Part 20

1361 Kata
Pagi yang cerah, dengan langkah kaki semangat Rain berjalan menuju kelasnya. Tak terasa sudah memasuki awal bulan saja lagi, hari perlombaan pun semakin dekat membuat Rain sudah tak sabar untuk mengikutinya. “Semoga bulan ini dan berikutnya selalu ada kabar baik di kehidupan Rain dan Mamah.” Batinnya. Rain sudah sampai di kelasnya, ia juga sudah melihat Megan yang sedang sibuk berkutik dengan buku novelnya. “Pagi Megan.” Sapa Rain ceria. “Pagi juga Rain.” Balas Megan. “Tumben nih pagi pagi udah baca novel. Seru ya?” Tebak Rain. “Seru banget.” Jawab Megan antusias. “Yaudah deh lanjutin aja kalo gitu. Selamat membaca.” Ucap Rain mempersilakan. Di tengah tengah kesibukan masing masing, tiba tiba Megan membuka suaranya. “Oiya Rain, nanti istirahat lo mau ke perpus ga?” Rain pun menghentikan kegiatannya dan menoleh ke samping Megan. “Iya, Rain mau. Ada apa ya?” “Gue ikut ya!” Rain membulatkan matanya seraya mencubit pipi Megan. “Rain sakittt. Lo kenapa si ah?” Keluh Megan. “Ini beneran Megan kan? Ko tumben tiba tiba mau ke perpus?” Megan terkekeh. “Segitu malesnya gue ya Rain.” Rain menggaruk lehernya yang tak gatal dan menampilkan ekspresi wajah tak enak. “Bukan itu maksud Rain. Maafin Rain, Megan.” “Iya gapapa Rain, santai aja ah. Gue ke perpus cuma pengen nyari novel doang ko. Hahaha” “Iya Megan, kalo gitu nanti istirahat kita bareng ke perpusnya.” Megan menapilkan jari jempolnya. “Oke Rain.” Jam pelajaran sudah berakhir, bel istirahat pun berbunyi dengan sangat nyaring. Kini, Rain dan Megan pun sudah bangkit dari tempat duduknya untuk bersiap ke perpustakaan. “Oiya, bentar dulu ya Megan.” Ujar Rain tiba tiba. Rain mengambil satu kotak bekalnya di dalam tas lalu memberikan bekal itu pada Radafa yang seperti biasa setiap jam istirahat selalu membaca buku sambil mendengarkan musik melalui earphone yang dipasang di telinganya. ”Ini buat Radafa. Rain mau ke perpustakaan dulu ya. Dah Radafa.” Ucapnya setelah memberikan bekal pada Radafa kemudian berlalu pergi. “Ayo Megan.” Ajak Rain seraya menarik pelan tangan Megan. Sesampainya di perpustakaan Rain dan Megan masing masing berpencar mencari buku yang diincarnya. Ketika Megan sedang asyik memilih buku, dengan tak sengajanya secara bersamaan ia menarik buku yang ditarik oleh orang lain juga. “Gue duluan yang ambil.” Ucap Megan ketus seraya menarik paksa buku itu. Orang itu hanya menampilkan wajah sinisnya, menatap Megan dengan tajam seolah menaruh kebencian yang sangat besar tergadap Megan. Saat sudah mendapatkan buku itu, Rain dan Megan pun duduk bersama sejenak di kursi yang disediakan oleh perpustakaan sembari membuka lembaran buku dan membacanya secara singkat. “Oiya, hari ini Rain mau bayar SPP.” Ujar Rain yang membuat Megan menutup bukunya. “Gue juga Rain.” “Yaudah, kita langsung ke tempat pembayarannya aja yuk.” Ajak Rain “Eh, uang gue masih di dompet kelas nih. Kita ke kelas dulu ya.” Terang Megan. Dan mereka pun terlebih dulu ke kelas untuk mengambil uang Megan. Ketika mereka sedang berjalan keluar perpustakaan, sekelompok orang tiba tiba menubruk mereka dari arah belakang dan berlari begitu saja tanpa meminta maaf pada Rain dan Megan. “Euh, kenapa si tuh orang nyari ribut terus bisanya. Gue doain kesandung lo.” Rutuk Megan kesal. Rain mengusap singkat pundak Megan. “Udah gapapa, Salsa sama teman temannya mungkin lagi buru – buru.” Ujar Rain bermaksud menenangkan Megan. Mereka kembali melanjutkan perjalanannya menuju kelas, tak butuh waktu lama mereka pun sampai, dan pada hari ini untuk yang ketiga kalinya Megan bertemu lagi di kelasnya dengan perempuan yang sangat menjengkelkan dan membuat moodnya buruk. “Cewek gatel, pasti abis godain Radafa.” Batin Megan. Kini, Megan sudah ada di tempat duduknya dan mengambil dompet di dalam tasnya. Namun, Megan terkejut ketika melihat dompetnya yang kosong, hanya meyisakan beberapa lembar uang dua ribuan. Kemana uangnya? Megan pun mengeluarkan barang barang di tasnya barangkali uangnya terselip. Barang barang Megan sudah ia keluarkan, tapi nihilnya uang Megan masih belum ditemukan. Megan menjambak rambutnya frustasi, kenapa ia bisa seteledor ini. Tapi, seingatnya ia sudah menaruh uang untuk SPP dan bekal ke dalam dompetnya. Megan tak mungkin lupa akan hal itu. “Argh...” Megan keluar kelasnya untuk menemui Rain yang sedang menunggu di sana. “Rain, gue gajadi bayar sekarang. Lo aja.” Ujarnya. Rain menautkan alisnya, bingung. “Lho kenapa?” “Gapapa, udah lo duluan aja.” Kata Megan kemudian masuk ke dalam kelasnya lagi. Rain yang tak puas dengan jawaban Megan dengan cepat ikut masuk ke dalam mengejar Megan. “Megan kenapa?” “Gapapa Rain.” “Mata Megan gabisa bohong, ayo cerita sama Rain, Megan ini kenapa sebenarnya?” Tanya Rain dengan nada khawatir. “Gue udah bilang kalo gue itu ga kenapa napa Rain. Lo masih ga ngerti ngerti juga?” Megan sedikit membentak, napasnya naik turun membuat Rain terdiam. “Maaf.” Lirih Rain. “Yaudah, Rain keluar ya.” 10 menit berlalu, Rain sudah kembali lagi duduk di kelasnya. Sesekali juga Rain melirik Megan, dia diam saja dari tadi “Sebenarnya apa si yang terjadi sama Megan?” Batin Rain bertanya. Kringgggggggggggggggggggggggggggggggg Jam sudah menunjukkan pukul 16.00 waktunya semua murid untuk pulang. Rain melihat ke arah Megan yang dengan buru buru merapihkan tasnya dan keluar kelas tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Rain. “Huft, hati hati ya Megan.” Cicit Rain pelan, jelas saja Megan tidak dapat mendengarnya. “Buruan ke ruangan.” Ucap Radafa saat ia berjalan melalui Rain. Rain pun dengan cepat mengabil tasnya dan berlari mengejar Radafa. “Radafa tungguin Rain.” Pekiknya. “Huh, Radafa jalan apa lagi lari si? Cepet banget.” Sewotnya. “Lo yang lambat.” Ledek Radafa membuat Rain mengembung kempiskan pipinya. “Udah buruan.” Radaf menarik tangan Rain dengan tiba tiba. “E e eeh... Radafa, iya iya.” Ketika mereka sampai di ruang RULAS ternyata ruangan itu kosong. Radafa dan Rain pun bingung, apakah bu Menik mengganti ruang latihan ke tempat yang lain? Radafa pun mengambil handphonenya yang ia taruh di dalam tasnya untuk mengecek barangkali ada pesan singkat yang disampaikan oleh bu Menik di grup olimpiadenya. Benar saja, setelah Radafa mengeceknya bu Menik ternyata menginformasikan bahwa hari ini kegiatan latihan olimpiade di liburkan dulu. “Kita balik.” Ucap Radafa kemudian berlalu meninggalkan Rain. Rain membulatkan matanya sempurna, ia bingung mengapa Radafa berbicara seperti itu? “Radafa, ko kita pulang?” “Hari ini libur.” “Lho, Radafa tahu dari siapa?” “Grup.” “Oh iya ya kita kan punya grup, Rain lupa. Hihi.” “Radafa, ngomong ngomong jalannya bisa agak lambat ga? Rain capek tau nyeimbangin langkahnya Radafa.” Pinta Rain ketus. “Ga.” “Huh, selalu kaya gitu.” Radafa dan Rain pun sudah berada di parkiran sekolah. Radafa memberikan helm bogonya untuk Rain pakai, ketika Rain sedang memakai helmnya tiba tiba ia membuka suaranya. “Radafa, Rain mau cerita boleh ga?” Tanya Rain yang membuat Radafa tidak jadi menaiki motornya. “Apa?” Rain menarik napasnya dalam dalam lalu membuangnya. Ia lakukan itu berkali kali sehingga Radafa yang melihatnya merasa risi. “Lo mau cerita atau mau siap siap lahiran?” Rain mengerucutkan bibirnya kesal, Radafa nih memang menyebalkan. Dia tidak tahu apa kalau Rain sedang siap siap untuk bercerita dengan cara seperti itu. “Ish Radafa nyebelin.” “Yaudah Rain mau lanjutin ya.” “Mmm... akhir akhir ini sikap Megan berubah.” “Berubah...” Ucap Radafa seperti bertanya. “Iya, berubah. Lebih sering diam dan agak tempramen gitu.” “Huft, Rain gatau apa penyebab dan masalah apa yang dihadapi Megan, setiap Rain tanya kenapa? Pasti Megan selalu jawab gapapa. Apa Rain ini ganggu banget ya? Sampe Megan pun gamau berbagi cerita sama Rain.” Rain menunduk lesu. Tangan Radafa dengan sendirinya membingkai wajah Rain agar Rain tak menunduk sepert itu. “Rain.” Panggil Radafa, Rain pun memberanikan dirinya untuk menatap mata Radafa “Niat lo baik Rain selalu mau jadi pendengar yang baik dan peduli sama setiap orang, tapi lo harus tahu kalo setiap orang juga punya caranya masing masing buat menyelesaikan masalahnya. Ada orang yang jauh bisa lebih baik ketika sudah meluapkan semua keluh kesahnya kepada orang yang selalu mendengarkannya, dan ada juga orang yang lebih memilih memendam semuanya. Karena apa? Mungkin karena mereka tidak ingin masalahnya menjadi beban untuk orang lain atau bahkan mereka memang bisa jauh lebih baik jika tidak bercerita.” Jelas Radafa. “Yang harus lo lakuin sekarang adalah biarin Megan dengan sendirinya cerita sama lo, jangan terus terusan paksa dia. Kasih dia waktu buat sendiri, mungkin sekarang dia lagi ada di titik beratnya. Tunggu dia ya, jangan sampe lo malah ketusin dia balik.” Rain tersenyum. “Iya Radafa, Rain ngerti. Rain janji Rain bakalan selalu jadi teman Megan yang baik. Makasih banyak ya Radafa.” “Iya.” Balas Radafa singkat. Ia kembali menaiki motornya untuk bersiap pulang. “Cepet naik.” Titah Radafa. “Iya Radafa.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN