Hari kedua ini Megan tak sekolah lagi karena ingin bergantian dengan orangtuanya menjaga Maya. Padahal Mayka dan Malik sudah melarangnya dan menyuruh Megan untuk sekolah, tapi Megan tetap bersikeras agar dia bisa menemani Maya di rumah sakit. Yasudah apa boleh buat, Mayka dan Malik dengan berat hati akhirnya mengizinkan Megan.
Ojol yang dipesan Megan sudah datang. Megan dan Miya juga sudah menaiki motor ojol itu. Tak ada percakapan apapun selama di perjalanan, baik Megan ataupun Miya sama – sama diam sambil menatap lurus ke arah jalanan ibukota yang sangat padat ini. Cuaca panas juga membuat Miya lebh memilih berlindung di tubuh Megan. Tiba saat motor yang dikendarai Megan ini berhenti karena harus menunggu nyalanya lampu hijau, mata Megan tak sengaja menangkap sebuah kertas bertuliskan ‘DIBUTUHKAN DISHWASHER PART TIME/ FULL TIME SEGERA.’ yang menempel di kaca restauran. Mata elang Megan pun dengan segera melihat nomor telpon yang tertera dan langsung mencatatnya sebelum lampu hijau kembali menyala. Selesai mencatat nomor itu Megan tersenyum puas sembari menggenggam erat handphonenya.
Tak terasa kini Megan sudah sampai di rumah sakit. Miya, anak itu langsung berhambur memeluk Maya yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Mata Miya terlihat berbinar saat bisa bertemu lagi dengan Maya. Begitupun dengan Maya, ia tersenyum ceria saat Miya memeluknya.
“Kaka, cepet sembuh ya, Miya kangen sama kaka.” Ucap Miya, matanya yang tadi berbinar berubah menjadi berkaca – kaca.
“Iya de, kaka juga kangen sama kamu. Kamu minta sama Allah ya biar bisa cepet sembuhin kaka. Biar kita bisa sekolah lagi terus main bareng lagi.” Balas Maya dengan suara khas anak kecilnya yang apabila orang mendengarnya akan merasa gemas.
“Iya ka, Miya sama ka Megan suka doain kaka ko.”
“Yaudah mah, Mamah sama Papah istirahat ya di rumah. Maya biar kaka yang handle.” Ujar Megan.
“Iya ka, makasih banyak ya. Maaf, mamah sama papah ngerepotin kaka.” Ucap Mayka tak enak.
Megan mengulum senyumnya. “Mamah gaboleh gitu ah, kaka ga ngerasa direpotin ko sama mamah sama papah.”
“Makasih banyak ya Ka, yaudah Mamah, papah sama Miya pulang dulu. Assalamualaikum.” Pamit Mayka dan Malik.
Sebelum Miya kembali meninggalkan Maya, terlebih dulu ia menghampiri Megan sembari membisikkan sesuatu di telinga Megan. “Ka Megan, tolong jagain ka Maya yang baik ya.” Bisik Miya. Eh, tunggu dulu. Miya seperti bukan berbisik karena suaranya yang tidak hanya terdengar oleh telinga Megan, tapi juga terdengar oleh telinga Mayka dan Malik.
Megan menyanggupi permintaan Miya dengan membalasnya dengan anggukan, sementara Mayka dan Malik yang melihat itu hanya terkekeh pelan. Mereka pun kini sudah benar benar meninggalkan rumah sakit. Sekarang yang tersisa tinggalah Megan dan Maya, sekitar 20 menit setelah orangtuanya dan Miya pulang, mata Maya sedikit demi sedikit mulai terpejam hingga akhirnya dia tertidur.
Megan pun kini memilih untuk berbaring di sofa bed yang tersedia di kamar inap ini. Empuk dan dingin, 3 kata pertama yang terbisit di pikiran Megan saat sudah menjatuhkan tubuhnya di sofa bed. Ah, tapi mau bagaimanapun juga hanya kamarnya yang bisa membuat Megan merasa nyaman meskipun di kamarnya hanya ada kipas dan tidak sedingin di ruang inap ini.
Sambil terus mencoba memejamkan matanya, tiba tiba Megan teringat dengan nomor telpon yang ia catat tadi sewaktu di jalan. “Oh iya nomor itu, apa gue telpon sekarang aja ya?” Cicitnya sembari mengambil handphone di dalam tasnya.
Dengan segala keberanian yang Megan miliki, ia putuskan menghubungi nomor restauran itu untuk mengambil pekerjaan sebagai dishwasher. Karena Megan pikir ini adalah kesempatan yang baik, Megan mungkin akan menyesal jika dia tidak mengambil pekerjaan ini. Berapapun gaji yang ia terima, uang itu akan ia simpan untuk biaya sekolah dan kebutuhan keluarganya.
Telpon tersambung, seseorang sudah mengangkat telpon Megan.
“Halo, selamat siang ada yang bisa kami bantu?” Ucap seorang perempuan dari sebrang telpon.
“Selamat siang, saya Megan, maaf mbak apa benar restauran ini sedang membuka lowongan kerja sebagai dishwasher?” Tanya Megan dengan suara yang gugup karena pertama kalinya ia berbicara mengenai hal pekerjaan.
“Iya mbak betul.”
“Saya mau mengambil pekerjaan itu mbak, apakah masih bisa?”
“Bisa mbak, untuk part time atau full time ya mbak?”
“Part time mbak.”
“Oke, kalau begitu mulai besok jam 4 sore mbak sudah bisa mulai bekerja, tapi sebelum itu mbak harus menemui saya dulu, nama saya Erinda.”
“Iya mbak Erinda, untuk persyaratannya itu apa saja ya?”
“Kamu datang saja dulu besok dengan pakaian yang sopan . Nanti saya akan beritahu kamu mengenai pekerjaan ini.”
“Iya mbak Erinda baik, terimakasih banyak.”
“Oke mbak.”
Sambungan telpon terputus. Megan tersenyum bahagia, jika besok ia sudah bisa mulai bekerja itu artinya Megan bisa dengan cepat menghasilkan uang. Sehingga SPP nya bisa ia bayar secepatnya juga.
****
Hari ketiga, Megan akhirnya masuk sekolah setelah 2 hari ia bolos tanpa adanya keterangan. Kehadiran Megan disambut ceria oleh Rain, terbukti saat Megan baru saja memasuki kelasnya Rain dengan cepat mendatangi Megan. Rain langsung membanjiri Megan dengan pertanyaan – pertanyaan.
“Megan beneran kan ga kenapa - napa?” tanya Rain. Wajah nya terlihat sekali menampilkan ekspresi khawatir.
“Rain, gue baik – baik aja. Lo tenang ya.”
Rain mengerucutkan bibirnya, ia merubah ekspresinya menjadi cemberut. “Gimana Rain mau tenang, Megan gaada kabar.”
“Maaf ya.” Ucap Megan
“Iya deh Rain maafin, yang penting sekarang Megan udah ada.”
“Makasih ya Rain.” Megan membuka kedua tangannya bermaksud untuk memeluk Rain.
“Aaaa Megan.” Rain yang mengerti pun segera berhambur memeluk Megan.
3 mata pelajaran hari ini sudah berlalu begitu saja dengan sangat cepat. Jam pun sudah menunjukkan pukul 15.30 dan guru di kelas XI IPA 1 juga sudah keluar. Hal yang sangat lumrah terjadi dikalangan anak sekolah ketika di jam terakhir guru sudah tidak ada adalah pulang sebelum waktunya. Megan yang mendapatkan kesempatan ini langsung saja membereskan bukunya dan keluar dari kelasnya untuk ke tempat kerjaannya meskipun tadi Rain sempat mencegah Megan keluar, tapi dengan alasan yang Megan berikan bahwa ia akan ke rumah saudaranya, Rain pun akhirnya luluh kemudian mengizinkan Megan untuk pulang duluan. Megan tahu yang ia lakukan itu salah, ia telah berbohong pada Rain. Tapi, untuk sekarang hanya ini yang bisa Megan lakukan, Megan hanya tidak mau kalau Rain tahu ia bekerja sebagai tukang cuci piring restaurant, ia khawatir jika Rain mengetahui hal ini dia akan merasa iba pada Megan. Perlu dicatat, Megan bukanlah tipe orang yang ingin dikasihani.
Sudah berada di luar kelas Megan pun segera berjalan dan menunggu angkot di depan sekolahnya. Tapi, sebelum Megan benar – benar berangkat ke tempat kerjanya, Megan terlebih dulu mengganti pakaian seragamnya dengan pakaian biasa, rambutnya yang tadi digerai kini ia kuncir agar tak ada sehelai rambut yang mengganggu wajahnya.
“Siap.” Ucap Megan sambil melihat penampilan dirinya di kaca toilet.
Megan kembali berjalan keluar sekolahnya, ia melihat lagi jam di tangannya yang ternyata sudah menunjukkan pukul 15.40, dengan cepat ia pun berlari dan kebetulan ketika Megan sudah berada di depan sekolahnya ada angkot yang melintas sesuai dengan jurusan yang Megan tuju. Ini adalah hari pertama Megan bekerja, tak mungkin juga jika ia harus datang terlambat.
Megan mengedarkan pandangannya ke segala arah, ia tak henti – hentinya menggerak – gerakan jari tangannya karena gugup. Ia masih khawatir jika nanti ia tidak bisa bekerja dengan baik di sana.
“Kiri bang.” ujar Megan pada supir angkot. Setelah mobil angkot berhenti, Megan pun turun dan memberikan 1 lembar uang 2 ribuan karena Megan masih berstatus sebagi seorang pelajar.
Ketika sampai di depan pintu restauran Megan diam sejenak dan menarik napasnya dalam – dalam agar ia tidak merasa nervous. “Lo bisa Megan.” Batinnya yakin. Megan pun membuka pintu restauran itu dan segera mencaritahu keberadaan mbak Erinda kepada salah satu pegawai resaturan. Untung saja pegawai yang Megan tanyai tadi itu ramah dan segera mengarahkan Megan untuk bertemu dengan Erinda.
“Selamat sore mbak Erinda, saya Megan yang kemarin menelpon mbak untuk mengambil pekerjaan sebagai dishwasher.” Sapa Megan.
“Oh iya, kamu... Okey, kamu bisa mulai bekerja di sini. Kalau bisa besok kamu memakai baju hitam ya.”
“Baik mbak, saya bisa.” balas Megan seraya tersenyum.
“Satu lagi, karena kamu memilih bekerja sebagai part time kamu harus datang jam 4 sore dan pulang jam 8 sore.”
“Baik mbak.”
“Yaudah, kamu ikut saya dimana kamu akan bekerja.” Ujar Erinda, Megan pun mengikuti arah Erinda.
“Selamat bekerja.” Erinda menepuk pelan pundak Megan lalu meinggalkan Megan di tempat yang dipenuhi dengan cucian piring kotor yang sudah menggunung.
Megan menarik napas beratnya. “Lo bisa.” Ucapnya berusaha meyakinkan dirinya. Megan melangkahkan kakinya agar posisinya bisa dekat dengan tempat cuci piring, ia mulai mengambil satu demi satu piring kotor untuk dicuci. Namun belum ada 10 menit ia mencuci, sudah ada pegawai restauran yang datang padanya dan meminta agar Megan segera membereskan cuciannya dengan cepat.
“Kamu gimana si? Nyuci piring segitu aja lama banget.” bentak pegawai perempuan berbaju hitam.
“Maaf ka, saya usahakan cepat.” balas Megan sopan.
“Kalo udah selesai, kamu bawa semua piring bersih ini ke dapur.” Titahnya dengan ketus dan Megan hanya mengangguk patuh tak berani menatap mata perempuan itu.
Setelah selesai mencuci piring dan menatanya di tempat khusus piring, Megan pun dengan segera membawa semua piring besih itu ke dapur.
Prang
Tak sengaja Megan menjatuhkan satu piring hingga pecah dan menimbulkan suara yang keras sehingga membuat beberapa pasang mata melihat ke arahnya.
“Yaampun, kamu tuh ya kerja ga bener banget si. Tadi lambat cuci piringnya, sekarang malah mecahin piring. Kamu itu niat kerja ga si sebenernya?” Perempuan berbaju hitam yang tadi memarahi Megan kini kembali lagi dengan omelannya yang membuat Megan takut.
Jujur, Megan sangat takut jika ia membuat kesalahan. Ia begitu takut jika harus dipecat karena kesalahannya ini. Pekerjaan ini memang sangat menguras tenaganya, tapi ia harus tetap bertahan karena ia perlu uang untuk biaya sekolahnya.
“Ma... af mbak, saya gaakan lagi berbuat seperti itu.” Jawab Megan terbata sambil menundukkan kepalanya.
“Untuk kali ini saya bisa kasih kamu toleransi, tapi untuk hari berikutnya jangan harap.” Ujar perempuan itu yang diketahui bernama Dian.
“Baik mbak, terimakasih banyak.”
“Yasudah, sekarang kamu kembali ke tempat cuci. Masih banyak lagi piring dan alat masak yang harus kamu bersihkan.” titah Dian dengan nada membentak.
Megan mengangguk patuh, ia kembali lagi ke tempat cucinya. Mata megan terpejam sejenak dan ia kembali menarik dalam – dalam napasnya ketika melihat banyaknya cucian kotor yang harus ia bersihkan. “Sabar Megan. Ini udah jadi risiko, lo harus terima.” Megan mengulum senyumnya meskipun sangat tipis lalu melanjutkan pekerjaannya kembali.
“Beres.” Ucapnya. Seperti sebelumnya, ketika semua piring dan alat masak sudah bersih Megan menatanya ke tempat khusus piring dan membawa semua piring itu ke dapur dengan sangat hati – hati.
“Maaf, kamu namanya siapa ya?” tanya seorang wanita berbaju putih dengan lengan panjang pada Megan.
Megan pun berjalan mendekat. “Nama saya Megan.” Balas Megan sopan.
“Oiya Megan, tolong cucikan spatula sama wajan ini ya.” Pinta wanita itu dengan ramah.
Megan mengulum senyumnya. “Baik mbak, akan segera saya cuci.” Balas Megan seraya menerima wajan dan spatula kotor itu. Setelah Megan selesai mencucinya, ia kembali lagi untuk memberikannya pada wanita yang menyuruhnya tadi.
“Makasi banyak ya Megan.” Ujar wanita itu.
“Iya mbak sama – sama.” Megan kembali lagi ke tempat cuciannya, saat sampai ia bisa sedikit bernapas lega karena melihat hanya ada beberapa buah piring kotor saja.
Tak terasa kini jam sudah menunjukkan pukul 20.00 yang artinya pekerjaan Megan pada hari ini selesai. Mbak Erinda, pun datang ke tempat cuci untuk menemui Megan dan memberitahu padanya bahwa ia diperbolehkan untuk pulang.
“Hati – hati ya.” Ujar Erinda.
“Iya mbak, saya pamit ya. Assalamualikum.” Balas Megan seraya menyalami tangan Erinda.
“Waalaikumsalam.”
Megan bernapas lega ketika sudah berada di luar restauran itu, ia tersenyum sambil menatap jalan karena sampai detik ini ia sudah begitu kuat menghadapi segela tekanan yang ada.
Ah iya Megan lupa mengecek handphonenya, pasti Mayka dan Malik sudah menghubunginya berkali – kali karena khawatir padanya. Eh, tapi Megan teringat bahwa dirinya sudah memberi alasan bahwa mulai hari ini ia akan mengikuti pelajaran tambahan berupa bimbel gratis dari ia pulang sekolah sampai jam 8 malam. Yap, Megan melakukan kebohongan itu semata – mata agar Mayka dan Malik mengizinkannya untuk pulang terlambat dan tak mencurigai Megan pada hal yang tidak – tidak.