⛧ Chapter 5 ⛧

1656 Kata
Taka berjalan keluar dari gedung kelas bersama seorang dosen yang kebetulan mengampu UKM Kewirausahaan. Sambil jalan, Taka meminta saran dan koreksi untuk business plan yang akan ia sertakan dalam lomba. "Kamu kurang realistis, Mas," ucap bu dosen tersebut. "Hehe, maksud saya biar berinovasi, Bu," jawab Taka sambil nyengir. Ibu itu mengangguk-angguk, mamaklumi pemikiran Taka yang memang tak salah juga. Dosen itu melanjutkan ucapannya, "Memang bagus untuk berinovasi. Tidak ada yang salah dengan itu. Tapi kamu harus lebih dulu mencobanya. Apakah rencanamu itu akan berkerja dan dapat direalisasikan. Kalau memang bisa, ya itu namanya sebuah kemajuan. Itu bisa jadi peluang yang sangat bagus." "Oh, iya, saya paham Bu," jawab Taka sambil mencerna maksud dosennya itu. Ia mulai membayangkan akan bagaimana nanti ia harus membenahi business plan-nya. Mereka tiba di gedung Pusat Kewirausahaan. Dosen itu langsung mengecek inkubator bisnis milik mahasiswa yang mulai merintis usaha mereka. Taka memilih memisahkan diri dari dosen tersebut. Tidak enak juga kalau ia ikut-ikutan masuk ke ruang inkubator bisnis milik mahasiswa lain. Alhasil sekarang Taka sedang sendirian di sebuah ruang inkubator bisnis yang belum ada penghuninya. Ia duduk di sana sembari mengisi baterai laptopnya. Taka juga tak diam-diam saja. Ia mulai mencoret-coret kertas untuk menyusun ulang rencana bisnisnya agar lebih realistis seperti yang dosennya sarankan. Tapi Taka merasa tak tenang berada do sana. Samar-samar ia mendengar perbincangan beberapa orang yang membawa-bawa namanya sebagai bahan perbincangan itu. Taka memperjelas pendengarannya. Ia memasang kuping baik-baik untuk mencuri dengar. Sepertinya sumber suara itu dari bilik sebelah. Jadi Taka memutuskan untuk mendekat ke sana. "Lo liat kan, Taka dateng sama dosen pembimbing PKM. Kayanya dia emang pinter cari muka. Makanya tiap dia ikut lomba business plan, dia selalu menang. Orang business plan-nya dibantu dosen sana-sini." "Eh, lo juga mikir ga kalau selama ini tuh, dosen agak menganakemaskan si Taka. Liat aja nilainya, A semua. Padahal dia kalau ikut lomba bisa nggak masuk kelas berkali-kali. Masa iya bisa ngikutin materi dengan baik." "Pinter kali anaknya?" "Biasa aja. Dia cuma pinter ngomong doang. Gue pernah sekelas sama dia. Dia bahkan nggak ngerjain hampir setengah tugas mingguan. Nggak ikut UTS. Absennya bolong banyak. Tapi tetep bisa ikut UAS dan dapet nilai A. Padahal yang lain yang rajin nugas, absen lengkap, UTS sama UAS beres juga masih susah buat dapet A. Malah mayoritas temen sekelas gue cuma dapet B." "Ya, hoki aja kali. Atau dosennya random gitu ngasih nilainya, haha." "Gila sih. Nggak adil banget kalau gitu. Gue kasian sama yang udah serius usaha, eh malah dapet nilainya nggak semudah Taka." "Udah lah. Nanti kalau dia emang nggak layak buat dapet nilai bagus, suatu saat dia juga bakalan dapet karma." Taka menahan geram. Ia memang tahu kalau banyak yang meragukan kemampuannya. Tapi mendengarnya secara langsung terasa jauh lebih menyebalkan. Dengan nekat, akhirnya Taka membuka pintu ruang inkubator di sampingnya dan berhadapan dengan orang-orang yang tadi menggunjingkannya. "Iri? Bilang bos," ketus Taka. Lalu tak berlama-lama, ia kembali menutup pintu itu dan hengkang dari sana. *** Daera selesai dengan mata kuliah Penulisan Naskah Drama Panggung. Sekarang ia bersiap pindah kelas untuk mata kuliah selanjutnya yakni mata kuliah Monolog. Baru akan pindah kelas, ada seorang cowok menghentikannya. Daera menghela napas. Ia tahu apa yang akan cowok itu katakan. "Dae, lo mau kan jadi sutradara? Lagian ini bukan ujian pentas. Ini bisa dibilang latihan pentas aja. Yang dinilai juga naskahnya," ucap cowok itu persuasif. Daera menghela napas untuk kedua kalinya. Ia ingin melengos pergi begitu saja. Namun ia masih punya rasa tak enak hati. "Nggak ada yang lain apa selain gue?" tanya Daera berharap ada kandidat lain yang akan ditumbalkan menjadi sutradara pementasan besok. Ia menambahkan, "Gue yang mikirin naskahnya aja." "Nggak ada Dae. Kelas lain udah pada nentuin sutradara. Kelas kita aja yang belum. Ini perlu dipersiapkan dari sekarang lho. Kalau soal bikin naskah, anak-anak banyak yang mengajukan diri kok. Lo sutradara aja. Mau ya, Dae?" Cowok itu lama-lama mengubah nadanya jadi memaksa. "Kenapa nggak lo aja? Lo kan ketua kelas mata kuliah ini." "Gue nggak sanggup. Kalau pentasnya ancur, nilai sekelas bakalan jeblok semua. Lo aja ya Dae? Lo kan penulis, lo pasti paham banget deh seluk beluk naskah dan gimana bawainnya pas pentas." "Terserah deh. Kayanya percuma juga gue berkali-kali nolak, lo nya nggak berhenti maksa." "Haha, thanks banget Dae. Gue sayang sama lo," ujar cowok itu yang membuat Daera cemberut. Kalau kalian penasaran siapa cowok itu, namanya adalah Liam. Kebetulan mereka sering sekelas sejak semester satu. Mereka memang pernah dekat dalam artian lebih dari seorang teman tapi belum sampai ke tahap pacaran. Liam memang kebiasaan melempar kata-kata ngelantur begitu ke Daera. Tapi Daera terlanjur kebal dan tidak begitu peduli lagi pada godaan Liam. "Dah ya, gue ada kelas lagi habis ini. Gue duluan," ujar Daera setelah dirasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi dengan Liam. "Semangat kelasnya," teriak Liam menyemangati. Daera menggerutu, "Hmm, bikin malu aja itu orang. Seenak jidat teriak-teriak." *** Ketika jam kuliahnya selesai, Gara tak buru-buru pulang ke indekost-nya. Ia ingat kalau nanti sore, ia masih harus menjemput Daera. Nah untuk mengisi waktu, Gara dengan iseng mengikuti kemana pun perginya Cantigi. Sikapnya itu persis seperti penguntit. Hingga sialnya, Cantigi menyadari kalau Gara terus menerus mengikutinya. Mulai dari mengembalikan buku di perpustakaan, makan siang di kantin, lalu sekarang ketika Cantigi akan rapat dengan jajaran pengurus BEM, cewek itu kembali menemukan ada Gara di sekitarnya. "Maaf ya, lo yang tadi sekelas sama gue, kan?" tegur Cantigi secara langsung. Gara kelabakan. Tapi ia berusaha memasang sikap cool. Dengan memasang senyum yang biasa membuat banyak wanita mabuk kepayang, Gara menjawab, "Iya, tadi kita sekelas." "Terus kenapa lo terus ngikutin gue?" Cantigi bertanya dengan tegas. "Gue ngikutin lo? Enggak ah," elak Gara. "Masa? Lo selalu ada di tempat di mana gue berada," balas Cantigi yakin. Gara menggeleng santai sambil terkekeh, "Itu namanya kebetulan." "Terus lo sekarang ngapain ada di depan sekretariat BEM? Lo bukan anak BEM, kan?" Cantigi menaikkan alisnya. Gara mengangguk-angguk. Ia buru-buru memutar otak. Dengan cepat, ia berhasil membuat alibi. "Gue mau ketemu ketua BEM ini." Cantigi tertawa. Ia agak tidak habis pikir dengan cowok aneh di hadapannya. Dengan nada menantang, ia kembali bertanya, "Emang kalian ada urusan apa? Lo yakin lo beneran mau ketemu sama Abinaya? Lo nggak lagi ngada-ngada kan?" Gara terkekeh mendengar Cantigi mendesaknya dengan banyak pertanyaan. Ya memang sebenarnya Gara tidak ada keperluan mendesak dengan Abinaya di ketua BEM FH itu. Tapi sudah terlanjur begini, ya Gara harus mencari-cari sesuatu yang bisa dibicarakan dengan Abinaya. "Abi," panggil Cantigi saat Abinaya baru saja tiba di teras sekretariat. Abi yang semula akan masuk ke ruangan eksklusif milik BEM itu, jadi urung melakukannya. Ia berbalik mendekati Cantigi. Terlihat sekali kalau Cantigi tengah menunggu-nunggu kebohongan Gara terbongkar. Namun itu tak terjadi karena Gara langsung menyapa Abinaya dengan akrab. "Oi, Bro, sorry nih gue ganggu. Kayanya lo mau ada rapat BEM ya?" "Eh, elo Gar. Santai aja. Rapatnya baru akan dimulai lima belas menit lagi. Lagian belum banyak yang dateng juga. Tumben lo kesini? Mau ketemu gue atau Cantigi?" "Ya ketemu elo, lah. Bro, gue ada jadwal ngedaki nih. Weekend besok banget. Emang mendadak sih. Tapi ya masih ada waktu seminggu buat siap-siap. Itu kalau lo mau join." "Serius? Katanya kemarin belum ada rencana." "Anak tongkrongan pada pengen gas sekarang. Kalau bulan depan keburu pada sibuk sama kegiatan." "Ya udah, ntar gue pikirin. Bahas lagi lah nanti di tongkrongan. Biar gue ada gambaran." "Siap, Bro. Ya udah, gue balik ya. Ketemu lagi nanti di tongkrongan," pamit Gara sambil bersiap pergi dari sana. Sebelum benar-benar berbalik pergi, Gara menyempatkan diri untuk melihat ekspresi Cantigi. Gara sedikit puas saat mendapati Cantigi tak berani menatapnya dan seolah membuang muka. Pasti dia merasa kalah. Eh, tapi kok begini sih? Bukan menang atau kalah yang Gara inginkan. Ia hanya ingin Cantigi seorang. *** Serin kembali ke indekost-nya. Siang menjelang sore begini, rumah itu sedang kosong-kosongnya. Jadi daripada merasa sendirian di rumah yang lumayan besar itu, Serin buru-buru pergi ke kamarnya. Di kamar, Serin sibuk bermain dengan gitarnya. Ia mencoba memetik gitar dan bernyanyi-nyanyi dengan suara merdunya yang khas. Tanpa sadar, Serin kembali teringat kejadian tadi pagi. Mungkin karena terbawa suasana lagunya yang penuh romansa. Kalau boleh dibilang, Serin cukup tertarik dengan Arkais. Cowok itu terlampau sering datang ke studio untuk menemani sepupunya latihan. Arkais juga pribadi yang menarik. Bagaimana mungkin Serin sanggup mengabaikannya? Namun sayang, Arkais sudah punya pacar. Mana pacarnya juga seorang model dan namanya cukup terkenal. Jelas Serin sangat kebanting. Lagian Serin juga tidak punya nyali untuk merebut pacar orang. Dia cukup memendam rasa sukanya. Biar sebatas ia dan Tuhan saja yang tahu. Toh juga ia tidak punya cukup waktu untuk memikirkan cinta-cintaan. Tekanan dari manajernya untuk selalu memprioritaskan band membuat Serin tidak pernah memiliki kebebasan. Bahkan kuliah pun, Serin tidak terlalu peduli. Tak disangka, ponselnya berdenting. Ada nama Arkais di layar ponselnya. Kebetulan macam apa ini? Jarang-jarang Arkais menghubungi Serin. Hmm, malah tidak pernah sepertinya. Mereka hanya bertukar nomor telepon lalu stop sampai di sana. Arkais sepupunya Kumara : Serin, maaf ganggu. Kamu tau Kumara ada dimana sekarang? Dari pagi aku nggak bisa hubungi nomornya. Sejak kemarin malem aku belum ketemu dia. Serin mengernyit. Ia juga terakhir bertemu Kumara saat latihan semalam sampai subuh tiba. Setelah itu Kumara menjnggalkan studio bersama teman-teman bandnya. Serin belum mencoba menghubungi Kumara lagi. Memang mereka jarang saling bertukar pesan. Kumara adalah yang paling pendiam di antara anggota band lainnya. Jadi Serin juga tak banyak mengenal Kumara. Terpaksa, serin membalas kalau dia tidak tahu dimana Kumara berada. Serin: Sorry, Arka. Aku juga nggak tau Kumara dimana. Aku terakhir ketemu dia ya tadi pagi waktu latihan. Arkais: Oke, makasih ya. Serin menghela napas. Ia melihat ke jam di ponselnya. Sudah pukul tiga sore. Memangnya Kumara kemana? Kenapa Arkais begitu khawatir? Bukannya cukup wajar kalau cowok tiba-tiba pergi tanpa kabar? Eh, malah jadi curhat. Ya sudah lah, nanti kalau ia tahu kabar terbaru Kumara, ia akan mengabarkannya pada Arkais. Lumayan bisa ia jadikan alasan untuk mengobrol dengannya. Meski Serin tahu kalau niatnya itu salah mengingat Arkais sudah ada yang punya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN