Malam hari pun tiba, Alzayn Arzan tidak melaksanakan sholat di masjid. Tetapi dia melakukan kewajibannya itu di dalam rumah saja. Hari ini dia merasa sangat lelah sekali, harus menjadi dosen sekaligus dokter membuatnya ingin banyak-banyak istirahat tanpa keluar rumah.
Lagi pula tidak ada tujuan ketika keluar dari dalam rumah. Alzayn hanya fokus pada dirinya sendiri. Tidak ada hal yang menarik lagi di luaran sana semenjak dia bercerai dengan istrinya.
Apalagi ketika keluar rumah pasti dia akan bertemu dengan gadis itu. Perempuan yang selalu membuat kebisingan menurut dirinya. Dikarenakan Alzayn tidak suka wanita berisik, ia lebih senang dengan gadis yang anggun.
Sangat jauh berbeda dari perilaku Alza Wilona yang memiliki sikap ceria. Namun jika dilihat mereka adalah pasangan serasi. Dua manusia yang berbeda karakter sangat cocok untuk menjadi pasangan.
Pria itu mengenakan baju kemeja warna putih dengan lengan tangan yang di gulung setengah keatas. Dia akan segera pergi ke luar mencari makanan karena perutnya mulai terasa lapar.
Baru saja Alzayn keluar menutup pintu rumahnya, saat dia berbalik badan, tubuhnya mengenai seorang gadis yang selalu mengganggu hari-harinya.
"Ah ... d**a Om Bapak keras, sakit tau," ucap Alza mengusap jidatnya.
"Kamu mau apa?"
"Om Bapak mau kemana?" tanya Alza sambil merapikan rambutnya.
"Saya mau keluar, saya tidak ada waktu untuk mengobrol dengan kamu!"
"Keluar kemana?" tanya Alza semakin penasaran.
"Itu bukan urusan kamu!" Jawab Alzayn dengan tegas.
"Om Bapak tunggu sebentar di sini. Jangan pergi, oke!"
Alzayn memutar bola mata malas, entah apa yang akan dilakukan oleh gadis itu lagi kepada dirinya. Namun bodohnya lagi, dia malah menunggu Alza di depan rumahnya.
Hanya beberapa menit saja Alzayn menunggu gadis itu sambil duduk di kursi tepat pada teras rumahnya. Alza datang kembali dengan baju yang sudah berbeda dari sebelumnya. Alza mengenakan baju yang sesuai dengan warna baju Alzayn.
"Om Bapak!"
Alzayn langsung berdiri. "Kamu mau apa?"
"Gimana Om? Alza cantik nggak?"
"Nggak!"
"Masak enggak ... Alza udah bela-belain pakai warna baju yang sama seperti baju Om Bapak."
Alzayn menghembuskan napasnya dengan perlahan. "Kamu mau apa? Saya harus cepat ini."
"Alza ikut!"
"Ikut?" Alzayn membulatkan matanya. "Jangan-jangan!"
Tanpa berpikir panjang lagi Alza pun berlari dan langsung masuk ke dalam mobil pria itu. Sedangkan sang empunya masih berada diluar.
"Ayo Om Bapak, katanya mau cepat!"
"Astaghfirullah, anak ini ya."
Di bawah sana Alzayn sudah mengepalkan tangannya karena merasa kesal dengan gadis itu. Mau tidak mau ia harus menahan emosinya, tidak baik juga jika harus mengangkat tangan kepada seorang wanita.
"Kenapa aku harus bertemu dia Tuhan." Batin Alzayn mendongak ke atas.
[] [] []
Perjalanan dimulai dari rumah itu menyusuri jalanan kota yang penuh dengan gedung-gedung tinggi. Tidak ada obrolan diantara keduanya karena Alzayn memang bukan tipikal orang basa-basi, apalagi dengan gadis yang baru ia kenal itu.
Alzayn hanya akan berbicara jika itu penting. Kalau sekedar basa-basi sampai menghabiskan waktu banyak, hal itu sangat tidak ia sukai.
"Om Bapak sadar nggak sih—"
"Sadar!" ucap Alzayn memotong perkataan gadis itu.
"Iiih ... Alza belum selesai ngomong tau."
"Hmmm ..."
"Om Bapak sadar nggak? Kalau Om Bapak itu ganteng banget?"
Sejenak Alzayn menoleh kearah Alza. "Pertanyaan kamu tidak berbobot!"
"Om Bapak 'kan duda. Apa Om Bapak nggak mau menikah lagi?" tanya Alza yang menghadapkan tubuhnya kearah Alzayn. "Secara Om Bapak itu ganteng, banyak uang, kalau senyum manis banget!"
"Sudah, sudah ... Saya nggak percaya sama namanya cinta. Semuanya hanya omong kosong!"
"Kok ngomongnya gitu sih Om. Pasti banyak yang mau sama Om Bapak ... Apalagi Om Bapak duda, tapi belum punya anak. Gantengnya bertambah." Alza terkekeh geli dengan ucapannya sendiri.
"Alza! Saya tidak suka kamu membahas tentang percintaan. Saya muak mendengar itu," ucap Alzayn. "Dan kamu harus tau, saya nggak akan menikah lagi sampai kapan pun. Nggak ada kata cinta di hidup saya lagi!"
"Oke! Sepertinya Alza punya kerjaan baru. Alza akan buat Om Bapak percaya bahwa masih ada cinta di hidup Om Bapak ... Masih ada yang sayang sama Om Bapak," ucap Alza. "Setelah Alza perhatikan, Om Bapak sangat dingin sama Alza karena Om nggak percaya lagi sama perempuan 'kan?"
"Diam!"
"Hmmm ... Alza akan buat Om Bapak bisa membuka hati sama perempuan lagi. Jadi Om nggak perlu mikirin mantan istri om itu."
"JANGAN BAHAS PEREMPUAN ITU!"
Alza menundukkan kepalanya, kali ini tatapan Alzayn benar-benar buas. Mobil pun berhenti ketika Alzayn membentak gadis itu tadi. Sepertinya Alza salah besar telah membahas mantan istri Alzayn.
"Alza ... Saya minta maaf. Saya tidak bermaksud—"
"Alza turun di sini. Alza mau pulang."
Saat gadis itu hendak membuka pintu. Tangannya ditarik oleh Alzayn. "Jangan ... Saya membawa kamu dengan baik. Begitu juga saat pulang, kamu akan tetap dalam penjagaan saya!"
Deg!
Apa ini?
Kenapa Alza malah terbawa perasaan dengan kalimat duda itu. Jangan bilang dia jatuh hati kepada Alzayn. Tapi bukankah Alza tidak suka dengan pria berumur. Namun perkataan Alzayn barusan membuat jantungnya berdegup kencang.
"Alza."
Tatapan mereka bertemu ketika Alzayn mengangkat dagu wanita itu. "Kamu boleh mengganggu saya. Tapi jangan pernah bahas tentang mantan istri saya."
"Alza ngerti Om Bapak."
"Saya minta maaf." lirih Alzayn.
Pria itu kembali menyetir sendiri seperti biasa. Dia sudah merasa lapar karena terlalu lama di perjalanan. "Kenapa kamu panggil saya Om Bapak?"
"Iya, Om itu 'kan dosen Alza di kampus. Jadi sekalian aja, dipanggil Om Bapak."
"Ribet, kamu terlalu rumit," ucap Alzayn. "Kan bisa panggilan yang mudah."
"Hmmm, ompak aja."
"Apa itu?" tanya Alzayn sekilas menatap Alza.
"Om Bapak," jawab Alza.
"Saya tidak suka. Jelek!"
"Tapi 'kan yang manggil nggak jelek." Ucap Alza tersenyum lebar.
"Diiih ..." Alzayn ingin tertawa setelah mendengar penuturan dari Alza. "Percaya diri kamu besar juga."
"Om aja deh."
"Tapi kalau di kampus jangan itu ya. Takutnya tidak enak di dengar sama mahasiswa lain," ucap Alzayn.
"Siap Om ganteng."
Mobil mulai berhenti di tepi jalanan. Alza memperhatikan laki-laki itu keluar. Dia senyum-senyum sendiri karena bayangan beberapa kalimat Alzayn masih terlihat jelas dipikirannya.
"Ganteng, baik ... Kamu tipe ku, tapi bukan berarti aku suka duda."
Alza memperhatikan laki-laki itu sedang membeli nasi goreng di luar sana. Ada sedikit kekaguman dari Alza pada Alzayn. Dia tidak menyangka seorang dokter mau menyantap makanan yang dijual ditepi jalan.
Pintu mobil kembali terbuka, Alzayn tersenyum menatap gadis itu. Alza sungguh terpesona dengan senyuman dari Alzayn, mungkin jika pria itu bukanlah duda. Pasti Alza akan menyukainya.
"Ini buat kamu."
"Eh ... Alza 'kan cuma temenin Om."
"Ini hadiah buat kamu karena sudah menemani saya."
Alza mengambil kantong plastik yang digenggam oleh Alzayn. "Makasih Om ganteng."
"Sama-sama," balas Alzayn. "Sekarang kita pulang ya."