Alzayn Arzan adalah seorang duda ditinggal istri, ia memilih bercerai dengan wanita itu karena istrinya ketahuan selingkuh. Apalagi ketika wanita itu tidak mau memiliki anak dari dirinya. Alzayn Arzan seorang pria lulusan kedokteran dan sekarang dia bekerja di salah satu rumah sakit ternama milik teman ayahnya sekaligus merangkap menjadi seorang dosen.
Pernikahan yang belum sampai setahun itu sudah retak karena kesalahan dari mantan istrinya. Mereka menikah karena wanita itu mengejar-ngejar dirinya namun setelah menikah ketika Alzayn mulai menaruh cinta, sepertinya perempuan tersebut ingin balas dendam dengan berselingkuh dibelakang Alzayn.
Cuaca yang sangat panas waktu yang pas untuk mandi di kolam berenang. Alzayn masuk ke dalam setelah membereskan barang-barang. Tanpa berlama-lama lagi, ia pun membuka bajunya dan langsung melompat ke dalam kolam berenang.
Byuur!
Setengah jam berselang, Alzayn naik dan duduk di tepi kolam berenang. Dia memikirkan mantan istrinya yang dulunya tidak pernah ia cinta tapi setelah ia menaruh perasaan pada wanita itu sang mantan istri malah melukai hatinya.
Sepertinya karma berbalik pada Alzayn Arzan!
"Assalamualaikum ..."
"Waalaikumssalam ..."
Byuuur!
Alzayn kembali masuk ke dalam kolam berenang guna menutupi bagian sensitifnya. Walaupun ia memakai celana tapi tetap saja akan tercetak karena ia hanya memakai celana pendek ketat.
"Kamu mau apa?"
"Alza bawain Om minum. Om pasti haus 'kan karena baru beres-beres."
Alzayn berdecak kesal, bagaimana bisa ia lupa mengunci pintu rumah. Sedangkan sekarang ia memiliki tetangga yang sudah mengganggu ketenangannya.
"Om ayo cepetan naik, minum dulu. Alza juga bawa kue."
"Naik-naik! Saya nggak pakai celana."
"Om nggak pakai celana?" Gadis itu tersenyum dan melangkahkan kakinya mendekati kolam renang.
"Kamu mau apa?" tanya Alzayn panik.
Alza tersenyum tanpa memperdulikan perkataan Alzayn. "Diam di sana!"
"Nggak mau," tolak Alza.
"Diam di sana gadis kecil."
"Alza mau lihat." Ucap Alza menahan senyumannya.
"Jangan bergerak gadis kecil."
"Pelit banget."
Alza terus berjalan menghampiri Alzayn, ia sangat senang melihat ekspresi lucu dari laki-laki itu. Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya. "Hahaha ..." Alza tertawa lepas. "Takut banget Om. Alza nggak sejorok itu tau," ucapnya.
Dia pun membalikkan tubuhnya. "Alza letakkan di meja ruang tamu makanan sama minumannya ya. Om pakai baju dulu, Alza tunggu di luar."
Sambil melangkah pergi Alza pun berteriak. "Takut banget dilihat, kayak gede aja!"
"Kurang ajar!" umpat Alzayn.
[] [] []
Ceklek!
Alzayn membuka pintu rumahnya, menyebalkan sekali harus bertatap muka dengan gadis kecil itu lagi. Alza berbalik badan, ia tersenyum menatap laki-laki yang sudah mengenakan baju kaos warna hitam dan bawahan yang ditutup dengan handuk melingkar di pinggang laki-laki itu.
"Handuk Om lepas."
Alzayn membulatkan matanya, ia menatap kebawah dan kembali menatap gadis itu. "Hobi kamu ngerjain orang ya?" tanya Alzayn.
Pria itu kesal, nyatanya handuk yang ia kenakan masih rapi melingkar di pinggangnya.
"Hehehe ... Santai Om." Alza masuk kedalam menggeser tubuh pria itu agar tidak berdiri di depan pintu.
"Saya belum mempersilakan kamu masuk."
"Biarin!" Alza berlari kecil dan langsung duduk di sofa.
Alzayn kesal, sungguh kesal. Dosa apa yang dia perbuat hingga harus bertemu dengan gadis seperti Alza. Sungguh menyebalkan, baru saja pindah ia harus menahan emosi.
"Duduknya yang rapet Om, jangan gitu. Soalnya Om pakai handuk."
Sungguh aneh bukan?
Alza Wilona benar-benar tidak punya malu dalam berbicara. Dia sama sekali tidak tau sedang berbicara dengan seorang pria yang sudah berpengalaman dalam segala hal.
Alzayn pun merapatkan kakinya mengikuti perintah gadis itu namun Alza malah protes lagi. "Rapetin lagi Om."
"Kejepit! Susah duduk!" Ucap Alzayn tiba-tiba.
Alza menutup mulutnya, ia sangat mengerti dengan penuturan dari pria itu. Ingin rasanya dia tertawa, laki-laki itu sungguh lucu dalam memperlihatkan ekspresi marah.
"Ya udah deh. Alza duduk di samping Om aja ... Kalau pun Om buka kaki nggak akan kelihatan."
Alza langsung mengganti tempat duduknya, sekarang ia sedang berada di samping pria itu. "Om minum dulu, pasti haus 'kan."
"Terima kasih."
Alzayn meneguk segelas teh dingin yang disiapkan oleh Alza. Dia menggeser tubuhnya ketika Alza mengulurkan tangan.
"Kamu mau ngapain?" tanyanya.
"Mau pegang itu, yang ada di leher Om. Gemes."
"Jangan-jangan! Nggak boleh!" tolak Alzayn.
"Sebentar aja Om."
"Enggak!" tolak Alzayn lagi.
"Pelit banget! Kan pegang leher bukan pegang punya Om."
Benar dugaan Alzayn, sepertinya gadis yang sedang bersamanya ini tidak tau malu terhadap laki-laki. Buktinya saja Alza sangat frontal dalam berbicara. "Kenapa kamu gangguin saya?" tanya Alzayn memastikan.
"Alza gangguin Om?"
"Ya!"
"Oke! Alza pulang."
Deg!
Ajaib, itu yang diharapkan oleh Alza. Sekarang ia merasakan tangannya sedang digenggam oleh seorang pria. Sangat terasa dari telapak tangan yang kasar itu.
"Duduk."
Sudah pasti Alza kembali duduk karena itu yang dia mau. "Kamu tinggal di sebelah?"
"Iya, Om." Jawab Alza.
"Saya baru pindah di sini."
"Alza nggak nanya!" Ucapnya.
"Kurang ajar!" batin Alzayn.
"Om dari mana mau ke mana?" tanya Alza.
"Saya ... Saya sebenarnya tinggal di kota ini. Karena ada sesuatu hal, jadi saya memutuskan untuk pindah ke sini."
"Oh ... Terus Om tinggal sendirian di sini?" tanya Alza.
"Iya," jawab Alzayn.
"Ngomong-ngomong umur Om berapa?"
"Umur saya menginjak 29 tahun."
Alza mendekati pria itu dan mencoba untuk menggenggam lengan pria yang ada di sampingnya sekarang.
"Sebentar lagi umur Om kepala tiga. Sekarang 'kan Om punya dua kepala. Satu ini," tunjuk Alza mengarah ke wajah pria itu. "Satu lagi."
Jari telunjuk Alza turun ke bawah menunjuk, skip!
Kembali Alzayn berdiri. "Saya mohon sama kamu jangan memancing saya. Saya ini laki-laki, saya bisa berbuat apa saja sama kamu."
"Tapi Alza yakin kok Om itu orang baik, karena senyuman Om manis banget."
"Jangan pernah menilai orang dari luarnya saja," ucap Alzayn.
"Ya udah, Om buka baju sama handuk Om. Biar Alza bisa nilai Om dari dalam," ucap gadis itu.
Wtf!
Alzayn menjerit di dalam hati, sungguh tidak enak pembicaraan ini. Mengingat ia sudah terbiasa dengan hubungan biologis, dan sekarang jiwanya menggebu-gebu karena ingin disentuh.
"Gimana Om?" tanya Alzayn.
"Gimana apanya?"
"Om jadi nggak buka baju sama handuknya. Biar Alza bisa nilai Om dari dalam."
"Kamu pulang sekarang!"
"Alza nggak mau," tolaknya.
"Saya harus beres-beres rumah, kamu keluar dari rumah saya."
"Alza nggak mau!" tolak gadis itu lagi.
Habis kesabaran, Alzayn mengangkat tubuh wanita itu dengan memegang bahu Alza. Sungguh mudah baginya karena Alza sangat kecil menurutnya. Dia pun mendorong tubuh Alza secara perlahan untuk keluar dari dalam rumahnya.
"Iiih, Om kasar ... Kalau kasar itu di ranjang, jangan di luar."
Brak!
Suara pintu yang tertutup. Sekejap Alza memejamkan matanya dan tersenyum karena berhasil mengganggu pria itu.
"Bisa gila aku kalau menghadapi gadis itu," ujar Alzayn dari balik pintu.
Alza masih berdiri di depan pintu rumah pria itu. "Sepertinya aku punya kerjaan baru sepulang kuliah," ucap Alza.