R 2.5

2067 Kata
Saat pagi menjelang, hujan mulai mereda. Namun tentu saja, udara jadi semakin dingin karenanya. Dan karena udara yang kelewat dingin itu, banyak peserta makrab yang memilih untuk menunda beraktivitas. Padahal biasanya, banyak peserta yang sudah berkeliaran di luar tenda. Shana tampak mengerjapkan matanya. Ia masih mencoba mengumpulkan nyawa dan kesadarannya. Lantas setelah beberapa saat terdiam, Shana pun mulai menggerakkan tubuhnya yang kaku-kaku. "Udah bangun?" Suara Arthur menyapa indra pendengaran Shana. Shana menganggukkan kepala dengan perasaan sungkan. Jadi sejak tadi ia tidur dengan kepala bersandar di bahu Arthur? Apa badan Arthur tidak pegal-pegal? Duh, Shana jadi merasa tak enak hati. "Posisi lo dari tadi kaya gini, Ar? Kenapa lo nggak bangunin gue aja? Badan lo sakit semua nggak?" cecar Shana kemudian. Arthur meringis. Ia tidak ingin menutupi fakta bahwa tubuhnya memang terasa pegal dan cenderung mati rasa. Karena toh, kalau Arthur bilang dia baik-baik saja, Shana pasti menyadari bahwa itu bukan jawaban sebenarnya. "Ya iya lah, jelas, gue aja pegel-pegel gini," kata Shana sambil meregangkan tubuhnya. "Besok lagi kalau gue ngerepotin lo, lo harus tega buat negur gue, Ar." "Oke," setuju Arthur dengan entengnya. Pemuda itu lantas bangkit berdiri sambil menoleh ke sana kemari. Tidak mendapati ada orang lain di sana, Arthur pun bertanya, "Lo lihat Verrel sama Agatha?" Shana menggelengkan kepala. Ia menyempatkan diri untuk melihat-lihat sekitar, termasuk bagian dalam tenda, namun tetap keberadaan kedua sobat mereka itu tidak diketemukan. "Udah cabut kali, ya?" duga Shana. "Ke mana tapi? Aula?" Pertanyaan Shana tak langsung terjawab. Tapi dari kejauhan, terlihat Verrel dan Agatha sedang berjalan menuju ke tenda di mana Shana dan Arthur berada. "Dari kamar mandi," ujar Arthur dengan gayanya yang seperti seorang cenayang. Padahal Arthur pun tidak melihat dari mana arah datangnya Verrel dan Agatha itu. Beberapa saat kemudian, Verrel dan Agatha sudah menginjakkan kaki di teras tenda. Mereka pun menduduki kursi yang semula mereka duduki. "Dari mana?" tanya Shana singkat sebelum gadis itu menguap dan mengerjap-ngerjapkan matanya. "Ke aula nganterin Indi, terus mampir ke kamar mandi," jawab Agatha. Setelah menjawab pertanyaan Shana, Agatha menyodorkan ponselnya sambil berujar, "Sha, tolong fotoin dong. Gue sama Verrel, ya." "Nggak-nggak, lo sendiri aja," tolak Verrel, "gue lagi jelek gini." "Tiap hari kan juga jelek," celetuk Shana. Kemudian gadis itu menjulurkan lidahnya. Verrel mendesis dan lanjut mengumpat, "Anjir, ya lo, Sha." Shana memutar bola matanya, sengaja membuat Verrel makin kesal. Bahkan saat ia sudah mengangkat ponsel pemberian Agatha dan bersiap mengambil foto, gadis itu berujar, "Verrel, Agatha, siap. Satu, dua, tiga!" "Kan, gue udah bilang nggak usah," kesal Verrel. Agatha terkekeh. Sambil melihat hasil fotonya, ia berkomentar, "Tapi bagus kok hasilnya. Sip, satu lagi ya, Sha." Agatha kembali ke posisinya. Setelah ia dan Verrel berpose, Shana kembali mengambil foto mereka. Shana menyerahkan ponsel di tangannya kepada Agatha. Berhubung Agatha sudah merasa cukup, maka tugas Shana untuk menjadi tukang foto gratisan itu pun berakhir. Mereka berempat kembali saling diam dengan kesibukan masing-masing. Agatha sibuk memperhatikan dengan teliti hasil fotonya. Sementara Arthur sudah mulai menyalakan kompor dan tampaknya ingin membuat sesuatu dengan itu. Lalu Verrel kelihatan berpangku tangan sembari memperhatikan aktivitas Arthur. Yang terakhir, Shana tampak membuang pandangan jauh ke arah pantai dan menikmati pemandangan pantai pagi ini yang cukup berbeda dari pagi-pagi sebelumnya. Lima menit kemudian, barulah Agatha berceletuk, "Gue pengen posting sesuatu di media sosial gue. Gila ya, kita liburan tapi mirip orang ilang. Nggak bisa ngasih kabar, nggak bisa pamerin aktivitas kita, nggak asyik banget deh pokoknya." Verrel mengangguk setuju dan mengutarakan keluhannya, "Padahal gue kan pengen live di i********:, di YouTube, buat tambah-tambah konten. Gue udah lama nggak upload apa-apa." Shana memutus lamunannya dan ia terkekeh menanggapi keluhan Agatha dan Verrel itu. "Ya, mau gimana lagi. Tapi gue juga sih, gue pengen ngabarin orang rumah dan minta bokap gue buat ngirim bantuan. Pengen keluar dari sini." Arthur melirik ke arah Shana. Pemuda itu tampak ingin membuka mulutnya, namun akhirnya ia urungkan entah karena apa. "Makanan di sini juga itu-itu aja," kata Agatha lagi. Ia membahas menu makan mereka yang panitia siapkan, "Selalu aja ayam, ayam, dan ayam lagi. Nggak kreatif banget. Sampai gue udah nggak lagi berselera buat makan." "Kalau itu, gue nggak setuju, Tha," balas Shana. Ia pun terkesan membela panitia, "Kita ada di pulau kaya gini. Gue yakin mereka udah mempertimbangkan makanan apa yang sekiranya mudah untuk dibuat dan aman jadi pasti bisa dinikmati sama kurang lebih lima puluhan orang di sini." Agatha mencebikkan bibirnya. "Ya, iya, sih. Tapi gue bosen aja. By the way, soal semalam gimana? Kalian di aula ngapain aja?" Agatha menatap Verrel dan Arthur secara bergantian sambil mengangkat jari telunjuknya untuk menunjuk kedua pemuda itu. Verrel menarik napas dalam, "Ngobrol sama saksi mata dari kejadian cewek jatuh dari tebing semalam. Sama bahas rencana buat minta pertolongan hari ini." Agatha manggut-manggut sembari ber-oh-ria. Selanjutnya, ia sudah kembali sibuk bermain ponsel. Sehingga Shana yang mengambil alih untuk bertanya, "Hasil pembahasannya gimana?" "Dia konsisten bilang nggak terlibat apa-apa. Meski udah ditanya dengan pertanyaan sedemikian rupa, dia tetap bisa menjelaskan dengan baik," terang Arthur. "Dan panitia memang nggak menyimpan apa-apa di atas sana." Shana menggumam panjang sebelum akhirnya kembali berujar, "Berarti kesimpulan gue soal petunjuk itu juga salah dong?" "Petunjuk-petunjuk itu udah dimanipulasi. Ada yang ngasih petunjuk lain di luar petunjuk dari panitia." Arthur sepertinya sudah sempat membicarakan hal itu dengan panitia. Makanya sekarang ia bisa bercerita demikian kepada teman-temannya. Shana menaikkan alisnya dan menatap Arthur dengan rasa penasaran tinggi. Jadi, apa maksudnya ini? *** Arthur sudah bersandar di sebuah pohon yang terletak di depan kamar mandi. Ia harus menunggu di sana lantaran ketiga temannya masih asyik dengan urusan mereka di kamar mandi. Tentu, menunggu membuat Arthur sedikit tidak merasa betah. Akhirnya pemuda itu memilih membunuh waktu dengan berpikir. Berbagai pertanyaan muncul di kepalanya. Soal kecelakaan-kecelakaan aneh yang menimpa para peserta makrab, Arthur menaruh rasa heran akan hal itu. Jelas ada yang tidak beres. Menurutnya, kalau misal ini benar kecelakaan, apa yang terjadi pada Seva tampak tidak masuk akal. "Seseorang atau sekelompok orang terlibat dalam hal ini?" tanyanya pada diri sendiri. Lagi-lagi Arthur dibuat menghela napas dan menggusahnya dengan perlahan. Ia tidak mengerti kenapa setiap ada kejadian seperti ini, Arthur merasa itu terjadi ketika ada dirinya. Ah, atau itu hanya perasaannya saja? Entah lah. Arthur berhenti melamun kala Verrel berjalan menghampirinya. Pemuda itu datang dengan menenteng perlengkapan mandi. "Belum selesai mereka?" tanya Verrel ketika sudah berdiri tak jauh dari Arthur. Pemuda itu ikutan bersandar di sebuah pohon yang ada di sana. Arthur menggelengkan kepala sekadarnya. Karena Arthur tahu, Verrel hanya membuat pertanyaan yang lebih mirip ke pernyataan. Arthur tak perlu menjawab untuk itu. "Jam berapa kita mulai mencari bantuan ke orang di luar pulau?" Verrel kembali bertanya. Arthur menoleh sekilas. "Setelah kita makan pagi. Hea bilang, dia udah punya rencana. Jadi nanti dia akan ngasih pengumuman soal rencana ini ke seluruh peserta." Verrel tampak mengerti. Ia tidak banyak bertanya lagi karena kebetulan Shana sudah keluar dari kamar mandi lalu disusul Agatha setelah diburu-buru Shana. Empat sekawan itu pun berjalan kembali ke tenda mereka masing-masing. Mereka berjanji akan ketemuan lagi nanti saat akan pergi makan pagi. Akhirnya, setelah sekian lama, Arthur kembali bisa menghuni tendanya. Pemuda itu rebahan sebentar sebelum nanti harus beraktivitas lagi. "Rick di mana?" tanya Arthur kepada Verrel yang sedang sibuk mengemasi barangnya yang berserakan ke dalam tas. Verrel menoleh ke arah Arthur dan berujar, "Lagi di aula. Semalem dia balik ke sana sama Endra." Arthur ber-oh singkat. Kemudian pemuda itu menutup wajahnya dengan menyilangkan kedua tangannya di sana. Bibirnya terbuka untuk berujar, "Gue tidur bentar. Nanti bangunin, Rel." "Oke, Bos," balas Verrel sambil masih menekuri tasnya. *** Setengah jam kemudian, Verrel yang sedang bermain game di ponselnya samar-samar mendengar suara Agatha dan Shana. Dan benar saja, tak lama kemudian, dua sosok gadis itu sudah muncul di pintu tendanya. "Ngapain ke sini? Ntar gue yang ke sana aja," kata Verrel. Sebenarnya diam-diam pemuda itu hanya tidak ingin dirusuhi oleh Agatha karena ia sedang sibuk bermain game di ponselnya. "Lagi ngapain lo?" salak Agatha karena Verrel tampak acuh tak acuh padanya. Verrel tak menjawab tapi dari ekspresi tegangnya, Agatha menyimpulkan bahwa pemuda itu sedang bermain game. Sehingga Agatha kembali berceletuk, "Emang bisa ya main game? Ada sinyal?" Verrel menggeleng dan menjawab sekenanya, "Nggak pakai data." Agatha ber-oh-ria. Ia yang sempat melupakan kehadiran Shana pun kembali teringat akan sobatnya itu. Agatha memberi isyarat dengan menunjuk-nunjuk ke arah Arthur yang sedang tertidur. "Biarin aja," balas Shana, "jangan diganggu. Kasihan, capek." "Iya, tau." Agatha membalas begitu sembari melangkah dengan berjingkat-jingkat mendekati Verrel. Gadis itu duduk di sebelah Verrel dan bersandar pada tepian tenda. Verrel mendongak sekilas dan mendapati Shana masih berdiri di luar tenda. Sehingga ia menyuruh Shana untuk masuk dan duduk. Ngapain juga Shana menunggu di sana sementara mereka belum akan pergi ke mana-mana! Shana dengan langkah pelan menghampiri satu-satunya hammock di tenda itu. Gadis itu sepertinya ingin mencoba fasilitas di tenda Verrel dan kawan-kawannya itu yang tidak ada di tendanya. "Tempat tidur Rick," kata Verrel. "Lo nggak risih apa? Dia jarang mandi." "Tapi tetap ganteng dan dasar orangnya kelihatan bersih," ujar Agatha yang mendadak memberikan penilaian tanpa ada yang meminta. Sementara Agatha dan Verrel jadi adu ekspresi kesal, Shana sudah tidak mempedulikan mereka. Gadis itu merebahkan dirinya rileks di atas hammock sembari memandangi langit-langit tenda. Sampai akhirnya, beberapa saat kemudian, terdengar suara Cairo yang bicara di depan pelantang. Rupanya Cairo memberitahukan bahwa semua peserta sudah bisa pergi ke aula untuk makan pagi. "Yuk, sarapan, yuk. Ar, bangun!" seru Verrel dengan bersemangat. Tak susah membangunkan Arthur. Pemuda itu langsung menggeliat begitu mendengar seruan Verrel. Sambil mengumpulkan kesadaran, Arthur terduduk di kasurnya. Shana dan Agatha berjalan duluan keluar tenda. Kemudian disusul Verrel. Dan yang terakhir, Arthur keluar dari tenda sekalian menutup pintu tenda. Keempat sekawan itu lantas berjalan ke aula. Tak hanya mereka sebenernya, karena peserta lain pun juga tampak berbondong-bondong ke aula. Sampai di aula, Arthur dan Verrel langsung pergi mengantre. Sementara Shana dan Agatha menunggu layaknya tuan putri yang selalu ingin dilayani. Saat akhirnya Arthur dan Verrel kembali, mereka berempat pun menyantap makan pagi mereka dengan khidmat. Karena tak seperti biasanya yang menunya selalu ayam, kali ini ada sup hangat yang cocok disantap di tengah cuaca seperti ini. Namun ketenangan makan mereka terganggu lantaran kedatangan Hea dan Ganendra yang tergesa menghampiri mereka. Tentu saja, itu membuat keempat sekawan berhenti makan dan menatap Hea serta Ganendra dengan penuh tanya. "Kayanya, ada peserta yang jail," ujar Hea. "Kemungkinan besar, semua kecelakaan yang terjadi belakangan ini adalah ulah dari peserta yang jail ini." "Lo bilang gitu karena apa?" Agatha bertanya dengan nada tak suka. Tentu saja itu karena perasaan pribadi Agatha yang kesal maksimal kepada Hea meski Hea terlihat hanya bersikap profesional. Hea menarik napas dalam. "Banyak kok buktinya. Dari awal, soal makanan yang bikin orang alergi, gue yakin itu ulah peserta. Sampai ke kecelakaan kemarin, itu juga karena ulah seseorang yang mau menggagalkan rencana panitia. Bikin rusuh keadaan di sini dan mencelakai peserta lainnya." "Gue tadi pagi coba lihat-lihat ke sekitar pantai. Gue coba telusuri lagi petunjuk-petunjuk buat permainan semalam. Gue menemukan beberapa petunjuk yang mana itu bukan buatan panitia. Terus petunjuk itu benar-benar sesat dan memang sepertinya berniat mengarahkan peserta ke atas tebing karang." Kali ini giliran Ganendra yang bicara. Melihat teman-temannya serius mendengarkan, ia melanjutkan ucapannya, "Rick masih nyari tahu ada apa di atas tebing karang itu. Kita tunggu kabar dari dia." "Dan lagi, apa sebaiknya kita nggak melibatkan semua peserta dalam upaya mencari bantuan? Khawatirnya, justru di antara mereka ada yang menggagalkan rencana kita." Hea meminta pendapat. Arthur mengusap-usap dagunya. Kedua alis pemuda itu menyatu dengan dahi berkerut-kerut. "Menurut gue, nggak apa-apa sih libatin peserta. Dengan begitu, sekalian kita cari tahu siapa yang mencurigakan atau berusaha menghalang-halangi rencana kita buat cari bantuan." Hea menipiskan bibirnya. Gadis itu tampak punya pendapat lain. "Gimana kalau pelakunya profesional? Bisa aja, mereka justru membodohi kita." Arthur mengedarkan pandangan untuk melihat-lihat para peserta. Ya memang, tak ada yang menonjol di antara mereka. Semua terlihat selayaknya orang yang sedang liburan tanpa menyembunyikan maksud tertentu di belakang. "Gimana ya," gumam Arthur, "memang susah buat mencari tahu kalau orang atau sekelompok orang ini ternyata profesional. Tapi kenapa nggak kita coba? Siapa tahu dengan menempatkan musuh di dekat kita, kita bisa semakin lebih baik dalam memperhatikannya. Gue yakin, kita nggak lagi berhadapan sama profesional. Kita pasti bisa menemukan mereka, kalau memang mereka ada di antara kita-kita yang ada di kegiatan ini." Hea tampak mengangguk dengan khusyuk. Kemudian ia pun mengajak Ganendra untuk pergi sebentar dari sana. Rupanya mereka juga belum sempat sarapan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN