⛧ Chapter 9 ⛧

1687 Kata
Gara merenungi ucapan Taka tadi. Sambil rebahan di kasur, Gara berusaha memutar otaknya. Ia jelas malas ikut unjuk rasa. Toh dia tidak keberatan dengan kebijakan kenaikan UKT itu. Meski begitu, hampir semua mahasiswa di fakultas hukum akan mengikuti aksi besok. Bahkan dengan sangat antusias, mereka mempersiapkan segalanya. Masa Gara tidak ikutan? Apa kata Cantigi coba? Ya, meski Cantigi juga belum tentu memperhatikan dirinya. Ponselnya berdenting. Sekarang sudah pukul satu pagi. Namun masih ada saja yang mengiriminya pesan. Rupanya itu pesan dari sobat tongkrongannya yang juga saru fakultas dengannya. Sobatnya itu mengirimkan sebuah link formulir survei kesediaan mahasiswa untuk turut ikut dalam unjuk rasa menolak kebijakan kenaikan UKT. Gara berdecak beberapa kali. Dahinya berkerut-kerut frustasi. Jujur saja, Gara memang sebimbang ini. Padahal masalah seperti ini bukan lah sesuatu yang besar untuk orang lain. Namun beda cerita kalau Gara yang mengalami. "Ikut nggak, ya? Gue males panas-panasan. Belum lagi kalau demonya ricuh, bisa-bisa gue kenapa-kenapa lagi," gumamnya seorang diri. Gara bangkit dari tidurnya. Ia berjalan menuju balkon kamarnya. Gara duduk di sana sambil bersandar pada pagar pembatas. Tangannya mencoba membuka link formulir itu. Sekadar melihat-lihat isinya dulu. Ternyata ia mendapati bahwa yang membuat formulir itu adalah pihak BEM Fakultas Hukum. Itu artinya, kemungkinan besar Cantigi punya akses untuk melihat rekap hasil survei. Apa ia isi saja formulir itu? Soal nanti dia akan sungguhan turun aksi atau tidak, jadikan urusan belakang. Tapi bagaimana kalau semua orang berpikiran yang sama dengannya. Itu akan merugikan pihak koordinator aksi. Mereka jadi tidak bisa mengira-ngira bagaimana akan menyusun strategi dan membuat rencana matang untuk besok. Gara memutuskan mengurungkan niatnya mengisi formulir itu. Ia pun beralih membuka media sosial tempat dirinya bisa melihat-lihat foto yang Cantigi unggah. Dari yang Gara lihat, Cantigi benar-benar berdedikasi besar untuk kemajuan organisasinya, BEM Fakultas Hukum. Juga beberapa kali, Cantigi terlihat terlibat dalam kegiatan sosial, baik yang diselenggarakan oleh kampus maupun luar kampus. Setelah melihat itu, Gara malah semakin ciut. Ia jadi tidak bernyali untuk mendekati Cantigi. Dia terlalu biasa untuk seorang Cantigi yang luar biasa. Tapi dengan nekat, Gara langsung mengisi formulir survei kesediaan mahasiswa tersebut. Ia berpikir kalau sepertinya masih ada kesempatan baginya untuk mengejar ketertinggalannya. Ia pasti bisa mendapatkan Cantigi. Gara sangat optimis untuk itu. Mungkin dengan keikutsertaannya dalam aksi mahasiswa besok, ia bisa sedikit menarik perhatian Cantigi. *** Alarm ponsel Serin berdering saat jam menunjukkan pukul lima pagi. Ia buru-buru mematikan alarmnya. Namun ia belum bangkit dari tidurnya. Serin menguap lebar-lebar sambil meregangkan tulang-tulangnya. Dia mengucek-ngucek mata, lalu melamun sebentar. Tidak ada yang ia pikirkan. Hanya saja ia masih malas untuk meninggalkan kasurnya yang nyaman. Tapi ia sadar kalau jadwal kuliahnya hari ini terlampau padat. Seharusnya ia tak lagi memulai hari dengan malas-malasan. "Mbak Serin, baju-baju Mbak Serin yang di jemuran udah pada kering. Itu jemurannya mau dipakai Gara, Mbak," ujar Daera dari luar kamarnya. "Oke bentar gue angkat," balas Serin pada Daera. Ah iya, ia lupa kalau punya jemuran. Serin segera turun untuk mengambil baju-bajunya dan membiarkan penghuni indekost lain untuk menggunakan jemuran itu. Dengan langkah gontai, Serin berjalan keluar kamar. Ia buru-buru menuruni tangga dan berlalu ke teras samping. Disana sudah ada Gara dengan satu ember besar di sampingnya. Pastinya Gara tengah menunggu adanya tempat untuk menjemur baju-bajunya. "Sampai kaku banget gitu baju lo. Bisa kering pecah-pecah kalau nggak diangkat," komentar Gara yang hanya dibalas Serin dengan gumaman. Hening sejenak. Tak ada yang bicara lagi. Gara sibuk dengan ponselnya, sementara Serin fokus menyelesaikan kerjaannya. Saat Serin selesai mengangkat baju-bajunya di jemuran, ia bertanya pada Gara, "Lo kenapa nggak jemur baju di jemuran di halaman? Kan masih pagi gini. Bakalan lebih cepet kering juga." Gara menggeleng. Ia lantas menjelaskan, "Soalnya gue nanti mau cabut. Ntar kalau hujan dan di kost nggak ada orang, siapa yang bakal ngurusin jemuran gue? Bahaya kan, bisa-bisa jemuran yang udah kering malah basah lagi." Yah, memang itu sih derita anak kost. Masalah jemuran saja akan jadi perkara yang membingungkan dan jadi dilema yang tak berkesudahan. Setelah puas ber-oh-ria, Serin pamit undur diri dari sana, "Ya udah, gue masuk dulu ya." *** Daera sudah selesai menyiapkan sarapan. Hari ini dia tidak memasak banyak. Daera hanya menyiapkan roti tawar, telur dadar, dan sosis untuk menu sarapan ia dan teman-teman se-kost-nya. Setelah menyiapkan sarapan, Daera bergegas mandi. Ia ada jadwal kuliah hari ini. Makanya dia tidak bisa bersantai. Padahal semalam ia begadang. Tentunya untuk alasan yang jelas. Apalagi kalau bukan menyelesaikan tugas-tugas dan naskah ceritanya? Daera hendak menapaki tangga menuju ke lantai atas, tempat kamarnya berada. Namun sebelum itu, ia mendengar suara Gara yang memanggil-manggil namanya. Daera menoleh ke sana kemari. Akhirnya ia menemukan Gara berdiri di teras samping. "Kenapa Gar?" tanya Daera. Dengan setengah berteriak, Gara membalas, "Lo mau ke kamar, kan? Tolong dong panggilin Serin suruh angkatin jemurannya. Gue mau jemur tapi nggak ada tempat." "Oh, oke. Bentar gue sampaiin," kata Daera dan selanjutnya ia kembali menapaki tangga menuju ke kamarnya yang berhadapan dengan kamar Serin. Daera terlebih dulu menyampaikan pesan Gara untuk Serin. Baru setelahnya, ia bergegas masuk kamar dan bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Daera menghabiskan waktu setengah jam di dalam kamar mandi. Keluar-keluar ia tampak sudah segar kembali. Ia pun segera berganti pakaian menjadi setelan kemeja oversize berwarna putih dengan rok kotak-kotak yang panjangnya selutut. Setelah itu Daera segera mengeringkan rambut, mengikatnya jadi ekor kuda, dan menggulungnya hingga membentuk cepolan. Ia juga sedikit memoles make up. Beres dengan urusan penampilan, Daera buru-buru memasukkan beberapa alat tulis dan buku untuk mata kuliahnya ke dalam tas. Dirasa sudah cukup, Daera meninggalkan kamarnya. Seperti yang sudah-sudah. Tadi pagi ia hanya memasak dan belum sempat sarapan. Ia baru akan sarapan setelah selesai bersiap-siap. "Heboh banget penampilan lo hari ini," komentar Gara yang rupanya sudah selesai dengan urusan jemur bajunya. Daera berhenti melangkah. Ia menatapi dirinya di bayangan pintu kulkas. Daera mengerutkan dahi. Ia bingung dari sebelah mananya ia kelihatan berlebihan. "Cantik kok cantik," ujar Gara lagi. Daera hanya mencebikkan bibirnya. Ia tak lagi mempedulikan Gara. Daera pun mengambil selembar roti ke piringnya. Ia menambahkan telur mata sapi dan potongan sosis ke atas rotinya. Daera juga membubuhkan sayuran selada ke atas potongan-potongan sosis. Tak lupa, Daera menuangkan sedikit saus dan mayonaise untuk menambah cita rasa sandwich sederhananya. Sebagai penutup, Daera menambahkan selembar roti tawar lagi. Sandwich buatannya pun siap disantap. Daera makan dengan tenang sembari mendengarkan ocehan Taka yang baru bergabung di sana. Taka sibuk berjalan ke sana kemari dan itu membuat Daera merasa pusing melihatnya. Ingin menegur tapi apa urusannya? Akhirnya Taka baru berhenti berjalan mondar-mandir dan turut sarapan ketika Gara menyuruhnya untuk duduk di sebelahnya, tentunya dengan tenang. *** Pagi-pagi Taka dikejutkan dengan informasi bahwa pihak kampus sudah menetapkan beberapa bussiness plan yang akan maju ke perlombaan mendatang. Tentu saja, namanya tidak ada di sana. Taka belum mengirimkan apa-apa, kok. "Anjir, lombanya masih lama. Tapi kenapa udah pada ngumpulin aja? Dan ini, seleksinya mula kapan coba? Kok sekarang udah keluar hasilnya." Taka menggerutu. Kebetulan hari ini ia ada jadwal kuliah. Jadi sekalian saja ia akan menanyakan perihal ini ke pihak kampusnya. Taka bergegas mandi, mengenakan pakaian, dan berlarian keluar kamar. Tujuan pertamanya adalah dapur. Ia akan sarapan sembari menggerutu di hadapan teman-temannya yang sedang ada di sana. Taka berjalan mondar-mandir sembari memanggang roti tawar. Tentunya mulutnya tak diam begitu saja. Ia mengeluarkan segala keluhannya. Hingga Gara akhirnya buka suara, "Duduk sini. Lo bacot mulu. Buruan sarapan." Taka menghela napas. Ia memindahkan roti panggangnya ke piring dan menuruti perkataan Gara untuk duduk. Taka duduk, Daera bangkit berdiri. Cewek itu berjalan ke arah tempat cucian piring. Tak lama setelahnya, Daera pamit berangkat ke kampus duluan. "Gue berangkat dulu ya guys, bye," ucapnya sambil melambaikan tangan yang dibalas anggukan tak bersemangat oleh Taka. Lain halnya dengan Taka, Gara berseru, "Hati-hati, Dae." Kini hanya tinggal Taka dan Gara yang tersisa di dapur. Sudah pasti kalau Taka menggerutu, Gara akan memaki-maki dan mengatainya. Taka menghela napas dan lanjut melahap sarapannya. Ia memulai paginya dengan buruk. Jadi mood-nya sudah hancur. "Gar, lo ada kelas hari ini?" tanya Taka karena risih dengan situasi yang terlalu hening. Gara menggeleng dan menjawab, "Nggak ada." "Terus ngapain pagi-pagi udah disini?" Taka kembali bertanya di sela-sela kunyahannya. Gara menjawab dengan enteng, "Takut aja nggak kebagian sarapan. Kan gue males kalau harus beli atau bikin. Enak makan yang gratis." Taka mendengkus lalu terkekeh. Ya sama sih, dia juga begitu. "Eh, Ka. Lo besok temenin gue turun aksi ya? Gue kayanya bakal tetep turun aksi meski nggak di baris terdepan kaya anak-anak fakultas gue." Gara berucap dengan serius. Taka terdiam. Turun aksi? Teman-temannya di fakultas ekonomi sepertinya tak banyak yang ikut dalam kegiatan itu. Mungkin hanya segelintir orang termasuk BEM, Senat Mahasiswa, juga Himpunan Mahasiswa Jurusan. "Males, ah," jawab Taka setelah menimbang-nimbang. Gara mendelik, berniat mengancam. "Pokoknya lo temenin gue. Awas aja kalau nggak mau, bakalan gue seret," desis Gara menakut-nakuti. Taka memutar bola mata. Ia tak terpengaruh pada ancaman Gara. "Lagian gue juga full kelas besok. Mana sempat ikut gituan," tambahnya. "Terus gue ajak siapa dong?" tanya Gara lebih kepada dirinya sendiri. "Sama gue, yuk," ujar Serin yang baru melangkah memasuki dapur. "Hah, serius lo?" tanya Gara dengan tampang terkejutnya. Serin mengangguk-angguk serius. Ia berkata, "Iya lah, gue emang nggak setuju sama kenaikan UKT. Gue bayar kuliah pakai duit gue sendiri. Berat lah kalau UKT-nya naik banyak gitu. Kalau naiknya sedikit, ya mungkin gue nggak akan protes." "Wah, mantap," balas Gara sambil bertepuk tangan. Wajahnya yang semula kaget, kini berubah jadi takjub yang didramatisir. Serin mengangguk-angguk. Ia yang kini sudah bergabung di meja makan, segera menyiapkan sarapannya. Gara tak lagi mengganggu Taka maupun Serin. Sementara Serin bisa fokus dengan sarapannya, Taka justru kembali kepikiran masalahnya. "Argh," geram Taka secara tak sadar. Gara dan Serin sontak saja memandang Taka dengan wajah penuh tanya. Agaknya mereka kaget melihat sikap Taka yang demikian. "Dah lah, gue cabut dulu ya," ucap Taka sambil bangkit dari duduknya. Ia meninggalkan piring kotornya begitu saja dan menyambar tas kuliahnya lalu berjalan meninggalkan dapur. "Kenapa itu orang?" tanya Serin sepeninggal Taka. Gara membalas, "Ada masalah sama bussiness plan-nya. Gue nggak ngerti tapi." Serin ber-oh-ria dan melanjutkan makannya. Suasana dapur kembali hening dan tak ada obrolan lagi. Hingga akhirnya Gara pamit pergi duluan untuk mengikuti rapat koordinasi dengan para pemimpin aksi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN