R 2.3

2092 Kata
Shana tidak tahu di mana keberadaan Arthur. Yang jelas saat ini, ia justru sedang bersama dengan Verrel. "Agatha belum balik?" tanya Shana kepada Verrel yang berdiri di sebelahnya. Verrel menggelengkan kepala sembari berujar, "Belum kayanya. Kalau udah, dia pasti langsung nyamperin kita." Shana mengangguk mengerti. Ia pun kembali memperhatikan pertunjukan di depannya. Ah, bukan pertunjukan sih. Ini seperti melihat seseorang sedang di sidang ramai-ramai. Tapi untungnya, tidak ada yang main kekerasan di sana. Yang ada hanya ngobrol-ngobrol serius saja. "Yang bener? Dia jatuh bukan karena lo yang dorong? Udah jelas banyak saksi mata," cecar seseorang dengan suara yang terkesan disabar-sabarkan, "cuma lo yang di atas sana sama dia." "Gue berani bersumpah kalau gue nggak dorong dia. Oke lah, gue memang ada di atas tebing. Tapi gue sampai di sana lebih dulu dan gue juga nggak tahu kenapa dia bisa tiba-tiba jatuh," balas seorang pemuda yang sejak tadi disudutkan habis-habisan. Verrel tampak bergerak maju dan ikutan nimbrung dalam pembicaraan itu, "Lo tapi tahu kalau ada yang naik ke atas tebing itu juga?" Pemuda itu mengangguk dan menggumam, "Tahu, dia nyapa gue dan nanya di atas sana ada harta karun nggak." "Terus habis itu, kenapa itu cewek bisa terjun dari atas? Lo nggak lihat?" Verrel tampak bersemangat dalam menggali informasi. Kalimat dami kalimat kembali keluar dari mulut pemuda yang digadang-gadang adalah dalang di balik jatuhnya seorang gadis dari atas tebing. "Setelah bicara sedikit sama dia, gue lanjut nyari lagi. Nyatanya di atas sana nggak ada apa-apa. Kalau kalian mengira gue sama itu cewek berebut buat dapatin harta karun, itu nggak pernah terjadi." Beberapa yang mendengar penjelasan pemuda itu tampak manggut-manggut dan mulai berbisik bahwa mereka percaya pemuda itu tidak bersalah. "Orang-orang di sini lihat lo melongok dari atas tebing sementara lo bilang waktu kejadian lo lagi lanjut mencari harta karun?" Verrel tetap masih tampak gatal untuk tidak bertanya dan percaya begitu saja. Pemuda itu menjawab dengan yakin, "Kalau itu karena gue dengar teriakan terus cewek itu udah nggak ada di atas sana, makanya gue langsung melongok ke bawah buat lihat." "Ohh," gumam Verrel dengan riang. Shana menyusul Verrel dan maju ke depan sana. Ia berbisik lirih kepada Verrel, "Gue rasa dia bicara jujur." "Iya, kayanya dia jujur," balas Verrel. Rupanya pemuda itu sudah berpikir demikian namun tetap enggan dengan mudah melepaskan. "Tapi coba aja terus. Siapa tahu lama-lama dia kedapatan bohong kalau ditanya terus menerus dan diputer-puter." Shana berdecak. Ia cukup merasa kasihan karena dari tampang pemuda itu, benar-benar tak ada gurat bar-bar di sana. Masa iya dia mendorong seorang gadis dari atas tebing hanya karena saingan dalam bermain pencarian harta karun tadi? Mana toh, tidak ada juga harta karunnya. "Serahin ke panitia aja," saran Shana. Gadis itu lantas menoleh ke kanan dan ke kiri sembari berujar, "Rel, di sini nggak ada panitia. Sekarang mungkin keadaan terkendali, tapi gimana kalau orang-orang mulai nggak bisa bersabar lagi dan sampai main fisik. Jangan sampai ada yang namanya menghakimi sendiri. Kasihan kalau salah sasaran. Bahkan kalau pun tepat sasaran, itu tetap saja salah." Verrel merasa ucapan Shana ada benarnya. Ia pun menyela dan berkata kepada semua orang di sana, "Teman-teman semua, tanpa bermaksud gimana-gimana, gue izin bawa dia ke hadapan panitia aja, ya? Gue rasa kalau buat mencaritahu kaya gini, panitia lebih berwenang karena mereka yang bertanggungjawab atas terselenggaranya kegiatan makrab ini." "Iya, boleh deh, bawa aja ke panitia," celetuk salah seorang di sana, "biar panitia yang cari tahu dia beneran salah atau enggak." "Boleh tuh, takutnya di sini nanti ricuh," timpal seorang gadis yang juga menyaksikan itu. Beberapa suara lainnya juga terdengar setuju. Itu membuat Verrel memutuskan untuk membawa pemuda itu langsung ke hadapan panitia sekarang juga. Shana tampak mengekori Verrel. Karena bagaimana pun, ia sendirian di sana dan tidak mengenal siapa-siapa. Setidaknya Shana tidak boleh jauh-jauh dari Verrel. Sampai akhirnya ketika tiba di aula, Verrel membawa pemuda itu untuk menghadap ke panitia yang ada di sana. Sementara Shana justru melihat Arthur ada di antara panitia-panitia itu. "Arthur di dalem, tuh," ujar Verrel menginformasikan itu kepada Shana. Padahal Shana juga sudah tahu dan sudah bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri tanpa harus Verrel beri tahu. Verrel kemudian menawarkan, "Nggak masuk?" Shana menggelengkan kepala. Ia berujar, "Gue tunggu di sini aja. Atau, nanti gue ke ruang kesehatan buat nyusul Agatha dan balik ke tenda." Verrel tampak menaikkan alisnya. Kemudian pemuda itu mengangguk singkat sembari berpesan, "Hati-hati, jangan kelayapan tapi." Shana mendengkus geli dan menggerakkan tangannya untuk mengusir Verrel pergi. Setelah ia benar-benar sendirian, Shana pun hendak melangkah menuju ke ruang kesehatan, seperti rencananya barusan. Namun sebelum itu, terdengar suara Arthur yang memanggil nama Shana. Kontan, Shana membalikkan badan. "Iya, Ar," jawab Shana. Gadis itu memperhatikan gerak-gerik Arthur yang berjalan keluar dari aula. Arthur tampak mengamati Shana dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kemudian pemuda itu bertanya, "Lo baik-baik aja, kan? Sorry gue tadi langsung cabut gitu aja." "I'm okay, cuma rada syok aja," ujar Shana sembari sedikit salah tingkah. Gadis itu pun balik bertanya, "Lo masih ada urusan, ya? Lanjutin aja, Ar, gue mau balik ke tenda ini." Arthur mengembuskan napas berat. Ia pun merangkul Shana dan mengajak gadis itu untuk lanjut berjalan. Sambil berjalan, Arthur berkata, "Gue temenin lo balik ke tenda." Shana tak memberikan penolakan. Karena untuk hal seperti ini, Shana merasa tak perlu berdebat. Ia justru berceletuk, "Ke ruang kesehatan dulu, ya?" "Agatha?" tebak Arthur yang jawabannya sudah pasti. Jadi pemuda itu pun mengiakan, "Oke, ke sana dulu." Mereka berjalan dengan langkah yang tidak terlalu tergesa. Karena itu Shana jadi sempat mengedarkan pandangan dan melihat-lihat sekitar. Bahkan sambil jalan, ia nekat mendongakkan kepala, melihat langit di atas sana. Gadis itu berkomentar, "Gue beberapa kali dengar suara guntur tadi. Jangan-jangan mau turun hujan, ya?" Arthur mengedikkan bahu dan menjawab seadanya, "Mungkin." Shana mengalihkan pandangannya hingga gadis itu kini memperhatikan Arthur. "Bahaya nggak tidur di tenda? Kalau hujannya sama angin gimana?" Bersamaan dengan pertanyaan Shana itu, angin berhembus sedikit lebih kencang. Meski tak dimungkiri, rasa-rasanya mereka sudah teebiasa diterpa angin sejak datang ke pulau itu. Karena bagaimana pun, resort itu ada persis di tepi pantai. Sudah pasti anginnya kencang di waktu-waktu tertentu. "Semoga aja enggak," jawab Arthur dengan enteng. Shana merasa Arthur tidak happy diajak bicara olehnya. Atau barangkali, Arthur sedang banyak pikiran hingga pemuda itu memaksakan diri untuk tetap mendengarkan Shana di tengah pergulatan