R 2.1

2173 Kata
Malam itu, setelah sesi makan malam berakhir, panitia mengumpulkan peserta di halaman di depan aula. Katanya, panitia sudah menyiapkan sesuatu untuk para peserta. Makanya peserta tidak diperkenankan kembali ke tenda terlebih dahulu. "Bukan acara api unggun, kan? Nggak ada persiapan apa-apa di lapangan," celetuk Agatha. Shana yang berdiri di sebelah Agatha tampak mengedikkan bahu. "Kayanya bukan, tapi entah apa. Panitia sibuk wira-wiri dari tadi." Tak lama setelah Shana menutup mulut, beberapa panitia muncul dengan membawa kardus. Saat kardus itu diletakkan di depan para peserta, para peserta pun bisa melihat isinya yang tak lain dan tidak bukan adalah berpuluh-puluh senter berukuran kecil. "Jadi, guys," seru Hea dengan bersemangat dan itu sukses menyita perhatian seluruh peserta makrab, "malam ini kalian akan berburu harta karun!" "Yuhuu, mantap banget nggak, tuh?" Cairo juga ikutan menimbrung. Kemudian pemuda itu menjelaskan teknis dari acara yang akan mereka lakukan setelah ini. "Nangi kalian akan dibagi menjadi beberapa kelompok. Tiap kelompok hanya terdiri dari dua orang. Kemudian kalian akan mulai mencari secara berpasang-pasangan ini. Nah, yang kalian cari itu bentuknya apa, sih? Hea Sayang bisa tolong dijelaskan?" Hea tampak memelototi Cairo sembari mulutnya berkomat-kamit menyumpahi pemuda itu. Beberapa orang mungkin menangkap momen Hea yang kesal kepada Cairo. Namun beberapa lainnya tidak cukup peka dengan masalah di antara Hea dan Cairo. Hea berdeham singkat dan mulai menjelaskan, "Jadi kami sudah meletakkan beberapa kotak berisi petunjuk-petunjuk yang akan mengarahkan kalian ke hadiah utama dari kegiatan ini. Selain itu, selama mencari, ada juga kemungkinan bahwa kalian akan mendapatkan hadiah kecil-kecilan. Kalau kalian mencari dengan serius, kalian nggak akan pulang dengan tangan kosong, sih. Soalnya panitia baik banget, udah nyiapin banyak kejutan buat kalian." Para peserta pun terdengar antusias. Mereka langsung mencari pasangan untuk pergi berburu harta karun. Tak terkecuali Agatha, ia sudah heboh sendiri. Ia nantinya akan pergi bersama Verrel, tentu saja. Kedua sejoli itu sudah menyusun rencana untuk bisa menemukan hadiah utama dari permainan ini. Sementara Shana dan Arthur juga tampak tertarik. Meski mereka tidak sampai seambisius Agatha dan Verrel. Mereka tidak sampai menyusun rencana dan memilih untuk tetap santai saja. Shana malah sibuk mengurusi Indi yang belum mendapat pasangan. Ia mencari Rick untuk bisa pergi bersama Indi. Karena bagaimana pun, Shana tak ingin Indi pergi-pergi sendirian. Bagaimana jika Indi bernasib sama seperti Seva? Itu sangat tidak bisa dibiarkan. "In, jangan ke mana-mana dulu, ya. Gue tadi lihat Rick di belakang sana. Siapa tau dia mau berpasangan sama lo. Kalau enggak, ya lo join sama gue dan Arthur aja." Shana berpesan sebelum melipir ke barisan belakang untuk mencari Rick. Dari tempatnya berdiri, Arthur tampak mengamati pergerakan Shana. Pemuda itu diam-diam tidak ingin kehilangan Shana sedetik pun. Selama ia mampu, ia akan terus mengawasi gadis itu dengan baik. "Kalian cocok ya," celetuk Indi kepada Arthur. Arthur membalas ucapan Indi tanpa mengalihkan tatapannya dari mengawasi Shana. "Cocok? Gue sama Shana?" "Iya," tekan Indi. Gadis itu kelihatan gemas. "Kalian itu sama-sama orang yang peduli sama orang lain. Contohnya sekarang, Shana sibuk mengkhawatirkan orang lain. Dia juga nggak perlu mengkhawatirkan dirinya sendiri karena ada elo yang mengkhawatirkannya. So sweet banget! Gemes gue liatnya." Arthur hanya mendengkus geli. Ia bahkan tidak pernah memikirkan penilaian Indi itu. Baginya, semua berjalan sesuai dengan yang seharusnya. "Biasa aja," ujar Arthur. "Bagi lo itu biasa, tapi gue yang ngeliatin doang bisa bilang itu luar biasa." Indi tampak tak mau kalah. "Oke, kalau gitu," balas Arthur. Sampai akhirnya Shana kembali sembari menyeret-nyeret Rick. Gadis itu tersenyum dengan riang sembari menyerahkan Rick kepada Indi. "Pokoknya, kalian barengan, ya? Saling jagain. Awas aja kalau Indi sampai sendirian, gue ngamuk ke elo ya, Rick!" Rick menggusah napas. Pemuda itu merasa lucu dengan pesan Shana. Ia lantas bertanya, "Kalau kondisinya nanti kebalik gimana? Bisa aja kan Indi yang ninggalin gue, terus gue sendirian. Lo nggak mau marahin Indi?" Shana menaikkan sebelah alisnya. Ia kemudian berujar, "Oh, tentu, gue akan marahin Indi juga." Arthur diam-diam mengulum senyum melihat Shana yang tampak bingung. Ia kemudian menarik gadis itu untuk mendekat ke arahnya. Arthur lantas berbisik sesuatu di telinga Shana dan itu mengalihkan perhatian Shana dari Indi dan Rick. Sebelum berbalik pergi, Arthur tampak memberi isyarat kepada Rick agar pemuda itu sungguh-sungguh menjaga Indi sesuai perintah Shana. Lalu setelahnya, ia dan Shana berebut untuk mengambil senter dan mulai beraksi mencari harta karun. *** Shana dan Arthur lama-lama memisahkan diri dari Agatha dan Verrel. Padahal tadinya mereka sempat mencari bersama. Namun karena perbedaan pandangan, mereka jadi berjalan sendiri-sendiri. Shana menyoroti sesuatu yang tersimpan di balik batu. Menyadari itu adalah sesuatu yang penting, Shana lantas menepuk-nepuk lengan Arthur sambil berujar, "Ar, itu ada satu." Arthur mengangguk kecil. Tanpa balas bicara, pemuda itu memimpin jalan menuju ke sesuatu yang Shana maksud itu. Rupanya yang Shana temukan adalah sebuah kertas dengan tulisan warna hitam yang tercetak di atasnya. Mereka lantas mulai membacanya. Keduanya terdengar menggumam dengan kompak, "Nggak apa-apa kan kalau jalannya terlampau sulit?" Tentu saja, itu bukan petunjuk spesifik yang bisa mengantarkan Shana serta Arthur ke harta karun yang telah disiapkan panitia. "Terus selanjutnya kita harus apa?" Shana bertanya dengan polosnya. Arthur terdiam sebentar sambil mengusap-usap dagunya, seolah pemuda itu tengah berpikir keras. Ia kemudian menyarankan, “Kalau hanya berdasarkan petunjuk pertama ini, kayanya kita nggak akan bisa menyimpulkan apa-apa. Jadi kita harus cari lagi.” “Oke!” Shana sepakat dengan itu. Ia pun kembali mengarahkan senternya ke sekitar. Ia kembali melihat-lihat apakah ada petunjuk yang disembunyikan panitia di sekitarnya. Arthur juga melakukan hal yang sama. Ia berjalan di belakang Shana dan meneliti setiap bagian kecil dari yang mereka lewati. Hingga setelah beberapa lamanya mencari, Arthur melihat petunjuk baru. Berhubung di sekitarnya banyak peserta makrab lainnya, Arthur pun hanya memberitahu Shana dengan isyarat. Entah Shana menangkap isyaratnya atau tidak, yang jelas Arthur lantas menarik Shana untuk mengikutinya. Mereka beranjak mendekati sebuah pohon tanpa daun. Di sana lah sepucuk lipatan kertas tampak memanggil mereka untuk membukanya. Khawatir orang lain mendahuluinya, Shana berlari meninggalkan Arthur. Shana segera menyambar kertas itu meski ia harus berjinjit dan melompat kecil. “Dapat!” seru Shana dengan puas. Setelah Arthur menghampirinya, Shana pun membacakan isi dari kertas itu. Shana menggumam pelan, “Siapa selanjutnya?” Tentu saja, itu tidak seperti dugaan Shana. Kenapa tiba-tiba menanyakan siapa? Bukan kah petunjuk-petunjuk itu seharusnya mengarahkan mereka pada tempat atau benda. “Coba gue lihat,” kata Arthur sembari mengambil alih kertas itu dari tangan Shana. Arthur pun sama bertanya-tanyanya dengan Shana. Menurut Arthur, petunjuk yang satu itu sedikit tidak nyambung. Namun Shana terlihat mendapat pencerahan. Sehingga gadis itu berujar dengan sok tahu, “Ah, mungkin ini punya maksud tersembunyi gitu, Ar? Mungkin kita harus jalan dan melanjutkan pencarian kita. Di dekat sini mungkin ada petunjuk yang sesungguhnya?” Arthur mencoba menyamakan pemikiran dengan Shana. Anggap lah apa yang Shana duga itu benar. Meski Arthur merasa ini janggal dan penjelasan Shana tidak cukup masuk akal. Alhasil, Arthur tidak banyak berkomentar. Pemuda itu justru mengajak Shana untuk kembali melangkah, mencari petunjuk lain yang entah berada di mana. Sampai lima menit kemudian, mereka menemukan sebuah bungkusan yang tampak mencurigakan. Namun karena konteks kegiatan mereka adalah berburu harta karun, maka meski bungkusan itu terkesan mencurigakan, mereka tetap mengambil dan membukanya. Dan ternyata, yang menjadi isi bungkusan itu adalah kaus berwarna hitam masih lengkap dengan plastik dan tag merek dan harga yang sudah disobek sedikit. Rupanya itu adalah salah satu hadiah kecil-kecilan yang panitia selipkan di antara petunjuk-petunjuk menuju ke hadiah utama. "Wah, bagus," puji Shana. Namun ia tentu tidak akan mengenakan kaus yang ukurannya super besar itu. Ia menempelkan kaus itu ke d**a Arthur. "Bagus dan pas buat lo." Arthur tersenyum kecil. Ia justru menawarkan kaus itu untuk Shana, "Lo nggak mau? Buat lo pasti juga bagus. Gaya-gaya oversize gitu, kan?" Shana tergelak sembari menggelengkan kepala. Ia pun berkata dengan sedikit halu, "Kausnya buat elo aja, Ar. Nanti gue dapat hadiah utamanya!" Arthur ikut terkekeh. Wajahnya tampak meragukan dan mempertanyakan kemampuan Shana untuk mendapatkan apa yang gadis itu mau. "Ih, beneran, Ar! Gue udah ambis banget, nih. Yuk, kita lanjut cari," kata Shana. Gadis itu pun menggamit lengan Arthur dan menyeret pemuda itu untuk kembali melangkah. Melihat Shana kelewat semangat begitu, Arthur pun jadi terpancing untuk turut bersaing. Jiwa ambisiusnya mulai bergejolak. Sambil mengekori Shana, Arthur berujar untuk menyemangati pacarnya itu, "Ayo kita cari sampai ketemu!" Senyum merekah di bibir Shana. Gadis itu mengangguk dengan penuh tekad. Keduanya semakin semangat menyenter ke sana kemari. Hingga mereka akhirnya kembali menemukan secarik kertas yang terselip di sela-sela sun lounger. "Ini siapa sih yang naruh kertas-kertasnya?" gumam Shana keheranan, "ada aja idenya buat naruh di sela-sela kaya gini." Arthur mendengkus geli saja. Pemuda itu lantas membuka kertas itu dan membacakan tulisan yang ada di atasnya. "Sepuluh langkah ke arah kiri," ujar Arthur. Shana langsung mengedarkan pandangan dengan wajah bertanya-tanya. "Sepuluh langkah ke arah kiri?" Shana pun membeo ucapan Arthur. Matanya terbelalak dengan antusias, "Maksudnya harta karunnya ada di dekat kita?" Arthur tak ingin memberikan harapan palsu. Jadi pemuda itu menjawab, "Entah lah, bisa juga itu adalah petunjuk selanjutnya." Shana meringis. Sepertinya ia terlalu cepat merasa senang. Sementara Arthur yang realistis berhasil menyadarkan Shana dari angan-angan semunya. Jadi tanpa banyak bicara lagi, Shana dan Arthur mencoba berjalan sepuluh langkah ke kiri, ke kanan, dan ke segala arah—karena di sana mereka kebingungan soal arah hadap yang dipakai oleh penulis petunjuk itu. Akhirnya setelah mencoba melihat dari berbagai sudut pandang, mereka menemukan botol yang seolah-olah itu adalah botol yang terdampar di pantai. Shana dengan hati-hati memungut botol itu dari permukaan air. Sambil mengangkat botol itu, Shana menggerutu kecil, "Kalau nggak ada yang nemuin petunjuk ini, botol ini akan jadi sampah di sini karena nggak ada yang mungut. Ya, oke lah, mungkin panitia mau kasih kesan kaya ini botol yang terdampar setelah terombang-ambing di lautan. Tapi kalau nggak ada yang nemu, bakalan nambah-nambahin pencemaran. Padahal pulau ini terhitung bersih banget, lho!" Arthur tidak membuat kesalahan. Tapi mendengar Shana menggerutu begitu, Arthur merasa dia tengah diomeli. Shana yang tak sengaja menoleh ke arah Arthur dan mendapati ekspresi awkward dari Arthur itu pun merasa menyesal. Sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal, Shana berujar, "Ups, sorry, Ar. Gue kesel aja sama ini. Gue nggak bermaksud buat ngomel-ngomel di depan lo kok. Lo nggak bete, kan?" Arthur meringis sambil salah tingkah juga. Pemuda itu lantas membalas permintaan maaf Shana dengan kata-kata menenangkan. "Nggak masalah. Sekarang buka aja itu botolnya." Shana menuruti perkataan Arthur. Gadis itu membuka botol itu dan mengeluarkan gulungan kertas yang ada di dalamnya. Karena cukup sulit untuk meluruskan lembaran yang sudah terlanjur menggulung itu, Shana pun tak bisa membaca isi kertas itu sendirian. Kedua tangannya ia gunakan untuk menarik kedua sisi kertas, sementara ia meminta tolong kepada Arthur untuk mengarahkan senter ke kertas itu. Setelah mampu melihat tulisan yang ada di sana, Shana pun mulai membacanya, "Di atas tebing karang." Shana dan Arthur saling tatap. Mereka sepertinya tahu apa yang dimaksud dengan tebing karang itu. "Tempat yang kita buat renang itu bukan?" Shana tampak memastikan. Arthur langsung mengangguk. Itu artinya Arthur juga sepemikiran dengan Shana. "Ayo ke sana," jerit Shana. Sambil berjalan, gadis itu mengoceh, "Petunjuk kaya gini pasti nggak cuma satu, kan? Jangan-jangan udah ada orang lain yang duluan menemukannya? Aduh, duh, sayang banget ini!" Arthur cukup kagum dengan Shana. Arthur yakin Shana tidak tahu apa yang sebenarnya menjadi hadiah utama dari permainan ini, namun tetap saja, semangat Shana tak mudah luntur. Meski gadis itu terlihat lelah karena sudah membuang tenaga untuk mencari ke sana kemari, namun langkahnya tetap konsisten, tidak hanya bersemangat di awal saja. Karena terbukti, saat Arthur dan Shana akan menuju ke tempat yang mereka duga sebagai tempat penyimpanan harta karun, mereka berpapasan dengan Verrel dan Agatha. Di awal tadi, Agatha terlihat sangat bersemangat. Namun sekarang gadis itu malah sibuk duduk-duduk mengistirahatkan kaki. "Udah nyerah lo?" tanya Shana kepada Agatha saat ia melewatinya. Agatha menggumam tak jelas. Ia kemudian setengah berteriak bertanya pada Shana, "Emangnya lo masih nyari, Sha? Susah tau, nggak dapat apa-apa. Petunjuknya nggak jelas. By the way, lo mau ke mana?" Shana melambaikan tangan. Ia cukup tidak ingin berbagi informasi dengan Agatha. Namanya permainan, Shana tidak sebodoh itu untuk dengan mudahnya berbagi karena ia ingin menang dalam permainan ini. Shana justru berkata, "Ya udah, lo istirahat aja. Biar hadiahnya buat gue!" "Sana kalau ketemu," balas Agatha. Gadis itu yakin Shana tak akan menemukan apa yang menjadi inti dari permainan ini. "Palingan juga lo cuma nambah capek aja." Shana tak lagi membalas. Karena yah, jaraknya dengan Agatha sudah cukup jauh. Masa iya ia harus berteriak-teriak? Kan, mengganggu ketenangan hidup orang namanya! "Ar," panggil Shana sambil menoleh ke belakang untuk memastikan Arthur masih bersamanya. Arthur mengangkat wajahnya dan balas menatap Shana sambil bertanya, "Kenapa?" "Itu kan tebing karangnya?" Shana menunjuk ke sebuah tebing karang yang mana tadi siang area itu mereka gunakan untuk berenang. Shana menginfokan, "Belum ada orang yang sampai deh. Semoga kesimpulan kita dari petunjuk-petunjuk tadi itu be—" Ucapan Shana menggantung bersamaan dengan gadis itu yang berhenti melangkahkan kakinya. Tapi bukan itu masalahnya. Yang jadi masalah adalah suara teriakan melengking lalu disertai suara sesuatu yang berat tercebur ke air. Jadi kalau sudah begitu, bagaimana mungkin Shana tidak terpaku? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN