R 2.6

2134 Kata
Makan pagi sudah selesai sejak tadi. Namun peserta masih diminta tinggal di aula untuk mendengarkan pengumuman dari panitia. Sementara panitia juga tampak belum siap untuk menyampaikan pengumuman itu. Rick sudah bergabung dengan Arthur dan ketiga sobatnya. Disusul Indi, gadis itu memilih beegabung bersama Arthur dan kawan-kawan karena bosan berkecimpung bersama panitia—terutama abangnya. "Lama ya, kirain bakal cepet," gerutu Agatha. Gadis itu memang sudah terlihat bosan. Kakinya tampak bergoyang-goyang tidak sabaran. "Bentar lagi paling," ujar Verrel membalas gerutuan kekasihnya itu. Verrel berujar dengan hati-hati karena pemuda itu tahu Agatha tidak menyukai panitia, terkhusus Hea. Setelah itu, tidak ada lagi yang bersuara. Mereka memilih diam sembari menunggu sampai bosan. Barulah, sepuluh menit kemudian, Hea, Cairo, serta Ganendra berjalan ke bagian depan aula hingga semua peserta bisa memperhatikan mereka. "Selamat pagi," sapa Hea sambil melambai-lambaikan tangan ke arah peserta, tentu saja untuk menyapa mereka. "Gimana istirahatnya semalam? Ada yang nggak bisa tidur karena hujan?" Berbagai jawaban dilontarkan peserta. Namun tentu saja, karena mereka bicara di waktu bersamaan, maka jawaban mereka tak terdengar jelas. "Kaya suara anak bebek," komentar Agatha yang mulutnya memang ceplas-ceplos. Shana menyenggol lengan sahabatnya itu sembari menegur, "Hus, ngasal aja lo kalau ngomong!" Agatha membalas teguran Shana dengan ringisan sok polosnya. Karena menurut Agatha, itu lebih baik ketimbang ia terus mengenyel. Bisa-bisa ia dan Shana jadi bentrok kecil-kecilan. Meski biasanya itu tak akan berlangsung lama. Salah satu dari mereka pasti akan memperbaiki keadaan. Shana menyuruh Agatha untuk fokus saja mendengarkan apa yang akan panitia jelaskan setelah ini. Daripada berkomentar macam-macam, bukankah lebih baik untuk mendengar rencana panitia ke depannya? Sesi berbasa-basi itu sudah berlalu. Panitia pun mulai masuk ke dalam sesi penjelasan masalah utama yang sesungguhnya. "Kami yakin banyak dari kalian yang udah tahu atau minimal mendengar kabar soal kecelakaan-kecelakaan yang menimpa peserta. Kami rasa, kita perlu mencari bantuan untuk keluar dari pulau ini. Terutama untuk menyelamatkan mereka yang sudah terluka." Ganendra yang memulai pembicaraan serius itu. Salah satu peserta mengangkat tangan untuk tujuan menginterupsi. Akhirnya Ganendra memberikan kesempatan untuk peserta itu bicara. Dengan keheranan yang teramat sangat, peserta itu bertanya, "Bisa jelasin maksudnya gimana? Dari awal duduk perkaranya gitu. Kalian bilang kita butuh bantuan buat keluar dari pulau ini? Memangnya kita terjebak di sini? Kerja panitia becus nggak, sih?" Setelah peserta itu puas menyampaikan pertanyaannya, Cairo pun langsung menjawab. "Iya, kita terjebak di sini!" Jawaban dari Cairo itu terdengar cukup ngeri memang. Itu juga sukses membuat para peserta menjadi riuh karena saling berbicara. Dari kejauhan, Arthur dan kawan-kawannya melihat Hea menyikut rusuk Cairo. Sikutan dari Hea membuat Cairo meringis-ringis kesakitan. "Abang gue emang resek," ujar Indi mengomentari tingkah Cairo yang mengundang kekesalan Hea. "Dia sukanya nakut-nakutin orang dan bukannya bikin tenang." Akhirnya karena ulah Cairo yang asal bicara, Hea dan Ganendra kerepotan untuk menenangkan kembali para peserta. Jujur saja, kondisi di sana sudah tidak kondusif. Namun berhubung tujuan utama dikumpulkannya para peserta belum tercapai, akhirnya Hea tetap melanjutkan pemberian pengumuman itu. "Tenang ya semua," ujar Hea. Setelah berdeham sedikit agak tegas, ia melanjutkan bicaranya, "Seperti yang kalian tahu, saat ini kita butuh bantuan dari luar untuk bisa keluar dari pulau ini. Yang perlu kalian garis bawahi