⛧ Chapter 4 ⛧

1743 Kata
Taka keluar dari kamar sambil menenteng tasnya. Ia menuruni tangga lalu menuju ke dapur. Di sana ia bertemu Daera yang baru selesai memasak sarapan untuk seluruh penghuni indekost itu. "Gosong nih ayamnya," komentar Taka melihat hasil masakan Daera. Daera hanya memutar bola matanya. Daera juga tahu kalau masakannya gagal lagi kali ini. "Tapi makasih sarapannya. Lumayan buat ngehemat duit gue," tambah Taka sambil mulai mengambil nasi ke piringnya. Yang Taka katakan memang benar. Daera menyiapkan sarapan itu dengan uangnya sendiri. Meski kadang masakannya gagal dan tidak terlalu enak, namun teman-teman kost-nya selalu rajin menghabiskan, salah satunya karena alasan gratis itu. Teman-temannya jadi bisa menghemat uang bulanan. Ya tau sendiri lah anak kost bagaimana, harus pintar mengatur keuangan karena jauh dari orang tua. "Serin belum balik ya?" tanya Daera sambil mencuci piring. Taka mengangguk-angguk. "Kayanya belum. Palingan ntar siangan dia baliknya. Santai lah. Dia bilang dia ga ambil kelas di hari Senin." Daera ber-oh-ria. Ia lanjut menyelesaikan aktivitas cuci piringnya dalam diam. Biar cepat selesai. Merasa tidak enak hati melihat Daera bersih-bersih dapur sendirian, Taka menawarkan bantuan, "Udah Ra, gue aja yang beresin ini dapur nanti habis balik ngampus." "Udah santai aja. Ini juga udah hampir kelar. Lo emang nggak ada kegiatan habis kelas?" Daera balik bertanya. Di sela-sela kunyahannya, Taka menjawab, "Ada ngumpul di PKM Kewirausahaan bentar. Ntar sore gue bantu nyapu rumah aja deh." "Oke," balas Daera yang kini benar-benar sudah menandaskan pekerjaannya. Ia melanjutkan, "Gue ke atas dulu ya. Tolong nanti makanan di meja, lo tutupin biar nggak dihinggapi lalat." "Siap, Bos!" balas Taka laksana tengah berbicara dengan komandan militer. Sepeninggal Daera, Taka hanya fokus menghabiskan makanan di piringnya. Ia pun bergegas cabut dari sana ketika jam sudah menunjukkan pukul tujuh. Padahal kelasnya juga dimulai pukul tujuh pagi. Artinya Taka akan terlambat di pertemuan pertama ini. *** Selesai memasak sarapan untuk teman-temannya, Daera bersiap-siap pergi ke kampus. Hari ini Daera ada kelas jam sepuluh pagi. Dia harus bergegas berangkat. Soalnya sebelum ke kampus, dia juga berencana mampir ke tempat service printer. Kebetulan printernya ngadat karena lama tidak ia pakai selama liburan. Seberes mandi dan berpakaian rapi, Daera kembali meninggalkan kamar indekost-nya dan menuju ke pantry. Tadi dia baru masak saja, belum turut makan. Makanya dia menyempatkan diri untuk ke pantry dan sarapan sebelum berangkat. Ternyata sudah ada Gara di sana. Gara tampak sama rapinya dengan Daera. Minus rambutnya sih. Rambut gondrong Gara keliatan belum disisir dan hanya diikat sekenanya. "Lo mau ke kampus sekarang?" tanya Gara saat menyadari Daera yang berjalan memasuki pantry. Daera mengangguk dan menjawab, "Habis sarapan." "Mau bareng sama gue?" tawar Gara yang tumben-tumbennya mau membantu sesama. "Enggak, ah. Gue mau mampir ke tempat service printer dulu. Ntar ngerepotin lo," jawab Daera sambil menyeduh teh hangat. Gara kembali meyakinkan, "Gue anter aja. Bukannya justru bakal sulit kalau lo bawa printer sambil nyetir motor? Kalau gue bonceng kan lo bisa pegangin printernya." Daera menyipitkan mata. Ia heran saja dengan sikap Gara pagi ini. Kesambet apa dia jadi baik begini? "Kalau gue nebeng lo sekarang, entar gue baliknya gimana?" Daera sedikit ragu. Dia malas kalau harus naik kendaraan umum atau pesan ojek online. "Lo berapa mata kuliah hari ini?" Gara bertanya. "Dua," jawab Daera. "Ya udah gue jemput nanti. Kabarin gue aja," simpul Gara enteng. Daera akhirnya mengangguk setuju. Ini namanya rezeki bukan? Dapat tumpangan gratis. *** Gara tiba di parkiran fakultasnya setelah mengantar Daera di fakultas sebelah. Ya, fakultas mereka memang dekat. Tinggal memutari taman kampus saja. Makanya Gara tak begitu keberatan mengantar teman se-kostnya itu. Gara bergegas mencari kelas untuk mata kuliah pertamanya di semester ini. Setibanya di kelas, mata Gara langsung berbinar. Bukan karena dia antusias dengan mata kuliah yang akan datang. Tapi lebih karena ada seorang gadis yang merupakan incarannya itu. Ternyata mereka sekelas. Gara buru-buru mengambil tempat duduk di sebelah gadis itu. Seingat Gara, nama gadis itu adalah Cantigi. Hanya Cantigi saja, tak ada lanjutannya. Mereka pernah sekelas di satu mata kuliah semester dua. Dari sana, Gara tahu bahwa selain cantik, Cantigi juga menarik. Cara dia bicara selalu berhasil menarik perhatian seisi kelasnya. Bahkan dosen mata kuliahnya waktu itu selalu meminta Cantigi untuk bicara di kelas. Kadang untuk menyampaikan pendapat, kadang membantu dosen mengerjakan case-case tertentu. Gara tidak tahu sejak kapan ia mulai mengagumi perempuan semacam Cantigi. Padahal sejujurnya, selama ini Gara hanya memandang perempuan dari fisiknya saja. Kalau cantik ya ia dekati, kalau tidak good looking ya ia tidak memberi reaksi. Oke, sekarang Gara cukup deg-degan. Duduk di sebelah gadis incaran memang terasa beda. Apalagi mengingat Cantigi ini adalah seorang calon wakil ketua BEM Fakultas Hukum. Cantigi sudah terpilih, tinggal tunggu waktu pelantikan resminya saja. Gara cukup merasakan aura yang kuat dari seorang Cantigi. Apalagi sedari tadi cewek itu tidak bersuara. Ia hanya diam dan menyapa temannya melalui lambaian tangan dan senyuman manisnya. Gara makin dibuat penasaran. Akhirnya ia memberanikan diri untuk memulai obrolan, "Hallo, kamu Cantigi, kan?" Cantigi menoleh. Entah kenapa, dia mengernyit heran. Mungkinkah ia belum menyadari keberadaan Gara di sebelahnya sejak tadi? Akhirnya dengan jawaban singkat, Cantigi menjawab, "Iya." Dalam hati, Gara membatin kalau sudah pasti Cantigi ini berbeda dengan gadis lain. Gadis itu tak kelihatan tertarik pada Gara. Jadi bisa Gara simpulkan kalau memang tidak mudah untuk mendekati Cantigi. Saat Gara hendak membuka mulutnya sekadar berbasa-basi lagi, sayangnya dosen sudah datang. Gara jadi menelan kata-katanya kembali. Tidak mungkin ia bicara pada Cantigi sementara cewek itu sudah memfokuskan diri untuk mengikuti kelas ini. Gara menghela napas. Ini kali pertama dia bicara secara langsung dengan Cantigi. Tapi Gara rasa, ia tak memberikan kesan yang cukup baik di pertemuan pertamanya ini. *** Serin terkantuk-kantuk di studio tempat latihan band-nya. Semalaman ia tak tidur karena terlalu serius berlatih. Sekarang, studio musiknya sedang sepi. Dua temannya sudah pulang ke rumah masing-masing. Yang lain juga ada kelas sejak pagi. Sementara ia tidak mengambil kelas mata kuliah apapun hari ini. Baru akan jatuh ke alam mimpi, Serin dikejutkan oleh ketukan di pintu studio. Dengan menyurutkan kantuknya, Serin berjalan gontai ke arah pintu. Saat ia membuka pintu itu, Serin mendapati ada seorang Arkais berdiri di sana. Arkais bukan salah satu teman band-nya. Sepupu Arkais lah yang merupakan anggota band Alpha Centauri atau yang biasa disingkat AlCen yang tak lain dan tak bukan adalah nama band dimana Serin bergabung sebagai vokalisnya. "Kumara udah balik," ucap Serin menyadari siapa yang mungkin sedang dicari Arkais. Kumara yang Serin sebutkan barusan adalah drumer AlCen. Mendengar ucapan Serin, Arkais mengangguk-angguk. Namun Arkais tak kunjung berlalu dari sana. Ia menyodorkan plastik bening yang sepertinya berisi makanan. "Berhubung Kumara udah balik, ini buat kamu aja. Ya kalau kamu mau nerima sih," kata Arkais kemudian. Serin buru-buru menerima plastik bening yang Arkais berikan. Sambil malu-malu, Serin menggumamkan kata terima kasih. Ya meski tujuan awal Arkais membawa makanan itu adalah untuk diberikan pada Kumara, tapi tetap saja Serin merasa sangat berterima kasih. Sambil masih tersipu, Serin mengantar kepergian Arkais sampai depan gedung. Sepeninggal Arkais, Serin langsung masuk ke studio musiknya lagi. Ia sudah tidak sabar ingin melahap makanan pemberian Arkais karena sejujurnya ia lapar. Hanya saja ia malas meninggalkan studio untuk mencari sarapan. *** Selesai kelas pagi, Etha segera menuju ke gedung UKM Universitas. Dimana semua kegiatan mahasiswa tingkat universitas dikumpulkan di sana. Etha memarkirkan motornya lalu berjalan menyusuri lorong-lorong menuju ke ruang UKM-nya. Ruang UKM Anti Narkotika adalah tujuan Etha. "Assalamu'alaikum." Etha mengucap salam sembari melepas sepatunya. "Waalaikumsalam," jawab orang-orang yang lebih dulu menghuni ruangan itu. Etha melangkah masuk ke dalam ruangan dan memilih duduk tak jauh dari jendela. Ia bertanya pada orang yang duduk di sebelahnya, "Udah ngumpul sejak tadi?" "Udah. Kebanyakan emang ada kelas siang ini. Makanya ngumpul pagi-pagi," jawab cowok yang menggunakan PDH UKM Anti Korupsi. Ia teman seangkatan Etha. Namanya Farhan. Etha mengangguk-angguk mengerti. Selebihnya ia hanya diam sembari melihat satu per satu teman seangkatannya. Lalu ada dua orang anggota UKM dari angkatan di atasnya. Hari ini agenda rapat mereka adalah menentukan susunan kepengurusan para pemimpin divisi sekaligus pengurus harian. Berhubung UKM mereka belum merekrut mahasiswa baru, alhasil kepengurusan masih diisi oleh angkatan Etha dan beberapa katingnya. Etha menoleh kesana-kemari bukan tanpa alasan. Ia masih mencari sosok ketua yang akan menjabat selama satu tahun ke depan. Ketua itu memang belum dilantik secara resmi. Karena pelantikan kepengurusan baru akan dilakukan bersamaan dengan pelantikan anggota baru alias para maba yang bergabung di UKM mereka. "Kepengurusan udah jadi tanggung jawab angkatan Handi meski kalian belum dilantik secara resmi. Kalian juga harus mulai ngisi struktur pengurus harian dan kepala divisi. Jadi besok ketika kita rekrut anggota baru, kita udah ada divisi-divisi yang siap nge-handle," ujar salah seorang katingnya Etha. Handi adalah nama ketua dari angkatan Etha. Meski saat ini, orangnya belum hadir di ruang UKM mereka. "Ini kita milih sendiri mau masuk ke divisi mana? Terus gimana nentuin kadivnya?" Seorang gadis berparas ayu yang memang bernama Ayu itu bertanya pada kating yang barusan memberi instruksi. "Terserah kalian sistemnya gimana. Mungkin kalau buat pemilihan kadiv, bisa dilihat dari kinerja kalian setahun terakhir." Pembahasan pun dimulai. Beberapa anggota langsung mengajukan diri untuk masuk ke divisi-divisi yang terkenal dengan tugasnya yang ringan. Posisi di divisi humas, divisi rumah tangga, dan divisi inventaris langsung ludes dalam sekejap. Yang tersisa hanya lah posisi di pengurus harian seperti sekretaris dan bendahara, juga di divisi pendidikan dan pelatihan serta divisi penelitian dan pengembangan. Etha mengajukan diri untuk masuk ke divisi pendidikan dan pelatihan. Namun teman-teman mengatakan bahwa Etha tidak cocok di sana. Etha yang pendiam mana mungkin bisa mengajar dan memberikan sosialisasi di hadapan orang banyak. Alhasil sampai akhir, Etha belum kebagian divisi. Padahal yang tersisa hanya PH alias pengurus harian. "Etha, lo mau jadi sekretaris atau bendahara?" Tanya cewek berkacamata yang duduk berhadapan dengannya. Ditanya begitu, Etha kelabakan. Dia memang ingin sekali mencoba bekerja di posisi bendahara. Namun ia teringat bagaimana tabiat Handi. Mungkin tak banyak teman-temannya yang tahu kalau Handi ini sering mengakali pengeluaran dan pemasukan uang UKM. Mengingat sebelumnya memang Handi kerap kali menjadi bendahara di proker-proker yang diselenggarakan UKM tersebut. Meski Handi sebenarnya bukan lah bendahara organisasi. "Tha, ditanya malah ngelamun aja," ujar gadis berkacamata tadi. Etha tersentak dari lamunannya. Ia mungkin hanya khawatir berlebihan soal ini. Toh belum tentu nantinya Handi akan menyuruhnya macam-macam. Terlebih, Etha juga punya pendirian. Dia akan menolak kalau-kalau disuruh membuat rancangan anggaran yang tidak wajar. "Ya sudah, aku di bendahara aja," jawab Etha akhirnya. "Yang amanah ya, Bro," pesan Farhan. "Insyaallah," balas Etha kalem. Pembahasan pun kembali mengalir hingga tak terasa masing-masing divisi sudah terisi dan beberapa divisi juga sudah memiliki kadiv. Tinggal menunggu persetujuan Handi saja selaku ketua UKM yang baru. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN