⛧ Chapter 6 ⛧

1728 Kata
Etha selesai membereskan ruang UKM Anti Narkotika. Sendirian pula. Maklum lah, seperti yang sudah ia tahu sebelumnya, teman-temannya ada kelas siang hari ini. Alhasil hanya Etha yang bisa tinggal di sana lebih lama. Seberes menyapu dan merapikan barang-barang inventaris milik UKM tersebut, Etha duduk di teras ruangan. Rencananya ia baru akan pulang saat jam menunjukkan pukul empat sore. Sebenarnya Etha juga sedang menunggu seseorang. Siapa lagi kalau bukan Handi. Dari tadi ditunggu, Handi tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Tadi alasannya sedang bertemu dengan dosen wali. Lalu saat dihubungi lagi, ponselnya tidak aktif. Etha berusaha tetap sabar. Meski dia juga agak merasa kesal. Yang jelas, Etha mempertanyakan tanggung jawab Handi sebagai ketua UKM ini. Kalau memang tidak bisa datang, ya tinggal bilang. Kasih alasan yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan, bukannya tetiba menghilang. Entah sudah ke berapa kali Etha melirik arloji di pergelangan tangannya. Lima belas menit lagi ia harus pulang. Tapi syukur lah, Handi akhirnya datang juga. Handi berjalan santai tanpa beban. Seolah ia tidak merasa bersalah atau menyesal membuat orang lain menunggu lama. Etha hanya beristighfar. Diam-diam dia banyak menggerutu soal sikap Handi. "Gimana urusan kepengurusan? Udah beres?" tanya Handi sembari menyalakan rokoknya secara terang-terangan. Padahal ada peraturan dilarang merokok di gedung UKM Universitas itu. Etha mengangguk sebagai jawaban, "Sudah. Ini kepengurusannya. Nanti aku dan Lila akan mulai nyusun rencana anggaran proker wajib. Prokernya masih sama kaya tahun lalu, kan?" "Iya, samain aja. Yang nggak wajibnya juga sekalian samain," perintah Handi seolah tidak ingin terlalu memikirkan urusan itu. Padahal biasanya setiap tahun akan ada proker baru yang menjadi ciri khas tiap angkatan. Tapi Etha tak punya hak untuk menentang. Ya sudah lah, ia turuti saja perkataan Handi. "Oh ya, yang nyusun anggaran gue aja. Lo ngurus yang lain," ujar Handi lagi. Etha mengernyit tak paham. Setelah berpikir serius, akhirnya Etha dapat mengerti maksud dari Handi. Tapi sepertinya Etha tidak bisa membiarkan Handi menyusun anggaran itu sendirian. Ia harus mengawasinya. Etha sudah mencium akan ada permainan anggaran di sini. *** Taka meraih helm yang ia sandarkan di setang motornya. Dengan agak kasar, ia mengenakan helm itu dan segera naik ke motornya. Ia masih agak emosi mendengar ucapan julid orang-orang yang tadi ia temui di ruang inkubator bisnis. Taka menghela napas keras sembari menarik gas motornya. Ia pun segera meninggalkan area parkir fakultasnya dan berkendara di jalanan kampus. Taka tak langsung pulang ke indekosnya. Ia memilih melipir ke kedai kopi langganannya yang berlokasi tak jauh dari kampus. Seberes memesan menu di kedai kopi itu, Taka memilih tempat duduk agak di pojok ruangan. Ia mencari lokasi yang pas untuk menyendiri. Tak membuang waktu lagi, Taka segera mengeluarkan laptopnya. Ia hendak melanjutkan kegiatan merevisi business plan-nya yang tadi sempat tertunda lantaran ia harus mengurusi orang-orang menyebalkan di ruang inkubator bisnis tadi. Saat pesanan kopinya datang, Taka menyempatkan diri untuk menyeruput sedikit. Lalu ia kembali melanjutkan kegiatannya. Dia lantas tenggelam ke dalam pikirannya soal rencana bisnis yang akan ia kembangkan. Meski sebenarnya belum tentu juga rencana-rencana itu akan ia realisasikan. Saat sedang serius-seriusnya menggarap business plan-nya, tiba-tiba saja seseorang menyapanya. Sontak saja Taka menoleh dan mendapati Panji ada di sana. Panji adalah pemilik kafe ini, Kafe Dua Belas Jari. "Wah, pelanggan setia udah mampir ke sini aja di hari pertama kuliah," sapa Panji sembari menarik kursi di seberang Taka. Taka terkekeh, "Iya nih. Ga tau mau kemana lagi kalau nggak kesini." Panji mengangguk-angguk mengerti. Ia memanjangkan lehernya untuk melihat apa yang sedang Taka kerjakan di laptopnya. "Mau ikut lomba lagi?" "Ada lomba dalam waktu dekat. Tapi gue belum tau mau ikut atau skip dulu," balas Taka sambil tetap memandangi layar laptopnya. "Ikut aja. Kalau menang kan lo bawa nama baik fakultas dan universitas kita juga," dukung Panji. Sekilas info soal Panji, dia adalah ketua Senat Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Karena satu fakultas itu lah, Taka bisa mengenal Panji. Meski sebenarnya Taka agak segan pada Panji mengingat Panji adalah seorang ketua Senat Mahasiswa tingkat fakultas yang terkenal dengan wibawanya. Tapi ngomong-ngomong, Taka jadi ingat sesuatu. Meski dia tengah sibuk mengerjakan sesuatu, namun rasa ingin tahunya memaksa Taka untuk mengalihkan perhatian sejenak. Taka ganti bertanya pada Panji, "Gue denger ada banyak kecelakaan selama ospek kemarin. Kok bisa sih? Padahal biasanya ospek fakultas ekonomi nggak sekeras ospek anak-anak teknik. Kejadian jelasnya kaya gimana?" Panji tahu persis kalau Taka ini senang sekali dengan hal seperti ini. Namun Panji memilih menggelengkan kepala. Ia berdalih, "Gue juga belum tahu jelasnya gimana." "Lah, elo kan panitia ospek juga. Malahan lo ketua komisi disiplin perwakilan Senat. Masa nggak ada gitu yang lo tau?" Panji hanya mengedikkan bahu sambil nyengir. Dia kelihatan tak berani banyak berkomentar soal ini. "Atau jangan-jangan, lo termasuk dalang di balik kecelakaan-kecelakaan itu?" tebak Taka sembarangan. Panji kaget dan buru-buru menggeleng. Dia pun berkata, "Gue sama sekali nggak ikut campur dalam kecelakaan itu." "Gue denger ada yang mati ya, kan?" cecar Taka. Panji membenarkan soal itu. Tapi dia tak buka suara. "Lo nggak kena imbas apa-apa? Lo kan penyelenggara ospek, masa nggak ada sanksi atas kecelakaan ini?" "Nanti pasti ada. Gue nggak masalah sih buat nerima sanksi apapun itu. Tapi sekarang ini, semua pihak masih berusaha mencari siapa pelakunya. Udah ya, gue mau ada urusan di belalang," tutup Panji yang kelihatan enggan dikorek-korek oleh Taka terkait masalah itu. Sepeninggal Panji, Taka kembali berusaha melanjutkan pekerjaannya. Tapi dia malah kepikiran soal kecelakaan selama ospek di fakultasnya. Seram juga ya? Bagaimana kalau setelah ini, nama fakultasnya akan tercemar? *** Daera menunggu Gara di trotoar jalan depan pintu gerbang fakultasnya. Ia sudah mengabarkan pada Gara untuk segera menjemputnya. Tapi yang ditunggu tak kunjung datang. Di dalam hati, Daera sudah memaki-maki. Jangan-jangan Gara lupa kalau harus menjemputnya dulu sebelum kembali ke indekost. Sepuluh menit berlalu, akhirnya motor Gara terlihat dari kejauhan. Daera yang semula sudah duduk-duduk malas di trotoar jadi buru-buru bangkit dari duduknya dan melambaikan tangan pada Gara. "Kok lama?" tanya Daera sambil naik ke boncengan Gara. Gara meringis. Ia pun membeberkan alasannya, "Sorry, Dae. Gue tadi harus melancarkan misi membuntuti Cantigi." "Cantigi? Nama taneman bukan sih? Lo ngapain buntutin taneman. Waras?" Daera dibuat bingung. Gara terbahak. Dia meluruskan, "Cantigi itu cewek yang gue ceritain ke elo-elo pada waktu kita ngumpul di ruang tengah kost-an kemarin malem." Daera pun ber-oh-ria. Ya kan dia taunya Cantigi itu nama tanaman. Mana ia tahu kalau ada seorang cewek bernama Cantigi yang Gara sukai. "Terus lo dapet apa dari buntutin dia?" tanya Daera untuk mengisi obrolan selama perjalanan. Gara cemberut. Dia menjawab lesu, "Nggak dapet apa-apa. Malahan dia berhasil mergokin gue. Untungnya gue agak pinteran dikit buat bikin-bikin alasan." "Haha, syukurin lo. Serem juga sih kalau lo PDKT-nya kaya gitu. Kek orang m***m," komentar Daera lalu dilanjut dengan tertawa terbahak. Gara hanya geleng-geleng kepala melihat Daera yang tertawa-tawa mengejeknya. Tapi setelah dipikir-pikir, yang dikatakan Daera ada benarnya. Gara jadi khawatir kalau Cantigi sudah memberinya label cowok m***m. Bagaimana kalau itu sungguh terjadi? "Kenapa muka lo jadi kecut gitu?" tanya Daera menyadari perubahan ekspresi wajah Gara yang mendadak kecut. Daera melihatnya dengan jelas dari pantulan kaca spion. "Ya gue jadi kepikiran aja. Jangan-jangan Cantigi juga mikir kaya lo pikirin," gerutu Gara. Untuk kedua kalinya Daera terbahak. Dia tak habis pikir cowok model buaya darat seperti Gara ternyata tidak punya kemampuan mendekati cewek. Justru tingkahnya itu jadi freak. *** Serin keluar dari kamarnya sambil membawa setumpuk pakaian kotor yang hendak ia cuci. Ia bergegas menuju ke lantai satu, tempat cuci baju berada. Sempat ia berpapasan dengan Etha yang baru pulang dari kampus. Namun mereka tak banyak bicara karena masing-masing dari mereka punya pekerjaan yang harus segera dikerjakan. Serin tiba di bagian halaman samping indekost. Di sana ada sebuah ruang yang difungsikan sebagai tempat cuci baju. Ada dua mesin cuci. Satu untuk penghuni perempuan dan satunya untuk penghuni laki-laki. Ya, biar tidak risih kata si pemilih indekost ini. Ia segera memasukkan baju-bajunya ke dalam mesin cuci itu. Ia pun menambahkan deterjen dan pengharum pakaian, lalu menekan tombol-tombol untuk mengatur proses pencucian. Seberes itu, Serin pergi dari ruang cuci dan masuk ke rumah utama. Dia menuju ke dapur untuk mengambil makanan yang ada di meja atau cemilan dari kulkas. Sudah mendapatkan apa yang ia inginkan, Serin kembali ke ruang tengah. Tangannya gesit menyalakan televisi dan memilih channel yang ia sukai. Sampai akhirnya Daera dan Gara tiba di indekost itu dan bergabung di ruang tengah sekadar melepas lelah barang sebentar. Sambil cerita-cerita, mereka selonjoran santai di karpet. "Ntar malem makan di luar yuk," ajak Gara pada kedua teman indekosnya. Daera dan Serin saling tatap. Kebiasaan Gara sudah kembali. Gara memang yang paling gemar mengajak teman-temannya buang-buang duit. "Liat nanti kalau gue nggak mager," jawab Serin. Daera mengangguk-angguk setuju dengan Serin. Masalahnya kalau sudah kembali ke indekost itu, ia sangat malas untuk pergi lagi. "Gue juga liat nanti deh." Serin yang teringat kalau ia masih punya cucian yang belum ia jemur pun segera undur diri dari sana. "Gue mau jemur baju dulu ya." Kebetulan sekali saat Serin kembali ke ruang cuci, mesin cuci yang ia gunakan sudah selesai melakukan pekerjaannya. Ia pun bergegas memindahkan pakaian-pakaian setengah kering dari mesin cuci ke ember. Berhubung ini sudah sore, Serin membawa cucian itu untuk dijemur di teras samping indekost. Takutnya kalau dijemur di halaman, malamnya kehujanan. Mengingat sekarang ini kalau malam suka turun hujan. Serin baru menyelesaikan acara menjemur bajunya itu saat jam menunjukkan pukul setengah enam sore. Ia buru-buru masuk ke rumah karena di luar sudah petang. Saat ia melewati ruang tengah, ada Taka dan Etha yang tengah menonton kartun sambil memakan camilan yang tadi Serin bawa dari dapur. "Habis nyuci baju lo?" tanya Taka yang menyadari keberadaan Serin di sana. Serin mengangguk. Ia akhirnya turut duduk di ruang tengah itu. Habis ini saja ia kembali ke kamarnya. "Katanya lo mau nyapu, Ka? Udah belum?" Daera yang baru turun dari tangga agak berteriak untuk menanyai Taka. "Haha, gue lupa," balas Taka santai. Ia melanjutkan, "Ntar deh kalau udah nggak males." Dari arah belakang, Serin melempar bantal sofa ke kepala Taka sembari berseru, "Huu, pemales banget sih lo." "Kaya lo rajin aja? Itu baju-baju yang lo cuci barusan pasti peninggalan sejak sebelum lo balik rumah buat liburan, kan?" "Lah, kok lo tau?" Serin terkaget-kaget. "Iya lah, baju lo sampe ijo-ijo gitu. Lumutan pasti," ejek Taka. Serin melempar bantal sofa ke kepala Taka untuk kedua kalinya. "Itu emang warna bajunya ijo, Ka. Dasar t***l," balas Serin. Sementara Etha yang juga ada di sana namun diam saja hanya bisa mengelus d**a melihat kericuhan yang ada. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN