Arthur dan Shana berhasil menyusul rombongan Verrel dan lainnya yang sudah berjalan lebih dulu. Keduanya tampak terengah-engah karena harus berjalan cepat.
"Gimana, sejauh ini belum ada tanda-tanda keberadaan Seva?" tanya Shana pada keempat rekannya yang lain.
Verrel menganggukkan kepala dengan wajah masam. Melihat Shana menenteng botol air mineral, Verrel pun memintanya. "Gue sampai serak gegara teriak-teriak. Kalian sendiri gimana? Waktu nyusulin kami, kalian sambil nyari juga, kan?"
Arthur menganggukkan kepala. Dia pun menerangkan, "Sejauh ini, gue juga belum menemukan petunjuk soal keberadaan Seva. Oh ya, nanti akan ada tiga panitia yang nyusulin kita kalau memang Seva masih belum ditemukan. Gue udah pegang walkie talkie buat koordinasi sama mereka."
"Berarti ini kita lanjut cari, ya? Tapi ini kita udah jalan ke dalam banget. Apa mungkin Seva jalan sendirian ke sini? Masa dia berani?" Rick tampak meragu.
Sebenarnya Arthur juga sudah memikirkan itu. Bagaimana mungkin Seva yang notabenenya adalah seorang remaja perempuan bisa berjalan sejauh itu, sendirian. Buat apa coba? Tapi Arthur tetap tak ingin melewatkan itu hanya karena tampaknya itu tak mungkin. Bagaimana jika memang Seva berbeda dari kebanyakan gadis di sana? Jangan-jangan Seva punya jiwa petualang yang tak orang tahu.
"Nggak apa-apa, kita lanjut dulu. Udah sampai sini juga," kata Arthur kemudian. Ia pun teringat soal perbekalan yang ia masukkan ke dalam tas P3K yang digendongnya. "Ini juga ada roti kalau kalian mau. Lumayan buat ganjal perut."
Agatha dan Indi langsung memintanya kepada Arthur. Kedua gadis itu lantas memakan roti sambil melanjutkan langkah untuk mencari Seva.
Bergantian, mereka meneriakkan nama Seva, memanggil gadis yang hilang begitu saja bak ditelan bumi. Namun tetap saja, tak ada sahutan atau sebagainya dari Seva. Di jalan yang mereka lewati pun, mereka tidak melihat tanda-tanda Seva pernah melintas di sana.
"Informasi yang kita dapat ini valid nggak, sih?" Agatha mendadak curiga kalau mereka telah ditipu orang.
Shana mengedarkan pandangan sejenak sebelum akhirnya menatap Agatha. "Gimana, ya? Mungkin informasinya benar. Cuma kita aja yang belum mencari cukup jauh?"
"Bisa jadi," celetuk Verrel, "kita coba telusuri dulu aja jalan ini."
Mereka kembali berjalan. Masing-masing dari mereka bergantian meneriakkan nama Seva. Mereka juga menyibak ilalang, menggeser pohon tumbang, dan sesekali melongok ke atas tebing atau ke bawah jurang.
"Di depan ada sungai," kata Arthur tiba-tiba, "kemarin sih arusnya nggak deras-deras amat. Kalau sekarang, dari suaranya, kayanya aliran air cukup deras. Hati-hati meniti jembatannya."
Perkataan Arthur itu membuat teman-temannya siaga. Tapi selain siaga, beberapa di antara mereka jadi dibuat berpikir.
Salah satunya Indi. Gadis itu mengajukan pertanyaan, "Sungai itu bermuara ke mana, ya? Pantai bukan?"
"Kayanya sih gitu,” timpal Verrel. Pemuda itu menanggapi dengan santai lantaran tak memahami ke arah mana pembicaraan Indi.
Indi pun melanjutkan ucapannya, “Kalau jatuh di sungai, bisa terbawa arus sampai ke laut, dong? Terus kalau ke laut, ya udah bakalan hilang deh jejaknya.”
Rick tampak sensi dengan ucapan Indi. Pemuda itu lantas menyenggol bahu Indi agar gadis itu berhenti bicara.
“Maksud lo, In?” Lain halnya dengan Rick, Shana justru memancing pembahasan itu berlanjut.
Indi mengedikkan bahu. “Gue cuma memikirkan kemungkinan terburuk soal hilangnya Seva. Tapi ya gue yakin Seva nggak seteledor itu kok buat membahayakan nyawanya sendiri.”
Shana menganggukkan kepala, gadis itu mengerti apa yang coba Indi sampaikan. Karena sebenarnya, Shana juga memikirkan kemungkinan terburuk itu.
“Ayo lanjut jalan,” ujar Arthur dengan nada dinginnya. Pemuda itu sepertinya kesal karena teman-temannya terlalu banyak bicara alih-alih mencari.
Saat akhirnya mereka sampai di sungai, mereka kembali berhenti berjalan. Di sana mereka mencari dengan teliti, melihat sampai ke bagian bawah jembatan, dan meneliti bebatuan di pinggir sungai.
Sampai akhirnya, Arthur memberitahu mereka sesuatu. “Kalian lihat ke sana,” ujar Arthur menunjuk ke satu titik di tepi sungai. Yang Arthur tunjuk itu adalah kubangan lumpur dan di sekitarnya tampak bebatuan yang kotor oleh lumpur itu.
Semua orang memperhatikan itu dengan perasaan mereka yang berdesir aneh. Beberapa dari mereka bahkan dibuat merinding hanya dengan melihat itu. Debar jantung mereka juga jadi tidak beraturan.
“Aduh, perasaan gue udah nggak enak, nih,” gumam Agatha sembari meraih lengan Verrel untuk ia jadikan pegangan hidup.
“Jangan pada ngomong yang aneh-aneh dulu,” tegur Rick. Ia berseru dengan optimis, “Anggap aja ini pertanda baik, petunjuk di mana kita bisa secepatnya menemukan Seva.”
Kelima orang lainnya tampak berusaha berpikiran seperti apa yang Rick contohkan. Meski beberapa dari mereka gagal karena alasan mereka juga memikirkan medan di sekitar sungai yang berbahaya.
“Seva!” teriak Arthur dengan lantang secara tiba-tiba. Suaranya menggema pelan dan hampir tak terdengar jika dari kejauhan karena suara riuh air. Dari tindakannya itu, Arthur memiliki harapan bahwa Seva tidak merespon karena suara riuh air membuat suara masing-masing dari mereka tidak terdengar, baik Seva yang meminta tolong maupun Arthur dan rombongan yang mencari Seva.
Akhirnya mereka membagi tugas. Tiga orang turun ke tepi sungai untuk mencari Seva di area sungai yang menjauhi jembatan. Sementara tiga orang sisanya mencari di setelah sungai.
Agatha, Verrel, dan Indi memilih tetap berada di atas jembatan dan melanjutkan langkah mereka menyeberangi sungai itu. Sementara Shana, Arthur, dan Rick dengan berhati-hati memilih turun ke pinggiran sungai.
“Di sini nggak ada buaya, kan?” tanya Shana khawatir. Melihat air yang begitu keruh, ia tidak yakin apa saja yang ada di dalam sungai itu.
Arthur mengedikkan bahu sambil berkata dengan tidak melegakan sama sekali, “Gue juga nggak tahu.”
“Kayanya nggak ada sih,” timpal Rick. Tapi kemudian pemuda itu kembali berkata, “Yang ada itu ular. Barusan gue lihat ular berenang.”
Mendengar itu, kaki Shana langsung lemas. Ia mendadak berhenti melangkah, membuat Arthur yang berjalan di belakangnya jadi sedikit menabrak Shana karena tidak siap dan tidak menduga Shana akan berdiri mematung di tempat.
Rick yang merasa telah salah bicara pun buru-buru mengoreksi ucapannya, “Aman tapi, Sha. Ularnya masuk ke air tadi. Ke arah sana, bukan ke arah kita.”
“Gimana kalau di dalam air dia puter arah?” tanya Shana. Sangat jelas, gadis itu mulai over thinking karena tertekan di situasi seperti itu.
Arthur meremas bahu Shana, memberi gadis itu motivasi untuk menguatkan diri. “Lo tenang aja, Sha, gue jaga di belakang. Nggak akan gue biarin ular atau hewan berbahaya lainnya mendekat,” janji Arthur.
Setelah itu, Shana kembali memperhatikan depan. Ia pun memberanikan diri untuk kembali melangkah.
Akhirnya ketiga pemuda itu tiba juga di kubangan lumpur. Mereka lantas melihat ke mana jejak sepatu itu mengarah.
Arthur menduga jejak itu mengarah ke sebuah tebing yang berada di pinggir sungai itu. Dilihat dari jejak sepatunya yang kecil-kecil seperti sepatu perempuan, bisa diduga itu adalah milik Seva. Jadi kemungkinan besar Seva pergi ke tebing itu dengan tujuan yang belum Shana, Arthur, dan Rick ketahui.
“Tapi kalau Seva masih di sini, kenapa sepatunya ada di tempat penampungan air di dekat kamar mandi?” Sambil berjalan, Shana menggumamkan pertanyaan.
“Itu juga yang gue nggak ngerti,” timpal Rick. Ia ternyata memang sebanyak omong itu. Meski hitungannya ia baru saja mengenal Shana, namun setiap kali Shana bicara pasti Rick menimpalinya.
Sementara Arthur, pemuda itu sudah tidak berselera untuk kebanyakan bicara. Ia menukas, “Nanti, lah, kalian tanya langsung sama Seva. By the way, jejak sepatunya cuma sampai sini. Ternyata nggak sampai ke tebing di depan.”
“Lah iya ya, sampai sini aja masa.” Lagi-lagi Rick menimpali. Ia sambil celingukan melihat ke kanan dan ke kiri untuk mencari petunjuk lagi.
Shana tampak menyipitkan matanya dengan serius. Tangannya memberi isyarat kepada Arthur dan Rick untuk melihat ke sebuah titik. Belum sampai ke tebing memang, karena Seva nyatanya ambruk begitu saja di salah satu celah bebatuan besar di tepi sungai.
Arthur berlarian menghampiri Seva, disusul Shana dan Rick. Sambil menghampiri Seva, Arthur mengabari panitia yang sepertinya belum mulai jalan mencari. “Cek, cek! Seva udah ketemu. Kalian nggak usah ke sini,” ujarnya melalui walkie talkie.
Setelah bicara dengan singkat, padat, dan jelas itu, Arthur pun tidak lagi mengurusi walkie talkie-nya. Ia kemudian membantu Shana dan Rick yang mencoba menyadarkan Seva. Sekilas melihat kondisi Seva, Arthur yakin Seva tidak pingsan karena mengalami luka berat di bagian-bagian anggota tubuh yang penting dan riskan.
“Kemungkinan besar dia dehidrasi,” ujar Arthur, “dan kakinya terkilir. Makanya dia nggak bisa pergi dari sini.”
“Terus gimana, nih?” tanya Rick, menunggu perintah untuk mengambil tindakan.
Arthur memerintahkan agar Rick memanggil Verrel ke tempat itu. Sementara ia meminta agar Agatha dan Indi menunggu di atas saja—mengingat medan yang sulit, bisa-bisa kalau semua orang turun, justru akan menambah korban cedera.
Namun Shana tak setuju dengan Arthur. Ia memang membawa peralatan P3K. Namun Shana tak benar-benar tahu apa yang harus dilakukan dengan kondisi kaki Seva itu. Sehingga menurut Shana, akan lebih baik jika Agatha turun dan membantu mengurusi kaki Seva yang terkilir.
“Gue bisa, Sha,” yakin Arthur. Pemuda itu lantas mengambil alih untuk memberikan pertolongan pertama pada Seva sebelum gadis itu dievakuasi.
Shana pun berusaha membangunkan Seva. Setelah ada tanda-tanda gadis itu siuman, Shana segera menyodorkan air mineral. “Minum dulu,” ujar Shana pada Seva.
Seva yang masih lemas pun dibantu Shana untuk menenggak isi botol air mineral itu. Sesekali Seva mengaduh kala Arthur berusaha mengamankan cederanya.
“Gue takut, Sha,” ujar Seva sembari mulai berlinang air mata. Bibirnya yang pucat dan tampak gemetaran.
Shana menenangkan Seva dengan kata-kata yang terlintas begitu saja di kepalanya. Setidaknya ia harus mengalihkan perhatian Seva dari ketakutannya sementara waktu ini.
Sementara Arthur, ia beberapa kali beranjak dari sana untuk mencari bahan-bahan seperti ranting dan kayu untuk membuat bidai improvisasi. Arthur mati-matian memutar otak, menerapkan apa yang pernah ia pelajari sebelumnya meski ia sempat lupa-lupa ingat.
“Lo yakin ini aman kan, Ar?” Shana berbisik pada Arthur dengan lirih, tak ingin Seva ikutan mendengarnya. Bisa-bisa gadis itu makin tertekan kalau tahu dijadikan pasien malapraktik.
Arthur menganggukkan kepala. “Gue pernah belajar ini sama bokap lo, Sha. Gue akan berhati-hati.”
Shana pun kembali mencoba memberikan kepercayaan kepada Arthur. Gadis itu lantas sibuk mengalihkan perhatian Seva, sedikit memancing juga siapa tahu Seva mau bercerita.
Namun tak lama kemudian, bertepatan dengan Arthur yang selesai membidai improvisasi dengan bidai improvisasi itu, datangnya Rick bersama Verrel.
Para kaum adam itu pun berdiskusi bagaimana caranya mereka bisa membawa Seva ke tempat mereka berkemah. Mereka tidak memiliki tandu, sementara Seva cedera di bagian kaki sehingga tidak memungkinkan untuk gadis itu dibiarkan berjalan sendiri. Dan jelas, Seva juga tidak bisa melakukannya. Kalau bisa, sudah pasti Seva tak akan berdiam pasrah di sana. Gadis itu akan berjalan pulang dengan sendirinya kalau kakinya sehat.
“Kita papah atau kita gendong bergantian,” saran Verrel, “paling beratnya berapa, sih? Empat puluh kilogram masih kuat lah gue.”
Arthur tampak melempar kesempatan bicara pada Rick, “Lo gimana?”
Rick mengangguk-angguk kecil. Ia menggumam, “Apapun pilihan kalian, gue setuju-setuju aja, sih.”
“Gue mending yang gendong kalau memang kalian semua sanggup. Nanti kita estafet aja, jarak berapa ratus meter, kita gantian,” ujar Arthur tanpa berbasa-basi lagi. Pemuda itu tak bisa bersantai karena hari sudah semakin sore. Jangan sampai mereka terjebak di hutan itu sampai malam. Akan jadi lebih rumit masalahnya jika demikian.
Akhirnya, Arthur yang kebagian tugas pertama untuk menggendong Seva. Medan terjal di sekitar sungai dengan bebatuan besar dan kubangan tanah becek di sela-selanya membuat Arthur harus ekstra hati-hati. Salah-salah, ia bisa terjengkang.
Untungnya, Shana dan Verrel mau menjaga dari belakang. Mereka memastikan Arthur tetap seimbang.
Sekitar sepuluh menit kemudian, akhirnya mereka tiba juga di atas. Mereka lantas melanjutkan langkah ke arah mereka datang tadi. Dan untungnya, jalan di sana meski ada yang setapak dan ada yang tidak, namun cukup jelas arahnya. Sehingga kecil kemungkinan mereka akan tersasar meski hari sudah petang.
Hanya saja ada alasan kenapa Arthur tidak ingin mereka masih berada di hutan malam-malam. Salah satunya karena hewan liar yang mungkin akan muncul ketika malam hari. Meski panitia sendiri sudah mengatakan bahwa di sana tak ada hewan buas, namun buktinya Rick saja melihat ular. Hewan-hewan seperti itu tentu lumrah berada di pulau kecil, hampir tidak berpenghuni di sebagian besar wilayahnya, dan masih terdiri dari hutan. Intinya, meski pulau itu dijadikan kawasan resort dan tempat liburan, tidak menutup kemungkinan bahwa pulau itu masih kental akan kealamiannya.
“Mau gantian?” tawar Rick sembari berjalan menyejajari Arthur.
Verrel yang berjalan paling belakang tampak menyuruh Arthur untuk menerima tawaran Rick. Pemuda itu setengah berteriak dan berkata, “Jangan capek-capek, Ar. Sekarang gantian dulu. Nanti gampang, kalau Rick dan gue udah sama-sama capek, lo bisa ambil alih lagi.”
“Iya, Ar, ketimbang lo tepar kan jadi nggak lucu,” timpal Shana.
Ya, memang akan jadi tidak lucu kalau Arthur kecapaian dan tepar di tengah jalan. Siapa yang akan menggotong Arthur kalau pemuda itu tumbang?
Arthur pun berhenti melangkah. Ia meminta Seva menapakkan kakinya yang sehat ke tanah, sementara Agatha, Shana, dan Indi kompak membantu Seva berdiri dengan benar. Arthur kemudian berujar, “Sev, pindah ke punggung Rick, ya?”
“Oke, thanks ya. Sorry banget, gue di sini malah ngerepotin kalian semua,” ujar Seva tak enak hati.
“Glad to help,” ujar Agatha, “tapi nggak usah sorry-sorry, lebih baik lo sekarang pindah deh itu ke punggung Rick biar kita bisa lanjut jalan sebelum tambah sore.”
Dan perjalanan pun dilanjutkan setelah Seva berpindah ke punggung Rick. Kali ini, semua pengawasan tertuju pada Rick untuk memastikan pemuda itu berjalan dengan benar dan aman.
***