Makan Malam

1368 Kata
Barra dan Airi kini sudah berada di dalam mobil menuju tempat makan malam yang sudah dijanjikan. Wajah Barra tampak enggan untuk datang. “Wajah kamu nggak boleh sepeti itu terus ya jika sudah berada di sana. Jangan dingin gitu, ingat jangan merusak makan malam ini.” Airi memberi nasehat pada putranya yang terkenal dingin dengan wanita. Barra tidak menanggapinya ia hanya melihat sekilas wajah Airi lalu pandangannya berahli ke layar ponsel yang ada digenggamannya. Sekedar melihat email yang masuk. Setelah melakukan perjalanan yang cukup lama, mereka sampai di sebuah rumah yang sangat begitu mewah. Rumah bergaya Eropa modern itu begitu cantik. Tidak kalah dengan rumah. Pagar besi yang menjulang tinggi itu menyambut kedatangannya mereka. Agam yang memang ikut bersama mereka, menjadi sopir. Segera membuka pintu mobil untuk ke duanya. “Hallo selamat malam Ny. Abimana,” sapa wanita paruh baya yang sejak tadi menunggu kedatangan mereka di istananya. “Hey, ibu. Panggil saya Airi saja. Bukan kah kita sudah mengenal dekat,” balas Airi begitu sampai di depan wanita tua itu. Keduanya langsung berpelukan dan mencium pipi kiri dan kanan, sebagai bentuk rasa rindu keduanya karena sudah lama tidak bertemu. “Apa kabar Bu?” tanya Airi kemudian. “Ya, seperti yang kamu lihat saat ini, saya baik. Hanya usia saya yang mengharuskan saya banyak istirahat,” sahutnya disertai dengan tawa kecil keduanya. “Panggil saya oma seperti mereka,”pinta Oma Luna, jari manisnya menunjuk ke arah Kayana dan Barra. Airi tersenyum.” Ini Barra Oma.” Airi mengenalkan Luna dengan putranya. Walaupun Luna juga sudah mengetahui jika pria bersama dirinya adalah Barra. Oma tersenyum, Barra langsung mengambil punggung tangan wanita paruh baya itu untuk di ciumnya. “Ini cucu saya Kayana,” balas oma Luna. Karena keduanya tadi sama-sama sibuk dengan pemikiran masing-masing sampai- sampai mereka tidak sadar jika keduanya telah bertatap satu sama lain. Sirat mata keduanya menggambarkan ketidakpercayaan apa yang telah mereka lihat. “Kamu!” Seru keduanya secara bersamaan. “Kamu kok di sini?” tanya Kayana pada akhirnya. Bukannya menjawab, Barra malah memasang wajah dinginnya tanpa peduli Kayana yang kaget melihatnya. “Kamu kenal?” tanya Luna pada cucunya. “Iya Oma, dia ini pria yang sudah menabrak mobil Yana. Yang membuat mobil Yana masuk bengkel dan dia tidak mau bertanggung jawab atas ulahnya,” terang Kayana. “Ye, enak aja. Mobil kamu yang salah. Kok malah saya yang di minta ganti rugi,” sahut Barra tidak mau kalah. “Jelas-jelas Kamu yang salah. Mana yang ganti ruginya sini,” pinta Kayana yang sudah mengadakan tangannya. “Ck, apa nya?” “Kalau kamu nggak mau kasih uang, tagihan bengkelnya biar saya kasih ke kamu saja,” ujar Kayana lagi. “Ogah saya bayar,” sahut Barra santai. “Sudah ah, ayo masuk,”ajak Luna sebagai tuan rumah ya. “Sudah sayang, lagian mobilnya juga udah di bengkel kan mungkin Barra nggak sengaja,” ujar Oma Luna menanggapi perdebatan cucunya. “Sudah ayo,” ajak Luna lagi. “Oh, ya kalian sudah kenalkan. Jadi Oma sama Airi tidak perlu lagi mengenalkan kalian,” lanjut Luna lagi. “Kayana,” ujarnya kemudian mengenalkan diri seraya mengulurkan tangannya untuk berjabat. “Barra,” balasnya dengan tampang dinginnya. Setelah perkenalan singkat itu, keempatnya masuk, kedua orang tua berada di bagian depan sedangkan Barra dan Kayana berada di belakang dengan jalan saling beriringan. Kayana terus menatap ke depan seakan langkahnya begitu lama sampai, padahal saat ini ia sudah sangat malas jalan berdampingan seperti ini. “Ayo duduk,” titah Luna. Luna duduk di kursi paling ujung sebagai tuan rumah dan juga kepala di rumah itu. Sedangkan Kayana duduk di samping kanan, di depannya ada Airi dan sang putra yang berada di sampingnya. Tidak lama mereka duduk, menu pembuka dibawa dan disajikan di atas meja yang berukuran begitu besar. Meja makan itu mampu menampung lima belas orang. “Ayo kita makan,” titah Luna lagi. “Makasih,” balas Airi. Keempaatnya langsung menyantap makanan itu dengan penuh kehangatan. Luna dan Airi terlibat percakapan tentang masa lalu keduanya saat sang orang tua Kayana dan ayah dari barra masih hidup. Ternyata kedua keluarga ini bukan hanya kerabat bisnis tapi kedua keluarga ini sudah begitu dekat. Hanya saja saat meninggalnya anggota keluarga mereka, hubungan keduanya tampak renggang. Karena kesibukan mengurus perusaaan masing-masing. Hingga saat itu Airi bertemu dengan Luna disebuah acara partner bisnis mereka, dan keduanya langsung membicarakan Barra dan Kayana yang berakhir dengan perjodohan. Makan pembuka telah habis kini para pelayan itu menyajikan menu utama. Kayana dan Barra hanya diam, keduanya menikmati makanan yang dihidangkan dengan pikiran yang bercampur aduk. Terutama Kayana yang tidak menyangka jika ia akan dijodohkan dengan pria yang begitu menyebalkan menurutnya. “Jadi kapan acaranya kita laksanakan?” tanya Luna di sela-sela menikmati hidangan penutup. “Em, bagaimana jika seminggu lagi,” lanjut Luna memberikan pendapat. “Oma, bagaimana kita melakukan persiapan jika seminggu?” protes Kayana. “Kamu tenang aja, nanti Oma dan tante-.” “Mommy aja Oma,” sanggah Airi. “Iya biar oma dan mommy Airi yang akan mengurus semuanya kalian tinggal menunggu aja,” lanjut Luna lagi. “Tapi saya harus lihat scdhule saya dulu di kantor,” ujar Barra. “Ih, kamu bagaimana sih, kamu kan atasannya. Kamu bisa merescdhule ulang kan!” Airi menyanggah pendapat sang anak. “Bagaimana jika sebulan lagi?” usul Barra. “Ah, itu kelamaan sayang,”protes Airi tidak terima. “Bagaimana jika kita melakukan persiapannya dua minggu lagi,” usul Airi. Yang langsung di sambut anggukan kepala oleh Luna. “Oke, kalau gitu dua minggu lagi dan kita akan melaksanakan ijab kabulnya. “Tapi oma-?” “Sudah lah sayang, semakin cepat, semakin baik,” timpal Luna. Kayana diam, ia tidak bisa membantah lagi. Apalagi melihat Oma-nya begitu antusias dan bahagia membuat Luna menganggukkan kepalanya, walaupun sebenarnya di dalam hatinya ia tidak yakin dengan pernikahan ini. “Em, boleh saya bicara berdua dengan Kayana?” pinta Barra. “Boleh dong, ayo sayang ajak Barra keliling rumah,” suruh Luna. Tanpa berkata apapun Kayana berdiri diikuti Barra keduanya melangkah menjauh dari meja makan. Kayana membawa Barra ke taman belakang yang terdapat kolam renang di sana dan tempat santai. Kayana duduk di sisi pendopo. Ia masih diam menunggu Barra mengeluarkan suaranya. Barra masih berdiri di sisi Kayana. Menatap perempuan itu dengan tatapan yang tidak bisa diartikan oleh Kayana. “Jadi, setelah nanti kita menikah. Kita tidak perlu mencampuri urusan kita masing-masing. Kita hanya merubah status saja tapi tidak dengan kehidupan kita masing-masing. Kamu boleh melakukan apa saja yang kamu mau begitu juga sebaliknya. Jangan pernah melarang atau apapun itu, jika saya melakukan sesuatu.” Barra langsung mengatakan apa yang ingin ia katakan tanpa berbasa-basi dahulu. “Oke, saya setuju. Tapi kamu harus mengganti rugi mobil saya yang sudah kamu tabrak tempo hari,” sahut Kayana. “Ow, bukannya itu sudah di bengkel. Oma juga sudah bilang, sudah beres semua kan itu mobil.” “No, kamu tetap harus bertanggung jawab!” “Oke, kalau itu yang kamu mau, tapi ingat perjanjian kita menikah. Namun, jika kita berhadapan dengan orang tua yang berada di dalam sana, upayakan kita terlihat begitu romantis dan menerima keputusan mereka. Gimana deal?” “Oke deal,” sahut Kayana. “Jangan lupa kirim uang ganti rugi,” pinta Kayana. “Iya, minta nota dan nomor rekening kamu.” Kayana langsung mengirimkan nomor rekening dan biaya bengkel mobilnya ke ponsel Barra yang sebelum sudah bertukaran nomor ponsel. Barra langsung menggutik ponselnya menstransfer sejumlah uang untuk mengganti kerugian Kayana. Padahal Barra tidak ingin tapi agar rencana pernikahan nya berjalan lancar jadi saat ini ia sedikit mengalah. Ting. Suara ponsel Kayana berbunyi. Kayana tersenyum saat melihat notifikasi ponselnya terdapat sejumlah uang yang dikirim oleh Barra. “Kalau kamu gitu dari kemarin kan enak. Jadi saya nggak perlu marah-marah ke kamu,” celetuk Kayana. Barra tidak menanggapinya. Kayana berdiri dari tempat duduknya sedikit meloncat, tapi kakinya tidak seimbang membuat ia menjadi tersungkur. Syukur di depannya Barra, dengan sigap Barra membantunya. Di saat yang bersamaan Airi dan Luna datang dan terperangah dengan apa yang mereka lihat saat ini. Karena posisi keduanya seperti orang yang sedang berpelukkan dengan Barra yang terlihat sedang mencium pucuk kepala Kayana. “Kalian!” seru Airi dan Luna bersamaan. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN