Part 21

1297 Kata
Pagi ini tepatnya pukul 06.55 Rain sedang duduk di bangkunya, hanya sendiri. 5 menit lagi bel tanda masuk berbunyi, tapi masih belum ada tanda tanda yang menunjukkan Megan akan masuk. “Megan kemana ya?” Gumam Rain. Sudah banyak pesan yang dikirim Rain,namun belum juga Megan baca. Jangankan membaca pesannya, di grup kelas pun tak ada satupun pertanyaan yang Megan respon. Padahal saat Rain mengecek kontak Megan, baru baru ini Megan sudah membuka aplikasi whatsappnya. “Hey, kalian ada yang tahu ga Megan kemana? Gue mau isi absen nih soalnya.” Pekik perempuan berkacamta bulat bernam Carla selaku sekretaris di kelas XI IPA 1. “Gue gatau La.” Sahut Rangga. “Gue juga gatau.” “Iya tuh, Megan gue pc juga ga dibales.” Carla beralih melirik ke arah Rain, tatapannya seolah bertanya. “Rain, apa lo tahu Megan kemana?” Rain menggeleng karena ia juga tidak tahu “Rain gatau Carla.” “Yaudah deh kalo gitu absen dia gue anggap bolos aja.” Ujar Carla dan yang lainnya pun menyetujuinya. **** Sementara itu di kediaman Megan ia sedang membereskan pakaian yang akan dibawa adiknya ke rumah sakit. Maya, adik pertamanya terkena demam berdarah, dari tadi malam Maya mengalami gejala demam yang tinggi hingga mencapai suhu 40 derajat celcius. Satu rumah dibuat khawatir karena sampai menjelang pagi kondisi Maya masih belum membaik, ia terus menerus memuntahkan isi perutnya dan mengeluh sakit kepala. Hingga Malik dan Mayka mengambil keputusan untuk membawa Maya ke rumah sakit pagi ini agar anaknya dapat ditangani dengan segera. “Kaka di rumah dulu ya kalo gitu jaga Miya. Mamah sama papah berangkat sekarang.” Ujar Mayka, ia menampilkan senyumnya semata mata agar terlihat tegar di hadapan Megan. “Iya. Hati – hati mah, semoga Maya cepat sembuh.” Balas Megan yang sama tersenyum. Ya, mereka berdua sedang bersama sama terlihat tegar dari luar. Kini Malik, Mayka dan Maya sudah berangkat ke rumah sakit, untung saja Malik memilki mobil, setidaknya Malik bisa lebih menghemat biaya beban transportasi. Megan masuk lagi ke dalam kamarnya, dan kaget ketika mendapati Miya sedang menangis tersedu sedu – sedu di kamar tidurnya. “Miya, kenapa nangis?” Tanya Megan dengan sangat lembut. Miya terus menangis sampai di hidungnya keluar ingus. “Hiks... hiks... ka Maya sakit.” “Miya.” Panggil Megan, ia memeluk adiknya dengan hangat seraya mengusap - usap punggung adiknya dengan lembut. “Miya, ka Maya itu orangnya kuat lho. Jadi, dia bakalan cepet sembuhnya. Miya jangan nangis ya, kalo Miya nangis Ka Maya pasti sedih di rumah sakit. Kita lebih baik berdoa supaya Allah kasih kesembuhan buat Ka Maya.” Ujar Megan seraya menyusut air mata Miya. Miya menatap Megan dengan mata yang sudah merah dan sembab. “I... hiks... iya ka Megan.” “Miya boleh minta sesuatu sama kaka?” “Apa itu?” Tanya Megan dengan raut penasaran. “Ka Megan jangan sakit, ka Megan harus sehat terus ya. Miya mau ka Megan terus jagain Miya dan ajarin Miya hapalan surah.” Pinta Miya. Layaknya anak kecil pada umumnya, meskipun Megan sudah memberitahunya untuk berhenti menangis, Miya tetap saja menangis. “Iya, kaka janji.” Megan menunjukkan jari kelingkingnya dan Miya pun membalasnya dengan menyatukan jari kelingkingnya juga. “Udah ya, Miya jangan nangis lagi. Oiya, kita sarapan aja yuk.” Ide Megan. “Iya ka, Miya juga laper nih.” “Yauda, kamu tunggu di ruang makan ya, biar kaka yang masak.” Pinta Megan, mereka pun keluar dari kamar Miya. 15 menit sudah berlalu akhirnya Megan dapat menyelesaikan masakannya meskipun ia hanya memasak nasi goreng dengan bahan seadanya. “Makasih ya ka.” Ucap Miya seraya memakan nasi goreng dengan begitu lahap. Ya, sepertinya dia sangat lapar, karena daritadi belum ada sedikitpun makanan yang masuk ke dalam perutnya. Malik, Mayka dan Megan terlalu terfokus pada kondisi Maya sehingga Miya sedikit terbaikan. Tiba disuapan terakhir makanan di piring Miya habis tak tersisa “Euu.” Miya tak sengaja bersendawa kecil membuat Megan terkekeh. “Mmm... Miya belum mandi ya?” “Iya, ka Megan ko tahu?” Tanya Miya dengan raut wajah polos. Megan jelas tahu, karena kini Miya masih memakai baju tidur bergambar doraemonnya. “Tahu dong, Miya bau asem si.” Candanya sambil menoel hidung Miya gemas. “Hehehe, yaudah Miya mau mandi dulu ya ka.” Pamitnya dan berlalu pergi meninggalkan Megan. Berhubung Megan sudah selesai menghabiskan sarapannya, ia pun membereskan bekas piringnya dan Miya. Setelah itu Megan beralih untuk membersihkan rumahnya. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 11.00, Megan jadi teringat pada orangtuanya, apakah mereka sudah makan atau belum di sana? Uang yang orangtuanya bawa juga pasti sangat pas – pasan. Apa Megan harus kesana saja untuk mengantar makanan? Ah, tapi jika Megan ke sana pun harus mengeluarkan ongkos yang tidak sedikit. Karena jarak dari rumahnya ke rumah sakit itu kan tidak dekat. Sudahlah, kini Megan lebih memilih menunggu kabar dari Malik ataupun Mayka saja. Megan mengambil benda pipih yang berada di atas meja belajarnya, kemudian ia mengakifkan mobile datanya untuk sekedar mengetahui notifikasi apa saja yang masuk. 5 Pesan dari Rain 275 Pesan dari grup kelasnya 3 panggilan tak terjawab dari Rain 10 Pesan dari Varo 2 Panggilan tak terjawab dari Varo Tanpa sadar Megan mengulum senyumnya saat membuka pesan yang dikirim oleh Varo. Dasar, baik secara langsung maupun lewat chattng, Varo memang selalu mencari keributan dengannya. Varooo Woy Megan (06.57) Sosoan banget si lo jam segini belum datang Biasanya aja lagi bersih bersih toilet sekolah lu Woyy udah jam 7 masih belum datang juga lo Wah lo bolos ya Udah gaada surat lagi Nakal banget si lo Ah elah Megan, centang satu lagi MEGAN LO KEMANA SI WOY Parah ya lu, mau bolos ga ngajak ngajak. “Si Varo emang sinting.” Megan merutuki Varo sekaligus tertawa. Anda Berisik lo (11.30) Sepi ya gaada gue? Nyampe spam chat gitu. Hahaha Setelah membalas pesan Varo kini Megan beralih untuk membaca sekaligus membalas pesan dari Rain. Rainbow Megan (06.55) Megan kesiangan ya? Megan, bentar lagi bel bunyi dan Megan belum datang juga Megan ga sekolah ya? Megan sakit? Anda Gue baik baik aja Rain, maaf udah buat lo khawatir (11.35) Karena tak ada lagi pesan yang diangap penting, Megan pun menutup kembali handphonenya. Bertepatan saat Megan akan menaruh handphonenya, benda pipih itu berbunyi dengan sangat nyaring, ternyata Mayka yang menelpon. Megan pun segera mengangkat telponnya. “Assalamualaikum mah, ada apa ya?” “Waalaikumsalam Ka, Mamah mau kasih tahu kalo sekarang Maya udah dapet ruang inapnya.” Ucap Mayka dari sebrang telpon. “Alhamdullilah kalo gitu mah. Oiya, nama ruangannya apa ya mah?” “VIP B nomor 3 khusus anak anak.” Jawab Mayka Megan terdiam sejenak. Tenggorokannya serasa tercekat. VIP? “Oh iya mah, mmm... rumah sakit wijaya?” Tanya Megan. “Bukan Ka, tadi mamah nyari rumah sakit lain yang masih ada ruang kelas 1 atau 2 tapi nihil kita ga dapet dapet. Jadi,sekarang mamah sama papah putuskan buat masukin Maya ke rumah sakit kusumah aja. Alhamdulilah ruangan VIP disini ga terlalu mahal dibanding rumah sakit lain.” Kenapa mamahnya ini terus saja berbohong demi menutupi kesedihannya si? Sudah jelas jelas Megan tahu terhadap semua yang ditutup – tutupi oleh kedua orangtuanya itu. “Oh gitu mah. Mamah sama papah udah makan?” “Kita udah makan. Kaka sama Miya udah?” “Udah ko mah.” “Yaudah kalo gitu mamah tutup telponnya ya.” “Iya mah.” Sambungan telpon terputus. Megan menaruh kembali handphonenya. Ia masih memikirkan uang untuk membayar biaya rumah sakit Maya. Megan tahu bahwa Malik masih belum mendapat pekerjaan baru, pengeluaran bulan ini juga banyak, sudah pasti besar biaya yang dikeluarkan Malik saat ini. Selain itu, keadaan Megan diperparah lagi dengan hilangnya uang SPP dan bekalnya selama satu bulan. Megan tak tahu uangnya hilang kemana, ia sudah mencari ke segala sudut rumahnya pun tidak ada. Ia bingung, sangat bingung akan membayar SPP nya itu bagaimana. Tak mungkin juga ia harus menceritakan masalahnya pada Mayka dan Malik, yang ada Megan hanya akan menambah beban pikirin kedua orangtuanya saja. Megan menggertakkan giginya, ia kesal dengan keadaanya yang sepert ini. Tapi Megan selalu berpikir, jika ia terus menerus mengeluh itu sama saja dengan ia mengibarkan bendera putih pada keadaan. Bersabar dan terus berusaha memang yang harus Megan lakukan, karena itu lebih baik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN