Hari ini Megan kembali bangun kesiangan, sudah 4 minggu lamanya semenjak Megan bekerja sebagai dishwasher restauran ia sering terlambat datang ke sekolah. Karena jadwalnya yang begitu padat, dari pagi sampai jam 4 sore ia harus sekolah dan setelah pulang sekolah ia langsung ke tempat kerjanya lalu baru pulang lagi sekitar jam 8 malam, itupun belum dihitung saat Megan harus menunggu angkot yang sangat jarang melintas di atas jam 8 malam. Setidaknya Megan harus menunggu 30 menitan atau paling lama yang pernah Megan alami itu sampai 1,5 jam. Bisa dibilang jam 10 mungkin Megan baru bisa sampai ke rumahnya. Setelah sampai di rumah pun Megan tak sempat untuk mengecek tugas – tugas sekolahnya atau sekedar membuka buku pun sama sekali tidak. Selain itu semenjak Megan bekerja, kebiasaan ia di kelas hanya tidur, tidur dan tidur. Sampai – sampai ia sering dimarahi oleh beberapa guru yang mengajar di kelasnya karena Megan ketahuan tertidur saat jam pelajaran, Megan pula sering dimarahi karena terkadang dia tidak suka memperhatikan penjelasan yang guru terangkan, selain itu ada banyak juga pekerjaan rumahnya yang belum ia kumpulkan karena memang tidak sempat ia kerjakan. Bisa dikatakan ke sekolah pun Megan hanya untuk mengisi absen saja. Semuanya, semata – mata Megan lakukan hanya untuk keluarganya. Meskipun satu minggu yang lalu Malik sudah mendapat pekerjaan baru, tapi tetap saja gaji yang Malik dapatkan tidak sebanding dengan pengeluaran perbulan keluarganya. Itu semua yang membuat Megan harus mempertahankan pekerjaannya agar ia bisa membantu perekonomian keluarganya meskipun dengan gajinya yang memang sedikit.
Megan yang selalu mengajak Rain berbicara dan bercanda, selalu update berita terbaru mengenai sekolahnya , melawan ketika Varo mengganggunya, dan selalu berani ketika ada yang menindasnya seketika berubah menjadi Megan yang pendiam, Megan yang tidak peduli terhadap sekitar dan Megan yang pemalas.
Semua perubahan yang terjadi di diri Megan membuat Rain bingung sekaligus heran. Rain tak pernah menyangka Megan berubah seperti ini, kalau hanya bentakan yang Rain terima ia sama sekali tidak mempersalahkannya. Tapi kalau Megan harus terus menerus mendiami Rain layaknya orang tidak kenal satu sama lain itu yang membuat Rain merasa tidak nyaman.
Sampai saat ini Rain masih belum tahu penyebab apa yang membuat Megan berubah, seringkali Rain juga menceritakannya pada Radafa. Namun balasan Radafa masih tetap sama seperti sebelumnya, ia bilang Rain harus memberikan Megan waktu untuk bisa menceritakan masalahnya pada Rain.
Sampai waktu dimana Megan menerima gajinya yang pertama, dengan tidak sengaja ia menubruk seseorang yang tidak asing baginya.
“Maaf mas, saya tidak hati – hati tadi.” Ucap Megan sembari menundukkan kepalanya.
“Megan?” Suara berat yang keluar dari mulut seorang lelaki itu seperti tidak asing di telinga Megan. Karena penasaran Megan pun mendongak dan menatap wajah lelaki itu.
Mata Megan membulat. “Ra – da – fa?” Ucap Megan terbata.
“Ngapain lo di sini?” Tanya Radafa pada Megan.
Megan bingung, ia terjebak dalam pertanyaan Radafa. Apa ia berbohong saja agar Radafa tidak mecurigainya?
“Gue... gue... mmm... itu... gue tadi mampir aja ke sini buat beli makan. Lo juga sama ya?” Jawab Megan berbohong.
“Ngga.” Saat Radafa membalas pertanyaan Megan saat itu pula mbak Erinda datang menghampiri Megan dengan membawa amplop putih lalu memberikannya kepada Megan.
“Megan,ini gaji pertama kamu. Semoga kamu bisa terus meningkatkan kualitas kerja kamu, sekarang kamu sudah boleh pulang ko.” Ujar Mbak Erinda seraya memberikan amplop itu.
Deg
Jantung Megan berdebar hebat tatkala Mbak Erinda memberinya amplop putih yang ia bawa.
“Lho, mas Radafa ada di sini?” Tanya Mbak Erinda saat matanya menangkap wajah Radafa yang berada di samping Megan.
“Iya. Saya disuruh papah ngambil berkas laporan keuangan bulan in.” Jawab Radafa.
Deg
Jantung Megan kembali berdebar kencang saat Radafa menjawab pertanyaan Mbak Erinda.
Laporan keuangan?
Papahnya?
Itu artinya....
“Oh... baik Mas, saya akan ambil dulu. Mas bisa menunggu sebentar.” Pamit Mbak Erinda kemudian berlalu pergi meninggalkan Radafa dan Megan.
Megan menunduk, jujur ia sangat malu sudah ketahuan membohongi Radafa. Ia pasrah dengan apa yang akan Radafa ucapkan nanti
Setelah Mbak Erinda pergi Radafa kembali menatap Megan yang sudah menundukkan kepalanya. “Jadi ini yang lo lakuin?” Tanya Radafa.
Megan diam seribu bahasa, ia tak tahu harus menjawab apa. Ia sudah ketahuan berbohong. Lalu apalagi yang mau Radafa dengar dari ucapan Megan?
“Megan.” Panggil Radafa, namun Megan masih tetap diam sambil menggigit bibir bawahnya.
“Megan, jawab.” Pinta Radafa dingin.
Megan mengangkat kembali kepalanya dan mulai berani menatap mata Radafa meskipun sekarang wajahnya terlihat sangat pucat dan keringat dingin pun sudah membanjiri pelipisnya.
Megan menelan salivanya, sekarang ia akan mencoba berkata yang sebenarnya pada Radafa. “Iya, gue kerja di sini.” Megan menjeda sejenak ucapannya.
“Gue lakuin ini semua karena bokap gue dipecat dengan alasan yang ngga jelas kebenarannya Daf, ditambah lagi adek gue sakit dan dia harus dirawat di rumah sakit, dan saat itu juga uang SPP sama uang bulanan bekal sekolah gue hilang Daf. Gue bener – bener bingung mau gimana lagi, sampai gue ngeliat di sini buka lowongan pekerjaan sebagai tukang cuci piring, gue ambil Daf, gue berani ambil itu... hiks...” Penjelasan Megan lolos keluar begitu saja dengan mudahnya, baru kali ini Megan berani menceritakan masalah hidupnya pada seseorang. Karena tak kuasa menahan semuanya, tak terasa air mata Megan terjatuh dan mengenai pipinya.
Radafa yang melihat Megan menangis langsung membawanya ke ruangan Papahnya agar mereka tidak menjadi pusat perhatian pengunjung resataurannya, ia tak berani mendekap Megan karena memang ada cara lain untuk menenangkannya.
Setelah sampai, Radafa menyuruh Megan untuk duduk di sofa empuk yang ada di ruangan santai Papahnya.
“Maaf...” Ucap Radafa.
Megan menghapus airmatanya, duh Megan sangat lemah, kenapa juga ia harus menangis di hadapan Radafa. “Lo ga salah. Gausah minta maaf.”
“Daf, harusnya gue yang minta maaf sama lo karena tadi gue udah bohongin lo.” Ujar Megan sembari menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
Dari tadi Radafa tidak terlihat biasa saja, ekspresi wajahnya pun sama sekali tidak menunjukkan adanya perubahan. Datar.
“Ini yang buat lo sering telat masuk sekolah?” Tanya Radafa.
Megan mengangguk pelan. “Iya Daf, gue emang udah bener – bener bodoh dan ga disiplin waktu. Gue juga udah terlalu sering bohongin bokap nyokap gue. Sampai sekarang gue masih nutupin pekerjaan gue dan semua nilai gue yang ancur.”
“Gue bingung, kalo gue berhenti kerja kedua adek gue yang baru aja masuk sekolah terpaksa harus putus sekolah. Gue ga mungkin tega ngeliat senyum kebahagian mereka diambil gara – gara masalah ekonomi keluarga gue yang bener – bener turun. Itu semuanya Daf yang buat gue bertahan sampe sekarang, gue rela lakuin apa aja demi keluarga gue. Hiks... gue... hiks... ” Airmata Megan kembali keluar, ia memang tidak bisa menahan semua sesak yang ada di dalam dadanya.
Tangan Radafa terangkat untuk menyeka airmata Megan. “Megan, lo kuat.” Ucap Radafa. Mereka saling menatap satu sama lain.
Airmata Megan terus keluar dengan begitu deras, rasanya ketika Megan menangis dan ada orang yang mendengarnya itu membuat perasaan Megan jauh lebih lega. “Ga Daf lo salah, gue lemah, sangat lemah. Hiks... gue gatahan kalo harus nyembunyiin semuanya. Hiks... hiks...” Megan mash terus menagis sesenggukan.
Radafa tidak lagi menyeka airmata Megan, ia membiarkan Megan agar puas menangis terlebih dulu mengeluarkan seluruh keluh kesahnya.
“Argh... gue bodoh banget, kenapa juga gue harus nangis kaya gini.” Ucap Megan seraya menyusut airmatanya.
Megan mengulum senyumnya, mencoba terlihat tegar kembali di hadapan Radafa. “Maaf Daf udah buat lo harus ngedengerin semua cerita gue.”
“Bokap lo bisa kerja di perusahaan bokap gue.” Ujar Radafa yang membuat Megan terkejut mendengarnya.
“Daf, lo...”
“Iya, perusahaan bokap gue juga lagi cari karyawan. Nanti biar gue yang bilang ke bokap, dan gue bakal pastiin kalo bokap lo diterima.”
Sudut bibir Megan terangkat, ia tak salah dengar dengan apa yang diucapkan oleh Radafa kan? “Radafa, ini beneran?” Tanya Megan lagi.
Radafa mengangguk pasti. “Ya.”
“Radafa, thank’s.” Megan tak bisa berkata apa – apa lagi selain kata makasih. Ia masih tak percaya dengan ucapan Radafa tadi. Hatinya yang sedih seketika berubah menjadi bahagia.
“Lo gausah lagi kerja di sini. Lo pelajar Megan, gue tahu niat lo kerja itu baik, tapi inget sama tugas lo sebagai seorang pelajar. Gaboleh mengeyampingkan sekolah, pendidikan itu tetap nomor satu. Lo paham?” Jelas Radafa yang membuat Megan merasa tersindiri begitu keras.
“Iya Daf, gue paham. Makasih banyak ya.” Balas Megan seraya menampilkan senyum tipisnya.
“Megan.” Panggil Radafa.
“Iya Daf?”
“Tolong jangan diemin Rain lagi.” Pinta Radafa. Permintaan Radafa itu membuat Megan menahan tawanya, disaat seperti ini tiba – tiba Radafa mengucapkan itu pada Megan. Megan benar – benar tak kuasa menahan ketawanya.
“Gue Cuma minta itu, terserah lo deh.” Ujar Radafa dengan ekspresi seperti menahan malu, lihat saja sekarang pipinya sedikit memerah.
“Iya Daf, sebenarnya gue itu gaada perasaan marah ataupun mau ngejauh sedikitpun dari Rain. Cuma akhir – akhir ini gue lebih milih untuk diam Daf, gue juga gamau kalo Rain tahu masalah yang lagi gue hadapin.” Terangnya dan Radafa hanya mengangguk paham.
“Oke. Udah malem, gue bakal anterin lo.”
“Gausah Daf, gue bisa naik angkot ko.” Tolak Megan.
“Gausah nolak. Oiya satu lagi, mulai besok lo gausah lagi kerja di sini, biar gue yang ngomong sama mbak Erinda.”
“Daf, makasih banyak. Tapi masalah gue harus resign, gue bisa ngomong sendiri ke mbak Erinda.”
“Yaudah, terserah lo, ayo pulang.” Ajak Radafa dan Megan pun mengangguk cepat seraya menggendong tasnya.
****
Hari yang cerah, pagi ini Megan tak lagi bangun kesiangan. Jam 06.30 Megan sudah berada di kelasnya, saat Rain datang dan duduk di bangkunya pun Megan lebih dulu menyapanya dengan ceria.
Suasana hati Megan sedang begitu bahagia, hari ini Megan mendapat kabar bahwa Malik sudah bekerja sesuai basicnya di perusahaan Doni, papah Radafa. Tadi malam juga ia sudah membicarakan keputusannya untuk resign kepada mbak Erinda. Dan pagi ini, Megan sudah membawa uang untuk membayar SPP sekolahnya 2 bulan sekaligus.
“Pagi Rain.” Sapa Megan dengan menampilkan wajahnya yang tersenyum sumringah.
“Pa – gi Megan.” Balas Rain canggung.
Megan menarik tangan Rain. “Rain.... gue ko tiba – tiba kangen banget sama lo ya.” Ujar Megan yang membuat Rain menatapnya heran.
“Megan, Megan kenapa?”
“Kepala Megan ga kebentur tembok kan?”
“Hahahahaa.... Engga lah Rain. Nanti istirahat kita ke kantin bareng yuk.” Ajak Megan seraya memeluk Rain.
“Iya, Rain mau.” Balas Rain setuju dengan senyuman yang terus mengembang di wajahnya.
Mereka berdua pun kini kembali saling bercerita dan bercanda seperti biasa lagi. Tak ada rasa canggung atau tak enak di hati Rain ataupun Megan karena memang mereka sama – sama rindu dengan suasana ini.
Saat Megan dan Rain tertawa, dari arah pintu masuk kelas terlihat Radafa sedang berjalan untuk ke tempat duduknya. Dan saat itu pula mata Megan tertuju pada Radafa, ia tersenyum pada Radafa karena berkat dia lah Megan bisa kembali lagi seperti kehidupan yang dulu.
“Megan, bentar dulu ya Rain mau kasih bekal ini buat Radafa.” Ucap Rain yang sudah memegang bekalnya dan bersiap memberikan bekal it pada Radafa.
“Iya Rain... udah gih.” Balas Megan seraya terkekeh pelan.
Rain benar, Radafa memang terlihat cuek dan tidak peduli terhadap sekitar, tapi kini Megan sudah tahu dan mengakuinya bahwa Radafa yang sebanarnya itu bagai malaikat tidak bersayap yang memang khusus dikirim Tuhan untuk membantu orang – orang seperti Megan. Ya, Megan bersyukur, sangat bersyukur Tuhan sudah mengirimkan pertolongannya lewat perantara Radafa.
Anggapan Megan tentang semua kejelekan sikap Radafa sudah ia hapus semua dalam memorinya, yang ada sekarang dan seterusnya Megan akan terus mengingat Radafa sebagai orang yang baik dan peduli.