Part 26

1486 Kata
“Udah pada beres nih?” tanya Varo ketika ia melihat makanan di piring teman – temannya sudah habis. Rain dengan cepat mengangguk hingga rambut yang dikuncirnya pun ikut bergerak. “Iya, Rain udah selesai.” Rain juga menoleh ke arah Radafa. “Radafa juga kan?” tanya Rain dan Radafa hanya mengangguk. “Gue juga, yaudah kita balik lagi ke kelas.” Ajak Megan sambil mengelap mulutnya dengan tissu yang tersedia di meja kantin. Radafa, Varo dan Rain menyetujui ajakan Megan, mereka bangkit dari tempat duduknya seakan sedang membuat formasi dengan Radafa dan Varo yang berjalan duluan di depan juga Rain dan Megan yang berada di belakang mereka. Sudah seperti geng – geng famous yang ada di sinetron – sinetron pada umumnya saja. “Yah, perasaan cepet banget jalannya.” Ujar Varo saat mereka sudah sampai di kelasnya. Rain menautkan alisnya, bingung sambil memasang wajah tak mengerti. “Lho emangnya kenapa? Bukannya lebih cepat itu lebih baik ya? Radafa selalu bilang sama Rain kalo jalan itu jangan lambat.” Sahut Rain. Varo tertawa kikuk sambil menggaruk – garukkan kepalanya yang sama sekali tak gatal. Rain memang benar – benar tak tahu atau pura – pura tidak tahu dengan maksud yang Varo ucapkan tadi. “Argh... Rain...” Varo menggeram gemas menatap Rain yang membuat Megan melepaskan tawanya. Rain belum juga mengubah ekspresi di wajahnya, masih terlihat jelas mimik kebingungan yang terpatri di sana. “Lho, Varo sama Megan kenapa si? Ko jadi aneh gitu?” “Lo yang aneh Rain.” celetuk Varo terkekeh. “Radafa emang Rain aneh ya?” tanya Rain pada Radafa yang berada di sampingnya tadi, namun saat Rain menoleh Radafa sudah tidak ada lagi di sampingnya itu. Huh, menyebalkan sekali. “Radafaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa, Rain lagi ngajak ngobrol juga malah pergi. Huh.” Gerutu Rain kesal yang kembali membuat Megan dan Varo tertawa. **** Hari ini adalah pelatihan lomba olimpiade fisika minggu ke- 7, itu artinya Radafa, Rain, Bagas, Agnes dan Salsa hanya mempunyai waktu sekitar lima hari lagi untuk mempersiapkan diri matang – matang mengikuti perlombaan ini. Beberapa guru yang terpilih untuk mengajari mereka pun tak henti – hentinya selalu memberikan mereka semangat dan dorongan bahwa timnya itu pasti bisa memenangkan perlombaan ini. “Anak – anak, ibu percaya pada kalian. Selama kalian mengikuti latihan ini ibu akui kalau kalian memang sungguh – sungguh dalam belajar. Ibu minta tolong jangan kecewakan sekolah karena telah memilih kalian untuk mengikuti olimpiade ini. Tunjukkan pada semuanya bahwa kalian mampu menjadi yang terbaik.” ujar bu Menik serius. “Baik bu.” Jawab murid serentak. Bu Menik mengulum senyum tipisnya seraya merapihkan buku – buku yang ada di mejanya.” Baiklah, berhubung sudah habis waktu belajarnya, kalian bisa pulang sekarang. Hati – hati di jalan.” Ujar Bu Menik kembali mempersilakan. Para murid hanya mengangguk patuh seraya membereskan pula buku – buku yang telah mereka gunakan tadi. “Ka Radafa, ini buat kaka.” ucap Salsa yang tiba – tiba sudah ada di samping Radafa sembari memberikan coklat berbentuk hati. Jika kebanyakan orang akan senang apabila ada yang memberikan mereka coklat, itu semua tidak berlaku bagi Radafa. Sebenarnya Radafa malah merasa risi jika ada orang yang