R 2.0

2123 Kata
Hea dan Cairo tampak tergopoh-gopoh keluar dari ruang kesehatan. Hea langsung menghampiri Verrel yang tengah menggendong Seva di punggungnya. Sementara Cairo langsung menanya-nanyai kondisi adiknya. Kedua orang itu tidak cukup kompak memang. Apalagi mengingat status mereka saat ini adalah mantan, jadi semua terasa jelas untuk keduanya hampir bisa dikatakan bermusuhan. "Yang sakit dan habis dalam bahaya itu dia," ujar Hea sembari menunjuk ke arah Seva. Ia kemudian menukas sebelum pergi, "Bukan Indi yang harus lo khawatirkan." Cairo tampak memasang wajah masam dan membalas ucapan Hea, "Suka-suka gue mau khawatir ke siapa. Lagian Indi adik kesayangan gue ini baru aja kembali dari hutan untuk mencari Seva. Dia juga pantas dikhawatirkan." Hea mendengkus keras-keras dan kemudian masuk ke dalam ruang kesehatan. Dengan begitu, yang tersisa di luar hanyalah Cairo, Indi, Arthur, Shana, dan Rick. Mereka sengaja tak ikut masuk karena sudah bisa dipastikan ruang kesehatan akan penuh sesak jika ketambahan mereka di dalamnya. Sementara itu, Agatha memilih terus menempeli Verrel karena tak ingin posisi itu diambil alih Hea. Meski sebenarnya keberadaan Agatha di sana sudah tidak terlalu diperlukan lagi. Bagaimana tidak, keberadaannya hanya dianggap menuh-menuhin tempat. "Geser dong, jangan berdiri di situ," ujar Hea dingin. Sesekali gadis itu menyenggol Agatha, entah sengaja atau tidak. Agatha hanya bisa menahan giginya yang hampir bergemeretak. Ia ingin melempar Hea keluar dari sana. Meski itu sangat-sangat tidak mungkin. Kembali ke manusia-manusia yang memilih untuk tinggal di luar ruang kesehatan, mereka kini sudah mengambil posisi duduk berteduh di bawah pohon yang berada tak jauh dari ruang kesehatan itu. Mereka lantas lanjut mengobrol di sana sembari menunggu kabar dari orang-orang yang berada di ruang kesehatan. "Seva kenapa, sih? Bisa-bisanya sampai terdampar di sana. Dia jalan lumayan jauh, lho," kata Indi yang lebih kepada gadis itu tengah berbicara sendiri. Namun karena Indi bicara dengan cukup lantang, siapa saja yang ada di sana pun bisa mendengarnya. Termasuk Shana. Gadis yang tengah memijat kakinya yang pegal sehabis berjalan jauh itu pun jadi ikutan dibuat mikir berat. "Iya, ya, ngapain dia ngide pergi jauh-jauh ke sana." "Mana sepatunya malah ditemukan di tangki air. Aneh banget, kan?" balas Indi lagi. Gadis itu kemudian bertanya pada Rick, "Tadi Seva beneran nyeker, Rick? Terus sepatu dia beneran yang kalian temukan di tangki air? Kenapa sepatunya balik sendiri sementara orangnya masih di sana?" "Kayanya ada yang nggak beres," celetuk Cairo. "Mungkin Seva nggak pergi sendiri? Terus pas udah sampai di sana, dia ditinggal. Semacam dikerjai gitu." Arthur berdeham dan bicara, "Tapi di jalan tadi, Seva nggak ngomongin soal itu. Dia nggak pernah bilang dia pergi sama siapa-siapa. Yang gue tangkap dari ceritanya yang belum tersusun rapi, dia pergi ke sana sendiri. Dia nggak bisa balik karena kakinya sakit alias cedera." "Dan sepatunya balik duluan?" Shana tampak menaikkan sebelah alisnya. Ia lantas terkekeh setelah memikirkan kembali pertanyaan konyolnya. Hening, hanya Shana yang tertawa. Sementara yang lain sibuk memasang wajah serius berpikir. Merasa situasi terlalu canggung, Shana mencoba cara yang Arthur sering gunakan yaitu berdeham. Setelah berhasil mengontrol tawa dan ekspresi wajahnya, Shana pun kembali berujar, "Nggak mungkin sih kalau sepatunya balik duluan. Pasti ada yang bawa ke sini." Bertepatan dengan Shana menutup mulutnya, Agatha dan Verrel keluar dari ruang kesehatan. Keduanya berjalan menghampiri teman-teman mereka yang sudah menunggu sejak tadi. "Gimana?" tanya Shana saat Agatha baru saja menghentikan langkah di hadapannya. "Lo sama Arthur disuruh masuk. Seva mau cerita ke kalian," kata Agatha. Mendengar itu, Shana tentu merasa senang. Gadis itu bangkit berdiri dan bersiap meluncur ke ruang kesehatan. Namun sebelum itu, Agatha menahan pergerakan Shana. Gadis itu berkata, "Guys, kita belum makan siang." "Tapi ini mendesak, Tha," ujar Shana. Jujur saja, gadis itu sudah tidak sabar untuk menemui Seva dan mendengarkan penjelasan logis tentang apa yang sebenarnya terjadi. Agatha berkeras menghalangi jalan Shana. "Makan, Sha, makan! Seva juga butuh istirahat. Biarin lah dia di ruang kesehatan sama panitia dulu." Shana dengan berat hati akhirnya mengambil dua langkah mundur ke belakang. Gadis itu pun menganggukkan kepala dan berujar, "Iya deh, kita makan dulu." Ketujuh orang itu pun bergerak menuju aula. Tentu saja, makanan di sana sudah habis-habisan. Karena kan, mereka sudah sangat terlambat untuk ikut makan siang. Untung saja, ada Cairo di sana. Sebagai bagian dari panitia, pemuda itu pun mau bersusah payah menyiapkan makanan untuk keenam orang peserta itu. “Untung aja gue ikut turun tangan,” kata Cairo sambil membawa keluar beberapa kotak makan siang. Ia pun melanjutkan, “Kalau enggak, bisa-bisa kalian harus melewatkan makan siang dan hanya makan buat makan malam nanti.” Rick menanggapi, “Kalau sampai nggak kebagian makan, gue bakalan protes, lah!” Cairo hanya mendengkus geli. Ia pun kembali masuk ke dalam ruangan panitia dan membiarkan keenam peserta itu makan dengan tenang di aula. Sepeninggal Cairo, tak ada lagi obrolan di antara mereka untuk sementara waktu. Karena meski tadi tak terasa lapar, ketika akhirnya ada makanan di hadapan mereka, rasa lapar itu otomatis menyergap dan menjadi-jadi. Mereka jadi tak sempat barang bicara hal-hal yang tidak penting. Barulah, ketika satu per satu dari mereka mulai menyelesaikan kegiatan makan itu, obrolan kembali muncul ke permukaan. Agatha yang memulainya dengan bertanya, “Malam ini kegiatannya apa, ya?” “Udah berapa hari kita di sini?” tanya Rick agak tidak nyambung dengan pertanyaan Agatha sebelumnya. Agatha memutar bola matanya. Ia merasa pertanyaannya diabaikan. Tapi dengan berbaik hati, gadis itu menjawab, “Tiga hari.” “Kayanya panitia makrab kita belum pernah sekalipun mengadakan api unggun,” ujar Rick kemudian, “mungkin nanti kita bakal api unggun?” “Bukannya kemarin udah?” tanya Indi sembari memasang wajah penuh tanya. Kemudian gadis itu kembali fokus kepada makanannya yang tinggal satu suap itu. Verrel mengoreksi, “Yang kemarin-kemarin itu nggak resmi dari panitia. Itu peserta yang mnegadakan.” “Ya tapi sama aja, kan? Api unggun namanya. Kayanya bakalan pada bosen kalau panitia mengadakan lagi,” balas Indi lagi. Beberapa orang di sana tampak kompak mengedikkan bahu. Ada juga yang memilih tidak bereaksi apapun, seperti Arthur. “Apapun acaranya, gue pengen istirahat di tenda aja habis ini. Kalian merasa capek banget nggak, sih?” Shana buka suara sambil mengakhiri aktivitas makan siangnya yang terlambat itu. Padahal makanan yang menjadi bagian Shana belum habis. Namun gadis itu tampak sudah tidak nafsu makan. Agatha mengangguk-angguk kecil. “Iya, lumayan capek, sih,” katanya, “habis ini tidur aja?” Shana mengiakan. “Gue sih lebih mending tidur kalau bisa. Tapi kalau kalian mau melakukan hal lain, ya nggak apa-apa.” “Gue mau ngintilin elo aja, Sha,” putus Agatha yang membuat Shana bergumam singkat tanda setuju. Arthur yang sudah membereskan peralatan bekas makannya tampak tiba-tiba berdiri dari duduknya. Itu tentu membuat beberapa pasang mata yang ada di sana langsung memperhatikannya. “Mau ke mana?” tanya Verrel sambil mendongakkan kepala untuk bisa melihat Arthur yang berdiri menjulang di sebelahnya. Arthur menjawab singkat, “Ketemu Seva.” Teman-teman Arthur membalas dengan ber-oh-ria. Sementara Shana bergegas menyusul Arthur karena gadis itu tak mau ketinggalan sama sekali. “Gue duluan, ya,” ujar Shana. Ia lantas berujar kepada Agatha, “Nanti ketemu di tenda aja.” Sepeninggal Shana dan Arthur, teman-teman mereka sibuk menerka apa yang sebenarnya akan Seva sampaikan sampai-sampai hanya kepada Arthur dan Shana saja ia mau berbicara. Di jalan pun, Shana sempat beberapa kali menggumam dan menerka-nerka apa sekiranya hal yang akan Seva sampaikan kepadanya dan Arthur. Sampai-sampai Shana sempat tak memperhatikan jalan karena sibuk dengan pikirannya. Gadis itu hampir saja tersungkur di jalan yang cukup menurun kalau-kalau Arthur tak sigap menangkap tubuhnya. “Sha, fokus,” kata Arthur dengan suara beratnya. Shana meringis saja. Ia tidak mungkin membela diri karena jelas dia memang salah. “Iya, sorry, Ar” gumam Shana. “Lo nggak harus minta maaf ke gue. Lo cuma harus lebih berhati-hati,” pungkas Arthur. Shana pun kembali berjalan. Kali ini, ia tidak lagi sibuk berjalan sembari menduga-duga. Lagian kan, sebentar lagi ia akan mendengar secara langsung cerita dari Seva. Setelah sampai di ruang kesehatan, Arthur dan Shana langsung menerobos masuk begitu saja. Keduanya pun berhadapan dengan Hea dan dua panitia lainnya yang tampak siaga. “Kirain siapa,” celetuk Hea. Gadis itu pun menggeser tubuhnya ke pinggir ruangan, memberikan jalan untuk Arthur dan Shana. “Kata Agatha, Seva mau ngomong sama kami,” lapor Arthur sambil mengedarkan pandangan ke sekitar ruang kesehatan yang kalau menjelang malam begini ruangan itu tampak remang-remang. Hea membenarkan itu. Ia pun menunjuk ke arah Seva yang sedang berbaring memunggungi mereka. Shana langsung merangsek mendekati Seva. Semula ia bergerak pelan-pelan karena menduga Seva sedang tertidur. Namun ternyata itu tidak perlu karena Seva hanya sedang merenung. “Ada yang mau gue ceritain ke kalian,” ujar Seva begitu melihat Shana. Gadis itu mengubah posisi berbaringnya dengan posisi duduk. Sementara kakinya yang cedera tampak dibaringkan lurus dan sudah dibidai ulang dengan peralatan yang sebagaimana mestinya. Shana mengambil duduk di sebelah Seva. Sementara Arthur tetap berdiri di samping ranjang Seva dan memperhatikan dengan saksama. “Gue rasa, ada orang lain yang tinggal di pulau ini selain kita,” kata Seva membuat baik Shana maupun Arthur langsung memasang wajah yang ekspresinya campur aduk. “Maksud lo gimana, Sev?” Shana merasa sekujur tubuhnya merinding. Namun sebelum ketakutannya semakin menjadi-jadi, ia memberanikan diri untuk mendengarkan cerita Seva dengan lebih jelas. Seva meneguk salivanya, bersiap-siap untuk bercerita panjang dan lebar kepada Shana dan juga Arthur. Ia memulai ceritanya, “Jadi ini memang salah gue yang pergi sendirian, nggak pamit ke siapa-siapa, dan langsung cabut gitu aja. Gue niatnya mau lanjut lari pagi karena toh tadi pagi gue nggak ada kegiatan apa-apa. Gue mencoba menyusuri jalan yang kita lewati bareng-bareng waktu itu. Semua normal aja sampai gue merasa ada yang ngikutin gue dari belakang. Dari suaranya, gue yakin kalau itu ramean, bukan cuma satu orang atau apapun itu.” “Oke, terus?” pancing Shana karena Seva sempat menjeda ceritanya. “Gue diikuti oleh entah apa itu dan di situ gue merasa terancam. Gue lari dan nggak lagi ngelihat ke belakang. Akhirnya gue memutuskan turun dari jalur dan berniat sembunyi di sekitar sungai. Tapi gue sempat terpeleset. Kaki gue cedera. Sampai situ, gue udah nggak bisa lari lagi. Gue cuma bisa bersembunyi di balik bebatuan, kepanasan, dan kelaparan karena gue belum sarapan. Sampai akhirnya kalian menemukan gue. Kayanya tadi gue sempat ketiduran juga saking gue rasanya udah nggak kuat,” terang Seva. Arthur dan Shana sempat saling bertukar tatapan. Arthur kemudian buka suara, “Sejak kapan lo kehilangan sepatu lo?” Seva tampak bingung. Tapi ia berusaha menjawab sepahamnya, “Gue lepas sepatu gue setelah gue terpeleset di lumpur. Lumpurnya masuk sampai ke dalam sepatu.” Arthur yang gantian berusaha mencerna jawaban Seva. Setelah tahu ke arah mana penjelasan Seva itu, ia tampak mengangguk kecil. Sementara Shana mengambil kesimpulan, “Elo nggak sadar kan kalau sepatu lo ilang?” Baru lah saat itu, Seva mencari-cari sepatunya. Gadis itu menduga sepatunya masih berada di tepi sungai, tertinggal saat proses evakuasi tadi. Namun setelah diberi penjelasan oleh Shana dan Arthur secara pelan-pelan, akhirnya Seva mengerti keanehan yang tengah menjadi bahan perbincangan teman-temannya. “Jadi gimana menurut kalian?” tanya Seva, “di pulau ini pasti ada orang lain selain anak-anak yang ikut makrab ini, kan?” “Kita belum bisa memastikan, Sev,” jawab Arthur. Pemuda itu lantas berujar, “Siapa aja bisa mengikuti lo. Nggak harus orang di luar kegiatan ini. Bisa aja, itu orang-orang dari acara ini. Lagian kalau soal ada penghuni lain di pulau ini, gue sendiri sangsi.” Shana lantas menyela untuk menanyakan di mana letak rasa sangsi yang Arthur rasakan. Padahal setelah mendengar cerita Seva, Shana jadi ikutan bisa membayangkan bahwa di pulau itu ada orang selain rombongan peserta dan panitia makrab mereka. “Pulau ini punya banyak keterbatasan akses,” jawab Arthur. Shana dan Seva tentu tak setuju kalau alasannya itu. Shana bahkan mendebat Arthur dengan sengit, “Gimana kalau mereka memang orang sini yang mereka sendiri nggak membutuhkan akses-akses seperti kita? Yang lo anggap keterbatasan itu karena elo yang menilainya. Kalau mereka terbiasa dengan keadaan ini, bisa aja kan mereka sanggup buat tinggal di pulau ini.” “Terus apa kabar sama pengelola tempat ini? Gue dengar ini adalah pulau pribadi punya seseorang yang kemudian dikelola buat dijadiin resort. Lo yakin masih ada penduduk lain di sini? Memangnya pengelola atau pemilik tempat ini memberi izin mereka untuk tinggal?” Arthur kembali berujar. “Bisa aja mereka udah berdiam di sini sebelum pulau ini mulai dikelola buat dijadiin resort. Dan mereka berhasil bersembunyi selama ini,” ungkap Seva. Ia kemudian dengan sedikit frustrasi menekankan, “Pokoknya, gue yakin banget kalau tadi itu ada yang ngikutin gue. Bukan hewan, tapi lebih ke manusia.” “Oke, oke, nanti akan gue cari tahu.” Arthur menutup pembahasan sekaligus perdebatan itu. Pemuda itu lantas bertanya dengan perhatian kepada Seva, “Lo udah makan, Sev?” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN