Bab 1 Aku Buta
PRAANG...!
Belum puas dengan satu set tempat makan, Angela beralih kepada apa pun yang ada di meja untuk dibanting sebagai pelampiasan emosinya yang membuncah. Tak dipedulikannya teriakan orang-orang yang ada di sekeliling untuk mencegah perbuatannya. Semua teriakan itu tertelan oleh raungan dan tangisannya yang histeris.
Angela meraba-raba meja yang telah bersih dari benda apa pun di atasnya, telapak tangannya hanya merasakan permukaan taplak meja yang timbul tenggelam tak beraturan.
‘GELAP! SEMUANYA GELAP!’ pekiknya dalam hati dengan emosi yang membakar di dalam dirinya. Ia meremas dan menarik taplak meja itu dengan sekuat tenaga dan berusaha menyeretnya, namun terasa berat karena tertindih oleh sesuatu di atasnya.
Seseorang berlari sambil menegur dan memeluk Angela dengan marah. Laki-laki itu menggeram dan membentak dengan kasar.
"APA KAMU SUDAH GILA? APA-APAAN KAMU, LA!" Teriakan laki-laki bersuara dalam itu membuat raungan Angela tak sedikit pun mereda.
"PAPA? INI, PAPA?” gugu Angela dengan suara lantang meraba-raba tangan laki-laki itu.
“AKU MAU MATI SAJA! AKU MAU MATI SAJA!" jerit gadis cantik itu histeris dan berontak dari dekapan ayahnya.
"Oke! Oke! Sini ikut, Papa! Kamu mau mati dengan cara apa? Sini, ikut, Papa!'' geram ayahnya tak kuasa dengan amarahnya.
Angela merasakan kekuatan ayahnya yang menggenggam kedua tangannya dengan erat. Hal itu membuat Angela limbung dan terseret-seret oleh gerakan Pak Pranata yang menyeretnya.
Terdengar teriakan Bu Riana dan para asisten rumah tangga yang ada di vila itu berusaha mencegah emosi Pak Pranata yang menyeret paksa Angela ke halaman vila. Jantung Angela berdegup kencang dengan tiba-tiba, raungannya pun berhenti seketika dan berubah menjadi ketakutan.
‘Enggak! Apa papa beneran mau membunuhku? Papa? Please, Lala takut, Pa! Gelap! Gelap!’ pekiknya dalam hati.
"Papa! Papa! Please, Pa! ENGGAK!'' pekiknya mulai ketakutan karena kedua kakinya yang tak beralas mulai terantuk-antuk batu jalanan. Ini menandakan Pak Pranata sudah benar-benar membawanya keluar dari vila megah itu. Ia mulai merasakan perih dari kedua kakinya yang terantuk berbatuan cadas halaman vila itu yang memang sengaja untuk jalanan di tepian jalan setapak saat memasuki vila.
"PAPA...! Papa mau ngapain Lala, Pa? PAPA! Astagfirullaaaahh... Ya Allah, Pa? Lala...!'' Bu Riana berteriak histeris sambil berusaha menarik tangan Angela dari cengkeraman suaminya.
"BIARIN! BIARIN AJA! PAPA UDAH MUAK SAMA KELAKUANNYA! SINI KALAU MAU MATI! BIAR NGGAK NYUSAHIN ORANGTUA LAGI!" bentak Pak Pranata dengan lantang. Angela hanya bisa menangis dalam genggaman ayahnya yang terbakar oleh api iblis.
“Pa, tolong lepasin, Lala! Dia anak kita, Pa!” cegah Bu Riana pada suaminya yang telah gelap mata berusaha menyeret Angela yang kini terlihat pasrah dan mulai menggigil ketakutan.
Pak Pranata menepis tangan istrinya untuk pergi dari situ. Dan meneriaki para asisten rumah tangganya untuk membawa nyonya mereka menjauh.
“PA, DI ANAKKU! LEPASIN DIA!” pekik Bu Riana dengan lantang dan sempat menghentikan langkah suaminya yang kini menatapnya dengan tatapan penuh luka dan membuat suasana hening seketika.
“Tolong, jangan menaburkan garam di dalam luka Papa, Ma. Mama pikir, Papa nggak terluka dengan semua yang sudah terjadi? Angela juga anakku, Ma. Dia juga darah dagingku. Dua-duanya adalah anakku. Aku telah kehilangan satu anak dengan cara yang mengenaskan. Aku pun juga tak mau melihat Angela seperti ini!” papar Pak Pranata dengan menahan isaknya.
“Tolong, Ma. Papa sudah terlalu lelah dengan semua ini. Jadi, sekarang biarkan Angela memilih jalannya sendiri dan mengambil keputusan untuk hidupnya sendiri!” pungkas Pak Pranata kembali melangkahkan kakinya menyeret paksa Angela yang mulai memohon belas kasihan ayahnya.
Rasa sakit di kedua kaki Angela karena tersandung berbatuan jalanan membuatnya tersadar, bahwa ia sudah mencapai bibir tebing. Angin dingin yang mulai menusuk kulit membuatnya merinding dan diliputi rasa takut. Angela terus menangis dan memohon kepada ayahnya.
Hingga akhirnya Pak Pranata melepaskan cengkeraman tangannya dan bergerak menjauh dari putrinya. Angela langsung gelagapan karena embusan angin yang besar dan dingin menerpa wajah cantiknya yang tak lagi sempurna seperti dulu. Debur ombak terdengar sangat jelas dan menakutkan di kedua telinganya.
‘Ya Allah... Apa itu suara ombak? Itu ombak! Beneran! Berarti aku sudah di tepi tebing!’ pekik Angela dalam hati. Perasaan takut mulai merambati hatinya. Ia menggigil karenanya.
"Enggak! Papa... Jangan tinggalin Lala, Pa...! Mamaaaaa.... mana? Mana?” pekik Angela mulai histeris ketakutan.
“Mama tolongin Lala, Ma...! MAMA...!” Angela mencoba menggapai segala sesuatu yang bisa diraihnya untuknya berpegangan. Dia benar-benar ketakutan.
"Lompat saja. Nggak usah takut! Toh kau sudah buta ‘kan? Jadi 'kan nggak lihat apa-apa, ‘kan? Ayo, katanya kau mau mati! Papa turutin keinginan kamu. LOMPAT!'' ucapan sarkasme Pak Pranata benar-benar menampar Angela dan membuatnya kembali meraung histeris.
“ENGGAK! PAPA, MAAFIN LALA! MAMA... MAAFIN LALA...! LALA MOHON...! LALA MOHON...!” Angela histeris dan menangis sejadi-jadinya.
Angela bersimpuh untuk meraih tanah tempatnya berpijak, ada rasa lega menyelimuti karena jari jemarinya bisa memegang tanah dan rerumputan. Namun saat ia mencoba bergerak maju, sebelah kakinya terpeleset di ujung tebing. Angela berteriak ketakutan, karena sebelah kakinya tak lagi bisa menapak dengan benar. Dan Angela tak berani bergerak sedikit pun.
"MAMA... TOLONG! PAPA...! MAAFIN LALA! MAAFIN LALA... TOLONG!" Angela hanya bisa berteriak histeris tanpa berani bergeser sedikit pun.
Sayup-sayup suara tangisan Bu Riana dan para pembantunya perlahan-lahan menghilang dari pendengarannya. Angela semakin bingung dan sendirian. Perasaan takut semakin mencekam hati dan jiwanya.
'Ya, aku buta! Aku sudah tak bisa melihat apa pun!’ batin Angela lagi-lagi histeris mengingat semua tragedi itu. Angela Anggara seorang artis papan atas itu sudah buta!
‘Ya, benar. Untuk apa aku hidup lagi. Nggak ada gunanya lagi aku hidup. Popularitasku sudah hancur, lenyap tanpa bekas, bahkan Andri juga ninggalin aku!” Angela kembali terisak. Ia meremas rerumputan dan tanah yang ada di hadapannya.
‘Mama... Aku sudah membuat Mama hancur dan bersedih. Papa pun sudah kecewa padaku. Jadi, untuk apalagi aku hidup! Aku hanya akan menyusahkan mereka!’ Angela meraba dan meremas gaun di d**anya, merasakan hatinya yang sakit teramat dalam. Ia kembali menangis tersedu-sedu dan sayup-sayup deburan ombak terdengar di indra pendengarannya kembali seolah memanggilnya untuk mendekat.
‘Ya, aku akan datang. Aku akan datang...!’
Dengan frontal Angela mencoba berdiri dan melangkah dengan menggenggam ranting pohon yang bisa di raihnya, namun tanpa ia tahu, ranting itu terlalu rapuh untuknya berpegangan. Karena langkahnya yang terburu-buru ranting itu pun patah membuatnya malah terpeleset dan terpelanting. Angela terjatuh dan tergeletak tak bergerak.
“LALA...!”
Terdengar pekikan suara-suara yang memanggil namanya bersahutan, datang silih berganti, namun perlahan-lahan menghilang tanpa jejak seolah kegelapan menelan semuanya.
‘Selamat tinggal, Mama, Papa....’