Malam ini, Gara datang ke tongkrongan tempat anak-anak Fakultas Hukum sering berkumpul. Ketika ia datang, sudah banyak orang berkumpul di tempat itu. Mereka memenuhi meja-meja di warung kopi itu dan membuat kelompok-kelompok untuk mengobrol.
Pembahasan di tiap meja pastilah berbeda. Ada sekelompok mahasiswa semester tua yang tengah membahas nasib mereka. Ada juga beberapa aktivis organisasi yang tengah saling bertukar pengalaman. Lalu mayoritas orang-orang di sana rupanya tengah membahas urusan turun aksi yang akan dilaksanakan beberapa hari ke depan.
Gara mencoba mencari meja yang topik perbincangannya sesuai dengan dirinya. Ia melihat temannya di salah satu meja dan langsung memilih bergabung di sana.
"Woi, lagi pada bahas rencana buat turun aksi ya?" bisik Gara pada teman yang duduk di sebelahnya.
Temannya itu mengangguk dan membeberkan pembahasan yang ada secara garis besar.
Gara mengangguk-angguk saja. Dia tidak begitu berminat untuk ikut-ikut kegiatan yang begitu. Gara malah menanyakan hal lain pada temannya itu. "Besok kita jadi ngedaki, kan?"
"Yah, Gar. Lo gimana sih? Jelas-jelas ini pada mau ikutan demo. Tunda dulu lah ngedakinya," balas si teman.
Gara berdecak dan bertanya memastikan, "Jadi batal, nih?"
"Tunda, lain waktu aja kita rencanain lagi," jawab temannya itu telak.
Gara hanya bisa menghela napas. Padahal ia sedang sangat ingin mendaki. Mumpung belum banyak kegiatan di awal semester ini. Tapi kalau teman-temannya tidak ada yang bisa, masa Gara harus berangkat sendiri? Mentalnya belum cukup kuat untuk itu.
***
Serin membuka pintu studio band-nya. Sudah ada Ezra si basis di sana. Tapi yang lain belum terlihat batang hidungnya.
"Yang lain mana? Katanya kita latihan mulai jam tiga," tanya Serin sambil melirik ke jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul tiga lebih lima menit.
Ezra mendongak dan menatap Serin. Ia berujar, "Tadi sih bilangnya mau makan dulu."
Serin ber-oh-ria. Mumpung teman-temannya belum datang, Serin memutuskan tidur-tiduran di sofa. Lumayan buat mengistirahatkan badan.
Sambil rebahan, Serin membuka ponselnya. Ia mengecek aplikasi perpesanan miliknya. Tidak ada pesan penting yang perlu ia baca atau balas. Hanya saja perhatian Serin tersita pada ruang obrolan antara dirinya dengan Arkais.
"Kumara nanti dateng latihan nggak?" tanya Serin tiba-tiba ketika ia teringat soal Kumara.
Ezra yang merasa diajak bicara oleh Serin akhirnya buka suara. Ia membalas, "Iya, kali. Gue belum tanya dia sih. Tadi gue cuma chat Ansel. Ternyata dia lagi makan sama Brian."
"Oh, oke-oke," gumam Serin. Ia segera mencari kontak Kumara dan mengirim pesan padanya.
"Kenapa sih emang?" tanya Ezra masih membahas Kumara.
Serin menggeleng, "Ya, nggak apa-apa. Cuma gue belum denger kabarnya aja hari ini."
Ezra mengangguk-angguk mengerti. Ia kira ada sesuatu yang terjadi. Pasalnya Serin jarang peduli dengan teman-teman satu band-nya. Jarang-jarang Serin menanyakan hal seperti itu.
Serin selesai mengirim pesan dan ia tengah menunggu balasan dari Kumara. Tapi pesannya itu seolah terabaikan. Hingga lima belas menit berlalu, barulah Kumara mengirimkan balas.
"Kumara lagi OTW ke sini," gumam Serin tanpa sadar.
Ezra hanya menoleh singkat namun tak memberi tanggapan apa-apa karena dia sedang asyik berkirim pesan entah dengan siapa.
Lima menit kemudian, Ansel dan Brian memasuki studio. Mereka langsung menarik kursi dan duduk di sana.
"Latihannya bentaran ya. Gue lagi kekenyangan," ujar Ansel sambil menepuk-nepuk perutnya.
Hal itu diangguki oleh Brian yang tak kalah kelihatan kekenyangan sampai lemas begitu. Bahkan matanya kelihatan ngantuk berat.
"Yoi, lagian Kumara juga belum dateng," timpal Serin yang tak kalah malas untuk meninggalkan posisi rebahannya di sofa. Sudah terlanjur nyaman begini.
Akhirnya setelah lama ditunggu, Kumara tiba juga di studio itu. Latihan pun segera dimulai.
Saat mereka mengambil jeda istirahat, Serin mendekati Kumara. Dengan canggung, Serin bertanya, "Kumara, lo kemarin kemana? Dicariin lho sama sepupu lo."
"Oh, gue cuma lagi pengen menyendiri aja. Lagi pengen cari inspirasi," terang Kumara santai. Seolah menghilangnya ia kemarin bukanlah masalah yang besar. Padahal sepupunya kelihatan sangat mengkhawatirkannya.
Serin membalas, "Ya lo kabarin Arkais dulu sebelum menyendiri. Biar dia nggak panik nyariin lo."
Kumara mengangguk-angguk mengerti. Tapi ia lantas mengerutkan dahi dan memicingkan mata. Ia balas bertanya, "Lo kok tau Arkais nyariin gue?"
"Iya, kemarin dia dateng ke studio ini bawain lo sarapan. Tapi berhubung lo nya nggak ada, jadi sarapannya dia kasih ke gue. Terus sorenya juga dia chat gue lagi, nanyain kabar lo,"
"Modus dia. Orang kemarin sore gue udah ketemu dia," kelakar Kumara sambil terkekeh.
Serin dibuat terdiam. Bahkan mulutnya masih setengah terbuka, bengong.
"Yuk, latihan lagi," ujar Kumara sembari menepuk bahu Serin. Ia pun berlalu untuk kembali ke posisinya sebagai drumer band Alcen.
Seolah tersadar, Serin ikut bergegas bangkit dan kembali ke posisinya juga. Latihan pun dilanjutkan.
***
Daera baru saja kembali dari minimarket terdekat. Ia membeli beberapa bahan makanan dan juga camilan.
Kini ia tengah membuka gerbang indekost-nya lebar-lebar agar ia bisa memasukkan motornya. Ketika selesai memarkirkan motor di pelataran indekost dan ia hendak menutup kambali gerbang indekost-nya, ia justru berpapasan dengan Serin yang baru tiba.
"Mbak Serin baru pulang?" sapa Daera. Sambil menunggu Serin menjawab, Daera melihat ke luar gerbang dan mendapati ada teman yang mengantar Serin masih menunggu di sana.
Serin berkata, "Iya. Beres kuliah langsung latihan. Gue masuk dulu ya. Gerbangnya belum gue tutup itu. Lo mau keluar, kan?"
Daera menggeleng. "Gue juga baru balik dari belanja di minimarket depan gang," ujarnya.
"Oh, ya udah gue tutup dulu gerbangnya," ucap Serin hampir balik badan untuk menutup pintu gerbang.
Daera buru-buru mencegah, "Enggak usah, Mbak. Lo masuk aja terus istirahat. Gue yang tutup gerbangnya."
"Thanks, ya," balas Serin dan berlalu ke dalam rumah.
Daera pun melanjutkan langkahnya menuju ke gerbang. Ia melempar senyum tipis pada teman Serin yang masih berada disana. Tanpa membuang banyak waktu, Daera cepat-cepat balik badan dan masuk kembali ke indekost-nya.
Baru akan melangkahkan kaki untuk merealisasikan keinginannya, Daera terpaksa mengurungkannya. Teman Serin itu sepertinya berniat mengajak Deara bicara.
"Daera, ya?" tanya teman Serin itu.
Daera menganggukkan kepala dengan bingung dan canggung. Ia agak berjalan sedikit mendekati gerbang indekost-nya.
"Iya, Kak," jawab Daera sopan.
Cowok itu tersenyum. Ia kembali bicara, "Anak seni teater yang juga penulis itu, kan?"
Daera tertawa renyah sebelum akhirnya mengangguk. Tapi ia masih bingung dari mana cowok itu tahu soal dirinya. Dari Serin, kah?
"Gue Kumara. Gue baca tulisan lo. Gue nggak nyangka kalau penulis yang gue suka ternyata ada di kampus yang sama dengan gue. Belum lagi, kita satu fakultas," terang cowok yang diketahui bernama Kumara itu.
Daera hanya bisa mengangguk-angguk. Dia bingung harus memberi tanggapan apa.
"Nggak ada niat cetak novel? Gue bakalan jadi orang pertama yang beli novel lo," ucap Kumara lagi.
Kali ini Daera menggeleng. Ia pun menjelaskan, "Hmm, kayanya belum dulu deh. Selain karena proses untuk nerbitin novel itu ribet, aku juga masih ada kontrak sama pihak platform penerbit."
Kumara ber-oh-ria. Ia yang semula duduk di motornya, tiba-tiba saja bergerak turun dan berjalan mendekati Daera. Kumara menyodorkan ponselnya sembari berkata, "Boleh minta kontak lo?"
Daera masih bergeming. Ia hanya memperhatikan ponsel Kumara.
Menyadari keraguan Daera, Kumara berkata, "Nggak ada niat apa-apa kok. Gue cuma mau tanya-tanya soal menulis. Kayanya gue bisa belajar sama lo."
"Kamu temannya Serin?" Daera bertanya.
Kumara mengangguk-angguk. Ia berpikir barangkali Daera ragu memberikan kontaknya ke orang asing. Kumara menjadikan nama Serin sebagai jaminan. "Iya, gue temen band-nya Serin. Gue juga anak seni musik. Kadang satu kelas sama Serin."
Daera akhirnya menerima ponsel yang Kumara sodorkan. Ia pun mengetikkan nomor ponselnya di sana. Seberes itu, Daera mengembalikan ponsel Kumara dan ia buru-buru pamit masuk ke dalam indekost-nya.
***
Taka dan Etha sekarang sedang mengerjakan tugas masing-masing di teras samping indekost mereka. Keduanya tampak tekun dengan pekerjaan masing-masing. Sementara jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam.
"Bikin kopi dong, Tha," pinta Taka seenak jidat.
Etha mengangguk setuju dan segera bangkit dari duduknya. Ia bergegas ke dapur dan menyeduh dua gelas kopi hitam.
Saat hendak keluar dapur, Etha melihat Gara memasuki rumah. Begitu pun sebaliknya, Gara juga melihat keberadaan Etha di sana.
"Baru pulang, Gar? Sudah tengah malam begini," tanya Etha berbasa-basi.
Gara mengangguk. Tapi wajahnya kelihatan murung dan tak bersemangat. Padahal dia baru saja kembali dari tempat tongkrongan.
"Kamu kenapa?" tanya Etha yang ternyata peka juga.
Merasa dipancing begitu, Gara bersiap-siap untuk cerita panjang kali lebar. Ia menoleh kesana-kemari.
"Lo bawa dua gelas kopi buat siapa?" Gara justru balik bertanya.
"Buat Taka. Kami lagi ngerjain tugas di teras samping," terang Etha.
Gara pun ber-oh-ria. Ia segera mengganti haluan yang semula akan menuju kamar, sekarang ia berbalik ke arah dapur. Ia berpesan pada Etha, "Gue bikin kopi dulu ya. Ntar gue gabung sama kalian."
Etha mengangguk-angguk paham. Ia pun berlalu untuk mengantarkan kopi pesanan Taka dan lanjut mengerjakan tugasnya.
Seperti yang telah Gara katakan, ia akhirnya bergabung dengan Etha dan Taka di teras samping. Kalau kedua sobat se-indekost-nya itu sedang sibuk mengerjakan tugas, Gara malah sibuk mencurahkan segala gundah gulananya.
"Sumpah, gue nggak nyangka kalau Cantigi bakalan ikut aksi. Di baris terdepan lagi. Gue harus gimana, nih?" Gara berucap dramatis.
Taka geleng-geleng kepala. Ia membalas, "Ya udah, lo nggak harus gimana-gimana."
"Memangnya apa yang kamu risaukan, Gar?" tanya Etha dengan gaya kalemnya.
Gara tampak berpikir keras. Ia lantas berucap pelan, "Ya nggak ada apa-apa sih yang harus gue pikirin."
"Nah, ya udah! Kenapa lo kudu keliatan bingung gini," sembur Taka pada Gara.
"Ya, gue gengsi. Masa cewek inceran gue jadi salah satu koordinator aksi. Sementara gue aja berniat buat nggak ikut-ikutan turun aksi," gumam Gara.
Taka langsung teringat kata-kata Daera tadi siang. Ia segera mengutip kata-kata Daera itu. "Gar, kata Daera, urusan kaya gitu nggak boleh cuma ikut-ikutan orang. Lo kudu punya pendirian sendiri. Kalau emang lo berniat menyuarakan isi hati, ya lo ikut turun aksi. Tapi kalau nggak ada masalah, ya nggak usah. Jangan turun aksi karena gengsi sama Cantigi. Lo kan nggak harus bersaing sama dia. Bener nggak, Tha?"
Etha yang merasa tersenggol akhirnya mengangguk-angguk setuju dengan polosnya.
***