"Tunggu, tunggu!''
Cegahnya dengan panik. Angela melepaskan genggaman tangannya dari Andri.
"Kenapa lagi sih?'' tanya Andri dengan sabar.
"Do i look good, Honey?'' Angela memandang dirinya dari ujung sepatu hingga rambut yang digerai mengembang dan ikal panjang menutupi punggung.
Walaupun gaun yang ia kenakan sangat pas di tubuhnya yang sintal dan terlihat indah dengan potongan leher yang memperlihatkan bahunya yang sedikit terbuka, tetap saja membuatnya kawatir. Angela menggigit bibir bawahnya dengan cemas.
Andri mendekat dan menarik pinggang Angela dalam pelukannya. Laki-laki tampan itu menahan tawanya melihat kegugupan kekasihnya.
"Honey, you are the best girl that i ever had. You're so amazing,” sahut Andri dengan tatapan penuh cinta. Dan serta merta laki-laki tampan itu dan mengecup bibir Angela dengan lembut. Angela menepuk-nepuk d**a kekasihnya agar menyudahinya.
"Kau gila! Nanti ada yang lihat, gimana? Iiiihh... Aku takut ada para wartawan yang diam-diam menguntit! Tadi, ‘kan kamu tahu sendiri mereka nungguin aku di lokasi syuting? Untungnya para crew bantuin kita kabur lewat pintu belakang,” tegur Angela dengan suara berbisik dan celingukan, takut-takut menatap ke sekelilingnya. Laki-laki tampan itu terkekeh.
"Biarin aja, toh mereka sudah tahu tentang hubungan kita dan sebentar lagi kita akan menikah,'' jawab Andri dengan senyum menawan.
Lalu, tangan Andri menjelajahi wajah ayu Angela serta merapikan rambutnya yang terurai di pelipis lembut gadis cantik itu yang membuatnya merona malu.
"Jangan membuatku ingin menciummu lagi dong. Kamu paling tahu, ‘kan, aku paling nggak bisa melihatmu merajuk seperti ini?'' bisiknya di telinga Angela dan membuat gadis itu cekikikan karena geli.
"Ekhem...ekheeeemm....!”
Angela terkesiap dan menarik tangannya dari leher kekar Andri. Dan Andri pun melonggarkan pelukannya dan menoleh ke belakangnya, ke arah sumber suara.
Di sana, seorang laki-laki yang terlihat lebih muda dari Andri berdiri di depan pintu, dengan gaya acuh tak acuh bersandar pada pintu yang terbuka. Dia tak kalah tampan dengan Andri, hanya saja bedanya, laki-laki itu memakai kacamata yang menghiasi matanya yang bulat dan lentik. Walaupun begitu semakin menambah ketampanannya yang terkesan elegan.
"Apa kalian butuh kamar?'' tanya laki-laki itu dengan nada sinis. Angela menunduk malu dan merasakan panas menjalar di pipinya. Namun demikian, Andri tergelak dengan kerasnya.
"Seperti biasa kau selalu sinis. Please, Bro jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Happy birthday my men!'' sahut Andri sambil berjalan menyongsong pemuda itu dan memeluknya. Pemuda itu pun membalas pelukan Andri dengan erat dan mengucapkan terima kasih.
"Oh iya, perkenalkan, La, dia Arlan, adikku satu-satunya dan, Lan, ini Angela, pacarku, calon istriku yang...''
"Yang selalu kakak ceritain setiap hari, jam dan waktu. Nggak ada satu pun yang terlewat tentang Angela Anggara!'' Arlan memotong perkataan Andri dengan cepat dan tepat. Lagi-lagi Andri tergelak mendengar celoteh adiknya dan kembali berjalan ke arah Angela. Ia menggandeng gadis itu dengan mesra.
"Hai, aku Angela, happy birthday dan salam kenal, Arlan,'' ucap Angela tersenyum memperkenalkan diri sambil menjabat tangan Arlan yang terulur padanya.
"Thanks, gue Arlan. Yuk, masuk,'' Jawabnya singkat sambil membalas jabat tangan Angela sekedarnya dan meninggalkan mereka memasuki rumah, tetap dengan wajah datarnya.
Melihat reaksi Angela yang menahan syok, Andri melingkarkan tangannya di pinggang ramping gadis cantik itu.
"Nggak apa-apa, anaknya memang begitu, sebenarnya dia baik kok kalau sudah kenal,'' hibur Andri sambil mengelus pipi Angela yang memerah dengan lembut. Angela mengangguk dengan enggan.
‘First meeting yang nggak enak banget,’ pikir Angela sambil berjalan beriringan di sebelah kiri Andri. Angela semakin erat menggenggam tangan Andri. Andri yang merasakan kegelisahan kekasihnya, mengelus dan mengecup punggung tangan Angela dengan lembut seolah ingin menenangkan hatinya.
Mereka berjalan memasuki rumah yang tertata sangat apik dan hangat. Sambil menyapa orang tua, beberapa anggota keluarga dan para kenalan, Andri juga mengenalkan Angela sebagai kekasihnya secara resmi dan mereka akan merencanakan sebuah pernikahan dalam waktu dekat. Semua menyambut Angela dengan antusias dan membahas keartisannya yang mulai naik daun. Hal ini membuat Angela melambung dan melupakan sikap Arlan yang tak mengenakkan.
"Oh, berarti kita seumuran dong?'' ucap Angela pada Arlan yang saat itu menghampiri Angela yang berdiri sendirian di pinggir taman dekat kolam renang. Suasana makin meriah saat grup penyanyi undangan memperdengarkan lagu Hits mereka.
"Iya, gue pikir lu seumuran kakak. Ternyata kita cuma beda 3 bulan. Tapi penampilan lu udah kayak DEWASA banget,'' jawab Arlan menyunggingkan senyum miring seperti mengejek dan sangat menekankan kata 'dewasa' dengan nada yang lain.
"Jadi maksudnya tampang gue tua gitu?'' sela Angela terlepas bicara dengan menahan marah.
Gadis cantik itu mulai tak nyaman dan menyesal telah memperbolehkan Andri pergi meninggalkannya sendiri untuk mengambil minum dan makanan kecil untuknya di dalam rumah. Arlan terkekeh melihat reaksi Angela yang terlihat gampang terpancing emosi.
"Heh, denger ya bocah? Gue ini bakal jadi kakak ipar lu, ya! Sopan dikit dong. Lagi pula kita juga baru kenal. Lu ‘kan anak kuliahan, anak berpendidikan! Jaga mulut lu sama orang lain kalau ngomong! Lu tahu ‘kan gue siapa? Ati-ati lu kalau ngomong!'' Angela mulai kasar.
"Lu lagi PMS, ya? Sensi amat? Gue cuma bercanda kali! Lagian nggak usah sok ngartis deh, artis model kayak lu paling juga cuma jual tampang dan body doang ‘kan?'' balas Arlan seenaknya dan tiba-tiba kembali terkekeh dan memamerkan mimik wajah jijik.
Angela tercengang dengan kata-kata Arlan yang semakin tak sopan dan cenderung melecehkan. Dia makin tak nyaman dengan ketajaman mulut Arlan yang tak sepadan dengan ketampanannya. Rasanya Angela ingin menamparnya.
"Gue bukan perempuan murahan, ya! Ini semua hasil kerja keras gue! Andri juga tahu semuanya! Kasihan banget Andri yang seperti malaikat punya adik kayak lu! Bener-bener bertolak belakang. Kayak malaikat sama iblis!'' balas Angela tak kalah pedas.
"Elah, nggak usah pura-pura marah lu, artis kayak lu bukannya udah biasa dengan hal-hal kayak gini?'' bisik Arlan karena riuhnya suara band diselingi nyanyian para tamu.
"Maksud lu apa sih? Lu, mabuk ya? Dari tadi nggak ngenakin banget deh! Kalau bukan karena Andri, gue nggak bakalan dateng ke acara lu! Harusnya lu merasa tersanjung artis kayak gue mau dateng ke acara ulang tahun dan wisuda lu yang nggak jelas gini,'' sahut Angela dengan tajam tepat di muka Arlan.
Arlan menarik tangan Angela dengan kasar dan menyeretnya ke taman belakang dan menindihnya di tembok. Pandangan mereka terhalang pepohonan palem dan tembok raksasa. Angela berontak berusaha melawan cengkeraman tangan Arlan yang menguncinya di tembok.
"Arlan! Hentikan! Lepas, baj***an!'' hardik Angela dengan marah.
Perlawanan Angela terhenti karena tiba-tiba Arlan mendaratkan bibirnya di bibir Angela. Arlan memagut bibir Angela dengan kasar dan menuntut, memaksanya terbuka dan melumatnya. Angela benar-benar marah dan terus meronta.
PLAK!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Arlan.
"b******k! Dasar ba****an!'' pekik Angela setelah berhasil mendorong tubuh Arlan menjauh. Musik yang semakin riuh menelan semua suara makian Angela yang penuh emosi. Ia sudah tak bisa menahan diri terhadap semua tingkah Arlan. Air mata mulai mengalir dari sudut mata indahnya.
"Kita baru saling kenal! Dan gue pacar kakak lu! Gue public figure! Lu buta, ya? Nggak lihat siapa gue? Baru aja Andri bikin pengumuman, kami akan menikah dalam waktu dekat di hadapan keluarga kalian! Lu gila, ya?'' Angela benar-benar naik pitam.
"Lu nangis? Pinter banget sih akting lu? Ah, iya. Lupa gue. Lu ‘kan artis, jadi pinter banget kalau lagi akting. Apa sama direktur Sanjaya juga gitu? Lu jebak dia ‘kan, makanya lu bisa naik daun dengan cepet?” cecar Arlan dengan nada sinis dan membuat Angela tercengang tanpa bisa berkata-kata.
“Lihat aja, gue yang bakal bongkar kebusukan lu di depan kakak gue! Gue nggak akan pernah ikhlas kakak gue nikah sama perempuan murahan kayak elu!'' Arlan balik mengancam dengan suara mendesis tepat di depan muka Angela.
“APA?”