Pria Tampan Tetangga Baru
"Thanks you!"
Mmmuach! Mmmuach! Mmmuach!
Teriak gadis yang baru saja keluar dari dalam mobil berwarna merah milik temannya. Dia sama sekali tidak malu berteriak di jalanan, toh jalanan itu tidak ramai kok.
Karena ini adalah kawasan perumahan, jadi sangat sepi sekali bukan?
Biasalah.
Kebanyakan orang-orang di kompleks perumahan elit ini tidak terlalu kelihatan. Dikarenakan mereka lebih banyak mengurung diri di dalam rumah setelah seharian bekerja di luar mencari uang.
Biar tidak rumit. Padahal ngepet 'kan lebih simple dan tidak memakan waktu yang sangat banyak.
Seorang mahasiswi berparas cantik namun tidak anggun sangat pecicilan baru saja pulang dari kampus, ia diantarkan oleh sahabatnya karena dirinya paling malas menyetir mobil.
Gadis itu tinggal bersama temannya yang sedang bekerja di kota tersebut. Mereka berada di satu atap yang sama guna menghemat biaya hidup. Apalagi mereka sama-sama anak perantauan jauh dari orang tua.
Setelah temannya pulang, Alza Wilona menoleh kearah samping di mana seorang laki-laki tengah berdiri menatapnya sambil menggelengkan kepala. Laki-laki itu heran melihat seorang gadis yang seperti tidak punya malu berteriak di jalanan.
Walaupun sepi, setidaknya harus feminim bukan?
Perlahan Alza melangkahkan kakinya menuju laki-laki yang sedang mengangkat koper dari bagasi mobil. Dia tersenyum menampilkan gigi rapi berniat mencoba untuk akrab dengan pria itu.
"Hai, Om." Sapa Alza, tanpa mendapatkan jawaban apapun pria itu hanya diam saja dan lebih memilih untuk menyibukkan diri. "Baru pindah Om?" tanya Alza.
"Ya."
Alza mengernyitkan dahinya.
Apa ini?
Baru kali ini Alza dicueki oleh seorang laki-laki. Untung tampan, kalau tidak, mungkin Alza akan melemparkan buku tebal yang ada ditangannya itu. Kenangan dari dosen tua di kampusnya, alias harus dipelajari di rumah.
"Mau Alza bantu nggak?"
"Tidak perlu."
Laki-laki yang belum Alza ketahui namanya itu terus saja mondar mandir mengangkat barang-barang. Memindahkan dari bagasi mobil ke teras rumah.
"Alza orangnya ramah tau. Alza bantu ya."
Pria itu menatap Alza dengan seksama, tangan Alza sudah menengadah setelah ia meletakkan bukunya di atas mobil, supaya pria itu mau dibantu olehnya.
"Oke!" ucap singkat pria itu.
Bodohnya lagi Alza kesal sendiri ketika laki-laki yang ada di depannya ini malah memberikan dua kardus yang Alza bisa tebak dari luarnya bahwa itu adalah kardus dispenser dan satu lagi kardus rice cooker.
"Kira-kira dong Om, berat tau," batin Alza.
Perlahan ia berjalan menuju teras, hanya dua langkah saja pria itu langsung berdiri dihadapannya lagi.
"Tinggi banget," ucap Alza mendongak ke atas.
Bagaimana tidak, dia hanya setinggi d**a pria itu. Badannya juga mungil, mungkin jika Alza berada di belakang pria itu. Bisa jadi tubuhnya hilang dari pandangan.
"Kalau berat bilang! Jangan dipaksain."
Pria berkaos oblong warna putih tersebut mengambil alih untuk mengangkat barang yang sempat ia berikan kepada Alza tadi. Dari belakang Alza memperhatikan lekuk tubuh laki-laki itu.
"Kalau dingin-dingin dipeluk sama dia. Pasti jadi anget."
Alza tersenyum sendiri sambil membayangkan tentang keromantisan dirinya dengan pria itu.
"Halo."
"Gadis kecil."
Pria itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Anak kecil."
"Iya ganteng," ucap Alza membuka matanya.
"Ha!"
Alza tersadar dari lamunannya namun ia tidak sadar setelah mengucapkan kata tersebut.
"Awas!" Laki-laki tersebut sedikit menggeser tubuh Alza dengan lengannya. Gadis itu terbelalak, jantungnya tidak aman ketika kulitnya bersentuhan dengan lengan pria itu.
Alza berbalik badan sambil menatap kearah laki-laki tersebut. Dia pun mengangkat tangannya mengarahkan ke hidungnya sendiri. "Wangi."
Alza Wilona tersenyum simpul, ia pun berlari kecil menghampiri pria yang tengah membungkukkan badan di bagasi mobil. Entah apa yang laki-laki itu cari Alza pun tidak tau.
"Aw!" Alza terjatuh ketika tubuh besar itu tidak sengaja mengenai dirinya.
"Ya Tuhan! Kamu ngapain?"
"Alza tadi mau bantuin, Om."
Pria itu berdecak kesal, ia pun mengulurkan tangannya. Dengan senang hati dan cepat tanggap, Alza meraih telapak tangan pria itu. Setelah ia berdiri Alza mencium tangannya sendiri.
"Keringat Om wangi ya."
"Astaghfirullah! Kamu bilang apa tadi?"
"Om wangi, Alza suka."
Pria itu menggelengkan kepalanya, ia tidak menyangka ada seorang gadis yang menghampiri dirinya siang-siang begini dengan tanpa rasa malu.
Saat ia hendak melangkahkan kaki setelah mengambil beberapa barang, Alza malah menahan tubuh laki-laki itu. Mata pria itu terbelalak ketika Alza mengusap keningnya. "Om keringetan. Alza nggak bawa tisu, pakai tangan aja."
"Lebih baik kamu pulang, jangan mengganggu saya."
"Alza nggak ganggu Om tau. Alza mau bantuin, Om."
"Tidak perlu!"
"Alza paksa!" ucap gadis itu mengedipkan matanya.
Alza mengambil barang-barang lainnya, ia pun mengikuti arah langkah pria itu dari belakang. Tidak ada kalimat apapun lagi yang dilontarkan oleh pria bertubuh tinggi itu.
[] [] []
"Huuuh ..."
Keduanya sama-sama menghembuskan napas secara perlahan, sungguh hari yang sangat melelahkan. Panasnya matahari membuat keringat bercucuran apalagi sedang beraktifitas mengangkat barang-barang.
Sekarang Alza sedang duduk di lantai bersama seorang pria yang tengah mengibas-ngibaskan baju guna membuat udara masuk ke dalam supaya terasa sedikit dingin.
"Panas Om?"
"Iya!"
"Buka baju aja," ucap Alza.
Pria itu menatapnya dengan tatapan sinis. Alza malah menyipitkan matanya memandang laki-laki yang hampir menginjak kepala tiga itu. "Alza nggak takut sama tatapan Om, Alza orangnya pemberani tau."
Pria itu kembali menatap ke depan. Entah rejeki karena sudah dibantu oleh gadis itu, ataupun bencana karena bertemu dengan perempuan seperti Alza.
Dia tersenyum simpul sungguh manis. Sejuk yang ia rasakan ketika Alza mengipas tubuhnya dengan map plastik. Sedikit demi sedikit udara mulai masuk ke celah-celah bajunya, menyapa bagian kulitnya dan membuat rasa panas itu mulai menghilang.
"Gimana Om? Masih panas?"
Pria itu tersadar, ia pun langsung berdiri. "Sekarang kamu boleh pulang!"
"Makasihnya mana?" tanya Alza.
"Makasih!" ucap pria itu.
"Om nggak ikhlas." Alza memasang raut wajah yang cemberut.
"Terima kasih adik cantik atas bantuannya, sekarang kamu boleh pulang ya."
"Makasih Om udah bilang Alza cantik. Tapi senyumannya mana?"
Dengan terpaksa supaya gadis itu segera pergi, Alzayn pun tersenyum menampilkan gigi putih nan rapi.
"Senyuman Om manis banget. Alza jadi penasaran rasa bibir Om. Kayaknya manis juga."
Pria itu berdiri tegap, apa dia tidak salah dengar dengan pengucapan gadis di depannya ini?
Alza sadar dengan pengucapan itu, maklum saja dia memang tipikal orang yang sangat ramah, baginya itu hanyalah hal biasa.
Tapi bagi laki-laki? Pasti pikirannya langsung melayang bukan?
Alza mengecup telapak tangannya kemudian ia pun menempelkan telapak tangan yang baru saja ia cium kearah wajah laki-laki itu. "Bye, bye, Om ganteng. Alza pulang dulu."
Dari ekor matanya pria itu menatap sinis gadis tersebut. Rasa panasnya semakin menjadi-jadi karena mendapat perlakuan dari Alza.
Kalimat yang diucapkan oleh Alza membuat libidonya naik. Mengingat sudah dua Minggu tidak mendapatkan hubungan biologis yang sering ia dapatkan dari seorang wanita.