Pernikahan Ibuk
Mbak Salma
Part 1
Pernikahan Ibuk
"Empat kali enam!" Suara lantang seorang bocah laki-laki berkaos biru jersey sebuah klub bola nasional itu terdengar jelas. Empat anak lelaki lainnya menyimak, mata mereka menatap bocah perempuan berkerudung kuning dengan salah satu sisinya berwarna hitam karena baru saja terkena tumpahan sambal kecap.
"Dua puluh empat," jawab bocah perempuan cepat.
"Heleh. Pemanasan itu. Sembilan kali tujuh!"
"Enam tiga!" Bocah perempuan langsung menjawab tanpa jeda.
"103 kali empat!"
"412." Bocah perempuan menjawab pertanyaan setelah menghitung sepersekian detik. Bocah lelaki yang menyimak langsung menghitung dengan kalkulator di tangannya.
"Benar, iki. 413." Dia membenarkan dengan takjub atas jawaban anak perempuan kerudung kuning itu. Merasa tidak terima dengan kemampuan lawannya, bocah laki-laki berbaju biru segera mengajukan pertanyaan lagi dengan asal dan acak.
"Kau hitung!" perintahnya kepada kawan yang lain.
"Angel iki."
"Sewu papat ping seket!"
"Ora iso, kan, Kowe!" Dia bangga setelah merasa membungkam bocah perempuan berkerudung kuning.
"Seket ewu rongatus. Lima puluh ribu dua ratus." Suara hitungan kalkulator yang ditekan kawan lelaki itu belum selesai tetapi suara jawaban bocah perempuan itu sudah mendahului.
"Sik. Jajal. Berapa hitunganmu?" Bocah berkaos biru meminta kalkulator di tangan kawannya. Dia melongo. Jawaban itu benar dan ditebak dengan cepat.
"Halah. Aku ra percaya. Kamu pasti ngundang jin, kan? Anak penunggu makam ae kok pinter. Ra percoyo!"
Merasa tidak dihargai dan dilecehkan profesi ayahnya, bocah perempuan berkerudung kuning itu langsung menarik kerah kaos bocah berkaos biru itu. Dengan sekali tarikan mereka sudah beradu kepala, dan kepala bocah berkaos biru itu langsung benjol setelah ditanduk dengan dahi bocah perempuan pintar itu.
"Aduh. Sakit!" teriak si bocah laki-laki. Seringai itu muncul di wajah Salma, bocah perempuan pintar tadi.
"Jangan macam-macam sama aku. Lo jual. Gue beli!" Sambil mengusap kepalanya sendiri dengan punggung tangan kanannya Salma meninggalkan bocah lelaki yang kesakitan itu dikerumuni kawan-kawannya. Dia merasa menang dan bahagia setelah memberi pelajaran kepada bocah sombong itu.
Setibanya di rumah, Salma dengan kerudung kuning awut-awutan itu segera ke arah dapur. Dia mencari simbah juga Ibunya karena setelah mengucapkan salam di depan tidak ada sahutan. Benar saja. Simbah sedang sibuk memarut kelapa, duduk di atas ranjang rotan bambu yang dijajar sedemikian rupa lalu dipaku itu sambil tangannya berayun di atas parutan, naik turun.
"Simbah!" ucap Salma sedikit keras, telinga Simbah sudah agak kopok, tidak begitu mendengar maka perlu usaha ekstra untuk berbicara dengannya. Merasa dipanggil, Simbah menoleh dan tersenyum mendapati cucunya yang datang.
"Sudah pulang sekolah, Nduk?"
Salma mengangguk.
Simbah memperhatikan sejenak lalu menggeleng. "Kerudung kena apa? Kotor begitu, bentuknya awut-awutan."
Salma cuma nyengir. Kerudungnya terkena tumpahan kecap karena saat dia makan kerupuk di kantin, tidak sengaja kecap kawannya yang makan bakso muncrat ke arahnya. Mengenai kerudung awut-awutan, Salma teringat bagaimana dahinya sengaja dibenturkan untuk memberi pukulan telak ke dahi bocah lelaki sombong tadi. Namanya Rifqi, anak Pak Kades.
"Ya sudah. Mandi lalu makan. Simbah ambilkan." Tanpa bertanya lebih dalam lagi Simbah menyuruh Salma mandi. Begitu hendak memasuki ruang tengah yang terletak setelah dapur Salma iseng bertanya kepada Simbahnya. Seperti biasa, suaranya agak keras.
"Ibuk pergi lagi, Mbah?"
"Iya. Hari ini pengajian akbar di pesantren Kiai Masduki. Seperti dulu-dulu, Ibukmu pasti sibuk."
Salma tersenyum getir. Dia memang kecil tetapi dia tahu gosip yang berkembang di tengah orang-orang yang sudah besar di sekitarnya. Simbah mungkin karena keterbatasan fisiknya tidak mendengar itu tetapi Salma jelas mendengar. Banyak orang mengatakan kalau Ibunya akan segera dilamar Kiai Masduki. Kiai pesantren besar dengan santri ribuan itu setelah setahun menduda setelah ditinggal istrinya wafat.
Kenapa ibunya Salma yang menjadi dugaan? Karena sejak masih ada Bunyai, dia lah orang kepercayaan Bunyai dan Kiai Masduki. Semua diatur olehnya dengan baik.
Yang membuat hati Salma panas adalah mereka mengatakan, "Wah, sebentar lagi waktunya Bu Murni panen. Setelah paceklik lama, tiba juga masa suburnya."
Bahasa kiasan tetapi Salma tahu apa maksudnya, kepintaran Salma di atas rata-rata.
Terdiam agak lama di ambang ruang, Simbah menyentuh punggung cucu kesayangannya.
"Kamu, kenapa, Nduk? Sakit?"
Salma menggeleng. Dia kemudian memeluk Simbah dn berbisik,. "Mbah, jika Ibuk nikah lagi, kita tinggal berdua saja."
Sungguh menyayat hati.
___
Sore sudah menampakkan semburat merah di ufuk Barat, hari Kamis, waktunya Salma ke makam ayahnya untuk berziarah dan membersihkan makam itu. Pamit kepada Simbah Salma dibawakan bunga mawar yang sudah berupa kelopaknya saja di dalam plastik bening seukuran sedang hasil Simbah memetik di kebun belakang rumah.
"Simbah nitip salam ke Ayahmu. Maaf tidak bisa berkunjung, Simbah berkirim doa saja." Salma mengangguk lalu mengecup punggung tangan Simbah. Setelah berjalan setengah kilo melewati jalanan kampung tiba juga Salma di makam desa. Kuburan Ayahnya terletak paling pinggir jadi dia tidak perlu berlama-lama melewati tengah kuburan seolah disambut barisan kampung tak terlihat. Pada pinggir makam Ayahnya dia duduk bersila dan mencabut rerumputan liar yang mulai bertumbuh meskipun setiap Minggu sudah dibersihkan. Setelah bersih dia membaca doa dan tahlil di sana sembari menaburkan bunga-bunga di atas pusara. Dia bertanya kepada ayahnya setelah itu. "Yah, kalau Ibuk nikah lagi, Ayah rela?"
Salma tahu kalau tidak akan ada jawaban dari ayahnya tetapi dia lega ada seseorang yang mendengar keluhnya meskipun hanya berupa pusara saja sekarang.
Namun, kelegaan itu berubah menjadi kerisauan setelah di jalan dia bertemu dengan sekelompok Ibu-ibu pengajian yang biasanya bersama Ibunya. Ucapan mereka membuat Salma merasa marah dan asing.
"Loh, Nduk Salma kok di sini. Kenapa enggak menghadiri akad nikah ibumu sama Abah Kiai?"
"Ndang sana. Enak kan, punya Bapak baru. Kiai besar lagi."
Salma menahan getirnya ucapan itu dengan menunduk. Satu hal yang dia ketahui lagi, Ibunya berbohong kepada Simbah, dia bukan datang untuk menghadiri pengajian akbar tetapi untuk menghadiri pernikahannya sendiri.
___
Situasi di rumah kian tidak menentu lagi. Pak Kades datang ke rumah sambil membawa anaknya yang kepalanya diperban dengan sedikit noda darah di perban putihnya itu. Pak Kades berteriak marah-marah kepada Simbah yang terlihat kebingungan.
Salma merangsek masuk dan memeluk Simbahnya berharap Simbah tidak mendengar ucapannya yang jelek-jelek.
"Pantas ditilap anake lha wong ngurus cucu saja enggak becus."
Simbah kebingungan. Dia menatap Salma meminta penjelasan.
"Ini loh, Mbah. Kepala anakku dipukul cucumu sampai berdarah. Sampai seperti ini. Mungkin dia marah karena Ibunya nikah lagi hari ini dan dia melampiaskan kemarahannya kepada anakku." Suaranya keras, seakan membuat dinding-dinding rumah Salma bergetar, dan suara itu terdengar jelas di telinga Simbah yang sedikit t u l i.
"Nduk, Salma. Apa benar Ibukmu nikah?"
Sejujurnya kepala Salma juga berat setelah tadi memukul kepala anak Pak Kades dengan dahinya dan sekarang semua terasa berputar. Lalu, Salma limbung membuat Simbah gaduh sekaligus bingung hingga berurai air mata.