Mendengar namanya ada yang memanggil dari luar, refleks Kayana langsung kembali melangkahkan kakinya menuju pintu depan. Begitupun dengan Airi, tapi Kayana sudah hafal betul, siapa pemilik suara itu. “Oma, ngapain sih teriak-teriak di luar sini?” protes Kayana begitu sampai di depan melihat Oma-nya yang akan masuk ke dalam rumah. “Emang kenapa? ‘kan di rumah cucu Oma sendiri,” sahut Luna. Kayana mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Luna lalu mencium punggung tangan yang sudah terlihat keriputnya itu. “Iya Oma, tapi nggak pakai teriak juga kali, Kayana pikir tadi Oma kenapa-kenapa,” balas Kayana sedikit kesal. “Eh, Oma,” sapa Airi yang baru saja sampai. Airi langsung melakukan cipika-cipiki dengan Oma Luna. “Ayo masuk, ngobrolnya di dalam aja,” ajak Kayana. Ketiga wanita i

