Alvaro tersadar sudah berbaring di ranjangnya, namun tak ada Tivana. Dia sendirian didalam kamar. Ketika kesadarannya telah pulih, dia segera bangkit dan mencari istrinya, hingga keluar kamarnya. “Tivanaaa! Sayang, dimana kamu?” Bukan istrinya yang muncul, melainkan Bibik yang tergopoh-gopoh datang. “Tuan, maaf ... Nyonya meminta saya memberitahu kalau beliau membawa anak-anak pergi berlibur. Mungkin agak lama tak akan pulang,” beritahu Bibik, lantas bergegas kembali ke dapur sebelum tuannya meledak. Wajah Alvaro berubah pias. Dia yakin Tivana bukan berlibur, dan mungkin berencana tak akan kembali jika Alvaro tak bisa membujuknya. Alvaro meremas rambutnya kesal, kepalanya mendadak sakit. Dia terduduk lesu dan memijat pelipisnya. “Sayang, kamu dimana?” gumam Alvaro, frustasi d