isi kepalanya? Shana tak sempat bicara banyak dengan Arthur karena mereka sudah sampai di ruang kesehatan. Shana jadi bersemangat untuk mencari keberadaan Agatha di sana. Sementara Arthur, pemuda itu mengekori Shana dengan sabar. "Tha, udah?" sapa Shana saat melihat Agatha sudah duduk-duduk di sebelah Seva. Sepertinya kedua gadis itu tengah mengobrol untuk membunuh waktu. Agatha menganggukkan kepala, laku bangkit berdiri. Ia sedikit menggerutu, "Udah selesai dari tadi. Cuma gue nggak berani ke mana-mana, anjir! Verrel ke mana sih, dia janji mau ke sini." Arthur yang sudah berdiri di belakang Shana pun ikut menimbrung ke dalam obrolan, "Dia di aula. Lagi mau membahas sesuatu sama panitia." "Hea maksud lo?" Agatha sangat-sangat sensi kalau sudah menyangkut itu. "Bosen gue, apa cuma dia panitia makrab ini?" Shana dan Arthur saling lirik. Tapi mereka berusaha menenangkan Agatha dan bukannya memanas-manasi keadaan. "Hea memang ada di aula," ujar Arthur, "tapi kali ini melibatkan panitia lain juga." Agatha memutar bola mata sembari menghela napas dalam-dalam. Setelahnya, ia bertanya, "Emang bahas apaan, sih?" Shana menarik Agatha keluar dari ruang kesehatan setelah gadis itu berpamitan pada Seva. Ia berujar, "Nanti diceritain sambil jalan ke tenda aja. Udah mau hujan nih. Males kalau kejebak hujan di sini." Agatha menyipitkan matanya. Seolah gadis itu menaruh curiga bahwa Shana hanya berniat mengalihkan perhatian saja. Sampai di luar ruang kesehatan, Agatha mencecar, "Kenapa, kenapa, ayo cerita." "Panitia, Verrel, dan seorang pemuda yang diduga ada di TKP tempat cewek itu jatuh sedang berkumpul di aula. Buat apa lagi kalau nggak tanya-tanya kronologi atau ya minimal mengorek pengakuan dari pemuda itu?" Shana mencerocos. Mulut Agatha membulat dan gadis itu terdengar ber-ohh-ria. Ia kemudian tidak banyak bertanya karena merasa itu tidak menarik. Sementara Shana kini lanjut berbincang dengan Arthur. "Ar, gue kangen orang rumah," ujar Shana tiba-tiba, "gue pengen pulang rasanya." "Sama, gue juga," timpal Agatha. "Masih diusahakan," kata Arthur. Ia lantas membeberkan rencana panitia dengan maksud agar Shana dan Agatha turut membantu. "Besok panitia dan volunteer dari peserta bakalan cari cara buat keluar dari pulau ini. Kalau kalian mau, kalian bisa join." Shana dan Agatha kompak manggut-manggut sambil bergumam mengiakan. Lalu sisa perjalanan menuju ke tenda pun mereka habiskan dengan saling diam. Sampai di tenda, rupanya sudah ada Indi dan Rick di sana. Mereka menunggu di teras sembari memakan camilan. "Lama amat kalian," gerutu Rick. Pemuda itu lantas bangkit berdiri sembari melirik tak suka ke arah Indi. Ia berujar, "Dah ya, gue balik ke tenda?" Shana melirik ke arah Indi. Sementara Indi membalas tatapan penuh tanya dari Shana itu dengan mengedikkan bahu. "Oke, thanks ya, Rick." Nada bicara Shana terdengar sedikit aneh. Rick menganggukkan kepala. "Sebenarnya gue nggak keberatan kalau dimintai tolong. Cuma ini cewek satu ternyata resek juga." "Dih, apaan, sih?" Indi tampak tak terima. "Masalah tadi kan udah lewat. Mau lo bahas terus, hah?" Oke, sepertinya tidak ada yang tahu ada masalah apa Indi dengan Rick ini. Tapi ya sudah lah, itu urusan mereka. Agatha hanya berkomentar ringan, "Kayanya ada yang udah mulai saling nge-hate di sini. Tinggal tunggu love-nya aja, ya nggak sih? Biar jadi ala-ala love-hate relationship gitu." "Amit-amit," seru Indi dan Rick hampir bersamaan. Agatha memasang tampang jenaka. Kalau sudah begini, Indi dan Rick akan jadi bulan-bulanan Agatha sampai kedua manusia itu jadian. Rick melengos dan mengajak Arthur untuk kembali ke tenda mereka. "Yuk, Ar, balik-balik. Capek menghadapi ciwi-ciwi ini." Sayangnya, Arthur masih belum ingin kembali ke tenda. Pemuda itu menyampaikan rencananya, "Gue mau ke aula." "s**t, kalian pada ngapain sih di sana? Nggak ngajak-ngajak gue," keluh Rick. "Bye, Ar, Rick, kami masuk tenda dulu," ujar Shana menyela pembicaraan Rick dan Arthur. Karena toh, Shana dan kedua gadis lainnya tidak termasuk ke dalam perbincangan itu. Saat sudah masuk ke tenda, suara Arthur dan Rick terdengar makin samar. Hingga lama kelamaan, suara mereka tak lagi terdengar. Tinggallah Shana, Agatha, dan Indi di dalam tenda itu. Mereka masih duduk-duduk dan tidak langsung pergi tidur. Agatha menyempatkan diri untuk mengorek-ngorek soal Indi dan Rick. Hingga ia dan Indi terdengar cekikikan tidak jelas. Sementara Shana, gadis itu sudah tertelan lamunannya. *** Sekitar lewat tengah malam, hujan turun dengan derasnya. Tentu saja, beberapa peserta yang tidur di tenda terbangun karenanya. Meski kondisi tenda tetap baik-baik saja, namun suara berisik dan gemuruh di luar membuat mereka merasa tak tenang. Agatha duduk di kasurnya sambil mengucek-ngucek mata. Indi masih setia bergekung di kasurnya meski matanya sudah terbuka lebar. Sementara Shana sibuk bolak-balik keluar tenda untuk memasukkan sandal dan sepatu serta beberapa barang lain yang terkena tempias air hujan. Dari dalam tenda, Agatha meneriaki Shana, "Tutup aja kain tenda yang luar, Sha." "Udah," balas Shana, sama-sama berteriak untuk mengalahkan suara hujan, "tapi tetap aja airnya masuk. Duh, ini ada yang nggak beres kayanya sama penyangga tendanya." "Hah, gimana-gimana?" Akhirnya Agatha bangkit juga dari duduknya. Gadis itu berjalan menyusul Shana ke teras tenda. Shana menunjuk ke satu titik, di sana terlihat bahwa ada tiang yang sepertinya bergeser dari tempatnya. Itu membuat bagian teras sedikit terlihat meleyot. "Bakalan ambruk nggak ini tenda?" Tatapan Agatha menyorot ngeri ke tiang yang tidak pada tempatnya itu. Shana mengedikkan bahu. Ia pun masuk ke dalam tenda lantaran di luar angin dan hujan semakin kencang saja. Tubuhnya sudah cukup menggigil sekarang ini. "Pakai dobel jaket, sist," saran Indi, "biar nggak pada masuk angin. Ini gue ada, kalau kalian mau." "Gue juga bawa dua, In," balas Shana. Tapi gadis itu tetap mengenakan satu lapis jaket saja. Karena meski dingin, namun di tenda tetap tidak nyaman jika harus mengenakan pakaian dobel-dobel. Rasanya semakin sesak saja. Agatha pun sama. Ia hanya mengenakan satu jaket namun ditambah dengan menggulung tubuhnya di balik selimut. "Kira-kira kita bisa tidur lagi nggak, nih? Atau, kita begadang aja sampai pagi buat jagain tenda ini?" Indi menatap Shana dan Agatha secara bergantian. Meski bertanya begitu, sangat terlihat bahwa Indi menginginkan kedua teman satu tendanya untuk menjawab bahwa mereka sebaiknya lanjut tidur saja dan bukannya begadang sampai pagi. Shana dengan berbaik hati berkata, "Udah, kalian lanjut tidur aja. Gue udah nggak ngantuk nih. Biar gue yang jaga-jaga. Nanti kalau ada apa-apa, kalian siap-siap gue bangunin, ya?" "Thank God, kita punya ibu peri baik hati yang mau mengalah demi kesejahteraan teman-teman satu tendanya," cerocos Agatha dengan dramatisnya. Shana hanya memutar bola mata sembari menenggerkan senyum geli di wajahnya. Ia pun berseru, "Dah, buruan kalian tidur. Sebelum gue berubah pikiran." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN