Part 23
Kringggggggggggggggggggggggg
Jam alarm Megan berbunyi dengan sangat nyaring, tangan Megan meraba – raba untuk mengambil sekaligus mematikan alarm yang sudah mengganggu tidur nyenyaknya ini. Dengan mata sedikit terbuka Megan melihat jamnya dan betapa terkejutnya ia ketika melihat jam suduah menunjukkan pukul 06.30. Megan kesiangan.
Secepat kilat Megan pun menyiapkan dirinya untuk pergi ke sekolah tanpa sarapan. Rumah Megan pun terlihat sangat sepi karena Mayka, Malik dan Miya masih berada di rumah sakit. Setelah semuanya beres Megan mengunci pintu rumahnya dan menunggu angkot untuk berangkat ke sekolahnya.
Jalanan ibukota sangat macet, Megan benar – benar kesal jika harus datang terlambat ke sekolah. Sudah 20 menit lamanya mobil angkot yang ditumpangi Megan tidak bergerak karena terjebak dengan kondisi jalan yang begitu macet dan hal itu diperparah lagi karena sedang adanya perbaikan jalan. Megan benar – benar ceroboh, kenapa juga ia harus bangun kesiangan.
Jam 07.20 Megan baru sampai di sekolah, saat turun dari angkot ia tak langsung masuk ke dalam melainkan melihat kondisi gerbang terlebih dulu. Beruntungnya gerbang belum di tutup dan di pos satpam pun tak ada satupun orang yang menjaganya. Megan segera berlari menuju kelasnya dengan terbirit – b***t, tiba di depan kelasnya kali ini ia beruntung lagi karena guru yang mengajar sedang keluar kelas.
Megan menarik napasnya dalam – dalam sambil memasuki kelasnya. Kedatangan Megan membuatnya menjadi sorot perhatian murid seisi kelas, pasalnya sudah jam 07.30 Megan baru sampai. Saat masuk kelas, Megan menempelkan jari telunjuk ke mulutnya untuk meminta pada semua teman kelasnya agar bisa diam tak berbicara apapun pada guru yang mengajar hari ini apabila guru tersebut kembali kekelas nanti.
Rain menatap Megan dengan penuh tanda tanya. “Megan, kenapa baru sampai kelas? Megan abis ngapain?” tanya Rain pelan pada Megan yang sedang mengeluarkan buku pelajarannya dan mulai mencatat tulisan di papan tulis.
”Gue bangun siang, tadi juga jalanan macet .” Balas Megan dengan mata yang mengarah lurus melihat papan tulis.
“Megan udah sarapan?” tanya Rain.
“Udah Rain.” balas Megan berbohong.
“Megan bohong.” Tukas Rain menaruh curiga. Rain mengarahkan telinganya ke perut Megan yang membuat Megan risi. “Rain lo ngapain si?”
Rain tak menjawab pertanyaan Megan, ia malah beralih mengambil kotak bekal di dalam tasnya lalu memberikan itu pada Megan. “Nih buat Megan, tolong dimakan. Rain tahu kalo Megan itu bohong, sebenarnya Megan itu belum sarapan.” Ujar Rain dengan nada jutek namun di matanya terlihat sekali bahwa dirinya sangat peduli pada Megan.
Seperkian detik Megan melihat kotak bekal yang diberikan oleh Rain, kemudian matanya pun beralih menatap Rain dengan sudut bibir yang sudah terangkat. “Makasih ya.” Balas Megan lalu membuka tutup bekal itu dan memakan makanannya. Saat akan memakan sandwich kedua Pak Agus datang ke kelasnya dan itu membuat Megan buru – buru menaruh kembali sandwich yang telah ia pegang ke dalam kotak bekal lalu ia masukkan kembali kotak bekal tersebut ke kolong mejanya.
“Anak – anak,apa kalian sudah selesai mencatatnya?” tanya Pak Agus.
“Sudah pak” jawab murid serentak.
“Baiklah kalau sudah selesai kalian latihan soal hal 45 ya. Bapak ada rapat sekarang dan tidak bisa lama di kelas ini.”
Megan menghembuskan napas leganya, Pa Agus sama sekali tidak memperhatikan keadaan kelas karena harus buru – buru menghadiri rapat sekolah. Pantas saja sewaktu ia turun dari angkot gerbang belum di tutup dan mobil di parkiran lebih padat tak seperti biasanya, ternyata sekolah sedang mengadakan rapat dengan guru – guru sekolah lain.
Itu artinya hari ini bebas, Megan tebak pasti rapat ini akan diadakan sampai sore, kalaupun rapat berakhir pada siang hari para guru pun tetap tidak akan masuk ke kelas untuk mengejar karena mungkin merasa capai. Megan berani menebak seperti itu karena rapat seperti ini bukan hanya terjadi sekali dua kali saja.
Pak Agus sudah keluar kelas, buku – bukunya pun ia bawa tak tersisa. Begitupun Megan, saat mengetahui pak Agus sudah tidak ada di kelas, bukannya mengerjakan latihan soal yang diperintahkan oleh pak Agus, Megan malah menutup bukunya lalu melipat kedua tangannya di atas meja sebagai tatakan kepalanya. Sedari tadi Megan masuk ke kelas ia memang sudah menguap berkali – kali, matanya terasa begitu berat karena ia merasa kelelahan, selain itu badannya terasa sangat pegal. Dan perlahan akhirnya Megan tertidur pulas.
Rain yang melihat Megan tertidur hanya membiarkannya, lagipula Rain juga sudah terbiasa melihat Megan tertidur di kelas setiap tidak ada guru yang masuk.
Bel istirahat berbunyi, Rain mencoba membangunkan Megan karena ia mengira Megan akan pergi ke kantin untuk membeli makanan. “Megan... bangun udah istirahat nih.” Ucap Rain seraya mengguncang pelan bahu Megan.
Megan mengerjapkan mata dan menggeliatkan tubuhnya. “Hoamzzz...”
“Iya Rain, makasih ya.” Balas Megan pelan.
“Megan ga ke kantin?”
Megan menggeleng pelan.
“Tumben.” Gumam Rain.
Ting
Suara handphone Megan berbunyi, khawatir pesan itu penting Megan pun mengambil benda pipih tersebut yang berada di saku roknya.
Mamah
Ka, hari ini dokter kasih tahu mamah kalo Maya udah dibolehin buat pulang. Tapi mamah bingung total biaya rumah sakit dengan uang yang mamah sama papah punya masih kurang, jadi mamah belum bisa ngurusin administrasinya. Maaf ka, apa kaka punya uang lebih? Kalo kaka punya , apa mamah boleh pinjam dulu? Insyaallah secepatnya mamah sama papah bakalan ganti uang kaka.(10.20)
Dugaan Megan ternyata benar, Mayka memberitahu hal penting ini. Megan terdiam saat sudah membaca pesan yang dikirim Mayka. Ia sedang berpikir darimana dia akan mendapat uang untuk biaya rumah sakit adiknya?
“Oiya, celengan gue.” pikirnya.
Anda
Iya mah, kaka punya ko meskipun ga banyak. Semoga cukup buat nambahin biaya rumah sakit adek.
Mamah
Alhamdulilah, makasih banyak ya ka.
Anda
Sama – sama mah, Megan transfer uangnya abis pulang bimbel ya.
Mamah
Iya Ka... (Baca)
Megan memasukkan kembali handphonenya ke dalam saku roknya. Ia melamun, padangannya kosong ke depan.
Brak
Suara gebrakan meja membuyarkan lamunan Megan, ia terkejut dan kesal pada orang yang sudah memukul mejanya dengan keras.
“Woy Megan, kemana aja si lo?” tanya Varo yang meruah posisinya menjadi jongkok di samping bangku Megan.
Megan menggeram kesal . “argh........ lo emang nyebelin banget Varo.” Sewot Megan.
“Megan.” Panggil Varo seraya menengadahkan kepala dan matanya menatap wajah Megan.
Megan hanya bergumam. “Mmm?”
Varo berdiri kembali seraya mengacak rambut Megan. “Gapapa, gue Cuma kangen gangguin lo.” Ujarnya kemudian pergi meninggalkan Megan.
“Varo sinting lo, rambut gue berantakan tau.” Pekik Megan dengan kesal.
****
Pulang sekolah tiba, sepeti biasanya meskipun jam masih menunjukkan pukul 15.30 kebanyakan anak murid sudah keluar kelas sambil menggendong tasnya bermaksud untuk pulang karena memang tidak ada guru yang mengajar ataupun guru tersebut sudah keluar kelas duluan. Padahal ketentuan bagi sekolah yang melaksanakan full day school itu jam 16.00 siswa baru diperbolehkan untuk pulang.
Kesempatan ini kemudian digunakan oleh Megan untuk bisa menuju ke tempat kerjanya, secepat kilat ia mengganti pakaiannya di kamar mandi sekolah setelah itu barulah ia menunggu angkot di depan gerbang. Semuanya ia lakukan tanpa Rain dan teman – teman kelasnya sadari, karena sewaktu Megan keluar ia melakukannya secara diam – diam. Perlahan tapi past
“Akhirnya nyampe juga.” Ucap Megan seraya mengehembuskan napasnya lega.
Megan kembali mengerjakan pekerjaanya, ia harus bisa bekerja dengan baik agar tenaganya selalu terpakai sehingga ia bisa mempunyai penghasilan sendiri.
“Megan,tolong bersihin ini ya.” Titah seorang pria yang memakai baju putih berlengan panjang yang diketahui bernama Henry.
Megan mengangguk seraya mengambil tilting boiling pan, sebuah peralatan dapur yang digunakan untuk memasak makanan yang berupa kuah atau cairan seperti sup dan sauce dengan jumlah yang besar. Mirip seperti panci namun tilting boiling pan ini ukurannya lebih besar dan terbuat dari stainless steel.
Dengan hati – hati Megan mencuci peralatan dapur tersebut, setelah selesai ia berikan kembali pada Pak Henry karena sedang buru – buru digunakan.
“Makasih ya.” Ucapnya ramah.
“Sama – sama pak.” Balas Megan seraya menampilkan senyum tipisnya. Ia pun kembali lagi ke tempat cuci piring, saat sudah berada di sana ia kaget dengan kehadiran Mbak Dian yang sudah berdiri dan berkacak pinggang.
“Darimana aja si?” Tanya Mbak Dian dengan ekspresi nya yang jutek.
“Maaf mbak, saya abis dari dapur tadi.”
“Kamu lihat ga itu cucian numpuk? Bukannya cepet cuci, malah leha – leha. Mau saya pecat kamu?” Ucapan Mbak Dian kali ini membuat hati Megan sakit, Mbak Dian salah menilainya. Mengapa juga mbak Dian bisa mengucapkan dirinya itu leha – leha, sedangkan dia sendiri melihat Megan kesana kemari mengantarkan piring dan peralatan masak yang bersih ke dapur. Belum lagi jika ada koki dapur yang tiba – tiba menyuruhnya untuk mencuci perlatan masak yang ukurannya besar. Apa Mbak Dian tidak melihat kerjanya? Pekerjaan ini sungguh di bawah tekanan, tapi hanya bertahan lah yang bisa Megan lakukan saat ini. Melawan pun tak mungkin, yang ada jika dirinya berani melawan dia akan dipecat dari restauran ini.
“Maaf mbak, saya ga leha – leha. Daritadi juga saya kerja ko.” Balas Megan dengan nada yang lembut bermaksud memberi pembelaan untuk dirinya.
“Alah, semua orang juga kalo dibilangin pasti gitu, gausah cari pembelaan. Cepat bereskan semua cucian kotor ini.” Bentak Mbak Dian yang membuat Megan lagi – lagi tak berani menatap matanya.
Megan tidak tahu sebenarnya kesalahan apa yang telah ia perbuat hingga membuat mbak Dian sering memarahinya tanpa sebab. Apa dunia kerja sekejam ini?
“Baik mbak.” Balas Megan pelan kemudian melanjutkan membereskan cuciannya.
Setelah semuanya selesai dan waktu pun sudah menunjukkan pukul 8 malam, Megan dengan segera pamit kepada Erinda untuk pulang.
Sesampainya di rumah, Megan tak lupa untuk membuka celengannya dan menghitung semua uang yang ada.
“totalnya ada Rp. 1.230.500 semoga cukup buat nambah biaya adek.” Ucap Megan seraya mengulum senyumnya.
Ia pun ke luar rumahnya lagi untuk melakukan setor tunai di ATM terkdekat karena pasti Mayka sudah menunggunya. “Alhamdulilah, gue lega.” Ucap Megan ketika mengambil struk butkti setor tunai sudah keluar dari mesin ATM.
Ketika Megan sudah selesai dan keluar dari tempatnya setor tunai tadi, ia dikejutkan dengan seorang lelaki yang sedang berdiri menunggu giliran untuk masuk.
“Varo?” “Megan?” ucap mereka bersamaan.
“Lho, lo ko ada di sini?” Tanya Megan masih dengan tampang terkejutnya.
“Ya inikan mesin atm buat umum, masa lo doang yang boleh make.” Balas Varo santai.
“Jangan – jangan lo ngikutin gue ya? Ngaku lo.” Tukas Megan yang menaruh curiga pada Varo.
Varo menoyor pelan kening Megan. “Ge er banget si lo. Udah minggir, gue mau masuk.” Ujar Varo seraya mengibaskan pundak Megan dengan tangannya.
Megan sudah dibuat kesal oleh Varo, ia menghentakkan kakinyan dan menggerutu sebal saat akan meninggalkan tempat itu. Kini, Megan sedang berjalan kembali menuju rumahnya yang jarak tempuhnya bisa menghabiskan waktu sekitar 15 menit jika Megan berjalan kaki.
Tin tin tin
Suara klakson motor yan terus menerus berbunyi membuat Megan kembali terkejut. “Ish, rese banget si tuh orang, emang badan gue segede apaan si nyampe bisa ngehalangin jalanan.” Sewot Megan. Ia pun dengan malas menoleh ke belakang.
“Varo?”
“Kenapa si lo lagi lo lagi.” Pekik Megan yang terdengar sangat kesal.
“Buruan naik, udah malem banyak penculik.” Pinta Varo dari balik helmnya.
“Ogah.” Tolak Megan.
“Mau gue gendong sekarang juga lo? Apa mau naik sendiri?”
Megan mengerjapkan matanya, Varo ini dimana – mana memang selalu menyebalkan. Ah, tapi Megan kembali berpkir dua kali bahwa ada benarnya juga ucapan Varo, langit sudah sangat gelap, tak mungkin juga ia berjalan sendiri di jalanan yang sepi seperti ini. Baiklah, untuk kali ini ia menerima ajakan Varo untuk menaiki motornya.
“Pegangan. Peluk kalo bisa.” Ujar Varo yang dibalas pukulan keras oleh Megan.
“Berisik lo. Udah buruan jalan.”