selalu memberinya barang ataupun makanan, karena ini bukan hanya sekali dua kali ia mendapat itu semua, hampir setiap hari Radafa mendapatkan berbagai macam barang dan makanan yang kebanyakan berasal dari adik kelasnya. Saking banyaknya, semua barang ataupun makanan yang Radafa terima pada akhirnya ia bagikan lagi pada Varo ataupun teman – temannya yang lain. Ya... terkecuali bekal sarapan dari Rain, ia tak rela membagikannya dan tak rela juga jika ada orang yang mengambilnya. “Thanks ya.” Balas Radafa dengan eskpresi datar sambil menerima coklat itu. Salsa tersenyum girang, hatinya seakan berbunga ketika Radafa menerima coklat pemberiannya. “Iya Ka, sama –sama. Mmm... kaka pulang bareng siapa hari ini?” tanya Salsa. Radafa mengarahkan dagunya pada perempuan yang masih sibuk membereskan buku – bukunya. Mata Salsa mengikuti arahan Devan, saat ia melihat arah dagu Devan menuju pada Rain mukanya ia tekuk masam, bibirnya pun ia kerucutkan. “Oh dia.” “Radafa, Rain udah si...” “Eh ada coklat, Radafa dapet darimana?” tanya Rain saat matanya menangkap tangan Radafa yang sedang memegang coklat. “Buruan pulang.” Radafa menarik tangan Rain untuk segera berjalan ke parkiran tanpa memedulikan kehadiran Salsa yang sedari tadi ada di sampingnya. “Ishhh, Rain sialan.” Salsa memekik kesal. Radafa dan Rain kini sudah berada di parkiran. Radafa juga sudah memasangkan helm di kepalanya, sementara Rain malah diam sambil menampilkan wajah cemberutnya. “Lo kenapa si?” tanya Radafa bingung. “Gatau.” Balas Rain ketus sambil melipat kedua tangannya di depan perutnya. “Oh, yaudah.” “Radafaaaaaaaaaaaa... ko malah bilang yaudah si?” sergah Rain. “Gue harus jawab apa, Rain?” tanya Radafa pasrah. “Ya Radafa harusnya nanya lagi sama Rain, atau apa ke masa gitu aja harus Rain kasih tahu dulu.” Oceh Rain. Kepala Radafa bisa – bisa pening jika di dunia ini ada banyak perempuan seperti Rain. Oh iya, dia baru ingat kenapa ia tidak memberikan Rain coklat dari Salsa saja supaya Rain tidak lagi memasang muka cemberut. “Nih buat lo.” Ujar Radafa seraya memberikan coklat berbentuk hati itu pada Rain. Rain tak langsung menerimanya, sejenak ia melihat coklat itu dulu.”Mau?” tanya Radafa. Rain masih diam mengacuhkan Radafa, ia masih kesal pada Radafa karena tidak menjawab pertanyaannya tadi. “Kalo lo gamau gue bakal kasih ini ke orang lain.” Ucap Varo yang membuat Rain langsung mengambil coklat itu dari tangan Radafa. Kini Rain memasang wajah cerianya lagi. “Makasih Radafa, Rain terima coklat ini dengan senang hati.” Balas Rain sambil memasukkan coklat itu ke dalam tasnya. “Yaudah kita pulang yuk.” ajak Rain, tanpa adanya perintah dari Radafa, Rain langsung menaiki motor itu hingga membuat Radafa sedikit oleng karena kakinya tadi belum siap untuk bisa menyeimbangi beban Rain. Tanpa Radafa dan Rain sadari, sedari tadi Salsa melihat mereka berdua dari jarak agak jauh. “Argh... dasar Rain t***l, tampang polos aja belagu banget. Huh, coklat gue dia ambil lagi.” “Huaaaaaaaa... emang nyebelin banget tuh orang.” Salsa menggurutu begitu kesal sambil terus menghentak – hentakkan kakinya. 20 menit berlalu, Radafa akhirnya sampai di rumah Rain dengan selamat. Rain juga sudah turun dari motor Radafa. “Radafa, makasih ya.” ucap Rain tersenyum. “Iya.” “Oiya, sebelum Radafa pulang Rain mau kasih sesuatu dulu.” Rain mengambil coklat hati yang Radafa beri tadi di dalam tasnya kemudian ia patahkan menjadi dua bagian. “Setengah buat Radafa, setengahnya lagi buat Rain.” “Gausah, buat lo aja Rain.” Rain menggeleng pelan. “Gamau, Radafa juga harus makan coklat ini. Nanti pas udah nyampe rumah aja dimakannya ya.” Karena tak mau menambah perdebatan, Radafa menerima coklat itu. “Iya, nanti gue makan.” Rain tersenyum manis, sangat manis saat Radafa meresponnya. “Yaudah gih pulang, hati – hati ya.” “Iya.” Balas Radafa yang kemudian menancapkan gasnya. Setelah punggung Radafa sudah tak lagi terlihat, Rain pun membuka pintu gerbangnya dan masuk ke dalam rumahnya. “Assalamualikum mah, Rain pulang.” Ucap Rain memberi salam pada Rani yang terlihat sedang sibuk dengan laptopnya. “Iya sayang, kamu mandi dulu gih habis itu makan.” Jawab Rani dengan mata yang masih terfokus pada layar laptopnya. Rain mengangguk, saat baru berjalan beberapa langkah untuk ke kamarnya Rain teringat bahwa tadi pagi masih ada tikus di dalam kamarnya. Rain pun memutuskan untuk putar balik kembali ke mamahnya. “tikus di kamar Rain gimana?” tanyanya. Rani melepaskan kacamatanya seraya mengeluarkan napasnya perlahan. “Mamah udah usir tikusnya Rain jadi kamu ga perlu takut lagi, udah gih kamu mandi abis itu makan.” Titahnya. “Beneran udah gaada?” tanya Rain masih tak percaya. “Iya Rain benar.” “Mamah ga bohong kan?” tanyanya lagi dengan mimik wajah yang tak yakin dengan jawaban Rani. “Iya sayang... mamah ga bohong.” Rain tersenyum seraya berhambur memeluk mamahnya. “Makasih mamah, heheheh. Yaudah Rain mau mandi dulu kalo gitu.” Ujar Rain seraya melepaskan kembali pelukannya. “Iya sayang...” Sudah 20 menit lamanya Rain selesai membersihkan dirinya, sehabis mandi ia tak langsung makan melainkan mengecek ponselnya terlebih dulu. “Radafa ga kirim pesan apa – apa.” Cicit Rain pelan. 1 notifikasi masuk dari Bagas. Bagas X IPA 1 Ka(19.00) Anda Iya, ada apa? Bagas X IPA 1 Are u free tommorow? Anda I think i still have nothing on my agenda. why? Bagas X IPA 1 Would u like to meet up with me? Anda Mmm... Mau belajar bareng ya? Bagas X IPA 1 Sekedar hangout Ka Rain bisa? Anda Bisa Bagas X IPA 1  okey, nanti sharelock alamat rumah kaka ya Jam 1 siang kita berangkat Anda Iya... (Baca) “Haduh, kenapa Rain main nerima aja si?” “Apa Rain kasih tahu Radafa aja ya.” Pikirnya. Jari – jari Rain mulai mengetikkan pesan untuk Radafa. Anda Radafa (19.15) Radafa Halo Ada hal yang mau Rain kasih tahu Radafa Alfaried Rayhan Apa? Anda Tadi Bagas ngajak Rain buat keluar Dan Rain mau Radafa Alfaried Rayhan Oh. Anda Ish, Radafa nyebelin. Radafa ga mau bilang apa – apa lagi selain oh? Radafa Alfaried Rayhan Ngga. Anda Gatau ah, Radafa emang nyebelin banget (Baca) Rain menutup handphonenya dan menaruh benda pipih itu asal ke sembarang arah. Ia kesal karena balasan Radafa yang terlihat seperti tidak peduli. Rain pikir Radafa akan cemburu padanya karena mengiyakan ajakan Bagas, tapi Rain salah besar. Radafa sama sekali tidak cemburu, lihat saja balasannya yang selalu singkat seperti tadi. Daripada harus menahan kesal, Rain pun lebih baik memutuskan pergi ke dapur untuk mengambil makan malamnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN