⛧ Chapter 7 ⛧

1708 Kata
Seperti yang Gara katakan tadi sore, dia mengajak teman-temannya makan di luar malam ini. Berhubung memang tidak ada makanan apa-apa yang bisa dimakan malam itu, teman-temannya pun setuju untuk ikut Gara mencari makan malam. "Nasib anak kost. Kalau nggak bisa masak ya gini, kudu beli. Kalau pas nggak ada duit, cuma bisa makan mi," celetuk Taka ketika ia dan teman-temannya sedang jalan kaki menuju ke tenda abang penjual nasi goreng tak jauh dari indekost mereka. "Makanya kaya Daera. Dia punya slogan hidup 'tetap masak meski masakannya tidak enak' gitu," ledek Gara pada Daera yang jalan di depannya. Daera menoleh dan mencebikkan bibirnya. Meski sebenarnya omongan Gara tak ia ambil hati. Toh dia juga sadar diri. Yang dikatakan Gara itu benar adanya. "Bacot ah kalian," maki Serin yang berjalan di sebelah Daera. "Dih, yang diledek Daera, tapi kok elo yang kesel," balas Taka. "Sudah-sudah, nggak enak didenger orang kalau kalian berantem terus," tegur Etha yang jalan agak di belakang. Taka menoleh dan menjawab, "Bercanda sayang." "Merinding gue denger lo sayang-sayangan ke Etha," ujar Gara sembari menggeplak kepala Taka. Taka balas mendorong Gara hingga cowok itu berhenti cengengesan karena terhuyung-huyung hampir jatuh ke jurang. Eh, maksudnya selokan. "Wah, parah lo, Ka. Gue rasanya mau meninggoy barusan." Gara berucap setelah keseimbangannya kembali. "Ya udah gih buruan meninggoy," ledek Etha menirukan gaya Gara. "Aamiin," sahut dua cewek yang jalan di depan hampir bersamaan. "Sudah-sudah, yang kaya gitu nggak boleh buat bercandaan," tegur Etha pada akhirnya. Dan setelah itu, perjalanan menuju ke abang tukang nasi goreng sudah tidak ada hambatan lagi. Kebetulan sesampainya mereka di sana, warung tenda kaki lima itu sedang tidak begitu ramai. Hanya butuh waktu sebentar menunggu nasi goreng pesanan mereka siap disantap. "Selamat makan," ucap Serin saat piring-piring berisi nasi goreng babat itu sudah tersaji di meja. Daera mengingatkan, "Jangan lupa berdoa." "Etha, gas pimpin doa," seru Taka sambil menyenggol lengan Etha yang duduk di sebelahnya. Etha segera memimpin doa dan dilanjutkan dengan sesi makan yang damai. Obrolan-obrolan yang baik mengiringi makan malam sederhana mereka. *** Setelah perut terisi penuh, mereka berlima memutuskan kembali ke indekost saja. Lagian, sekarang juga sudah malam. Beberapa dari mereka sudah lelah karena sibuk beraktivitas seharian. Mereka perlu istirahat. "Besok siapa yang nggak ada kelas?" tanya Daera tiba-tiba. Sontak ke empat temannya menoleh dan menatap Daera dengan dengan wajah-wajah penuh tanya. Tentu saja mereka penasaran. "Gue besok kosong, kenapa?" Taka yang pertama buka suara. "Bantu gue beresin rumah. Lo juga masih punya utang nyapu, kan?" Daera menaik turunkan alisnya. Taka menghela napas. Ia langsung menyesali pengakuannya barusan. Padahal seharusnya ia tahu kalau Daera suka bersih-bersih. Jadi kalau cewek itu bertanya soal siapa yang punya waktu, pasti urusannya tak jauh-jauh dari bersih-bersih rumah. Taka tetap mengangguk setuju meski wajahnya suram. Kentara sekali kalau ia tidak ikhlas. Tapi ya sudah lah, dia tidak enak hati menolak permintaan Daera. Cewek itu sudah banyak membantunya. "Maaf ya, aku ada kelas jam sepuluh pagi. Tapi nanti kalau sempat, insyaallah aku ikut bantu-bantu." Etha nimbrung dalam pembicaraan. "Santai aja, Tha," balas Deara mengerti. Pembicaraan berhenti saat kelima orang itu sudah sampai di indekost mereka. Berhubung mereka sudah tak sabar untuk istirahat, tak ada lagi perbincangan setelahnya. Semua kembali ke kamar masing-masing. "Selamat istirahat, all," ujar Serin sebelum masuk ke kamarnya. Daera juga sudah berlalu masuk ke kamar. Sementara ketiga cowok yang kamarnya ada di sisi seberang tangga juga sudah tak nampak batang hidungnya. *** Gara bangun pagi-pagi dan buru-buru menyambar handuk lalu masuk kamar mandi. Dia menyelesaikan mandinya dalam sekejap. Seberes mengenakan pakaian, Gara cepat-cepat keluar kamar. Ia sudah kelaparan. Sesampainya di dapur, sudah ada Taka dan Deara yang sibuk berbincang sembari membereskan dan merapikan dapur. "Dae, lo nggak masak?" tanya Gara agak kecewa saat melihat tidak ada makanan apa-apa di meja. Daera nyengir kuda. Ia mengangkat lap yang ia gunakan untuk membersihkan debu-debu. "Gue sibuk bersih-bersih sejak pagi. Lupa deh belum bikin apa-apa," ujar Daera agak merasa bersalah. Gara menghela napas. Ia lantas melirik ke arah Taka yang sedang membersihkan kolong lemari di pantry. "Ka, temenin gue beli bubur ayam, yuk," ajak Gara yang nadanya rada memaksa. Taka menggeleng, menolak menemani Gara. Ia beralasan, "Sorry ya. Masih banyak yang harus gue sapu. Nggak selesai-selesai ini." Gara berdecak. Ia balik badan dan bergegas mengeluarkan motornya dari teras indekost. Ia tancap gas menuju warung tukang bubur di dekat indekost itu, sendirian. Pergi selama dua puluh menit, Gara kembali dengan membawa dua plastik yang masing-masing berisi dua kotak makanan. "Nih, gue beliin sarapan. Semangat kalian bersih-bersihnya," ujar Gara sebelum kembali cabut dari indekost itu. "Wah, kesambet apa itu orang?" Taka keheranan melihat Gara yang perhatian. Daera mengedikkan bahu. Ia juga heran. Tapi ia lebih banyak bersyukur. Kalau Gara tak membelikan makanan, mungkin ia akan melewatkan sarapan. *** Serin baru selesai mandi ketika jam menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi. Wah, ternyata dia menghabiskan waktu satu jam di kamar mandi. Serin mengernyit heran. Dia sendiri bingung kenapa ia menghabiskan waktu begitu lama di dalam sana. Jangan-jangan dia ketiduran! Tapi ketiduran itu hal yang mustahil. Mungkin karena ia asyik luluran, makanya ia sampai lupa waktu. Ingat bahwa setengah jam lagi ia harus menghadiri kelas, akhirnya Serin mempercepat acara siap-siapnya. Setelah semua beres, Serin berlarian meninggalkan kamar. Ia bergegas keluar dari indekost-nya sembari memesan ojek online. Baru akan berjalan ke arah pagar rumah, Serin mendengar ada yang memanggilnya dari dalam indekost. Suaranya sih sepertinya milik Daera. Benar saja, itu Daera. Cewek itu sedang berlari mendekatinya sembari membawa plastik yang entah isinya apa. Namun sepertinya, itu adalah makanan. "Mbak Serin nggak sempat sarapan ya? Ini dibawa aja, Mbak. Tadi Gara yang beliin buat anak-anak kost," ujar Daera sembari menyodorkan plastik itu. Serin mengangguk dan menerima plastik yang disodorkan Daera itu. Ia berteriak, "Thanks ya, Dae." "Sama-sama, Mbak. Hati-hati di jalan," pesan Daera yang masih bisa Serin dengar. Setelahnya, ia sudah naik ke boncengan driver ojol pesananya dan motor itu gegas melaju meninggalkan jalanan di depan indekost itu. Butuh waktu sepuluh menit untuk tiba di fakultasnya. Dan tepat sekali, Serin terlambat. Area fakultasnya sudah sepi. Beberapa mahasiswa yang berlalu lalang juga kelihatan baru selesai mengikuti kelas. Mereka bukan mahasiswa yang akan mengikuti kelas di jam ini. "s**t!" umpatnya sembari berlarian dari satu koridor ke koridor lain. Napasnya terengah-engah ketika ia tiba di depan kelasnya. Ia mencoba mengatur napas terlebih dahulu. Setelah lumayan mendingan, Serin membuka pintu ruangan itu. "Selamat pagi, Pak," sapa Serin sambil mendekat ke arah dosen yang sudah hadir di kelas. "Terlambat kenapa, Mbak?" tanya dosen itu. Dan di sini lah kemampuan mengarang alasan Serin diuji. Sialnya, dia bukan Daera yang suka mengarang ide cerita. Sial, sekarang dia harus jawab apa? *** Etha keluar dari kelas dan bergegas menuju gedung kegiatan mahasiswa dimana ruang UKM Anti Narkotika berada. Semalam ia sudah mencoba menyusun anggaran. Rencananya ia akan membahas hal ini dengan pengurus lain, juga dengan ketuanya. Setibanya di sana, Etha langsung disambut oleh Handi. Handi tersenyum meremehkan melihat Taka datang membawa rencana anggaran untuk UKM tersebut setahun ke depan. "Lo tau apa sih soal ginian, hmm?" tanya Handi sambil merampas kertas-kertas berisi rencana anggaran yang Etha buat. Etha menghela napas dan mengucap istighfar saat melihat Handi yang dengan garangnya berusaha melenyapkan rencana anggaran yang ia buat. Kertas-kertas itu dirobeknya dengan ganas hingga berubah menjadi potongan-potongan kecil. "Udah gue bilang, kan? Soal anggaran, itu urusan gue. Jangan ikut campur kalau lo nggak mau bermasalah sama gue," ancam Handi. Ia menarik dirinya menjauh dari Etha. "Bendahara juga punya hak untuk ikut menyusun anggaran. Bahkan itu salah satu tupoksi bendahara. Oke deh, kalau memang kamu yang akan menyusun anggaran-anggaran itu, aku nggak masalah. Asalkan kamu membuat rancangan anggarannya sejujur mungkin," ujar Etha dengan kalem. Handi mendengkus. Ia membalas, "Lo nggak berhak ngatur gue. Kalau lo masih banyak bacot, gue nggak segan-segan buat usir lo dari UKM ini. Gampang, kan?" Etha terdiam. Ia tidak tahu lagi harus membalas Handi dengan bagaimana. Tapi ia yakin kalau Handi tidak akan berubah meski ia memberikan nasihat-nasihat. Etha tetap akan kalah. Handi memperingatkan Etha sekali lagi. "Jangan bilang ke anggota lain kalau lo udah buat rancangan anggaran. Anggaran yang lo buat itu terlalu sampah," desis Handi. *** Taka sudah beres menyapu seluruh bagian rumah, kecuali kamar-kamar penghuni indekost itu. Ia sekarang tengah mendinginkan badan di depan kipas angin di ruang tengah. Tangannya juga aktif mengganti-ganti saluran televisi, mencari tayangan yang cocok untuk ia nikmati. Sementara Taka sedang santai-santai, Daera memilih pergi ke warung sebelah untuk membeli es buah. Lumayan untuk mengusir dahaga kala matahari sedang terik-teriknya. Saat Daera sudah kembali dari warung itu, Taka buru-buru menyerbu es buah yang Daera bawa. "Ah, seger," ujar Taka setelah menyeruput es buah itu. Daera turut mencicipi es buah yang barusan ia beli. Ya pendapatnya juga sama dengan Taka, es buah itu terasa menyegarkan. Cocok lah diminum siang-siang begini setelah lelah seharian membersihkan rumah. "Berapa nih harga es buahnya?" tanya Taka sambil sibuk menyuap potongan buah melon ke mulutnya. "Udah nggak usah," balas Daera singkat. Perhatiannya tengah tertuju pada ponselnya. Taka tetap berniat mengganti uang Daera sehingga cowok itu menyelipkan selembar uang sepuluh ribuan ke bawah dompet Daera yang tergeletak di meja. "Ih, Taka. Gue bilang nggak usah," gumam Daera saat menyadari ada uang Taka di bawah dompetnya. Taka hanya mengacungkan jempolnya lalu kembali asyik memilih buah-buahan di es buahnya. Hingga tiba-tiba Daera bertanya, "Eh, Ka. Lo udah denger kalau mahasiswa kampus kita bakalan ngadain demo terkait kenaikan UKT?" Taka mengangguk dan menimpali, "Udah. Katanya yang mimpin demo dari BEM Fakultas Hukum." "Lah, bukan BEM Universitas?" Daera kelihatan heran. Taka menerangkan, "Iya, soalnya usulan itu pertama kali digagas sama BEM FH. Tapi ya tetep semua BEM fakultas maupun universitas bakalan ikut ngerahin mahasiswa buat turun aksi." "Wah, keren-keren," gumam Daera mengerti. Ia lanjut bertanya, "Lo turun aksi nggak?" "Liat nanti deh. Kalau banyak temennya ya mungkin gue bakal ikut," ujar Taka. Daera mengernyit dan mencibir, "Dih, urusan kaya gitu kok ikut-ikutan orang. Harusnya lo punya pendirian. Kalau lo nggak setuju sama kebijakan yang baru, ya lo ikut aksi besok. Tapi kalau lo setuju-setuju aja, ya nggak usah. Lo kudu ngerti masalah yang akan disuarakan ketika turun aksi itu. Bukan turun aksi karena gengsi atau malah ikut-ikutan aja biar nggak ketinggalan eksis." "Iya-iya, Deara bawel. Ntar deh gue pikirin baiknya gimana," balas Taka menurut saja. Dia khawatir kalau ia membalas dan menentang argumen Daera, urusannya akan semakin panjang. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN