Tivana Pov Al mengerutkan kening begitu aku selesai menutup pembicaraanku dengan Kak Ardian melalui ponsel. Dia melihatku yang duduk di tepi ranjang kami dalam keadaan galau. Malam telah menjelang larut, namun kami belum tidur setelah Al meminta jatahnya tadi. Bahkan tadi aku menerima telepon Kak Ardian hanya berselimut tebal tanpa memakai apapun dibaliknya. “Ada apa? Mengapa wajahmu suram?” tanya Al was-was. “Al, Cyntia kritis. Kak Ardian baru mengabari, istrinya masuk ICU.” Tentu saja Al mengenal istri Kak Ardian dan kurasa dia menyukai wanita kalem yang berhasil menaklukkan hati bekas pesaingnya itu. Itu sebabnya dia merasa prihatin dengan keadaan Cyntia yang kurang baik. “Kau akan kesana? Kuantarkan,” putus Al. Aku menganggukan kepala. Kupeluk Al dan kukecup pipinya