adalah sebenarnya panitia sudah menyiapkan transportasi untuk diakhir acara makrab nanti. Tapi ya kami nggak yakin kalau ke depannya kecelakaan semacam itu tidak akan terulang lagi. Jadi kita butuh kerja sama kalian. Please, jangan salahin panitia karena panitia juga akan berusaha semaksimal mungkin untuk hal ini." "Pokoknya kalau kita panitia dan kalian peserta bisa kompak, gue jamin kita bisa keluar dari sini dengan selamat," tambah Ganendra yang diangguki oleh Hea. Akhirnya tiba pada sesi perekrutan peserta yang berkenan menyumbangkan tenaga untuk membantu rencana pencarian bantuan. Hea menjelaskan bahwa hari ini panitia tak memiliki kegiatan apa-apa. Bagi mereka yang berkenan untuk menjadi volunteer, maka mereka harus menghabiskan waktu bersama panitia dan mengusahakan agar ada bantuan yang datang. Sementara bagi mereka yang tidak bergabung sebagai volunteer, mereka bisa kembali ke tenda dan menikmati waktu untuk menjalankan aktivitas mereka sendiri. "Kami tunggu sepuluh menit ya. Silakan dipikirkan. Dan kalau sudah, kalian yang berkenan jadi volunteer bisa geser ke sebelah kanan. Untuk yang nggak berkenan, bisa duduk di barisan sebelah kiri. Biar nggak kecampur dan kami gampang buat berkoordinasinya." Beberapa menit berlalu, belum ada tanda-tanda peserta yang ingin bergabung dengan panitia untuk mencari bantuan. Mungkin karena mereka masih ragu, takut tidak ada peserta lain yang mengikuti jejak mereka, dan sebagainya. Lalu Arthur dengan tiba-tiba bangkit dari duduknya. Pemuda itu mengedikkan kepala, memberi isyarat agar kawan-kawannya turut bangkit dan bergeser ke bagian yang Hea maksud sebagai tempat untuk mereka yang mengajukan diri jadi volunteer. Setelah Arthur dan kawan-kawannya memberikan contoh, beberapa peserta makrab pun mulai mengikuti jejak mereka. Dari empat puluh peserta makrab dan ditambah sepuluh panitia, akhirnya terkumpul lima belas orang yang akan bergerak mencari bantuan. Arthur hanya mengenal sebagian dari para volunteer. Ada juga wajah-wajah yang cukup familier di mata Arthur namun tidak ia ketahui nama dan latar belakang lainnya. Sebelum lanjut berkoordinasi, Hea membubarkan para peserta yang memilih untuk tidak ikut dalam rencana mencari bantuan itu. Hea mempersilakan para peserta untuk bebas melakukan apa saja asalkan aman. Para peserta mulai membubarkan diri. Lima menit kemudian, aula mulai sepi dari para peserta. Yang tersisa tentu hanyalah mereka yang mengajukan diri sebagai volunteer. Tanpa membuang waktu, Hea langsung meminta para volunteer itu untuk duduk membentuk lingkaran. Inginnya Hea, ia segera saja menyampaikan teknis dari usaha mereka mencari bantuan. Namun ada Ganendra di sana yang meminta Hea bersabar sebentar. Ganendra lantas melempar tanya kepada para volunteer, "Kalian udah saling kenal belum satu sama lain? Karena jujur, kalau gue sih cuma kenal sebagian aja. Jadi gimana kalau kita kenalan dulu? Biar gampang nanti kalau koordinasi, nggak bingung-bingung lagi." Akhirnya berdasar rekomendasi Ganendra, mereka pun secara bergantian memperkenalkan diri. Hingga akhirnya diketahui siapa saja mereka-mereka yang akan pergi mencari bantuan. Diketahui kelima belas orang itu terdiri dari Arthur, Verrel, Shana, Agatha, Indi, Rick, Hea, Cairo, Ganendra, Sania, Austin, Felix, Irvin, Nafi, dan Chani. Sementara beberapa panitia lainnya juga ikut dalam operasi ini. Hanya saja, mereka berada di aula dan ruang kesehatan untuk berjaga. Hea kembali mengambil alih, "Udah saling kenal, kan? Berarti koordinasi bisa dilanjutkan ya." "Gih, dilanjut," ujar Ganendra mempersilakan. Hea pun mulai menguraikan rencana yang telah ia susun, "Pertama-tama, kita akan bagi jadi dua kelompok. Satu kelompok untuk berusaha mencari sinyal di pulau ini. Satunya lagi buat mantau lalu lintas perahu di sekitar pulau ini. Yang bisa gue pikirin sementara waktu ya cuma dua cara itu. Gimana menurut kalian?" "Boleh," celetuk Verrel, "setuju gue." Sementara yang lain juga tampak mengangguk-anggukkan kepala meski senyap dan tidak mengeluarkan sepatah dua patah kata untuk menjawab. "Oke, kita akan bergerak dalam kelompok. Gue akan bagi biar per kelompok isi tujuh orang. Sisa satu orang buat jadi seksi wara-wiri." Hea bicara sembari melihat-lihat. Agatha mencolek bahu Shana. Ia sudah sempat berpikiran negatif bahwa Hea pasti akan memisahkan teman-temannya dan melaporkan kemungkinan terburuk itu kepada sobatnya. Namun, Hea tak sejahat yang Agatha bayangkan. Karena nyatanya, Agatha pergi bersama ketiga temannya ditambah tiga orang yang baru ia kenal di sini. "Kelompok satu, Arthur dan anggotanya, kalian coba cari titik-titik di pulau ini yang bisa menangkap sinyal. Lalu untuk kelompok dua, Endra dan anggota bisa langsung menyebar di sekitar pantai dan amati lalu lintas perahu di sekitar pulau ini. Gue yang akan jadi seksi wara-wiri buat bagi informasi silang dan ngabarin ke panitia yang ada di aula," pungkas Hea. Setelah koordinasi dicukupkan, Hea membagikan walkie talkie yang ada. Tak banyak memang, tapi akan cukup membantu untuk berkomunikasi. Asalkan mereka bergerak dalam kelompok atau kelompok kecil. Tak lupa, mereka juga diberi perbekalan. Sekadar air minum dan makanan pengganjal perut yang sudah panitia siapkan dalam tas tenteng kecil. "Kalian bisa berangkat ke posisi masing-masing sekarang," ujar Ganendra. Ia juga mulai bergerak bersama kelompoknya. *** Shana sesekali menoleh ke belakang. Ia cukup tertarik dengan tiga orang baru yang berjalan bersamanya. Ada dua orang pemuda dan juga seorang gadis. Untuk dua pemuda itu, Shana sudah beberapa kali melihatnya. Seingat Shana, biasanya kedua pemuda itu akan bersama dengan satu pemuda lainnya yang mana kali ini bergabung di kelompok yang dikomando Ganendra. "Kasihan mereka, terpisah," gumam Shana. Gadis itu tak sadar jika ia baru saja menyuarakan isi kepalanya. Agatha yang memang berjalan persis di sebelah Shana pun bertanya, "Hah, lo ngomong apa?" Shana mengerjapkan matanya. Ia kemudian menggelengkan kepala sambil berusaha berkelit, "Bukan apa-apa. Eh, itu cewek di belakang namanya siapa, Tha?" Arthur yang sejak tadi berjalan di barisan tengah pun turut memperhatikan obrolan Shana dan Agatha. Saat mendengar pertanyaan Shana itu, Arthur juga jadi ikutan menoleh ke belakang. Ia hampir lupa akan keberadaan tiga orang di luar empat sekawannya. "Chani," panggil Arthur kepada seorang gadis yang berjalan tertinggal di belakang. Arthur pun meminta, "Jalan di depan aja, sama Shana dan Agatha. Biar nggak sendirian di belakang." Shana tampak menyipitkan mata. Mendengar Arthur yang bicara dengan cukup lembut dan penuh perhatian kepada gadis lain membuat Shana agak risih. Namun perasaan tak beralasan itu segera Shana tepis. Apalagi ketika Arthur juga memberikan perhatian kepadanya. Arthur mengulurkan botol air mineral kepada Shana. Ia berujar, "Kayanya habis makan tadi, lo belum minum." Shana menaikkan sebelah alisnya. Ia sendiri tidak terlalu ingat. "Masa sih?" Arthur menganggukkan kepala dengan sungguh-sungguh. Ia kembali menyodorkan botol air mineral yang tak kunjung Shana ambil alih. "Thanks," ujar Shana sembari meringis lebar. Tangan kanannya menerima pemberian Arthur itu. Arthur menipiskan bibirnya, diam-diam tersenyum kecil. Ya kalau senyumnya yang barusan itu kentara, Arthur akan merasa gengsi akut. Jarak beberapa meter kemudian, Arthur meminta semua anggotanya untuk berhenti. Ia kemudian membuka obrolan yang melibatkan semua orang, "Kalau kita jalan bersama, bakalan lama dan menghabiskan tenaga. Pulau ini nggak kecil masalahnya. Gimana kalau kita bagi jadi kelompok kecil?" "Boleh," jawab Verrel cekatan. Ia lantas mengedarkan pandangan dan memastikan, "Pada bawa HP semua, kan? Tinggal cari sinyal sambil jalan. Tapi perbekalan makanan sama minuman dibagi ya, Ar?" Arthur membalas, "Tentu, gue akan bagi dan kalian bisa atur sendiri perbekalan kalian. Kita mau bagi jadi berapa orang per kelompok?" "Ada yang empat, ada yang tiga. Kalau kaya gitu gimana?" Shana buka suara. Ia sedikit berharap yang empat orang nanti adalah ia dan ketiga teman akrabnya. Namun tak seperti yang Shana harapkan, Arthur menyepakati usulan Shana namun pemuda itu membagi kelompok dengan cara berbeda. Arthur mengelompokkan Verrel, Agatha, dan Irvin. Sementara di kelompok Arthur, ada Shana, Chani, dan Nafi. "Kalian setuju nggak kalau pembagiannya kaya gitu?" tanya Arthur sembari menatap satu per satu anggota kelompoknya itu. Mendapati tidak ada yang keberatan dengan pembagian yang Arthur lakukan, Shana pun ikut-ikutan setuju saja. Kalau protes, ia tidak punya alasan yang jelas. Sementara Arthur, ia pasti sudah memikirkannya dengan banyak pertimbangan. "Oke, let's go!" Agatha berseru dan mulai berjalan setelah semua siap, termasuk pembagian perbekalan mereka. Dengan berat hati Shana membiarkan Agatha pergi dengan kelompoknya. Sementara ia juga akan pergi bersama Arthur dan kedua kenalan barunya. Sambil berjalan, Shana mencoba berbasa-basi dengan Chani. Bagaimana pun, mereka akan menghabiskan waktu cukup lama bersama. Masa mau diam-diam saja? Sementara Shana berusaha mengobrol dengan Chani, Arthur juga berusaha mengakrabkan diri dengan Nafi. Di sela-sela pencarian sinyal, mereka membicarakan apa saja yang bisa dijadikan topik obrolan, meski jarang-jarang. "Eh, barusan gue dapet sinyal," pekik Shana. Namun tak lama kemudian, wajahnya berubah suram. Ia menggumam kecewa, "Tapi kayanya udah hilang lagi deh." "Berarti di sekitar sini lumayan nih," ujar Arthur menanggapi. Ia pun berujar, "Coba jalan di sekitar sini sama pantau terus sinyalnya." Mereka berkeliling di sana. Ngomong-ngomong, saat ini mereka sedang berada di daratan yang lebih tinggi dari bagian tepi pantai. Itu seperti bukit kecil di tengah-tengah pulau. Denting nyaring ponsel terdengar. Lagi-lagi, Shana memekik dengan girangnya. "Gue dapet sinyal!" Arthur berlari menghampiri Shana. Dengan hati-hati, ia melihat ponsel Shana dengan posisi yang bisa dibilang membuat tangan pegal karena harus mengangkat ponsel tinggi-tinggi. Ada beberapa pesan yang berhasil masuk ke dalam ponsel Shana. Namun segera setelahnya, sinyal kembali melarikan diri. "Anjir, ngeselin banget," desis Shana. Ia kelepasan mengumpat. Padahal Arthur berdiri di sebelahnya. Duh, Shana tengsin berat! Chani turut menghampiri Shana. Ia bertanya, "Gimana?" "Hilang lagi," jawab Shana, "tapi udah mendingan sih. Udah bisa buat terima pesan." Nafi yang juga sudah bergabung dengan mereka pun memberi saran, "Mungkin kita lanjut cari dulu. Jangan berhenti di sini karena sinyalnya kan juga ilang-ilangan." Arthur mengangguk setuju. Ia harus berusaha mencari tempat yang sinyalnya lebih baik dari itu. Meski demikian, Arthur tetap memberikan tanda di sana. Sekadar untuk mengingat-ingat sekiranya tempat-tempat mana saja yang bisa menangkap sinyal. "Ya udah, ayo lanjut jalan lagi," ajak Arthur. Saat Chani dan Nafi sudah berjalan lebih dulu, Arthur berbicara berdua saja dengan Shana. "Sha, lo coba ketik satu pesan selengkap-lengkapnya dan kirim pesan itu ke bokap lo. Siapa tahu ada sinyal nyangkut lagi dan pesan itu bisa terkirim." Shana mengangguk setuju. Itu ide bagus! Ketimbang mereka harus bekerja dua kali, kan? Meski kemungkinannya kecil untuk berhasil.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN