bc

Pacarku Ternyata Pewaris Tersembunyi

book_age16+
26
IKUTI
1K
BACA
heir/heiress
drama
bxg
brilliant
campus
city
highschool
poor to rich
civilian
like
intro-logo
Uraian

Dia miskin. Pendiam. Bahkan kadang terlihat canggung.

Semua orang memandangnya sebelah mata—termasuk aku.

Kupikir dia hanya siswa biasa, pria cupu yang terlalu polos untuk dunia kampus penuh gengsi ini. Tapi segalanya berubah ketika satu rahasia kecil terungkap:

Cowok sederhana itu ternyata pewaris kerajaan bisnis raksasa.

Kini aku terjebak dalam dunia barunya—penuh kemewahan, intrik, dan ancaman tersembunyi.

Sementara itu, dia mulai menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya:

Seorang pria dingin, kuat, dan... sangat protektif padaku.

Apakah perasaanku padanya masih bisa disebut cinta…

…kalau ternyata sejak awal dia sudah menyamar?

> Antara cinta tulus dan kebohongan manis, mana yang akan menang?

---

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1: Anak Kos di Antara Anak Sultan
Langit pagi di atas kampus Universitas Madya Raya tampak bersih, hampir tak berawan. Gedung-gedung modern berdiri megah, dikelilingi pepohonan rimbun dan jalanan paving block yang bersih dari sampah. Di area parkir, deretan mobil mewah berjejer, mencerminkan kelas sosial para mahasiswa yang menempatinya—anak-anak dari kalangan elite, orang-orang dengan marga yang dikenal di media dan daftar Forbes lokal. Alvaro Dirgantara melangkah melewati trotoar dengan sepasang sepatu kanvas kusam yang mulai mengelupas di ujungnya. Ia mengenakan celana jeans biru gelap dan hoodie abu-abu polos yang sudah mulai memudar warnanya. Ransel hitam tua menempel di punggungnya, sedikit robek di bagian samping. Ia tak tampak mencolok. Dan memang, itu yang dia inginkan. Hari ini adalah hari pertamanya sebagai mahasiswa semester satu di jurusan Manajemen Bisnis Internasional—program unggulan di kampus ini. Universitas Madya Raya dikenal sebagai kampus yang hanya bisa dimasuki oleh tiga jenis manusia: anak pejabat, anak pengusaha, atau anak orang dalam. Tapi Alvaro berbeda. Dia masuk dengan jalur yang tak biasa. Bukan lewat uang atau koneksi, tapi lewat jalur mandiri... dengan dokumen palsu dan nama samaran. Tak ada yang tahu siapa dia sebenarnya. Di mata dunia, Alvaro hanyalah seorang anak yatim piatu yang hidup pas-pasan dan berjuang demi masa depan. Nyatanya, dia adalah satu-satunya putra dari pemilik Dirgantara Corporation, konglomerat teknologi dan properti multinasional yang sahamnya menggerakkan ekonomi Asia Tenggara. Namun tak seorang pun tahu itu. Belum. --- 07.48 WIB – Lobi Gedung Fakultas Bisnis "Eh, lihat deh cowok itu..." bisik seorang mahasiswi pada temannya sambil menunjuk ke arah Alvaro. Mereka berdiri di dekat vending machine, tertawa pelan sambil mengamati penampilan Alvaro dari ujung rambut sampai sepatu. "Ya ampun... dia beneran masuk sini? Seriusan tuh tas? Kayak warisan jaman bapaknya kuliah!" “Fix dapet beasiswa kasihan. Atau mungkin nyasar…” Alvaro tetap berjalan, tidak menoleh sedikit pun. Suara bisik-bisik dan tawa kecil semacam itu sudah menjadi makanan sehari-harinya sejak ia mulai ‘menyamar’. Ia tidak butuh pengakuan dari mereka. Setiap langkah yang ia ambil punya tujuan. Tujuannya bukan untuk diterima… tapi untuk mengamati. Dan menunggu waktu yang tepat. --- 08.00 WIB – Ruang Kelas G.207 Kelas dipenuhi aroma parfum mahal, bunyi dering ponsel terbaru, dan suara bisik-bisik dari sekelompok mahasiswa yang duduk berdekatan. Beberapa dari mereka saling pamer jam tangan, yang lainnya membuka aplikasi saham dan berbicara tentang portofolio investasi mereka—hal yang terdengar seperti bahasa alien bagi sebagian besar mahasiswa biasa. Alvaro mengambil tempat duduk di pojok belakang, tepat di samping jendela. Ia mengeluarkan buku catatan dan pulpen hitam sederhana. Tak satu pun dari mereka yang menyapanya. “Ehem,” seseorang berdeham di dekat pintu. Seluruh ruangan langsung hening ketika seorang gadis dengan aura kuat memasuki ruangan. Rambut hitam panjangnya tergerai, mengenakan kemeja putih pas badan dan rok pensil abu-abu. Tas bermerk menggantung di bahunya. Dia berjalan seolah ruangan itu adalah catwalk-nya. “Nayla Kirana…” bisik seseorang. “Anak tunggalnya pengusaha properti Kirana Group…” Alvaro mengangkat kepalanya. Matanya bertemu dengan milik Nayla—sebentar saja. Tak ada senyum. Hanya tatapan singkat yang sama sekali tidak memberi kesan bahwa mereka akan terlibat dalam takdir yang saling terkait di masa depan. --- 10.15 WIB – Area Taman Kampus Kelas selesai lebih cepat dari jadwal. Alvaro duduk di bangku taman, membuka bekal roti isi sederhana dari kantong plastik bening. Ia makan pelan, menikmati udara segar dan suara dedaunan yang bergoyang. Di sisi lain taman, Nayla duduk bersama dua temannya. Mereka tertawa sambil memperlihatkan postingan i********:, lalu membicarakan pria-pria di kelas tadi. “Sumpah deh, cowok yang duduk paling belakang itu... kayaknya bukan anak sini deh,” ucap salah satu temannya, Sheila. “Yang bawa roti? Astaga, Nay... kamu sempat noleh ke dia nggak sih?” tambah Dara. Nayla menoleh sekilas. Matanya bertemu lagi dengan sosok pria yang sama, yang kini duduk santai dan tampak tak peduli dengan sekitarnya. “Dia kayak... terlalu tenang untuk orang yang ‘berusaha’ diterima. Bukan tipe penjilat.” Sheila dan Dara memandang Nayla dengan ekspresi geli. “Lo... ngelihatin dia?” “Ngga! Gue cuma—yah... penasaran aja. Dia aneh.” Mereka tertawa, tapi Nayla tetap menatap Alvaro. Tatapan pria itu... aneh. Dingin tapi damai. Tidak meminta atensi, tapi seolah tahu dia sedang diperhatikan. --- 12.30 WIB – Tangga Gedung Utama Langkah Nayla terdengar tegas menuruni anak tangga. Suara hak sepatunya memantul di lorong marmer yang dingin. Ia baru saja menerima kabar bahwa ayahnya akan dijemput oleh sopir pribadi untuk menghadiri makan siang keluarga dengan rekan bisnis. Biasanya hal seperti itu membuatnya malas, tapi kali ini ia bersemangat. Ia ingin menunjukkan pada ayahnya bahwa dia bisa lebih dari sekadar gadis manja. Tangga kampus itu tampak sepi. Dan di sinilah segalanya bermula. Dia tak sadar bahwa salah satu tali kecil pada tas tangannya tersangkut di anak tangga. Saat ia melangkah dengan sedikit terburu-buru, tas itu terseret—membuatnya kehilangan keseimbangan. Langkahnya terhenti. Tubuhnya miring. Jatuh. “Akhh—” Sebelum tubuhnya sempat menyentuh lantai, sebuah tangan kuat menangkap pergelangan tangannya. Dengan satu tarikan ringan, tubuh Nayla kembali tegak berdiri. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena hampir jatuh, tapi karena cara lelaki itu memandangnya—datar, tanpa ekspresi, tapi dengan sorot mata yang menghantam lebih keras daripada kata-kata. "Maaf. Kamu nggak apa-apa?" tanya lelaki itu tenang. Nayla terdiam. Butuh dua detik untuk mengenali wajah itu—pria biasa dengan hoodie lusuh dan ransel seperti saku Doraemon itu. Tapi kini, dari jarak sedekat ini, wajahnya tidak sebiasa yang dia ingat. Ada ketegasan di garis rahangnya, dan mata yang... tajam. “Eh… nggak. Nggak apa-apa. Terima kasih,” jawab Nayla cepat-cepat. Pria itu mengangguk, lalu berjalan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi. Seolah kejadian barusan tak berarti apa-apa baginya. Padahal, bagi Nayla... itu terlalu aneh untuk dilupakan. --- 13.00 WIB – Restoran Mewah, Pusat Kota Nayla duduk di meja VIP bersama ayahnya, Pak Kirana, dan seorang pria tua elegan dengan setelan abu-abu. Pria itu membawa tongkat hitam mengilap, meski tubuhnya tampak masih kuat. “Nayla, kenalkan. Ini Om Galendra, teman bisnis Papa sejak lama. Dan kamu harus tahu, dia punya putra satu-satunya yang... luar biasa.” Nayla tersenyum sopan, meskipun hatinya tak tertarik. “Kamu pasti suka kalau ketemu langsung,” tambah Pak Galendra. “Anak saya itu... agak berbeda dari luarannya.” --- 16.00 WIB – Area Belakang Perpustakaan Sementara itu, Alvaro duduk di bangku kayu menghadap danau buatan. Di tangannya, sebuah buku filsafat ekonomi terbuka, tapi pikirannya melayang. Tadi, ia tak sengaja menyentuh tangan Nayla. Ada sesuatu di dalam matanya—mungkin ketidaksukaan, mungkin juga ketertarikan samar. Tapi yang pasti, dia bukan gadis biasa. Tatapan Nayla tidak dibuat-buat seperti mahasiswa lain yang hanya bermain peran sosial. Alvaro menghela napas pelan. Gadis itu, secara tak sengaja, mulai merusak skemanya yang telah ia bangun selama ini: tidak menonjol, tidak dekat dengan siapa pun, tidak terlihat. “Kalau dia jadi terlalu dekat... dia bisa jadi bahaya.” Ia tahu dunia yang ia tinggalkan sementara ini bukan dunia yang mudah dilupakan. Apalagi jika seseorang seperti Nayla mulai curiga. --- 18.45 WIB – Asrama Sederhana di Pinggiran Kota Kamar Alvaro sempit dan bersih. Tak banyak barang di dalamnya, hanya satu meja belajar, satu lemari kecil, dan kasur tipis di sudut ruangan. Di atas meja, sebuah laptop tua terbuka dengan dokumen penuh catatan investigasi. Foto-foto beberapa mahasiswa elit di kampusnya tertempel di dinding. Salah satunya: Nayla Kirana. “Putri Kirana Group. Posisi kuat, tapi tak terlibat konflik. Tak berbahaya… sejauh ini,” gumam Alvaro. Namun, tak seperti biasanya, tangannya ragu untuk mencoret nama Nayla dari daftar "pengamat pasif". Entah kenapa, dia merasa Nayla akan jadi lebih dari sekadar latar belakang. Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari kontak bernama: "D.G HQ - Private Channel" > 🔐 "Target No.3 teridentifikasi sebagai calon mitra akuisisi Kirana Group. Tetap pantau Nayla Kirana. Laporan harian jam 22.00." Alvaro terdiam cukup lama. Apakah dia... target? Atau sesuatu yang lebih dari itu? --- 21.00 WIB – Kamar Nayla Nayla berbaring di tempat tidurnya, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang berputar. Tangan kirinya memegang ponsel, membuka-buka profil kampus di aplikasi internal mahasiswa. "Namanya Alvaro Dirgantara..." gumamnya pelan. Tak ada foto. Hanya nama dan jurusan. Ia sudah mencoba menelusuri media sosial, tapi nihil. Tak ada jejak digital pria itu. Seolah-olah dia tidak pernah eksis sebelum hari pertama kuliah. Dan itu... membuat Nayla makin penasaran. "Apa mungkin dia ngumpet karena malu miskin?" bisiknya sendiri, lalu mendesah. "Atau... karena ada yang disembunyikan?" Suara notifikasi memecah lamunannya. 📩 Sheila: Lo masih mikirin cowok lusuh itu? Haha Nay... fix lo mulai aneh. Nayla tertawa kecil. Tapi dalam hatinya, ia tahu ada sesuatu yang tak bisa dia abaikan. --- 22.15 WIB – Asrama Alvaro Alvaro duduk menghadap laptop, headset terpasang. Di layar, video call terenkripsi menampilkan wajah seorang pria paruh baya berdasi. “Laporanmu soal Nayla Kirana tidak lengkap,” suara pria itu terdengar dingin. “Ada perubahan. Dia sempat tertarik pada saya… secara tidak disengaja,” jawab Alvaro pelan. “Jaga jarak. Dia adalah anak dari mitra strategis. Jika terlalu dekat, bisa berisiko.” Alvaro mengangguk. Tapi hatinya tidak semantap biasanya. Kali ini… dia ragu. “Apa saya bisa pilih pendekatan berbeda?” tanyanya pelan, nyaris tak terdengar. Pria itu menatapnya tajam dari layar. “Kamu sedang di bawah tugas penyamaran. Jangan campurkan emosi dengan misi. Kau tahu resikonya.” Sambungan terputus. Alvaro menutup laptopnya dengan perlahan. Tapi di benaknya, wajah Nayla tak juga pergi. Tatapan terkejutnya saat ia menyelamatkan Nayla di tangga… mata yang jujur dan belum ternoda dunia korporat. "Apa dia benar-benar tidak tahu siapa aku?" --- 08.00 WIB – Kantin Fakultas Pagi berikutnya, suasana kantin ramai. Suara canda tawa mahasiswa berlatar lagu pop ringan dari pengeras suara. Alvaro datang terlambat. Ia mengambil teh tawar panas dan sepiring nasi goreng sederhana. Duduk di sudut ruangan, seperti biasa. Tapi hari ini berbeda. “Permisi…” suara lembut terdengar dari depan mejanya. Alvaro mengangkat kepala. Nayla berdiri di depannya—sendiri, tanpa kawanan seperti biasanya. “Aku boleh duduk di sini?” tanyanya. Alvaro hanya menatapnya, tak menjawab. Nayla tersenyum kecil. “Cuma lima menit. Aku cuma... mau ngobrol.” Dengan perlahan, Alvaro mengangguk. Mereka duduk berhadapan. Sunyi sejenak. “Terima kasih waktu itu. Kalau aku jatuh di tangga, mungkin mukaku udah viral di t****k dengan meme ‘putri jatuh’,” ujar Nayla sambil tertawa kecil. Alvaro tersenyum simpul. “Nggak masalah.” “Tapi... kamu aneh juga, ya. Datang, nolongin orang, terus pergi begitu aja.” “Aku nggak suka jadi pusat perhatian,” jawab Alvaro singkat. Nayla menyipitkan mata. “Padahal kamu cukup bikin penasaran, lho.” “Penasaran bisa berbahaya.” “Aku nggak takut bahaya.” Alvaro menatap Nayla lebih dalam. Ada keyakinan di balik senyuman gadis itu, dan itu cukup untuk membuat jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. ---

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Menyala Istri Sah!

read
2.1K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.2K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
52.8K
bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
15.5K
bc

After We Met

read
188.5K
bc

Lagi! Jangan Berhenti, Om!

read
13.8K
bc

Unchosen Wife

read
6.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook