Saat akhirnya Arthur dan Verrel mendekat, mereka menyapa Shana dan Agatha. Tentu saja mereka juga terkejut melihat Shana dan Agatha berdiri menghadang mereka.
"Kalian habis dari mana?" tanya Agatha tampak penasaran berat.
Verrel menoleh kepada Rick dan memberi suatu isyarat. Sementara Rick yang paham dengan itu pun langsung mengangkat sepasang sepatu basah dan berlumpur.
"Habis dari kamar mandi karena ada laporan kalau airnya keruh. Hea minta tolong kita buat ngecek ke tangki air. Ternyata ada sepatu ini di sana." Verrel menjelaskan.
Agatha tampak ber-oh-ria. Kemudian dengan sedikit sarkas, gadis itu kembali bertanya, "Emang panitia lain nggak ada ya? Sampai-sampai Hea selalu melibatkan peserta makrab buat mengurus ini dan itu."
Shana menoleh dan menatap tajam ke arah Agatha. "Tha, lo apa-apaan, sih?" desis Shana. Gadis itu merasa malu karena sobatnya bicara dengan begitu frontal.
Sementara Agatha hanya mengedikkan bahu dengan enteng, tampak tak merasa ucapannya salah.
Menanggapi ucapan Agatha tadi, Hea hanya tersenyum simpul. Gadis itu tampak tidak berniat meladeni Agatha dan rasa kesalnya. "Gue permisi dulu ya. Kalian jangan lupa makan siang."
"Dih, ucapan gue nggak digubris malah langsung cabut aja," gerutu Agatha saat Hea sudah berlalu.
Verrel menarik napas dalam kemudian mulai menegur pacarnya itu, "Tha, lo jangan gitu lah. Yang Hea lakukan itu juga demi kenyamanan peserta."
Agatha berdecak. Ia tetap ngenyel, "Tapi tetap aja, Hea itu selalu cari-cari kerjaan buat kalian lakukan."
Verrel memejamkan mata sejenak sembari jarinya memijat pangkal hidungnya. Ia kemudian menjelaskan, "Tadi beberapa peserta kasih laporan kalau air di kamar mandi itu keruh dan kotor. Padahal setahu Hea kan air di sana sejak kemarin bersih. Makanya, dia minta bantuan ke gue, Arthur, sama Rick buat ngecek. Takutnya kan ada apa-apa mengingat kejadian kemarin malam. Panitia lain juga takut masalahnya. Ternyata ada sepatu penuh lumpur ini. Ada yang iseng paling."
Agatha sempat akan membuka mulutnya lagi. Namun itu ia urungkan lantaran Shana mendadak bicara yang tidak-tidak.
"Sepatu itu kok mirip punya Seva ya?" celetuk Shana segera setelah Verrel membahas soal sepatu. Gadis itu pun menghampiri Rick dan berujar, "Coba gue lihat."
Shana mengamati sepatu yang tampak belepotan lumpur. Namun sepatu itu sudah cukup bersih karena pastinya sudah lama terendam di dalam air.
"Benar punya Seva, Sha?" tanya Arthur dengan penasaran. Pemuda itu turut mendekat ke arah Rick.
Shana memicingkan mata dan menganggukkan kepala dengan pelan. "Kayanya sih iya. Coba gue lihat foto Seva di hape gue. Siapa tahu dia lagi pakai sepatu itu."
"Kalau itu benar sepatu Seva, terus Sevanya di mana, Sha? Dia pergi nyeker gitu?" Agatha keheranan.
Shana jadi cemas mendengar pertanyaan Agatha. Kalau yang diketemukan hanya sepatunya, lalu bagaimana nasib gadis itu. Sedikit tidak mungkin kalau Seva berjalan-jalan tanpa alas kaki.
"Ini aneh sih," gumam Verrel. "Dia nggak bilang mau pergi ke mana?"
"Ar," panggil Shana. Ia menunjukkan layar ponselnya ke hadapan Arthur. "Coba deh, menurut lo, ini sepatu yang sama, kah? Takutnya karena gue lagi cemas, penglihatan gue jadi bias."
Arthur fokus mengamati untuk beberapa saat. Kemudian ia mengangguk. "Besar kemungkinan, ini sepatu yang sama."
"Ah, s**t!" umpat Agatha. Ia pun mencolek-colek Shana dan merengek, "Gimana dong, Sha?"
Shana meminta kepada teman-temannya untuk bergerak mencari Seva saja alih-alih makan siang. Karena jika mereka makan siang terlebih dahulu, itu akan memperlama waktu pencarian.
Shana kemudian memberi komando dan membagi tugas. "Gimana kalau kita pergi berpasang-pasangan? Kita berpencar buat cari Seva. Nanti kita coba tanya ke orang-orang juga buat melacak jejak Seva. Setuju nggak?"
"Setuju," gumam Arthur.
Yang lain pun tampak menyusul menyetujui saran Shana itu. Mereka membelah jadi dua kelompok, Shana dengan Arthur, sementara Agatha dengan Verrel. Tersisalah Rick yang masih sendirian.
"Tadi Indi bilang mau ikut nyari Seva, sih," celetuk Agatha, "gimana kalau Rick ke tenda kami aja? Dia masih di sana soalnya."
Rick tampak mengangguk-anggukkan kepalanya. Daripada sendirian, ia lebih memilih menghampiri Indi terlebih dahulu.
"Ya udah, kita gerak sekarang, ya?" tanya Shana sambil menatap satu per satu temannya.
"Wait a minute!" Agatha memberhentikan pergerakan teman-temannya yang sudah akan berpencar saja. "Kita kontak-kontakannya gimana, nih? Gimana kalau hasilnya nihil? Terus ketemuan lagi di mana? Kita nggak bisa pakai hape, lho!"
Shana melirik ke arah Arthur. Biasanya untuk urusan seperti ini, Arthur jago.
"Kita bagi tugas yang jelas dari sekarang. Gue sama Shana akan coba nyari di jalur kiri sampai ke belakang sana. Sementara Verrel dan Agatha akan ambil jalur kanan sampai ke belakang. Rick dan Indi lewat jalur tengah aja. Tapi sebelum jalan jauh-jauh ke sana, kalian harus tanya-tanya ke orang dulu. Siapa tahu dari mereka ada yang sempat liat Seva. Batas tanya-tanya sampai jam tiga sore. Kita kumpul lagi di tempat pos pemantauan penjaga pantai di depan sana. Nanti di sana kita bicara lagi kalau ada perubahan rencana karena informasi yang kita dapat." Sudah bisa diduga, Arthur akan menjelaskan dengan begini detail. Bahkan pemuda itu menambahkan, "Nanti kita udahan sebelum petang. Kalau Seva belum ketemu juga, kita lapor ke panitia."
Semua orang mengangguk setuju. Kali ini, mereka sungguh memahami dan mengerti dengan jelas harus bertindak ke arah mana.
"Satu lagi, ada yang belum punya foto Seva?" tanya Arthur pada ketiga temannya, selain Shana.
Agatha berceletuk, "Gue ada sih."
"Gue yang belum punya," ujar Rick sembari mengangkat tangan. "Siapa tau Indi juga nggak punya, gue minta aja buat jaga-jaga."
"Boleh," kata Shana. Gadis itu pun menyodorkan ponselnya pada Rick agar Rick bisa mendapatkan foto Seva yang ada di ponselnya. Karena sinyal ponsel benar-benar sulit didapatkan, mereka mengakali dengan berbagai cara untuk bisa mengirimkan foto itu, dengan Bluetooth salah satunya.
Jadi setelah semuanya siap, mereka mulai berpencar.
***
Shana dan Arthur sudah bertanya ke sana kemari sembari menyodorkan layar ponsel Shana yang menampilkan wajah Seva. Beberapa dari mereka mengatakan bahwa mereka tidak melihat Seva. Beberapa lainnya mengatakan bahwa mereka melihat Seva saat gadis itu lari pagi, alias pergi bersama Shana tadi. Lalu hanya segelintir orang yang mengatakan bahwa mereka melihat Seva berjalan naik ke perbukitan atau hutan di belakang perkemahan mereka.
"Di jalur yang kita para peserta diajak jalan-jalan panitia kemarin," jelas salah satu dari tiga orang pemuda yang saat itu sedang beristirahat setelah bermain air di pantai.
Seingat Shana, tadi ketiga pemuda itu lah yang tiba-tiba merusak suasana di tempatnya bermain air, di balik dinding atau tebing batu karang. Tapi Shana sadar, dia terlalu egois. Kenapa dia merasa terganggu padahal itu memang tempat umum.
"Oke, makasih, ya," kata Shana kepada pemuda yang menjelaskan barusan.
Shana sudah akan berbalik pergi, namun Arthur tampak masih ingin tinggal. Rupanya ada yang ingin Arthur tanyakan lagi kepada ketiga pemuda itu. Arthur buka suara, "Kalian lihatnya jam berapa?"
"Pagi kayanya," jawab yang lain, "kami juga baru bangun tidur terus mau jalan-jalan di sekitar perkemahan."
Arthur menganggukkan kepala dan berujar dengan gayanya yang super datar, "Thanks."
"Iya, santai aja," balas salah satu dari tiga pemuda itu. Lantas mereka juga sempat mendoakan usaha pencarian Seva yang dilakukan Shana dan Arthur agar membuahkan hasil. "Semoga cepat ketemu."
Setelah berpamitan, Arthur dan Shana pun cabut dari sana. Mereka lantas bergerak menuju ke titik kumpul yang sudah Arthur tentukan sebelumnya. Di sana, mereka akan menyampaikan informasi itu kepada teman mereka yang lain. Karena bagaimana pun, kemungkinan besar akan ada perubahan rencana. Mereka tidak akan mencari ke tempat-tempat yang sekiranya terlalu jauh dari jangkauan Seva.
"Agatha lama amat," gumam Shana sambil mengipasi wajahnya yang kepanasan. "Mateng nih kalau kita kelamaan nunggu di sini, Ar."
Arthur mendongak, menatap ke langit yang memang sangat cerah hari ini. Pemuda itu pun berinisiatif melepas topinya dan memasangkan topi itu ke kepala Shana. "Lumayan buat menghalau panas matahari," katanya, "biar rambut lo nggak rusak juga."
Shana mengulum senyum. Ia tidak menyangka kalau Arthur yang biasanya cuek bebek kini benar-benar peka maksimal. Jadi bagaimana mungkin Shana tidak melting sekarang ini?
"Makasih lho, Ar," katanya malu-malu.
Arthur hanya mengangguk singkat. Sudah sewajarnya respons Arthur sangat minimalis begitu.
Setelah menunggu barang lima belas menit, terlihatlah Agatha dan Verrel berlarian menuju ke arah Shana. Dari kejauhan itu, Agatha sudah berteriak-teriak, "Ada info, ada info!"
Shana meringis ngeri. Melihat Agatha kelewat heboh begitu membuat Shana jadi merasa tertekan.
"Tha, Tha, heboh bener deh," ujar Shana saat Agatha sudah berada di dekatnya. Shana juga menegakkan tubuhnya agar bisa bicara lebih serius dengan teman-temannya. Ia berujar, "Kurang Rick sama Indi. Gimana nih?"
"Gue tadi lihat dia di sana. Kayanya bentar lagi ke sini deh,” terang Verrel.
Dan sesaat setelahnya, batang hidung Rick kelihatan juga. Sontak Verrel meneriakinya untuk mendekat.
“Gue belum dapat apa-apa, nih,” lapor Rick, “tadi kelamaan nunggu Indi.”
“Gue kan emang tadi niatnya mau nyusul aja. Makanya belum siap,” balas Indi membela diri.
Shana menenangkan mereka. Ia mengatakan bahwa ia dan Arthur sudah dapat informasi, juga sama halnya dengan Agatha dan Verrel.
Jadi setelah semua berkumpul itu, Agatha diberi kesempatan untuk menyampaikan informasi yang ia dan Verrel dapatkan terlebih dahulu. “Jadi ada yang lihat Seva pergi ke arah hutan di belakang. Track yang waktu itu kita diajak jalan-jalan sama panitia. Kemungkinan besar, dia masuk lebih jauh ke dalam sana. Kalau info yang lo dapet apa, Sha?”
“Sama kaya yang lo bilang barusan,” timpal Shana. Ia menambahkan, “Kemungkinan Seva udah pergi ke sana sejak pagi. Sejak kita berpencar-pencar dan dia pergi sendiri buat ngisi waktu.”
“Duh, gue jadi merasa bersalah,” ujar Indi sambil tersenyum kecut. Ia pun mengomeli dirinya sendiri, “Harusnya gue tetap sama dia aja alih-alih pergi sama Cairo.”
Mendengar itu, tentu kelima temannya langsung melarang Indi menyalahkan dirinya sendiri. Mereka mengatakan bahwa siapa juga yang akan tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Bukan salah Indi jika gadis itu punya aktivitasnya sendiri.
“Yang harus disalahin itu ketiadaan sinyal di sini,” gerutu Verrel kemudian. Pemuda itu memicingkan mata menatap ponselnya yang hampir kehilangan fungsi karena seluruh aktivitasnya terhambat lantaran tak ada sinyal.
Agatha mengangguk takzim. “Setuju banget. Coba kalau di sini ada sinyal, udah pasti kita akan dengan mudahnya berkirim kabar, berbagi lokasi, dan nggak ada yang namanya ilang-ilangan kaya gini.”
Semua lantas terdiam barang beberapa menit. Mereka seperti sibuk menyelami pikiran masing-masing.
Sampai akhirnya, Arthur kembali buka suara, “Jadi ini fiks Seva hilang, ya?”
“Iya,” balas Shana singkat.
“Fiks banget!” seru Agatha dengan sangat yakin.
“Kemungkinan dia nyasar sih,” kata Rick.
Arthur mengangguk mengerti. Ia pun memerintahkan agar teman-temannya segera mencari ke jalur yang mungkin Seva lalui. Tak lagi ada pembagian kelompok, Arthur meminta keempat orang itu pergi bersama-sama saja.
“Tapi meskipun kalian jalan bareng, kalian tetap harus memperhatikan sekeliling dengan saksama. Karena bisa aja Seva pingsan, tergelincir masuk ke jurang, atau ada hal lain yang bikin dia enggak bisa balik,” pesan Arthur, “jangan lengah karena mengandalkan yang lain. Terus kalau hari udah hampir petang, kalian balik aja sekiranya kalian nggak siap sama peralatannya.”
“Siap, Ar! Ada hape sih ini, bisa lah buat senter.”
“Oke, Pak Bos.”
“Laksanakan!”
Empat orang itu pun bergerak menuju ke jalur yang mereka lewati saat jalan-jalan kemarin. Mereka tampak berjalan pelan-pelan sembari melihat-lihat sekitar.
Yang tersisa di tempat hanyalah Shana dan Arthur. Mereka pertama-tama akan mengabari panitia bahwa salah satu peserta mereka hilang. Shana dan Arthur juga akan mempersiapkan beberapa peralatan yang lebih memadai serta meminta bantuan dari panitia untuk melakukan pencarian.
“Semoga aja Seva segera ditemukan dan dia baik-baik aja ya, Ar,” gumam Shana saat berjalan dengan langkah lebar-lebar menyusuli Arthur menuju ke ruangan panitia di aula.
Arthur menganggukkan kepala. “Semoga aja,” balasnya.
Saat tiba di ruang panitia di aula, Arthur pun bertanya kepada Shana, “Lo mending ke ruang kesehatan, siapin beberapa obat yang sekiranya bakalan diperlukan kalau ternyata Seva cedera atau terluka makanya dia nggak bisa balik ke sini. Gue akan bicara sama panitia.”
Shana mengiakan. Dengan sigap, ia melipir keluar dari aula dan berlari-lari kecil menuju ke ruang kesehatan. Di sana ia meminjam seperangkat tas P3K dan isinya. Tak butuh waktu lama, ia sudah kembali pada Arthur.
Bertepatan dengan itu, Arthur juga sudah selesai bicara dengan Hea, Cairo, Ganendra, dan beberapa panitia lainnya. Dibantu Arthur mereka lantas menyiapkan peralatan seperti headlamp, tali, dan peralatan lainnya yang akan membantu dalam mencari orang hilang.
Saat semua sudah beres, Hea mengajukan diri untuk ikut bersama Shana dan Arthur mencari Seva. Lalu Cairo yang tahu adiknya turut pergi mencari Seva ke dalam hutan pun tak mau kalah untuk tidak tinggal diam di sana. Yang terakhir, Ganendra juga mengajukan diri. Meski sebenarnya pemuda itu masih ada tugas lain sebagai seorang panitia.
“Aman lah, Ndra, ini udah hampir siap. Lo pergi aja, sisanya biar gue sama Sania yang urus,” ujar Rebecca.
Akhirnya Shana dan Arthur berangkat duluan untuk menyusul Verrel dan kawan-kawan. Hea menitipkan walkie talkie kepada Arthur untuk berbagi informasi dan berkoordinasi nanti. Sementara Hea, Cairo, dan Ganendra akan menyusul karena mereka juga perlu siap-siap terlebih dahulu.
“Kak Hea,” panggil Shana sopan. Setelah Hea menoleh, gadis itu pun melanjutkan ucapannya, “tolong bawain kami air yang cukup ya.”
“Oke,” setuju Hea. Ia pun memerintah Sania dan Rebecca untuk memasukkan air mineral ke dalam tas P3K juga peralatan yang akan Shana dan Arthur bawa.
***