Arthur belum tertidur kala hujan disertai angin kencang itu menerjang resort tempat ia dan teman-temannya berlibur. Pemuda itu juga sedang tidak berada di tenda. Karena sejak semalam, Arthur begadang bersama panitia dan beberapa temannya di aula.
Hea keluar dari dapur aula sembari membawa nampan berisi beberapa gelas kopi. Sambil membagikan isi nampan itu, Hea berujar, "Buat angetin badan. Kalian kedinginan nggak, sih? Mau masuk aja ke dalam ruang panitia? Di sini masih kena anginnya."
"Thanks, buat kopinya. Kami di sini aja, lah," ujar Rick yang memang tadi akhirnya mengekori Arthur ke aula, alih-alih kembali ke tenda. "Di dalam kan ada yang udah tidur, nanti keganggu sama suara obrolan kita."
Setelah Rick diam, beberapa dari yang ada di sana juga menggumamkan terima kasih. Tak terkecuali Arthur.
Seberes mengucap terima kasih, pemuda itu langsung mengangkat gelas dan mendekatkan gelas itu ke mulutnya. Tentu, ia bisa menduga isinya masih panas. Makanya dengan gaya yang cukup cool, Arthur mulai meniupi kopinya. Beberapa saat kemudian, ia mulai menyesapnya.
Arthur belum sempat menenggak cukup banyak dari isi gelas kopinya karena perhatiannya tersita oleh kilatan cahaya yang datang sesekali di sela-sela hujan angin itu. Wajahnya semakin tampak bias dan khawatir ketika melihat kondisi tenda peserta di kejauhan sana.
"Kayanya ada tenda yang mulai goyah," gumam Arthur dengan suara yang cukup untuk didengar Verrel dan Rick yang duduk di sisi kanan dan kirinya.
Alhasil, mereka yang bersama Arthur di aula tampak melemparkan pandangan jauh ke area tenda glamping para peserta. Tampak di kejauhan sana, beberapa tenda mulai bergoyang-goyang ditiup angin kencang. Lampu tenda juga berguncang-guncang dan pergerakan cahaya lampu itu terlihat menegangkan.
"Duh, tenda Agatha gimana, ya?" Verrel tentu mencemaskan kondisi kekasihnya. Ia kemudian menoleh ke arah Arthur dan bertanya, "Ar, lo nggak khawatir gitu sama Shana?"
Arthur diam saja. Namun seolah dengan melihat raut wajah Arthur saat ini, Verrel sudah tahu jawabannya. Sobatnya itu juga pasti tengah khawatir dan memikirkan nasib kekasihnya yang berada jauh di sana.
"Sebenarnya tenda glamping peserta ini udah dibangun dengan pertimbangan cuaca ekstrem kaya gini. Jadi bakalan aman sih menurut gue," komentar Hea. Gadis itu sampai berdiri untuk memperjelas penglihatannya. Namun ia menambahkan, "Cuma kalau kalian khawatir, ya nggak apa-apa kalau mau dicek dulu. Barangkali ada apa-apa."
Arthur dan Verrel saling bertukar tatapan. Mereka sepertinya sangat ingin pergi dari aula sejenak untuk memastikan bahwa tenda tempat teman mereka aman di bawah guyuran hujan deras dan angin seperti ini.
"Ada payung?" tanya Arthur kepada Hea dan panitia lainnya, temasuk di sana ada Ganendra.
Hea menganggukkan kepalanya. "Ada di dalam. Coba gue cari dulu."
"Butuh berapa, by the way?" Kali ini Ganendra yang bertanya. Pemuda itu turut berdiri dari duduknya dan berniat menyusul Hea.
"Siapa aja yang mau pergi? Gue sama Arthur aja, kan?" Verrel mengedarkan pandangan sembari bertanya begitu.
Ganendra berujar, "Gue ikut deh. Gue mau ngecek tenda-tenda peserta lainnya. Pada aman atau enggak."
"Gue juga," pekik Rick, "ketimbang gue di sini sendirian."
Ganendra mengangguk mengerti. Pemuda itu pergi menyusul Hea dan kembali beberapa menit kemudian dengan membawa dua payung dan dua jas hujan. "Adanya ini, gimana?"
"Gue jas hujan," pinta Verrel, "anginnya gede, Bro. Payung doang bakalan tetap basah kuyup."
"Atau mau jas hujan semua?" tawar Hea sambil menyodorkan dua jas hujan lainnya. "Bener tuh kata Verrel, anginnya gede. Bakalan basah kuyup kalian kalau cuma jalan sambil payungan di bawah hujan kaya gini."
Akhirnya, mereka berempat yang akan pergi itu pun kompak mengenakan jas hujan ketimbang payung. Seberes mengenakan jas hujan, mereka lantas mulai berjalan keluar dari aula.
Ketika menginjakkan kaki di halaman, pasir basah dan sedikit genangan air mulai mengganggu kaki mereka. Hujan angin membuat mereka harus berkali-kali menyeka air hujan yang menampar wajah mereka.
"Sakit," pekik Verrel. Ia lantas menggerutu, "Ini kenapa hujannya tajam-tajam sih. Nampol banget kalau kena muka!"
"Rewel ya lo," balas Rick. Pemuda itu juga tampak meringis-ringis merasakan air hujan membasahi wajahnya. Tapi setidaknya, ia tidak mengeluh seperti Verrel.
Arthur menoleh singkat dan ia justru menanyakan hal lain. "Mau bagi tugas nggak buat ngecek-ngecekin tenda peserta?"
"Lo mau bantu ngecek-ngecekin, Ar? Gue kira lo cuma mau ke tenda cewek lo aja." Ganendra menanggapi.
Arthur menggelengkan kepala sambil membalas tanggapan Ganendra itu, "Udah terlanjur basah. Sekalian aja ngecek tenda yang lain juga."
Akhirnya sambil jalan itu, mereka berunding untuk membagi tugas. Memang tenda peserta makrab tak terlalu banyak. Makanya sambil lewat pun, mereka sudah bisa sekalian mengecek keadaan dari luar, tentu saja.
Sepanjang mereka berjalan itu, tampak tenda peserta sudah banyak yang menyala lampunya. Mungkin penghuninya jadi terjaga karena terganggu oleh hujan di luar tenda mereka.
"Aman kan ya sejauh ini?" celetuk Verrel. Kini pemuda itu hanya berjalan berdua dengan Arthur karena Rick dan Ganendra sudah berjalan ke arah lain untuk mengecek tenda-tenda peserta yang ada di bagian belakang.
Arthur mengiakan celetukan Verrel. Hingga akhirnya, ia tiba di tenda yang ditempati Shana, Agatha, dan Indi. Sekilas melihat, Arthur mendapati bahwa bagian depan tenda itu sudah tidak dalam kondisi yang baik. Meski terlihat bagian utama tenda masih aman dan berdiri dengan kokohnya.
Sebelum masuk ke dalam tenda itu, Arthur dan juga Verrel tampak mengotak-atik bagian depan tenda. Mereka memposisikan ulang penyangga tenda yang tampak sudah bergeser dari tempat semula dan menguncinya agar tidak kembali bergeser.
Tanpa mereka sadari, rupanya mereka sudah membuat suara-suara misterius yang membuat penghuni tenda jadi waspada.
***
Shana menatap nyalang ke pintu utama tenda yang memang ia tutup karena takut tempias air hujan akan masuk sampai ke dalam tenda mengingat tenda bagian teras tampak sudah tidak kokoh. Gadis itu mendengar suara-suara aneh dan melihat bayangan tenda bagian teras yang bergerak-gerak.
Kebetulan, Shana mematikan lampu di bagian dalam tenda. Lampu yang menyala hanya di bagian teras tenda itu. Jadi bagian luar tampak jelas kala bagian dalam lebih gelap.
"Apa itu?" gumam Shana sembari menatap ngeri ke pintu utama tenda. Kakinya ingin melangkah ke sana untuk mengecek secara langsung. Namun otaknya memberi tahu bahwa itu mungkin adalah tindakan yang berbahaya.
Apalagi Shana menyadari bahwa bisa dibilang ia tengah sendirian. Bagaimana tidak, Agatha dan Indi sudah kembali tidur dengan pulasnya. Shana tidak berani mengusik mereka untuk alasan yang belum jelas. Kecuali tenda ambruk, sepertinya Shana tak berniat membangunkan Agatha dan Indi yang baru kembali pergi tidur.
Niatan Shana untuk mengecek keluar tenda belum terlaksana. Namun yang ada, ia justru melihat dua sosok berdiri di teras tendanya. Dari bayangan yang bisa Shana lihat, kedua sosok itu seperti mengenakan jubah kebesaran yang membuat bayangan mereka jadi tidak jelas bentuknya.
Shana yang semula dalam posisi bersandar ke tiang penyangga di dalam tenda, kini mengubah posisi duduknya jadi siaga. Tangannya mulai meraba sekitar untuk menemukan benda yang bisa ia gunakan sebagai alat perlindungan diri.
Setelah mendapatkan kaki meja lipat outdoor yang sedang dalam posisi dibongkar, Shana pun bangkit berdiri. Gadis itu berjalan tanpa suara mendekati pintu utama tenda. Setibanya di sana, kebetulan sekali dua sosok itu sepertinya berusaha masuk ke tendanya. Alhasil ia pun menguatkan genggamannya pada kaki meja dan mengambil kuda-kuda untuk bisa menyerang dengan sekuat tenaga.
Saat pintu tenda terbuka, Shana memekik kaget. Begitu juga dengan kedua orang yang berdiri di balik pintu itu, mereka tampak terlonjak mundur ke belakang.
"Astaga kalian!" kesal Shana sambil menurunkan kaki meja yang semula sudah siap ia ayunkan dengan membabi buta. Untungnya, matanya cukup jeli mengenali wajah Arthur dan Verrel sehingga ia bisa menahan gerakan brutalnya. "Kalian ngapain di sini?"
"Anjir, lo juga ngapain berdiri di situ?" Verrel membalas pertanyaan Shana.
Shana menaikkan sebelah alisnya. Kenapa Verrel balas mengumpat? Bukankah wajar jika dia berada di sana? Itu kan tendanya. Yang tidak wajar adalah keberadaan dua cowok itu. Hujan-hujan begini, kenapa mereka justru kemari?
"Kami lagi ngecek keadaan tenda-tenda peserta. Siapa tahu ada yang nggak beres karena hujan dan angin ini," terang Arthur kemudian. Ia lantas menunjuk ke dalam tenda dan bertanya, "Lo belum tidur tapi lampunya mati? Gue kira udah tidur. Makanya gue sama Verrel diam-diam aja. Takutnya ganggu."
Shana menoleh ke dalam tendanya. Ia pun berujar, "Iya, lampu emang mati. Soalnya Agatha sama Indi lanjut tidur lagi. Kalian hujan-hujanan kaya gini?"
Verrel mengiakan. Pemuda itu kembali mengobral omongannya, "Lihat, kan, kami rela hujan-hujanan buat ngecek keadaan tenda lo. Lo malah mau mukul kita pakai besi. So scary!"
Shana mendesis sambil memicingkan mata. "Ya, kan gue kira kalian ancaman. Oke, gue minta maaf."
"Yang lo lakuin udah bener," kata Arthur membela Shana. Ia kemudian menoleh ke arah Verrel dan melanjutkan perkataannya, "Lagian dia nggak jadi mukul kita, kan? Itu bagus buat melindungi diri. Dan yah, dia bisa mengendalikan pergerakannya itu, nggak sembarangan."
Verrel merasa Arthur sedang menegurnya. Ia pun menganggukkan kepala dengan khidmat tanpa banyak bicara.
"Tadi kalian ngapain lama banget di depan sini?" tanya Shana mengalihkan topik sekaligus untuk memuaskan rasa penasarannya.
Verrel menjawab, "Itu, balikin tiang penyangga tenda ke tempatnya. Agak geser kan tadi? Kalau nggak dibenerin bisa-bisa rubuh ini tenda bagian depan."
Shana ber-oh-ria sambil manggut-manggut. Kemudian hening tampak menyelimuti mereka. Tak ada yang bicara untuk beberapa saat lamanya.
Samoai akhirnya, Shana lah yang buka suara. "Kalian masih mau keliling ngecek tenda lainnya?"
"Tenda kalian yang terakhir kami cek," jawab Arthur.
Shana pun menawarkan, "Kalau gitu, kalian masuk dulu aja. Udah selesai juga, kan? Hujannya makin deras tuh."
"Boleh," jawab Verrel tanpa pikir panjang. Pemuda itu sudah menggigil kedinginan. Ia pun melepasi jas hujannya dan berkata, "Pinjam kompor portable, Sha. Sama air mineral ya. Mau bikin minuman hangat gue."
Shana mengiakan. Saat ia hendak kembali masuk ke dalam tendanya, sekilas ia mendengar Arthur bicara pada Verrel dan mengingatkan bahwa sebelum mereka ke sini, mereka sudah minum kopi.
"Nggak apa-apa, menggigil parah ini gue," balas Verrel. "Gue nggak ngopi lagi kok. Minum air hangat aja."
Di dalam tenda, Shana mengacak-acak lemari kecil tempat penyimpanan fasilitas masak memasak. Tak hanya mengeluarkan kompor portable, gadis itu juga mengeluarkan teh beserta gula, juga air mineral pesanan Verrel.
Beberapa saat kemudian, Shana sudah kembali membawa apa-apa saja yang dipesan Verrel. Sambil menyerahkan itu semua, Shana menawarkan, "Di dalam ada snack. Kalian mau?"
"Boleh," sambut Verrel dengan riangnya. Bahkan sedikit tidak tahu diri, Verrel kembali menyampaikan permintaan, "Ada mi instan?"
"Ada," jawab Shana setengah berteriak. Dan rupanya, suara Shana itu membuat Agatha membuka matanya sedikit sambil mengubah posisi.
Agatha dengan suara serak dan ala-ala bangun tidurnya itu kemudian bertanya, "Ada siapa?"
"Ups, lo kebangun denger suara gue, ya?" Shana menoleh kaget ke arah Agatha. Namun selanjutnya ia segera menjawab pertanyaan Agatha, "Verrel tuh di teras."
"Oh, ya?" Agatha langsung terlonjak. Gadis itu dengan semangatnya berjalan ke teras tenda. "Iya, beneran, Sha."
Shana meringis ngeri. Agatha ada-ada saja!
"Nih, mi instan," ujar Shana sembari menyerahkan mi instan lengkap dengan panci yang juga disediakan sebagai fasilitas glamping itu.
Shana lantas mengambil kursi outdoor portable, membukanya, dan menjatuhkan bokongnya di sana. Ia duduk di sebelah Arthur. Sementara Verrel dan Agatha ada di seberang mereka.
"Begadang nih sampai pagi?" tanya Agatha. Gadis itu tiba-tiba saja jadi girang setelah Verrel datang ke sana.
Shana memutar bola mata dan membalas, "Gue nggak tidur dong kalau gitu."
Arthur yang mendengar itu pun langsung pasang bahu. Dengan kaku dan sok-sokan cool, pemuda itu mempersilakan Shana kalau-kalau gadis itu mau bersandar kepadanya.
"Cie-cie!" Seperti biasa, mulut Agatha akan kelewat gatal jika tidak menjadikan kedekatan di antara teman-temannya itu jadi bahan ceng-cengan.
Shana mengerucutkan bibirnya, pura-pura cemberut agar Agatha berhenti bersikap kekanakan dengan meledeknya dan Arthur. Dan dengan malu-malu juga, Shana menyendarkan kepalanya di bahu Arthur. Agar tidak terlalu malu, Shana pun buru-buru memejamkan mata—seolah ia memang tidur di sana. Padahal Shana masih bisa mendengarkan obrolan teman-temannya dan tersisalah Arthur yang menjadi bulan-bulanan Agatha.
Arthur berbisik di telinga Shana. Cowok itu cukup menunjukkan perhatiannya dengan bertanya, "Nggak dingin? Ambil selimut dulu sana."
Shana membuka mata. Ia sebenarnya kedinginan, tapi bangkit berdiri pun terasa malas. Ia sudah terlanjur nyaman dengan posisinya sekarang.
"Mau pakai jaket gue buat nutupin kaki lo?" Kalau saja Arthur tidak mengancam demikian, Shana tak akan bangkit berdiri dan beranjak mengambil selimutnya. Karena tentu saja, Shana masih punya rasa kemanusiaan. Mana bisa dia membiarkan Arthur melepas jaketnya untuk kemudian ia kenakan? Padahal Arthur sendiri pasti juga kedinginan.
"Puas?" tanya Shana saat kembali ke hadapan Arthur dengan membawa selimutnya. Shana pun kembali duduk di tempatnya, menutupi sebagian tubuhnya yang tidak tertutup jaket dengan selimut, lalu kembali bersandar ke bahu Arthur. Ah, ini benar-benar nyaman!
***