Tega sekali kamu, Al! Kemarahanku tak tertahankan lagi. Bisanya dia menyakiti hatiku dengan terang-terangan memamerkan selingkuhannya kemari. Lagipula, bagaimana bisa dia berada di apartemen yang baru kusewa kemarin? Astaga, aku lupa ... Al memang licik sekali. Aku tak heran kalau dari awal dia mengatur supaya aku memilih apartemen ini. “Vano! Vino! Kemari!” Dengan kesal aku memanggil kedua putraku. Vano dan Vino menatapku keheranan. “Mom, ada apa? Mommy tak boleh marah karena kalah main petak umpet,” tegur Vano polos. Aku memijat pelipisku yang mendadak berdenyut kencang. Kulihat Al mencemoohku geli, pasti dia tahu ada apa dibalik alasan main petak umpet yang kuberikan pada anak-anak kami. “Jadi, alasan itu yang kau berikan pada anak-anak, Tiv? Lumayan kreatif.” Aku men
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


