Suara kokokan ayam sayup – sayup terdengar di telinga Rain yang masih bergulung di dalam selimut lembut, hal yang tak biasa Rain dengar dikala pagi di tengah – tengah hiruk pikuk kehidupan perkotaan. “Argh ...,” erang Rain, ia mengambil bantal di sampingnya untuk menutup rapat – rapat telinganya. Seperti disengaja saja, suara kokokan itu bertambah kencang dan berirama. Rain membolak – balikkan tubuhnya, mencari kembali posisi yang nyaman saat dirinya merasa terganggu karena besarnyab suara kokokan ayam yang hampir memekakan telinganya. “Aduh ..., ini ayam siapa si? Ko kenceng banget suaranya,” gumam Rain. Mau tak mau Rain terpaksa harus bangun dari tidurnya. Rain menggaruk – garuk kepalanya asal, setelah itu ia menggosok matanya dan mengambil sesuatu yang menempel di sana. Mata Ra

