi yang pergi bersama kelompok Verrel. Atau jika bukan karena itu, mungkin saka Irvin merasa tidak cocok dengan Verrel dan Agatha, makanya ia enggan bersosialisasi dengan mereka.
Tapi ya masa bodo, Verrel tidak benar-benar peduli. Yang penting kan, ia sudah berusaha melibatkan Irvin pada segala kesempatan. Kalau Irvin masih menutup diri, itu bukan lagi urusan Verrel.
"Tha, sisa minum yang tinggal sedikit tadi di mana, ya?" tanya Verrel sambil mencari-cari.
Agatha tak membuka mulutnya. Namun ia mengedikkan kepala ke arah Hea.
"Oh, ini, sorry tadi gue minta air kalian," ujar Hea. Sepertinya gadis itu berjalan tanpa membawa perbekalan.
Verrel mengibaskan tangannya dan berkata, "Ngapain minta maaf? Di saat kaya gini, nggak boleh perhitungan. Lagian minum itu juga milik bersama, santai aja."
Saat selesai menenggak setengah dari sisa air mineral itu, Verrel menoleh pada Irvin. Ia kembali memperhatikan pemuda itu. Kalau Verrel amati, Irvin kini seperti tengah gelisah.
Jadi Verrel memutuskan bertanya, "Lo kenapa gelisah gitu? Haus?"
Irvin mendongak menatap Verrel. Namun ya hanya sebatas itu. Ia tidak mengeluarkan sepatah atau dua patah kata untuk memberitahukan apa yang ia mau kepada Verrel.
"Nih, minum," kata Verrel sembari menyodorkan botol air mineral yang isinya masih utuh kepada Irvin. Siapa tahu kan, Irvin malu untuk meminta terlebih dahulu. Makanya, Verrel berbaik hati dan peka terhadap Irvin.
Irvin mengernyit. Ia tampak enggan menerima apa yang Verrel berikan.
"Ah elah, ambil, Vin," ujar Verrel lagi. Kali ini tangannya terasa pegal karena terus terangkat di udara.
Agatha jadi memasang wajah melas kepada Verrel. Ia pun mengambil botol yang Verrel acungkan dan menaruhnya persis di sebelah Irvin. "Diminum ya, Vin," pinta Agatha dengan sikapnya yang dibuat-buat menjadi ramah. Padahal, ia sudah merasa kesal kepada Irvin, mewakili Verrel.
Meski begitu, Irvin tetap tidak terlihat ingin menyentuh botol air mineral itu. Padahal ia tak butuh banyak usaha untuk mengambilnya.
"Lo dehidrasi kayanya," ujar Hea sambil memperhatikan Irvin lekat-lekat. "Dari tadi lo nggak mengonsumsi apa-apa, kan?"
Agatha mencebikkan bibirnya. Di dalam hati, ia mencibir Hea yang sok tahu begitu. Padahal Irvin tidak tampak seperti orang dehidrasi. Pemuda itu justru terlihat seperti orang yang ketempelan setan penunggu tempat ini. Habisnya, gelagatnya benar-benar aneh.
"Gerah ya," keluh Agatha, sekadar untuk mengajak Verrel bicara.
Dan tentu saja, Verrel menanggapi itu. "Mau tukeran tempat duduk? Di sini dingin," tawarnya.
Agatha mengangkat tangan, memberi isyarat penolakan. "Gue cuma bicara aja, nggak bermaksud minta tukeran tempat."
Verrel mendengkus geli. Ia lantas sibuk memainkan botol air mineral yang isinya hampir tandas itu. Seperti bocah, beberapa kali Verrel melemparkan botol dengan harapan botol itu akan berdiri terbalik dengan bagian tutup botol yang berada di bawah.
Di tengah keheningan, mendadak Irvin bangkit berdiri. Ia berkata, "Gue balik duluan."
Dan begitu lah, Irvin pergi meninggalkan Verrel, Agatha, dan Hea yang menatapnya sampai terbengong-bengong.
"Dia kenapa?" Agatha meringis ngeri. "Perginya buru-buru amat. Ah, jangan-jangan lagi kebelet ya? Makanya dia dari tadi gelisah."
Verrel menatap Agatha seolah Agatha baru saja mencetuskan gagasan yang sangat-sangat hebat. "Iya juga, jangan-jangan dia sejak tadi nahan panggilan alam. Makanya tingkahnya nggak jelas kaya gitu."
Berbeda dengan Verrel dan Agatha yang menjadikan kepergian Irvin sebagai lelucon, Hea justru kalang kabut. Ia pun tanpa bicara apa-apa pergi menyusul Irvin.
Verrel dan Agatha tentu memasang wajah keheranan. Namun mereka sudah berhenti bicara karena merasa mereka terlalu banyak bicara dan jatuhnya justru membual soal hal-hal yang tidak penting.
Keduanya saling pandang sejenak. Dengan kontak batin, mereka sepakat untuk tidak ikut-ikutan cabut dari sana. Akhirnya, seperti orang hilang, mereka tetap tinggal di tempat untuk menunggui Arthur dan regunya.
Untung saja, tak sampai dua puluh menit, Arthur sudah tiba di titik itu. Ia dan ketiga anggota regunya tampak terengah-engah dan kelelahan.
"Duduk dulu-duduk dulu," ujar Agatha sembari menyibak dedaunan kering dan ranting-ranting agar Arthur dan rombongannya itu bisa duduk sejenak di sana.
Dan untuk sejenak, Verrel serta Agatha jadi melupakan Irvin dan Hea. Mereka fokus saja pada manusia-manusia yang ada di sana.