Arthur tanpa berbasa-basi langsung mengambil langkah seribu mendekat ke sumber suara. Tak hanya Arthur sebenarnya yang begitu, karena banyak dari peserta yang juga menjadi saksi dari suara mengerikan tadi dan mereka berbondong-bondong mencari dari mana asal suara itu.
Kalau Arthur langsung bertindak, Shana masih mematung di tempat. Bahkan saat Agatha dan Verrel tergesa-gesa menghampirinya, Shana tak bisa banyak memberi respon atas pertanyaan-pertanyaan mereka.
"Sha, ada apa sih?" tanya Agatha sambil menepuk bahu Shana. Gadis itu dengan napasnya yang terengah-engah tengah berusaha mencari pencerahan.
Shana menggelengkan kepala singkat. Karena sejujurnya, gadis itu juga tidak tahu apa-apa.
Verrel gantian bertanya, "Arthur mana, Sha?"
Dan tentu saja, jawaban yang sama Shana berikan untuk menjawab pertanyaan Verrel itu. Hanya gelengan kepala yang bisa Shana berikan.
Verrel merasa tak puas dengan itu. Sehingga pemuda itu mengambil ancang-ancang untuk mencari ke mana sekiranya Arthur pergi. Sebelum cabut dari tempatnya, Verrel berpesan pada Agatha, "Lo sama Shana di sini aja, ya? Jangan ke mana-mana. Hati-hati kalian!"
Agatha tampak mengiakan. Ia bahkan menyuruh Verrel untuk segera pergi mencaritahu.
Sepeninggal Verrel, tinggal lah Shana berdua saja dengan Agatha. Shana yang mulai bisa menguasai dirinya pun berujar, "Kayanya ada yang celaka, deh."
"Udah pasti," timpal Agatha, "gue aja merinding dengar teriakannya."
Shana memeluk Agatha. Gadis itu berusaha menahan tangisnya agar tidak pecah begitu saja.
"Tenang, Sha, tenangin diri lo," ujar Agatha sembari mengusap lengan Shana.
Lalu tak lama kemudian, terlihat lah ada beberapa orang yang muncul dari balik tebing karang. Mereka tampak menggotong sesuatu ke tepi pantai. Di antara mereka, Shana bisa melihat Arthur dan Verrel. Wajah-wajah mereka yang panik sangat kentara di sana.
"Itu apa?" gumam Agatha. Tak bisa dimungkiri, Agatha juga merasa kelewat takut sekarang ini. Mentalnya langsung jatuh saat melihat sesuatu yang diduga kuat adalah manusia itu digotong-gotong ke tepian.
Shana menarik napas dalam dan menoleh ke arah Agatha. Gadis itu membuka mulutnya dengan gerakan lambat, "Mau ke sana?"
"Lo serius mau ke sana?" Mata Agatha melebar saking syoknya. Ia tak menyangka akan mendengar pertanyaan yang terdengar mirip seperti ajakan itu dari Shana. "Kalau lo mau ke sana, silakan. Tapi gue di sini aja."
Melihat penolakan kuat dari Agatha, Shana pun mengurungkan niatnya untuk pergi ke sana. Dia sadar bahwa kemungkinan besar ia akan melihat hal yang membuatnya ketakutan itu sangat besar. Alhasil, Shana cukup diam di tempatnya dan tidak menambah-nambahi masalah.
Lama kelamaan, kerumunan mulai tercipta. Para peserta makrab yang semula tak tahu apa-apa dan mereka tetap asyik mencari harta karun, kini kepo menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi. Mereka menghentikan aktivitas mereka.
Tak lama kemudian, datang lah tim kesehatan beserta beberapa orang yang diduga sudah memanggil mereka. Lantas dengan gotong royong, mereka memindahkan tubuh yang tampak tak berdaya berbaring di pasir agar berpindah ke atas tandu.
***
Arthur sudah memposisikan dirinya untuk membawa tandu itu. Pada hitungan yang telah disepakati dengan penggotong tandu lainnya, akhirnya Arthur bangkit berdiri. Meski sebenarnya, Arthur merasa khawatir ketika membawa tandu itu karena ia belum jelas mengetahui cedera apa yang korban ini alami.
Ia dengan sedikit kesulitan harus membawa tandu itu dengan cepat dan dalam waktu singkat juga dengan cara yang aman ke ruang kesehatan. Sambil berjalan itu, Arthur juga sambil memikirkan tindakan selanjutnya yang harus dilakukan kepada si entah siapa itu, yang jelas Arthur tak mengenalnya.
"Dia tadi kepalanya berdarah," ujar salah seorang yang menggotong tandu itu.
Arthur tak mengenal pemuda itu. Tapi Arthur tetap menyahut, "Luka di sebelah mana?"
"Bagian belakang," jawab pemuda itu, "darahnya sampai pindah ke tangan gue juga. Kebetulan kelihatan tadi pas ada orang yang nyeterin ke arah gue."
Arthur khawatir gadis itu mengalami gegar otak atau kepalanya cedera gara-gara terbentur sewaktu jatuh tadi. Tapi Arthur pun tidak terlalu yakin karena bisa dibilang ia tidak langsung tiba di TKP saat gadis itu jatuh. Ada jeda beberapa detik dan itu sudah bisa membuat gadis itu berganti posisi serta sudah bergeser dari titik jatuhnya.
"Gue dengar dari orang kalau dia didorong dari atas, ya?" Yang lain tampak berceletuk.
Arthur yang mendengar itu pun langsung bertanya lebih jauh, "Maksudnya gimana, nih? Dia didorong dari atas tebing itu?"
"Iya," jawab yang lainnya ikut menimbrung ke dalam obrolan. "Tadi lo nggak dengar ramai-ramai orang neriakin orang yang berdiri di atas tebing? Disuruh turun dan tanggung jawab gitu."
Arthur menggelengkan kepala. Barangkali karena ia hanya fokus pada evakuasi gadis yang terjun bebas dari tebing itu, ia sampai tidak mendengarkan suara-suara lain yang menurutnya tak penting.
"Ya udah, bahas soal ininya nanti lagi," ujar Arthur kepada pemuda itu, "nanti gue akan tanya-tanya ke elo. Tapi sekarang kita percepat langkah biar cepat sampai ke ruang kesehatan."
Akhirnya tak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Hingga beberapa saat kemudian, mereka sudah tiba di ruang kesehatan.
Si gadis yang terluka itu dibaringkan di kasur angin yang sudah panitia siapkan. Karena jujur saja, panitia kekurangan tempat untuk menampung semua pasien yang masuk ke sana. Tak hanya tempat, mereka kembali terkendala dalam penanganan kegawatdaruratan. Hingga yang ada, mereka para panitia ini sibuk kebingungan dan bukannya memberikan pertolongan kepada gadis yang terluka.
“Tolong umumin soal ini ke peserta makrab,” pinta Arthur, “siapa tahu di antara mereka ada yang tahu soal pertolongan pertama untuk cedera semacam ini.”
“Siap,” jawab Ganendra yang sudah berdiri di sebelah Arthur sejak tadi.
Sepeninggal Ganendra, posisi itu diambil alih Hea. Hea tampak cemas dan sangat mengkhawatirkan kondisi dari si gadis yang terluka itu. Ia sempat bertanya, “Ar, perdarahannya nggak diberhentiin dulu?”
Arthur pun mencoba menghentikan perdarahan di kepala gadis yang terbaring tak berdaya itu. Namun Arthur benar-benar harus berhati-hati. Ia takut apabila salah memberi pertolongan, ia akan menyebabkan kondisi si gadis yang terluka itu semakin tidak aman.
“Sebenarnya gue takut kalau ada patah tulang di leher atau ada cedera sama tulang tengkoraknya,” kata Arthur kepada Hea. Tentu saja Arthur tak ingin terlihat sok bisa di sana sementara dia sebenarnya tidak benar-benar menguasai medis dasar ini. Arthur melanjutkan ucapannya, “Salah-salah gue bisa membahayakan nyawanya. Karena setahu gue, bagian kepala ini memang berbahaya banget.”
“Ya udah, Ar, sebisa lo aja,” kata Karenina sembari menyodorkan kain kasa dan pembalut luka kepada Arthur.
Lalu di tengah kegentingan itu, masuklah seorang gadis yang tak lain adalah Agatha. Dengan sedikit bergaya, gadis itu meminta orang-orang yang ada di sana untuk memberinya jalan.
Arthur mendongakkan kepala untuk melihat Agatha yang berdiri di sebelahnya. Ia kemudian memberi isyarat agar Agatha bertukar tempat dengan dirinya. “Lo mau ke sini?”
Agatha menganggukkan kepala. Ia lantas mengambil posisi berjongkok dengan sebelah lututnya menumpu pada lantai. “Gue akan periksa-periksa dulu ya,” ujarnya.
Arthur akui, Agatha cukup terampil. Gadis itu tahu apa yang harus ia lakukan dengan urutan yang jelas. Terlihat Agatha memulai penanganan dengan mengecek jalan napas, mengecek pernapasan, mengecek kesadaran, dan tak lupa ia juga mengecek sirkulasi nadi gadis yang cedera itu. Barulah selanjutnya, ia memeriksa bagian kepala yang disinyalir paling bermasalah. Entah apa yang Agatha lakukan, gadis itu beberapa kali menggumamkan kata ‘aman’.
“Gimana, Tha?” tanya Arthur setelah Agatha menjauhkan tangannya dari si gadis yang teluka itu.
“Aman sih, kemungkinan perdarahan itu karena ada kulitnya yang robek karena kena suatu permukaan yang kasar,” jalas Agatha. Ia kemudian menengadahkan tangannya sembari berkata, “Minta kasa atau pembalut luka yang bersih dong. Gue akan coba berhentiin perdarahannya.”
Karenina langsung menyodorkan satu keranjang berisi kasa kepada Agatha. Keduanya tampak kompak saling bantu sesuai instruksi dari Agatha.
Merasa Agatha sudah mampu mengendalikan itu, Arthur pun mundur barang beberapa langkah. Ia berhenti melangkah kala mendengar Hea memanggilnya.
“Ar, dia bisa diandalkan?” Hea menunjuk ke arah Agatha dengan tampak ragunya.
Arthur mengangguk sambil membalas, “Tentu.”
“Sekarang lo mau ke mana?” tanya Hea lagi. Gadis itu tampak punya keinginan untuk mencegah Arthur pergi dari sana. “Kalau urusan lo buat nolongin cewek tadi itu udah selesai, gue mau ngomong sama lo.”
Alis Arthur langsung menukik tajam. Pemuda itu tentu bertanya-tanya alasan apa yang melandasi Hea ingin bicara dengannya. Namun setelah Arthur pikir-pikir, ia juga punya sesuatu yang ingin disampaikan kepada Hea. Jadi Arthur pun setuju untuk pergi bersama Hea, memisahkan diri dari hiruk pikuk ruang kesehatan.
Sebelum cabut dari sana, Hea tampak berseru kepada orang-orang di ruangan itu, “Yang nggak berkepentingan, gue harap kalian keluar aja. Biarin ruangan ini lebih luang dan nggak sesak kaya sekarang.”
Selanjutnya, Hea dan Arthur pun menuju ke tempat duduk yang berada tak jauh dari ruang kesehatan. Mereka duduk di sana dengan sikap serius.
“Tadi lo mau bilang apa?” tanya Arthur. Ia pun mengutarakan alasannya mau diajak bicara oleh Hea, “Gue juga mau ngomongin sesuatu sama lo. Jadi mau siapa dulu?”
“Gue dulu,” ujar Hea. Gadis itu pun berdeham sejenak lalu mulai bicara, “Gue sama Endra udah beberapa kali mencoba menghubungi pengurus pulau ini. Tapi selalu gagal. Nggak ada tanggapan apa-apa dari mereka. Gue juga udah berusaha buat ngontak orang yang sewain perahu ke panitia. Tapi sama aja, nggak bisa tersambung ke mereka. Gue dan panitia harus gimana, Ar? Udah berapa banyak peserta yang terluka sejak makrab ini diselenggarakan? Gue merasa bertanggung jawab atas penderitaan mereka. Dan buruknya, gue nggak bisa kasih apa-apa, gue nggak bisa menyediakan pelayanan maksimal buat mereka. Gue merasa gagal!”
Arthur terdiam. Pembahasan ini memang yang Arthur tunggu-tunggu. “Itu juga yang mau gue omongin sama lo. Karena meski gue tahu kalau panitia makrab ini bukan elo melainkan Cairo, tapi sejauh ini elo lebih bisa diajak bicara dan mau turun tangan buat menangani situasi ini. Usaha lo udah oke, Ya. Tapi memang kondisi di sini nggak baik. Kalau mau disalahin, kesalahan lo sama panitia adalah memilih tempat ini. Sementara di sini aksesnya benar-benar sulit. Tapi ya udah, itu udah lewat. Sekarang gue minta elo jangan patah semangat buat hubungi orang di luar pulau ini. Dan satu lagi, gue harap masalah ini benar-benar dicari tahu penyebabnya.”
“Penyebab gimana, Ar?” Hea tampak menegakkan tubuhnya.
“Gue merasa ini semua nggak serta merta terjadi karena kebetulan. Gue nggak bisa nuduh siapa-siapa. Tapi kalau ternyata memang ada yang mendalangi kecelakaan-kecelakaan ini, kita juga harus bisa menanganinya,” jelas Arthur. Ia kemudian membeberkan soal apa yang ia dengar sebelumnya soal kejadian malam ini. “Tadi gue dengar kalau gadis yang jatuh barusan ini bukan karena dia jatuh sendiri, tapi ada yang dorong dari atas.”
“Hadiah utama ada di sana, Ar,” gumam Hea. Ia kemudian mendongak dan menatap jauh ke arah pantai, “Mungkin ini karena mereka memperebutkan hadiah itu?”
“Ya, bisa jadi begitu,” komentar Arthur. Namun lantas pemuda itu juga menceritakan soal apa yang Seva laporkan kepadanya dan kepada Shana dan dugaan-dugaan yang Arthur sendiri masih belum cukup yakin untuk ikut memercayainya. Tetapi Arthur rasa, Hea perlu tahu soal itu.
Mendengar ucapan Arthur, Hea langsung memegangi kepalanya. Gadis itu langsung pusing tujuh keliling dibuatnya. “Oke, oke, soal itu gue tampung dulu. Sumpah ya, gue pusing banget mikirin ini. Yang terjadi sekarang ini udah jauh banget dari ekspektasi gue.”
Arthur hanya mengangguk-anggukkan kepala sembari berulang kali menghela napas dan mengembuskannya dengan berat. Sebelum beranjak pergi, ia berpesan kepada Hea, “Sekiranya panitia bisa mengatur ulang kegiatan dengan lebih banyak pertimbangan soal keselamatan peserta dan juga biar peserta nggak mencar-mencar dan terlalu bebas di acara ini. Kita tahu kondisinya udah nggak kondusif. Hati-hati aja kalau dalam waktu dekat bakalan ada yang tumbang lagi.”
“Lo mikir gitu, Ar?” Hea turut berdiri dari duduknya. “Atas dasar apa? Lo tahu sesuatu? Ceritain semuanya, please.”
“Enggak, gue juga nggak tahu banyak,” balas Arthur. Tapi kemudian Arthur sibuk merogoh-rogoh sakunya. Ia lantas mengeluarkan beberapa lembar kertas yang merupakan petunjuk yang ia temukan saat mengikuti permainan tadi. Dengan senter di tangannya, Arthur menarik keluar selembar kertas dan menyodorkan kertas itu kepada Hea. Arthur kemudian berujar, “Coba tanya ke panitia. Apakah ada di antara mereka yang menuliskan tulisan ini di petunjuk permainan tadi. Karena gue merasa cukup aneh dengan petunjuk itu.”
Hea bolak-balik menatap ke Arthur dan ke kertas itu secara bergantian. Gadis itu tampak meneguk salivanya dan ia tampak sangat gelisah. Ia kemudian meminta kepada Arthur untuk mengantarkannya ke aula agar ia bisa segera menemui panitia lainnya dan membicarakan soal itu.
***