bc

Terpaksa Menikah

book_age18+
1.9K
IKUTI
16.3K
BACA
revenge
love after marriage
fated
forced
mate
goodgirl
CEO
sweet
betrayal
secrets
like
intro-logo
Uraian

Kayana besok kita akan makan dengan keluarga calon suami kamu,” ucap oma Luna, memberitahu.

Perjodohan yang di lakukan Oma-nya kepada Kayana secara tiba-tiba, membuat kayana sedikit kaget. Namun, ia tidak bisa menolaknya.

Kayana : “Cinta akan datang karena kebersamaan, jadi jalani apa yang sudah tuhan gariskan kepada kita. Niscaya itu yang terbaik buat diri kita.”

Barra : “ Bagaimana cara memulai hubungan yang tidak di dasari dengan cinta?”

Apakah pernikahan yang dilakukan secara tiba-tiba ini bisa bertahan lama atau hanya sesaat karena keduanya tidak saling cinta?

chap-preview
Pratinjau gratis
Perjodohan
“Kayana besok kita akan makan dengan keluarga calon suami kamu,” ucap oma Luna, memberitahu. Deg! Jantung Kayana terasa berhenti mendengar ucapan omanya itu, sungguh dirinya ingin pergi sejauh mungkin untuk menghindar perjodohan itu. Namun, ia tidak bisa melakukannya rasa sayangnya terhadap oma Luna sudah begitu dalam. Kayana tidak ingin menyakiti hati wanita yang sudah merawatnya beserta adiknya setelah kematian kedua orang tuanya. Kayana hanya mengangguk menanggapi ucapan oma Luna. Rasa lelah seharian berada di kantor hilang seketika saat oma Luna mengatakan niatnya. “Kamu harus yakin jika pilihan oma ini yang terbaik buat kamu. Oma tidak akan salah pilih, usiamu yang sudah matang itu membutuhkan pendamping yang bisa menjaga dan ikut terlibat dalam bisnis kita.” Oma sedikit menjelaskan alasannya ingin menjodohkan cucunya itu. “Iya Oma, yana ngerti kok. yana tahu kalau oma mau yang terbaik buat yana,” sahut Kayana lembut, tapi dalam hati menanggis. Oma Luna mengangguk kepalanya, lalu tersenyum melihat cucunya yang sudah cukup dewasa dan selalu menurut. “Ya sudah sana, kamu ganti baju dulu. Baru kita makan,” titah oma Luna. “Iya oma.” Kayana langsung meninggalkan oma Luna sendiri di ruang keluarga. Menaiki anak tangga satu persatu sambil memikirkan dengan siapa oma akan menjodohkannya, apa dirinya sudah mengenalnya atau belum. Perlahan ia membuka pintu kamar, masuk dengan langkah kaki yang dibuat sepelan mungkin. Lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, menatap langit-langit kamarnya. Usai sudah penantian selama ini terhadap cinta pertamanya. Kayana sampai saat ini belum menikah karena masih mengharapkan cinta pertamanya itu datang kembali menemui dirinya. Namun, sayang oma sudah menjodohkannya dengan pria lain, bahkan dirinya sendiri belum bertemu. Pupus sudah harapannya, cintanya akan dikuburnya dalam-dalam. Karena Cinta pertamanya itu juga tidak ada kejelasan, hingga sampai detik ini pria yang selalu dinantinya itu tak kunjung menemuinya. Harapan dan perjuangan untuk menunggu cintanya itu sudah musnah. Sekarang ia harus menerima dengan siapapun orang yang akan mendampinginya kelak. Kayana harus mulai membuka dirinya pada orang lain. Belajar menerima orang lain di hatinya. Tidak ingin membuat oma terlalu lama menunggu Kayana bangun dan masuk kamar mandi. Berdiri di bawah guyuran air shower membuat tubuhnya terasa begitu segar. Dengan cepat ia melakukan ritualnya itu. Keluar hanya dengan berbalut batrobe, ia menuju lemari pakaian memilih menggunakan baju santai rumahannya. Selesai menggunakan baju dan merapikan rambutnya kayana langsung kembali ke lantai bawah bertemu Oma Luna. “Maaf Oma, yana kelamaan ya ?”ucap Kayana duduk di samping Oma dengan tubuh ditempelkan ke Oma Luna. Kepalanya disandarkan di pundak oma Luna. “Oma makasih ya, sudah mengurus yana,” ucap Kyana. Oma Luna membelai rambut cucunya itu dengan lembut.”Itu sudah menjadi kewajiban oma untuk membesarkanmu dan juga adikmu, maafkan oma yang terkadang keras dengan kalian. Oma sayang kalian.” Kayana langsung memeluk tubuh Oma keluarga satu-satunya yang dia miliki dengan adiknya. “Ya sudah kita makan sekarang yuk,” ajak Oma Luna. Kayana mengangguk, keduanya jalan menuju meja makan. Tangan Kayana merangkul lengan sang Oma hingga di meja makan. Seperti biasa meja makan panjang itu hanya terisi dua orang saja. Mereka makan saling diam hanya terdengar suara sendok dan garpu yang saling beradu dengan piring. *** Di sisi lain. “Barra nggak setuju my, Barra masih bisa cari perempuan sendiri. Mommy Percaya deh sama Barra!” Sambil menuruni anak tangga Barra mengucapkan penolakannya tentang perjodohan yang dilakukan oleh mommynya. “Pokoknya kamu harus mau, mommy pilih yang terbaik buat kamu, mommy sudah mengenal lama keluarga mereka lama,” sahut mommy dengan sangat tegas. “Tapi my-?” “No! tidak ada tapi-tapian, mau atau mommy akan kembali ke Belanda?” Barra langsung menghela nafas panjangnya, kalau sudah mommy mengeluarkan kata Belanda. Barra tidak punya alasan lagi untuk menolaknya. “Baik lah my,” balasnya lirih. “Bagus, yakinlah mommy memilih wanita yang tepat buat kamu.” Barra hanya bisa mengangguk dengan pelan. “Ya sudah sarapan, jangan lupa untuk pulang lebih awal karena kita akan makan malam bersama.” “Iya mommy,”sahut Barra penuh penekanan. Bibir mommy langsung terangkat ke atas, tersenyum. Mommy Airi mengambilkan makan untuk putra semata wayangnya itu. Semenjak kematian suaminya setahun yang lalu, mereka hanya tinggal berdua saja di rumah besar peninggalan sang daddy, dengan beberapa art yang memang menginap di sana. Airi menjodohkan putra dengan anak kerabatnya yang sudah dikenal begitu dekat. Bukan dari orang sembarangan. “My, Barra pergi dulu ya” pamit Barra yang sudah menyelesaikan sarapan paginya. Airi mengangguk, ia pun ikut berdiri mengantar anaknya hingga pintu depan. Tak lupa Barra mencium punggung tangan sang mommy. Assisten Barra sudah berada di sisi mobil, siap mengantarkan sang bos ke kantor. Setelah mobil yang ditumpangi putranya menjauh Airi kembali ke dalam. Ia langsung menuju kamar dan menelepon seseorang mengingatkan untuk makan malam nanti. Di mobil Barra terus saja mendumel akan rencana sang mommy menjodohkannya. Ia tidak terima, tapi harus melakukannya. Agam sang assisten hanya mendengarkannya saja tanpa berniat untuk ikut campur. Sampai di kantor, Bara keluar diikuti oleh Agam di belakangnya, melangkah dengan kaki yang sedikit lebar, badan tegak, mata tajam, membuat para karyawan tidak berani. menyapanya saat berpapasan dengannya mereka hanya menundukkan kepala saja. Sampai di ruangan Barra langsung meletak tas dan duduk di kursi kebesarannya. Tangannya memijat pelan keningnya, masih pagi tapi pikirannya tengah kacau akan permintaan sang mommy yang harus diturutinya. Tidak ingin terus memikirkan masalah perjodohan yang tidak ada jalan keluarnya, Barra memilih untuk kembali berkutik dengan kerjaannya. Dinyalakannya laptop, dan memanggil seketarisnya melalui sambungan intercome. “Bacakan apa saja jadwal saja hari ini?” ujar Barra pada Agnes seketarisnya saat sudah berada di depannya. Agnes langsung membacakan jadwal untuk bosnya hari ini. Setelah itu ia pun disuruh pergi dari sana. Barra kembali sendiri di ruangan itu, ia melihat, meneliti setiap tulisan yang ada di layar datar itu. Agam, berada di dalam ruangannya sendiri. Agam menyelesaikan pekerjaannya sendiri yang sudah ditugaskan oleh Barra juga. Hingga siang mereka sibuk masing-masing di ruangannya. Agam datang kembali ke ruangan Barra untuk mengingatkan makan siang dan setelahnya meeting dengan klien dari jasa ekspedisi.  Barra mengangguk, ia langsung menutup laptopnya. Dan melangkah keluar ruangan mengingat meeting diadakan di luar kantor, jadi Barra memilih makan siang di restoran yang akan dibuat meeting nanti. Agam terus mendampingi Barra. Setelah makan siang dan meeting, Barra langsung meminta diantar pulang sesuai keinginan sang mommy. “Bagus, kamu mendengarkan mommy untuk pulang lebih awal. Makasih ya sayang,” ucap momny yang melihat putranya itu sudah sampai rumah begitu awal tidak seperti biasanya. Airi langsung mencium pipi Barra. “Mommy apa-apaan sih, nggak usah cium-cium napa?” protes Barra. “Enggak apa lagi, kan mumpung belum punya istri,” sahut Airi enteng. “Ya sudah Barra ke kamar dulu ya,” pamit Barra. “Ayo mommy antar.” “Mommy mau ngapain?” tanya Barra merasa aneh dengan mommy yang begitu terlihat sangat bahagia. “Mommy mau carikan kamu baju yang cocok untuk makan malam kita,” sahut mommy yang menarik lengan Barra menaiki anak tangga hingga kamar putranya. Sampainya di kamar Barra, ia membiarkan mommy membuka lemarinya dan mencarikan dirinya pakaian yang menurut sang mommy pantas. Barra memilih untuk merebahkan tubuhnya sejenak di atas tempat tidur, matanya memandangi langit-langit kamar. Sesaat ia memejamkan mata mencoba untuk menerima dengan ikhlas perjodohan itu. Melihat mommy begitu antusias dan begitu bahagia membuat Barra ikut tersenyum melihatnya. “Kamu, jangan tidur nanti pakai yang ini ya.” Mommy memberitahu pakaian yang harus digunakan Barra, kemudian ia meletakkannya di atas sofa. “Mommy mau siap-siap dulu kamu juga ya!” “Iya mommy, mommy pergi aja sana biasanya perempuan akan menghabiskan waktu yang sangat lama jika berdandan.” “Oke sayang.” Sebelum meninggalkan kamar putranya Airi kembali mendekat ke arah Barra ia pun kembali mencium pipi Barra setelah itu ia lari keluar dengan tawa kecilnya mendengar Barra mendumel tidak terima diciumi terus. Bersambung...

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.8K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
61.1K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook